Zaara

Zaara
bab 7. keinginan untuk memiliki



......................


ternyata...tidak pernah tersangka sebelumnya...


terjawab sudah semua pertanyaan Andreas dan kini ia telah melihat sisi lemah Sagara.


"terimakasih Andres dengan begini aku sedikit lega" ucap Sagara pertama kalinya mengucapkan kalimat tersebut.


wah.!!.apa yang telah didengar oleh Andreas tadi, sejenak ia menjadi sedikit aneh dengan kalimat yang terucap dari mulut Sagara itu.


"hehehe..s..sama sama tu..tuan muda" jawab Andreas canggung.


"Andres duduklah, aku ingin berbicara denganmu!" pertama kali juga dia meminta Andreas duduk setelah sekian lama berdiri.


"baiklah tuan muda" ucap Andreas, lalu ia pun mendudukkan dirinya di hadapan Sagara dengan mengambil kursi di pojok ruangan itu.


kriitt...! suara kursi di tarik.


dengan itu Andreas pun duduk berhadapan dengan Sagara, sekarang rasanya sangat berbeda tuannya itu sekarang terlihat sangat kalut.


satu menit...dua menit....tiga menit... seterusnya...


lama Andreas menunggu Sagara untuk mengatakan sesuatu, namun tidak juga Sagara mengucapkan sepatah kalimat pun.


tapi ia sekarang mengerti dan hanya menunggu sampai Sagara siap berbicara lagi.


"hehmmm...!! Andres sekarang katakan padaku!?" akhirnya Sagara berbicara.


"Apa itu?" kini Andreas kembali bingung


"bagaimana caranya aku harus bertindak" ucap Sagara pada akhirnya.


Andreas yang mendengarpun menahan senyuman, walaupun Sagara bingung tidak tahu harus bagaimana dengan hatinya saat ini tetapi Sagara tidak mau menyerah, terlihat seberkas harapan di matanya indah itu.


"hahmmm...."


benar benar aneh rasanya, Sagara sekarang sangat berbeda, dulu jika berhadapan dengan Sagara yang dilihatnya hanyalah keangkuhan tetapi sekarang Sagara tengah bingung juga kalut.


benar benar pemandangan yang sangat langka, pikir Andreas.


"mungkin ini adalah awal hidupmu untuk lebih baik tuan muda"batin nya.


"sekarang saya ingin bertanya apakah tuan muda sudah bisa memastikan jika rasa anda benar benar tulus menyukai nona Zaara?" tanya Andreas menatap serius.


Sagara hanya diam,,


"kalau begitu apakah anda juga ingin memastikan sesuatu atau malah ingin membuat sesuatu menjadi pasti?"


Sagara tersentak,,,


Andreas yang merasa jika Sagara sudah mendapatkan jawabannya lalu berkata


"maka tuan muda jika anda ingin memastikan sesuatu maka lakukanlah buat hal itu menjadi harapan yang nyata".


Sagara segera berdiri dan meninggalkan Andreas yang masih diruangannya.


Sagara berlari lalu pergi menggunakan mobil dengan kecepatan penuh ia segera menuju kampus Zaara.


***


tetapi sesampainya disana universitas itu telah tutup, Sagara menjadi ingat jika hari ini kampus itu mengadakan acara rapat semua dosen karena itu semua mahasiswa dipulangkan


Sagara segera pergi lalu ia menuju tempat kerja Zaara tetapi ia juga tidak menemukan Zaara, dia hanya bertemu Rena dan Rena mengatakan jika Zaara hari ini libur berkerja.


"lalu apakah anda tau kemana Zaara pergi?" tanya Sagara


Rena yang terkejut kedatangan Sagara lantas bertanya tanya tetapi ketika Rena melihat Sagara ia menjadi bingung entah mengapa sekarang laki laki itu terlihat sangat kusut.


"hari ini tanggal 18 yang dimana adalah hari kematian orang tuanya, mungkin saja dia sedang pergi ke makam orang tuanya" ucap Rena


"apakah kau tau dimana alamatnya?"


" jl. Maret disana terdapat kompleks kuburan jadi cari saja mungkin Zaara ada disana"


Sagara yang telah mendapatkan jawaban pergi tanpa permisi


Sagara langsung menuju alamat itu,,


Cittt...


mobil Sagara berhenti didepan komplek kuburan itu lalu berjalan masuk, ia melihat lihat sekitar mungkin ia kan menemukan Zaara,


dan benar saja tidak jauh dari tempat dia berada Zaara terlihat berdiri didepan sebuah makam, lalu Sagara mendekat tanpa suara.


"Ayah, Ibu, Zaara kesini hanya ingin bertemu zaara merindukan kalian".


"walaupun Zaara nggak bisa melihat ibu sama ayah tetapi Zaara ingin menceritakan semua yang telah Zaara alami". ucap Zaara ia menangis lalu dengan mencoba tersenyum Zaara mulai bercerita setiap yang dia lalui bukan cerita sedih tetapi ia menceritakan bagaimana kehidupan nya sehari hari penuh kebahagiaan.


"Zaara bisa kok hidup sendiri, Zaara juga udah berjuang sendiri dan Zaara bahagia" ucap zaara tiba tiba ia menumpahkan air mata, semua yang diceritakan tidaklah bohong hanya saja kehidupan nya lebih menyakitkan lagi.


dengan segala kerapuhan hatinya Zaara terduduk dan menangis sejadi jadinya


"hu...hu...hu... doain Zaara ya Bu, ayah semoga Zaara lebih sabar lagi Menghadapi ujian dari Allah "


Sagara yang memperhatikan Zaara hatinya juga ikut merasakan sakit.


"Zaara juga akan terus berdoa untuk ayah dan ibu semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi -Nya".


Zaara masih terisak lalu tiba tiba cuaca berubah mendung tetapi Zaara tidak juga mau pergi ia masih saja menangis sekarang Zaara benar benar menumpahkan air matanya.


tiba tiba hujan turun,,


tidak ada pergerakan sama sekali akhirnya Sagara berbicara,


"Zaara"


sontak Zaara terkejut lalu ia berdiri,,


Sagara berjalan mendekati Zaara dan berhenti tepat satu meter dari Zaara.


Zaara tidak percaya bahwa yang sekarang berdiri dihadapannya adalah sagara.


"hei, gadis bodoh apakah kau tidak takut jika kau akan jatuh sakit"


"kenapa kau masih saja diam dan membiarkan kau kehujanan" ucap Sagara


Zaara yang mendengar itu pun bukan menjawab tapi ia malah balik bertanya


"mengapa tuan muda ada disini?" tanya Zaara


"jawab pertanyaan ku Zaara " jawab Sagara ucapnya gusar dengan hati yang sudah pasrah Sagara maka berkatalah.


"baiklah aku mengalah! sekarang akan aku katakan semuanya " dengan bertekad Sagara berkata jika...


"Zaara tolong jangan biarkan uluran tanganku sia sia, jangan takut untuk percaya dan juga percayalah padaku" ucap Sagara


Zaara tidak mengerti dengan ucapan Sagara apa maksud dari laki laki itu.


tetapi sesaat kemudian ia mengerti,dengan suara terdengar tegar.


"saya hanya takut jika semua itu hanya harapanku dan aku takut berharap tuan" ucapan Zaara


"yang saya lalui itu sudah dari cukup dan saya takut berharap kepada orang lain" sambung nya


"bukan seperti itu yang benar" sergah Sagara


yah yang dikatakan Sagara benar didalam hati Zaara sebenarnya adalah ia hanya takut berharap kepada Sagara, takut berharap lebih dan semua itu akan menyakitinya lagi.


"Zaara kalau begitu biarkan aku mengejarmu, akan Aku buat kau percaya," ucap Sagara.


Zaara terkejut dengan kalimat Sagara, apakah sekarang Sagara mencoba membuktikannya, membuktikan bahwa Zaara harusnya percaya padanya, tidak mengabaikan uluran tangannya.


"Zaara Cahya Elmeera, aku berdiri didepan makan orang tua mu untuk mengatakan jika aku akan berjuang agar mendapatkan kepercayaan mu, mendapatkan hatimu" teriak Sagara


"Zaara jangan tolak aku lagi, karena aku tidak mampu lagi dengan penolakan mu" sambungnya disaat Sagara melihat mata Zaara, mata yang polos itu mencerminkan segalanya bahwa ia takut berharap.


tetapi Sagara akan berusaha membuat Zaara percaya, membuat gadis itu menjadi miliknya.


Zaara yang melihat ketulusan juga tekad pada Sagara ia pun menganggukkan kepalanya.


"tuan muda jika kau ingin berusaha membuatku percaya maka berusahalah dan saya katakan bahwa aku adalah orang yang tidak mudah berubah" ucapnya sambil tersenyum.


sekarang semua telah meluap, melambung tinggi, sekarang perasaan Sagara menjadi sangat lega akhir nya ia telah menemukan penyebab hatinya gundah.


Sagara pun berjalan mendekati Zaara lebih dekat lagi hingga ia berdiri berdampingan.


"salam kenal ibu, ayah, saya adalah Sagara Caesar Ardiaz, saya adalah laki laki yang dari sekarang akan memperjuangkan putri anda, yang akan menjaganya, dan tidak akan membiarkan ia terluka lagi" janji Sagara kepada kedua orang tua Zaara.


Zaara pun menjadi tersenyum mungkin dia juga harus mulai mempercayai Sagara


"seperti janji mu Sagara aku juga akan berjanji untuk mulai percaya pada mu".batin Zaara.


bersambung...