
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Katakan!!...
Sagara mendesak Daren untuk mengucapkan sesuatu kepadanya, namun Daren hanya diam dan tersenyum kecut menatap Sagara.
"Apakah Ayana itu istriku Zaara!" tuding Sagara saat itu juga, mendengar kalimat itu Daren kembali diam membisu.
"Kau kira aku tidak bisa menemukan keberadaannya saat ini!, Kau lupa aku ini siapa tuan Daren!" desis Sagara mengancam akan menemukan Ayana dimanapun saat ini, Memang terlalu mudah untuknya.
"Kau jangan lupa aku memiliki latar belakang yang tidak mudah" lanjut Sagara, Daren diam beberapa detik, kemudian Daren kembali berbicara.
"Baiklah jika kau ingin mengetahui sesuatu"
"Bukan hanya sesuatu tapi semuanya, aku ingin informasi yang jelas darimu..."sergah Sagara tandas.
Heh!!
"Jika kau ingin tahu sesuatu lebih baik kau pergilah sendiri,...pergi kemasa lalumu"Daren menatap wajah Sagara dengan tatapan yang dingin dan tajam.
"Apa maksudmu!!"
"Jika kau ingin mengetahui semua dengan jelas, maka jawabannya ada disini..."ucap Daren lagi sembari menunjuk diri Sagara dengan berteka teki.
"Sebelum kau bertanya padaku, lebih baik kau mencari tahu jawaban itu didalam dirimu sendiri, disaat kau hanya bisa menyalahkan orang lain dan tidak menyadari apa kesalahanmu sendiri..." sergah Daren melepaskan cengkraman Sagara dengan kuat.
Deg!
Sagara terpaku mendengar perkataan tersebut, kesalahannya!, apa maksud dari kalimat itu.
Daren tersenyum tipis!
Lalu melangkahkan kakinya menuju teras mansion dan mendudukkan tubuhnya di lantai itu, menatap Sagara dengan tatapan yang lebih tenang.
"Kau!" tunjuk Daren kearah Andreas.
"Mungkin kau sudah kenal aku sebelumnya tuan Andreas, mungkin juga kau sudah merasa familiar padaku bukan!?"
"Ckk..jangan berbelit-belit!"geram Andreas, tetapi ia juga memikirkan apa yang diucapkan oleh Daren, saat itu juga Andreas sadar jika perasaannya tidak salah, memang benar jika ia pernah bertemu dengan Daren tapi dimana.
"Haha!..Ya..sekarang kau terlihat seperti yang waktu itu..." Andreas dengan sifat mendesak dan juga tidak suka berbelit-belit, sama hal nya dengan yang dulu ketika ia berhadapan langsung dengan Andreas.
"Ja..jangan..jangan kau!!"
"Heh...sudahlah sebenarnya aku sengaja membiarkanmu mengingat semua masa lalu...."potong Daren, ia berdiri dan hendak berjalan masuk kedalam mansion.
"Ouh...ya biar aku beritahukan kepadamu satu hal lagi, nama asliku adalah Daniel Raymond" berhenti sebentar lalu berbalik dengan menampilkan wajah yang tersenyum penuh arti. lalu ia kembali berjalan masuk kedalam mansion.
Sagara yang hendak mencegat Daren tiba tiba mengurungkan niatnya, ia hanya diam sembari menatap kepergian Daren dengan tatapan tajam dan marah.
Saat ini ia membiarkan Daren lolos dari hadapannya, tetapi hanya kali ini saja!, karena setelah Sagara berhasil mencari tahu lebih dalam lagi, maka tunggu saja apa yang akan dilakukannya terhadap Daren.
"Sagara kita harus pergi dari sini sekarang juga!"ucap Andreas kepada Sagara yang masih diam ditempatnya.
Tap!!
Andreas menghampiri Sagara lalu menepuk pundak Sagara dengan pelan,
"Sagara aku pernah berjanji untuk selalu mendukung apa yang kau usahakan dan sekarang juga begitu, percayalah jika semua ini adalah kebenarannya maka aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membongkar rahasia dibalik semua ini" ucap Andreas pelan.
Sagara menolehkan wajahnya kearah Andreas,terlihat seberkas harapan dari wajah Sagara, melihat hal tersebut Andreas ikut tersenyum.
Mereka pun pergi, dan selama diperjalanan Sagara hanya diam sembari memikirkan semua yang diucapkan oleh Daren beberapa waktu yang lalu.
Apa yang telah terlewat dari pandangan Sagara, apa yang telah terlewat selama ini dan ia tidak menyadarinya,
Dan malam yang dingin itu semakin dingin untuk Sagara, menusuk dalam dalam dan berhasil membuat ruang yang awalnya hampa dan kosong itu semakin dingin,
Hatinya kembali terluka!
...***********...
Keesokan harinya...
Tanpa berbasa-basi lagi, Sagara dan Andreas pun segera bergerak, mencari tahu semua informasi mengenai siapa itu sebenarnya Daren alias Daniel Raymond.
Daniel Raymond!, nama belakang itu cukup membuat Sagara mengingat sesuatu yang bertahun tahun lalu.
Saat ini Sagara telah berada di perusahaan miliknya yang ada dinegara M itu, walaupun beda kota tetapi itu membuat Sagara tidak jauh jauh dari Daren yang berada di kota dongzhu.
Tatapan mata yang fokus,
"Raymond?,... Andreas apa kau ingat nama ini?" celetuk Sagara bertanya.
Andreas pun mencoba mengingat-ingat kembali, dari dalam list musuh musuh Sagara yang diingat oleh Andreas, ataupun nama orang yang pernah bekerjasama dengan Sagara.
"Raymond!"gumam Andreas sambil mengingat-ingat, dan saat itu satu kejadian muncul didalam ingatannya,
Degg!!
"Hah benar!"timpal Andreas cepat, ia ingat sekarang jika nama Raymond itu adalah salah satu nama perusahaan yang sempat berjaya beberapa tahun lalu dan kemudian karena suatu sebab perusahaan itu bangkrut dan juga pemiliknya meninggal dunia.
"Raymond itu nama perusahaan yang berseteru dengan perusahaan kita dulunya, bukan!?"
Keluarga terkenal sekitar 11 sampai 10 tahun yang lalu, dan perusahaan Raymond itu adalah salah satu rekan kerja mereka dulu, tapi suatu hari perusahaan itu berkhianat dan menyerang perusahaan Sagara kala itu, membuat kedua perusahaan berkonflik, ditambah keluarga Raymond itu adalah salah satu penyeludup senjata ilegal dan terjadilah peristiwa memakan korban itu, Dan keluarga Raymond musnah dari saat itu.
"Heh!, dia datang untuk balas dendam!"desis Sagara menyeringai, alasan yang selalu menghampirinya.
"Tapi aku masih bingung jika ia balas dendam kenapa wanita yang mirip nona muda itu bisa bersamanya, apa motifnya?!" imbuh Andreas.
"Itu mudah!"sahut Sagara.
Dilihat dari waktu peristiwa ini bukankah saling berhubungan, 5 tahun yang lalu disaat Sagara masih berkonflik dengan Damian, disaat itulah Zaara meninggal dan sekarang bagiamana mungkin Zaara masih hidup.
Jika memang benar Daren datang untuk balas dendam tapi ini bukan awalnya, bukan Daren datang dengan seorang wanita yang mirip dengan Zaara lalu melawan Sagara!, aneh bukan!, dan disaat Sagara lagi lagi memikirkan semua eskpresi Daren, Sagara yakin pria itu mencintai wanita yang bernama Ayana, itu terlihat dari pertemuan pertama Sagara dengan Daren.
Dan satu hal lagi yang menjadi kejanggalan disini, yaitu kedua anak anak itu, Ken dan Ren!?
"Kau ingat kemarin apa yang diucapkan oleh pria itu!"lanjut Sagara.
'Lebih baik kau mencari tahu jawaban itu didalam dirimu sendiri, disaat kau hanya bisa menyalahkan orang lain dan tidak menyadari apa kesalahanmu sendiri' dan kalimat
'Masa lalu', Sagara yakin masa lalu yang dimaksud oleh Daren adalah kejadian Lima tahun yang lalu bukannya 10 tahun yang lalu.
Apa yang telah melesat dari pandangannya?, Apa ada satu hal yang bisa menjelaskan semua ini!?, pikir Sagara, dan jika ia menginginkan jawabannya, Sagara benar benar harus pergi kemasa lalu, Ia harus membuka kembali masa tersakit itu.
"Siapkan keberangkatan siang ini, kita akan kembali kerumah..!" perintah Sagara tegas.
Andreas paham, dan ia pun menganggukkan kepalanya dan pergi dari perusahaan itu untuk mengurus tiket pesawat keberangkatan siang itu juga.
Setelah semuanya siap, Sagara dan Andreas pun segera meninggalkan negara itu untuk pulang, dan mencari sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran dibalik kematian Zaara.
2 jam kemudian...
Tepat pukul 3 siang,
Sagara telah sampai dirumah setelah tiba dari bandara satu jam setengah,,
Tap...tapp!
Sagara dan Andreas berjalan masuk dengan langkah pasti, Rena yang telah menunggu kedatangan mereka pun langsung menyambut keduanya dengan senyuman, tetapi ketika melihat raut wajah Sagara yang begitu serius Rena sedikit heran.
"Mas akhirnya kau pulang, Sagara selamat datang kembali..." sambut Rena, Andreas membala ucapan Rena dengan senyuman, tetapi Sagara berlalu begitu saja.
Rena yang melihat pun tidak terlalu banyak bicara, karena ia tahu jika Sagara sudah bersikap seperti itu pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Ada apa mas kenapa dengan Sagara?" tanya Rena,
"Nanti aku ceritakan, lebih baik kita kedapur sekarang, aku haus" sahut Andreas langsung merangkul pundak Rena dan membawanya kedapur.
Disisi Sagara,,
Sekarang Sagara berdiri tepat didepan pintu kamarnya yang dulu bersama Zaara, menatap dengan tatapan sendu, Sagara berdiri kaku, pucat.
Pada akhirnya ia harus kembali membuka masa lalu dan melihat apa saja yang telah berlalu tanpa Sagara sadari, Apa yang telah ia lewatkan sehingga ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Cklek!
Kreitt...!
Perlahan lahan Sagara membuka pintu kamar, melangkahkan kakinya masuk,
Degg!
Tanpa disadari ternyata jantungnya mulai berdegup kencang, ditatapnya seluruh sudut kamar. tidak pernah berubah sedikitpun, tetap rapi, tetap menjadi kamar yang memiliki kisah baginya.
Sagara tersenyum tipis, lalu melangkah kakinya kearah meja rias yang sering dipakai oleh Zaara,
dan disinilah Sagara berdiri, didepan cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
Sedikit demi sedikit, bayangan itu berubah menjadi kenangan bersama Zaara, senyuman hangat diwajahnya, rangkulan dan genggam tangan yang begitu lembut, bercanda, tertawa, menangis dan semua hal yang pernah ia lalui bersama Zaara kembali dalam ingatannya.
Muncul jelas jelas dimonitor otaknya, memberi kembali rasa bahagia, sedih, hampa bahkan rasa bersalah yang tak pernah bisa Sagara tebus.
"Zaara..."lirih, sangat lirih, suara itu hampir tak terdengar, Kepalan terkepal erat, rahangnya terkantup keras, dengan tatapan yang tajam dan serius!
Sagara memikirkan segala sesuatu yang mungkin saja telah ia lewatkan dulu, 5 tahun yang lalu apa yang tidak Sagara ketahui tentang Zaara atau yang luput dari perhatian Sagara.
Sekarang adalah waktunya bagi Sagara untuk lebih kuat, dan tidak takut melihat masa lalu itu, karena hanya dengan cara seperti inilah ia akan tahu kebenarannya.
Kembali diedarkannya pandangannya keseluruhan sudut kamar, melihat tempat yang menjadi kemungkinan ia mendapatkan sesuatu, ruang pakaian?,
Sagara mencoba mencari sesuatu disana, namun ketika ia mencoba melihat lihat dan mencari apakah ada sesuatu tetapi hasilnya nihil, di ruangan itu hanya ada pakaian Zaara yang masih tersusun rapi.
Sagara pun tidak putus asa, ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja rias dan disaat itulah Sagara membuka laci meja.
!?, Sagara melihat sebuah album foto dan secarik amplop berwarna putih bertuliskan rumah sakit.
"Kapan ini ada disini?" pikir Sagara, lalu ia pun mengambil amplop itu dan membukanya perlahan lahan dan ketika surat itu terpampang dengan jelas.
DEG!!
Bersambung...