
......................
Kejadian tersebut hampir fatal, jika tidak diselamatkan di waktu yang tepat Mungkin Zaara tidak akan tertolong.....
Disebuah ruangan,,,,
"BRAKKKKKK...." suara meja yang di pukul dengan keras.
"kurang ajar, Bagaimana dia bisa selamat!!" ucap seorang misterius di ruangan itu, terdengar dari suara jika ia sangat marah.
"*sign...tapi aku tidak akan menyerah!!"
"TUNGGULAH PEMBALASAN KU.!!!.." ucap orang itu menatap tajam kedepan.
***
jam 3 sore, seperti ucapannya Bunga kembali pulang, namun ketika ia sampai di depan pintu,,,
Bunga terlihat bingung,,,
"mengapa banyak sekali pelayan disini...dan kenapa dapur terlihat seperti habis terbakar!!?" gumam Bunga.
"permisi...ada apa ini?...mengapa kalian terlihat sangat takut" tanya Bunga kepada salah satu pelayan yang terlihat tergesa dalam pekerjaannya yang sedang membereskan ruangan tamu.
"itu nona...nona muda hampir celaka, namun untungnya nona muda baik baik saja sekarang" jawab pelayan muda itu.
betapa terkejutnya Bunga ketika mendengar hal tersebut, ia pun bergegas naik untuk menemui Zaara,,,
"oh tuhan...apa yang terjadi dengan Zaara!" ucap Bunga khawatir, ia berjalan cepat menuju kamar Zaara.
"krittt..." pintu kamar dibuka,,,,
Bunga yang sangat cemas ia lupa untuk mengetuk pintu kamar Zaara, benar saja ketika Bunga membuka kamar Zaara, Sagara dan Zaara serentak menoleh,,,
"maafkan saya.." ucap Bunga cepat, ia benar benar lupa jika harus mengetuk pintu terlebih dahulu,
"tidak apa apa Bunga, cepat masuk sini!" ucap Zaara tersenyum kearah Bunga yang masih terpaku di depan pintu.
"emmm...iya..." Bunga pun berjalan perlahan, lalu ia mendekati Zaara,,,
"Zaara....apa kau baik baik saja?" ucap lirik Bunga sedih melihat keadaan Zaara yang terlihat lemah.
"ya...aku baik baik saja... tenanglah Bunga" jawab Zaara tersenyum.
"aku telah mendengar semuanya, kejadian itu...aku sangat sedih dan cemas" ucap Bunga yang sudah menitikkan air matanya.
"tidak apa apa, aku baik baik saja, hanya butuh istirahat aku akan kembali pulih" jawab Zaara menenangkan Bunga.
Sagara yang mendengar percakapan mereka, Sagara berdiri dan meninggalkan mereka untuk lebih leluasa.
Di saat Sagara keluar dari atas tangga terlihat ada tamu yang datang.
Sagara melihat jika ada seorang wanita yang dikenalnya sedang berbicara dengan seorang pengawal,,,
tap...tap....tap....Sagara menuruni anak tangga satu demi satu lalu ia berjalan kearah ruang tamu,,,,
"bukan kah itu Rena!?" gumam Sagara, dan benar ketika Sagara semakin dekat ia bisa mendengar percakapan antara Rena dan pengawal.
"pak saya adalah sahabat dari Zaara, aku mendengar jika dia terluka karena itu biarkan saya masuk" ucap Rena.
"maaf nona, saya tidak bisa karena tuan muda memberi perintah kepada siapapun untuk tidak menemui nona Zaara saat ini" ucap pengawal itu kepada Rena.
"biarkan dia masuk!" ucap Sagara yang sudah ada di dekat pintu utama.
"baik tuan...silahkan nona" pengawal itu pun memberikan jalan kepada Rena.
"Apa yang terjadi dengan Zaara, apakah kau tidak menjaganya dengan baik!?" ujar Rena menatap dingin kepada Sagara.
jika menyangkut keselamatan Zaara, walaupun itu Sagara ia tidak akan takut.
"Zaara ada di atas, temui dia" ucap Sagara, ia tidak ingin membalas ucapan Rena tadi, yang menurut Sagara sedikit kurang ajar kepadanya.
lalu Rena pun mengalihkan pandangannya, berjalan masuk mengacuhkan Sagara.
Rena pun bergegas menuju kamar Zaara yang terletak di lantai atas,,,
Rena telah ada didepan pintu kamar Zaara lalu ia pun mengetuk terlebih dahulu,,,
"Tokkk...tok... Tokkk"
"Zaara!!" teriak histeris Rena setelah membuka pintu dan dengan setengah berlari ia menghampiri Zaara,,,
"kenapa kau bisa mengalami hal ini Zaara, kenapa kau selalu ditimpa kesulitan, malang sekali dirimu Zaara...hiks!" ujar Rena meratapi nasib Zaara.
"apa yang mbak katakan, Zaara baik baik saja, lagi pula mbak jangan ngomong kaya gitu, karena Zaara percaya semua yang menimpa Zaara pasti adalah ujian dari Allah dan pasti akan ada hikmahnya" ucap Zaara sambil memegang tangan Rena untuk menenangkannya.
"hiks..kau benar maafkan mbak ya, tapi mbak khawatir dengan mu"
"nggak usah khawatir dengan keadaan Zaara, Alhamdulillah Zaara baik baik saja sekarang" jawab Zaara.
"mbak duduk dulu disebelah Zaara yuk!" ucap Zaara karena Rena masih berlutut dilantai samping kasur Zaara,,,
Rena pun berdiri dan mendekati Zaara lalu duduk disebelah Zaara dan memegang tangan Zaara lagi,,,
"Zaara ceritakan sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa kebakaran?"
"iya mbak Rena tadi Zaara mau masak untuk hubby, tapi entah kenapa tiba-tiba disaat Zaara menyalakan kompor, kompor meledak dan dengan cepat membakar seluruh dapur" jawab Zaara.
"astaghfirullah, untung kau tidak terluka Zaara"
"iya mbak, Zaara juga bersyukur karena tidak terluka parah".
"tapi mbak Rena, ngomong ngomong kenapa mbak Rena tahu jika terjadi sesuatu dengan Zaara?!"
"itu... sebenarnya karena diberitahukan oleh Andreas" jawab Rena cepat
"tuan Andreas?"
"iya, eit...jangan salah paham kau ya Zaara, mbak itu nggak punya nomor telepon dia, tapi laki laki itu ada ditoko mbak entah mengapa dan terus disaat itulah Sagara telpon, mbak awalnya nggak tahu mereka ngomong apa tapi yang jelas mbak tahu jika ada masalah" jelas Rena panjang lebar.
"hehehe...mbak segitunya cerita..."
"iyalah kau kan memang suka gitu, memikirkan hal yang nggak-nggak ke mbak" ledak Rena.
mereka jadi bercanda,,,
"Hehm!!" deham Bunga.
mereka berdua menoleh bersamaan,,,
"nggak apa apa kok Rena, tapi asik aja gitu ngeliat kalian berdua bercanda" ucap ramah Bunga.
"hahahaha...bisa saja kamu, sini duduk kita bercanda bareng" ucap Rena.
mereka bertiga pun malah larut dalam pembicaraan dan Senda gurau mereka,,,
disaat mereka asik bercanda Sagara datang,,,
"KRIITTT......" pintu terbuka.
"Zaara..... beristirahat lah, jangan lupa kau masih dalam keadaan sakit!" ucap Sagara kepada Zaara.
"ahh...benar aku jadi lupa, Zaara sekarang kau beristirahatlah, lagi pula setelah ini aku ingin pulang" ucap Rena kepada Zaara.
"baiklah mbak hati hati dijalan, dan mbak boleh minta tolong kepada supir untuk mengantar mbak"
"iya Zaara, mbak pergi dulu... Bunga aku pergi dulu ya..." Rena pun keluar dan segera pulang.
sekarang dikamar itu hanya ada Bunga, Zaara dan Sagara, suasana menjadi canggung untuk Bunga karena sekarang ada Sagara yang tengah duduk di sofa kamar itu.
Bunga yang sadar jika ia harus segera keluar, ia pun berdiri dengan gerak tubuh yang canggung,,,
"emm..itu Zaara aku permisi dulu, kau beristirahat lah" ucap Bunga lalu ia bergegas keluar,,,
hening,,,
setelah Bunga keluar tertinggalah Sagara dan Zaara didalam kamar mereka.
"Zaara..." panggil Sagara lembut.
"iiya hubby?....ada apa!?" tanya Zaara menatap Sagara yang masih duduk di sofa.
"kau marah?" tanya Sagara singkat tanpa menatap Zaara.
"marah?...,maksud hubby!?" tanya Zaara lagi masih tidak mengerti.
"marah atas tindakan ku hari ini" jawab Sagara yang menatap kearah Zaara dengan serius.
"huh.....begini hubby" ucap Zaara sambil menghembuskan napas kasar.
"Zaara tahu ini untuk kebaikan Zaara" ucap Zaara dengan suara yang pelan.
"kau tidak marah padaku, sayang?" ucap Sagara menjadi sedikit tersenyum, lalu ia berjalan mendekati Zaara,,,
Zaara menggelengkan kepala,,,
"tapi Zaara mohon hubby, biarkan Zaara masak ya sesekali, jika Zaara tidak melakukan itu rasanya sangat bosan" pinta Zaara sambil tersenyum.
lagi lagi Sagara kalah dengan gadis itu, ia benar benar tidak pernah bisa menolak Zaara.
dengan tatapan iba Zaara membuat Sagara salah tingkah.
"baiklah... Baiklah aku menyerah, tapi hanya sesekali dan jangan sendirian, kau harus di jaga oleh kepala pelayan" ucap Sagara gusar tidak berdaya dengan Zaara.
"Yeay... suami terbaik" ucap Zaara sumringah, dan refleks memeluk tubuh Sagara yang sudah ada disampingnya,,
"Deg!! jantung Sagara lagi lagi berdegup kencang,,,
"ya tentu saja aku suami yang terbaik, karena aku yang paling mencintaimu" ucap Sagara sambil menahan debarannya.
Zaara masih memeluk Sagara,,,
"Zaara apakah kau tidak ingin melepaskan pelukan ini?" ucap Sagara, Zaara yang mendengar perkataan Sagara pun sontak sadar.
"ehh..iya..maaf" ucap Zaara lalu ia melepaskan pelukannya, namun disaat Zaara ingin melepaskan pelukannya, Sagara menahan tubuh Zaara.
"jangan lepaskan, tetap seperti ini" ucap Sagara tersenyum lalu ia membawa tubuh Zaara untuk bersandar di kasur dan ia bermanja di pelukan Zaara dalam posisi itu.
tiba tiba suasana menjadi hening,,,,Zaara menjadi tegang di suasana seperti itu.
"deg...deg...deg..." jantung Zaara terdengar cepat,,,
tiba tiba dengan suara yang berat namun lembut Sagara berkata,,,
"apakah kau sedang berdebar Zaara?" tanya Sagara yang masih bersandar di tubuh Zaara.
sontak membuat Zaara merona,,,
"ti..tidak..siapa yang berdebar" ucap gagap Zaara
"benarkah lalu suara apa ini?" ucap Sagara menggoda Zaara dengan sengaja mendengar suara jantung Zaara.
Zaara menjadi malu, tapi ia tetap tidak mengaku
"itu..karena Zaara sedang sesak saja, hubby minggir!" jawab Zaara mengelak lalu ia melepaskan pelukan Sagara ditubuhnya dan berbalik membelakangi Sagara.
Sagara menahan tawanya, ia tahu Zaara malu untuk mengungkapkan perasaannya sendiri kepada Sagara, namun ia tidak akan memaksa, ia yakin jika Zaara akan mengatakan hal itu suatu hari nanti.
*****
"Bodoh mengapa kau bisa gagal, hah!!!" ucap seorang wanita dengan marah kepada wanita satunya lagi yang mengenakan pakaian pelayan.
diruangan sebuah kamar terdengar suara wanita yang marah, kamar itu remang remang menjadikan wajah wanita itu tidak terlihat.
"maaf nona, tapi saya telah melakukan sesuai dengan perintah anda" jawab wanita itu pelan.
"beraninya kau!!!" tatap wanita itu
"keluar sekarang!!" wanita itu marah dan mengusir pelayan itu.
pelayan itu pun keluar dengan tergesa gesa,,,
BRAKKK!!!
"lagi lagi mengapa aku gagal" desis wanita itu menatap foto yang terpajang di dinding kamar itu.
"kau gadis yang sangat beruntung bisa terlepas dari kebakaran itu" ucapnya dengan suara yang sangat marah.
"tidak ada lain kali, setelah ini aku akan membuat hidupmu hancur sehancur hancurnya.." dengan seringai tajam
"ZAARA!!"
ternyata wanita itu sangat membenci Zaara, sebenarnya siapa dia, apakah kali ini hidup Zaara benar benar dalam bahaya.
bersambung........