
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Di tempat lain......
Terlihat Ayana dan Daren yang telah sampai dikediaman bersama dengan anak anak.
Keanu dan Revano juga sudah kelelahan dan membuat mereka tertidur di sepanjang jalan pulang, Ayana dan Daren pun pada akhirnya mengangkat kedua mereka, Ken yang di gendong oleh Ayana dan Daren menggendong Ren yang manis.
Mereka berjalan Menuju kamar Ken dan Ren, ketika sampai mereka pun merebahkan tubuh Ken dan Ren, mencium pipi kedua putranya sebentar sebelum meninggalkan mereka dikamar itu.
Daren tersenyum lembut!, tetapi sedikit kemudian hatinya kembali terasa perih, Daren pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Ayana dan juga beristirahat di kamar.
Ayana melihat kepergian Daren dengan raut yang bertanya tanya!?.
Ayana pun menyusul Daren kekamar itu, dan ketika di depan pintu!,
Tokk..tokk!
Ayana mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk, sedangkan Daren yang ada didalam dan hendak melepaskan kancing bajunya, ia pun berhenti!
"Itu pasti kaukan Ayana!?"ucap Daren menatap pintu itu, lalu ia pun berjalan untuk membuka kunci kamar.
Cklek!
Degg!!,..
Lagi lagi perasaan yang tak tertahankan itu menghampiri hati Daren, kenapa Ayana selalu saja mengetuk pintu terlebih dahulu padahal status mereka adalah suami istri.
"Hemm..kenapa kau selalu mengetuk pintu!?"Ucap lirih Daren,namun dengan raut wajah yang tak bisa di pahami olehnya, Ayana hanya diam.
"Bolehkah aku masuk mas?" tanya Ayana tidak menjawab perkataan Daren sebelumnya.
Daren menghela nafas sembari tersenyum tipis!
"Tentu saja bagaimana pun kau memiliki hak untuk masuk meskipun tanpa izin terlebih dahulu dariku"sahut Daren lembut tak lupa senyuman diwajahnya.
Ayana pun masuk dengan sopan,Daren membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah Ayana, Lama Ayana diam sebelum melanjutkan perkataannya!.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu mas..."ucap Ayana pada akhirnya.
"Apa yang ingin kamu katakan, Ayana?!, Apakah ada masalah ataupun yang lainnya?"
"Tidak, tetapi aku kesini untuk mengucapkan,.. terimakasih untukmu karena bersedia sudah menemani anak anak jalan jalan"sahut Ayana tulus, Apa yang dipikirkan oleh Ayana, Daren kembali tersenyum!.
"Kenapa berterimakasih!,.." Daren menggantung kalimatnya, berjalan mendekati Ayana dua langkah didepan Ayana kemudian berhenti tepat di depannya.
Dekat!
Jarak yang begitu dekat, saat itu Daren kembali berpikir, mengapa Ayana tidak mundur sama sekali, bukankah biasanya Ayana akan selalu menghindarinya.
"Huff!!,..Ayana kau tahu...Entah mengapa ketika aku mulai mendekatimu dan menatap matamu seperti ini rasanya sangat sesak dan bahagia diwaktu yang bersamaan!"lirih terdengar dari suara Daren.
Ayana mengerut tak mengerti, Apa maksud dari ucapan Daren!?, kadang kadang Daren akan mengatakan sebuah kalimat yang tak dimengerti oleh Ayana apa maksud di baliknya, apapun itu, Ayana berpikir jika dirinya dan Daren seperti memiliki sebuah penghalang yang menjadi alasan mengapa Ayana hanya bisa menerima Daren sebatas teman bukannya suami.
"Maaf jika aku tidak bisa memahami dan mengerti apa yang kau ingin katakan ataupun sampaikan padaku Mas, tapi aku benar benar berterimakasih padamu dan maafkan aku jika aku tidak bisa bersikap sebagaimana istrimu" ucap Ayana dengan raut yang menegaskan jika ia bersungguh-sungguh meminta maaf.
"Sampai kapan kau tetap ragu Ayana?desis lirih Daren, heh!.. mungkin semua ini juga akibat dari yang telah ia lakukan kepada Ayana, namun sampai kapanpun Daren tidak akan menyerah mendapatkan cinta Ayana.
Ayana diam!
Entahlah!, ia juga tidak tahu jawaban apa yang harus ia jawab kepada Daren, apa alasan hatinya tak tersentuh oleh perlakuan Daren padanya.
Hening!
Daren dan Ayana saling diam dan hanya bisa membisik di hati masing masing,
Satu menit,..
Dua menit...
Tiga menit...
Pada akhirnya dengan suara yang terdengar lirih dan senyuman yang tertahan, Daren berbicara.
"Tidak apa apa Ayana sekarang aku mengerti jika tidak mudah untukmu, tapi aku boleh memohon satu permintaan darimu, Ayana..?"ucap Daren yakin dan bersungguh-sungguh, terlihat dari sorot matanya.
Ayana mengangguk!.
"Tolong jangan pergi dariku...bila suatu hari nanti jika kau mendapati aku sebagai orang asing dimatamu, tetaplah menjadi temanku apapun yang akan terjadi di masa mendatang.."tatap Daren tersirat harapan didalam matanya,
Apakah ada satu hal yang tak pernah bisa Ayana ingat?, hal apakah yang tersimpan didalam benaknya..didalam ingatannya yang hilang.
Diam!...hanya diam,
Sesuatu yang tak bisa diingat itu apa!?, sesuatu yang ingin sekali rasanya Ayana keluarkan dari ingatannya, sesuatu yang kadang terlalu menyesakkan dadanya.
Kini hanya titik hitam tanpa ujung yang ada di dalam pikirannya, dibiarkannya begitu saja dan berharap satu hari ini akan terbuka terang untuknya.
...************...
Dipagi hari yang telah menampakkan sinar hangatnya, Sagara dan Andreas yang tengah sarapan di cafe di lantai bawah hotel yang sekarang tempatnya menginap.
Dengan memakan makanannya Sagara hanya mengangguk-angguk kepala disaat Andreas mencoba menjelaskan sesuatu dan memberikan sebuah masukan untuk Sagara.
"Jadi kau setuju!?"tanya Andreas sambil mengusap mulutnya menggunakan kain.
"Hem!"
"Baiklah jika begitu saya akan menghubungi tuan Bima dan pekerja lainnya,..jadi kau tenang saja, urusan di kota ini akan selesai dengan cepat"jelas Andreas,
Sagara menolehkan wajahnya!
"Tunggu aku punya satu urusan dengan beberapa buruh disana, nanti aku sendiri yang akan menemui mereka" sergah Sagara.
"Eum..baik...jika begitu!"
Setelah itu mereka pun menyelesaikan sarapannya, lalu mereka bergegas untuk pergi ke kantor pengawasan pembangunan.
Ditempat lain...
Daren tengah duduk didalam ruangannya sambil menatap lurus kedepan, Beberapa saat yang lalu ia tengah berbicara dengan salah satu asistennya dan asisten tersebut sudah menyampaikan informasi yang dimintanya.
Dalam beberapa hari ini Daren telah memerintahkan kepada asistennya untuk mencari tahu akan keberadaan seseorang dan yang tak lain adalah Sagara.
Dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan!, Daren tersenyum kecut! ternyata Sagara telah tiba di kota itu sesuai dengan dugaannya.
Bagaimana pun juga Daren telah memikirkan jika Sagara tidak mungkin mundur begitu saja dari proyek yang telah mereka jalankan.
Namun sialnya!?
Dari perusahaan yang dikembangkan oleh Ayana beberapa tahun ini, mencapai puncak keberhasilan sebagai perusahaan baru dan karena perusahaan Sagara adalah perusahaan besar yang sangat menguntungkannya oleh karena itu Ayana ingin bekerja sama dengan perusahaan global group corporation.
Dan ketika itu Daren belum mengetahui perusahaan mana yang ingin bekerja sama dengan Ayana dan ketika Daren sudah mengetahui jika perusahaan Sagara lah yang sedang bekerjasama dengan Ayana, dan dengan mengambil keputusan untuk memutuskan kontrak kerjasama.
Sagara ada di kota ini!, tak dipungkiri bisa saja Ayana dan Sagara bisa bertemu. Untuk hal ini Daren harus segera bertindak.
Daren tersenyum tipis!, Apa yang tengah di pikirannya, apa yang tengah direncanakannya, Jika harus bertemupun, bukan saat ini, berikan waktu untuknya jika memungkinkan.
Pikiran yang sungguh naif!
Daren mengambil handphone dalam saku celananya, menekan beberapa nomor...
Drrttt!
"Awasi nyonya!"perintah Daren dengan raut datar.
Tokk...tokk!!
"Permisi mas Daren"
Deggg!!
Tiba tiba terdengar suara Ayana dibalik pintu ruang kantornya, Daren langsung mematikan ponselnya dan berjalan kearah pintu.
"Ayana!?"ucapnya ketika pintu itu telah dibukanya, terlihat wajah cantik Ayana dan ditangannya ada sebuah dokumen.
"Maaf mengganggumu mas, tapi aku kesini untuk menanyakan sesuatu kepadamu" imbuh Ayana agak heran disaat melihat ekspresi Daren yang agak kaku, tapi Ayana tidak terlalu memikirkannya.
"Masuklah Ayana" Daren pun mempersilahkan Ayana untuk masuk, lalu mereka pun duduk berhadapan di meja tamu di dalam kantor Daren.
"Apa ada masalah?" tanya Daren berusaha untuk tenang.
Ayana tersenyum lalu memulai membicarakan yang ingin ditanya olehnya.
Dan disaat Ayana ingin membuka suaranya, hati Daren semakin gugup dan was was, apakah Ayana mengetahui sesuatu, pikirannya.
"Begini mas,....sebenarnya aku ingin menanyakan apakah besok mas sibuk!"
Huffff...!!
Tanpa disadari Daren menghela napas lega, lalu dengan raut yang lebih lembut, Daren menjawab.
"Tidak, memangnya ada apa?" tanya Daren lagi.
"Besok aku ingin pergi kesuatu tempat, jika memungkinkan apakah bisa mas menjaga Ken dan Ren?" ternyata hal itulah yang ingin ditanya oleh Ayana.
Memangnya Ayana ingin kemana?, apakah ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Ayana.
"Tentu saja, tapi kau ingin kemana Ayana?"lanjut Daren bertanya. Ayana terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu.
"Ada pekerjaan yang harus Ayana kerjakan mas" jawab Ayana jujur.
Ayana memang ingin pergi kesuatu tempat yaitu sebuah panti asuhan yang agak jauh dari pusat kota dan sekalian ada yang ingin ia lihat di sebuah desa yang tak jauh letaknya dari panti asuhan tersebut.
Tanpa bertanya lebih lanjut akhirnya Daren pun memberikan izinnya kepada Ayana.
Bersambung...