Zaara

Zaara
bab 26. life after marriage part 3



......................


setelah mereka beristirahat Zaara pun keluar untuk melihat lihat tempat itu,,,


Zaara berdiri di tepi pantai itu lalu ia membiarkan angin menerpa wajahnya, sangat nyaman dan sejuk.


"sebentar lagi matahari akan tenggelam, jika dilihat dari sini maka akan sangat indah"


Zaara memandang atas langit, lalu ia tersenyum,,,


"Zaara"


Sagara yang melihat zaara keluar, ia pun mengikuti nya dan memandang Zaara dari kejauhan, gadis itu sangat cantik,,


Zaara menoleh,,


"tuan muda?"


Sagara pun memeluk tubuh Zaara dari belakang,,


"sangat cantik" puji Sagara


"kau tahu Zaara langit ini memang sangatlah cantik, tetapi bagiku ada yang lebih indah"


"apa itu tuan muda" tanya Zaara polos


"senyuman mu Zaara" jawab Sagara


"sejak kapan tuan muda yang dingin ini sangat pintar menggombal" batin Zaara


Zaara menjadi merona,,,


"terimakasih"


"untuk apa?" tanya Sagara


"untuk semuanya, saya berharap kita kan selalu seperti ini, selalu menemani, selalu berusaha untuk satu sama lain" ucap Zaara ia melepaskan pelukannya dan menghadap Sagara.


"tuan muda kau adalah suami terbaik" ucap Zaara menatap wajah Sagara.


Sagara memegang tangan Zaara,,,


"Zaara kau adalah istri kecilku yang paling aku cintai"


mereka tersenyum satu sama lain, sekarang perasaan mereka menjadi satu, genggam tangan itu seakan memberitahukan bahwa mereka tidak akan pernah terpisahkan.


"lihat matahari nya akan tenggelam, sangat cantik" ucap Zaara lalu ia berlari sepanjang pantai membuat jejak kakinya disana.


Sagara hanya melihat dan tersenyum oleh apa yang dilakukan istrinya itu, lalu ia ikut berlari mengejar Zaara.


.....


malam harinya,,,


"Zaara, kau sedang melakukan apa?"tanya Meena tiba tib datang ke dapur.


"ehh...Meena aku sedang memasak untuk makan malam kita" jawab Zaara


"wah benarkah, aku akan membantu mu" Meena pun ikut membantu Zaara menyiapkan makanan.


"kita akan memasak apa Zaara?" tanya Meena yang sedang melihat lihat bahan makanan.


"aku akan memasak makanan kesukaan tuan muda malam ini" jawab Zaara tersenyum


"apa itu Zaara, makanan kesukaan tuan Sagara?"


"ayam lada hitam, sayur capcay dan juga jamur goreng"


"baiklah, aku akan mengambilkan bahan makanan nya" ucap Meena.


Meena pun mengambil bahan makanan didalam kulkas.


"ini Zaara"


"baik, terimakasih"


Lalu mereka mulai memasak dengan gembira,,,


"wah syukurlah sudah selesai" ucap Zaara meletakan makanan terakhir yang dimasaknya di atas meja.


"iya benar" ucap Meena, ia duduk dikursi untuk beristirahat sejenak.


"baiklah aku akan memanggil tuan muda, tolong ya Meena panggilkan tuan Andreas didepan" pinta Zaara.


"baiklah" mereka sama sama berjalan untuk memanggil dua laki laki itu.


Meena berjalan kedepan, ia melihat Andreas sedang duduk di gazebo, Meena yang melihat hal itu pun keisengan nya kembali lagi.


ia berjalan perlahan agar langkah nya tidak terdengar tiba tiba,,,


"dor..." Meena berteriak tepat di samping telinga Andreas.


benar saja Andreas sangat terkejut,,,


"hahaha..." Meena tertawa tanpa henti, ia sangat senang membuat laki laki itu marah.


"kau!! bisa tidak jangan membuat orang marah hah" ucap Andreas tidak tahan dengan kelakuan Meena.


"hehehe.. tuan Andreas saya kan hanya bercanda jangan marah gitu dong" Meena masih tertawa.


"DIAM" teriak Andreas


Meena pun sontak terdiam mencoba untuk menahan tawanya.


"baiklah" Meena menganggukkan kepalanya


"tuan Andreas, saya kesini untuk memanggil anda untuk makan bersama didalam" ucap Meena.


"tidak terimakasih" jawab Andreas ia mencoba tenang.


"begitu...tapi nona Zaara lah yang meminta hal itu, kau berani menolaknya" ucap Meena dengan wajah yang dibuat buat.


Meena pun mengikuti Andreas masuk sambil menahan tawanya.


sesampainya dimeja makan,,


"tuan Andreas ayo duduk disini" ucap Zaara lembut


"terimakasih nona...saya.." Andreas menatap Sagara meminta izin, Sagara yang paham ia pun mengijinkan Andreas duduk.


Sagara yang sudah memperbolehkan lalu ia menarik kursi lalu duduk di depan Sagara.


mereka pun makan dengan lahap, mungkin karena perjalanan cukup panjang itu membuat mereka sangat lapar.


"Zaara kau memang sangat pandai memasak" puji Sagara.


"tidak biasa saja, Zaara hanya suka masak dari kecil" ucap Zaara yang memakan makanan dipiringnya.


sedangkan Andreas ia hanya diam melahap makanan, begitu juga Meena yang hanya makan sambil sesekali nyengir itu.


"ada apa Meena kenapa seperti kau sangat senang" tanya Zaara.


"tidak ada" jawab Meena mencoba tenang.


Zaara hanya mengangguk,,,


tak berapa lama mereka pun selesai makan...


didapur Meena dan Zaara membasuk peralatan makanan...


"sepertinya kau cukup dekat dengan tuan Andreas?" tanya Zaara,


akhir akhir ini ia memperhatikan jika Meena dan Andreas cukup dekat tapi ia bingung setiap kali ia melihat jika wajah Andreas seperti orang yang menahan amarah ataupun sedang kesal.


"tidak biasa saja Zaara, hanya saja aku sangat senang mengganggu tuan datar itu" ucap Meena.


"hahmm..pantas saja" Zaara geleng geleng kepala harusnya ia sudah tahu sebabnya.


"hehehe..." Meena tertawa.


***


"tuan muda semua telah dilakukan sesuai dengan keinginan Anda, perusahaan berjalan dengan lancar dan tidak ada masalah" Andreas sedang melaporkan keadaan perusahaan mereka baru baru ini.


"emm... bagus lah, sekarang kita lagi berlibur jadi kau juga nikmati lah dan jangan sampai membuat kesalahan" ucap Sagara datar, ia mencoba menutup matanya.


"tuan muda apakah tidak ingin menemani nona muda"tanya Andreas


"tidak, biarkan malam ini ia beristirahat, aku tidak ingin mengganggunya".


"baiklah, jika begitu saya juga akan keluar dan membiarkan Anda untuk beristirahat" bow Andreas lalu ia keluar.


Sagara berjalan menuju kamarnya,,,


kriettt....


benar saja setelah ia membuka pintu itu terlihat Zaara yang sudah tertidur pulas.


Sagara berjalan dengan pelan agar tidak membangunkan Zaara.


Sagara menatap wajah Zaara yang tertidur, lalu ia membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya,,


"selamat tidur istriku" Sagara mencium kening Zaara lalu ia juga merebahkan dirinya disamping Zaara.


***


keesokan paginya,,,


sinar matahari masuk melalui jendela jendela itu, begitu juga angin sejuk yang masuk membuat si empunya terbangun.


Zaara mengerjapkan matanya lalu ia mencoba menatap sekeliling kamar itu,,,


karena kamar itu dilantai dua, ia bisa melihat keadaan diluar, pantai yang berombak, angin berhembus membuat pohon pohon itu bergerak sesuai irama.


ia pun segera membersihkan diri dan turun kebawah untuk memasak.


"emm... aroma apa ini?" Zaara mencium aroma seperti hangus


ia pun mencari tahu apa yang terjadi, dilihatnya dapur karena asal aroma itu dari sana,,,


terlihat dapur yang berantakan, alat masak berserakan dan bahan makanan berhamburan diatas meja.


"tuan muda apa yang anda lakukan?!" ucap Zaara ia melihat jika Sagara tengah membuat makanan, tapi bukan masakan yang siap malah dapur itu berhamburan.


"aku mencoba membuat sarapan untuk mu" jawab Sagara yang masih memegang penggorengan.


"ahhh..tuan muda telur itu sudah hangus..lihat bahkan api ini terlalu besar" ucap Zaara kemudian mengambil alih penggorengan itu.


"tuan muda sekarang biarkan saya saja yang memasak...." ucap Zaara, ia dibuat pusing oleh kelakuan Sagara ini.


Sagara pun mengalah, ia juga sudah sangat lelah membuat makanan, dari tadi ia hanya menggoreng telur tetapi telur itu selalu hangus dibuatnya.


"Zaara aroma apa ini!!" teriak Meena yang datang sambil mengendus-endus.


betapa terkejutnya ketika sampai didapur ia malah melihat dapur itu seperti kapal pecah.


"astaga Zaara apa yang kau lakukan, kenapa bisa menjadi seperti ini?" tanya Meena keheranan


"mau bagaimana lagi, ini ulah suamiku" ucap Zaara.


"hah?!..tuan Sagara..kenapa" tanya Meena bingung


"dia mencoba membuat sarapan tetapi bukanya jadi malah membuat dapur ini berantakan" jawab Zaara


"Meena tolong bereskan sisa bahan makanan itu" pinta Zaara


"baiklah.."


akhirnya mereka malah harus membereskan semua itu pagi pagi,,


bersambung.....