Zaara

Zaara
bab 80. terungkap dengan jelas



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang terjadi tuan Andreas sepertinya aku mendengar teriakkan tuan Sagara!?" tanya Meena yang saat itu berada dibawah dan mendengar sayup sayup teriakkan Sagara dari taman belakang.


tap...


"bukan apa apa?" jawab Andreas sambil berjalan kearah meja makan dan mengambil air putih.


"apakah kau sudah menemui nona Zaara?" tanya Andreas setelah beberapa kali meneguk air itu.


"sudah tapi sekarang ia tertidur" saut Meena.


"tertidur!?" imbuh Andreas tak mengerti, bagaimana mana Zaara bisa tertidur disaat Meena menjenguknya.


"eum..iya.. sepertinya Zaara kelelahan kau tahu aku lihat wajahnya pucat" sambung Meena.


"apakah nona muda sakit!?"


"entahlah" mereka pun berbicara berdua disana hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 2 siang.


"ckk... kenapa tuan muda sangat lama membuat ayunan itu" runtuk Andreas mulai bosan menunggu Sagara dari tadi.


"memangnya tuan Sagara sedang apa?" tanya Meena memang benar sudah setengah jam mereka berdua disana namun sedari tadi tidak juga melihat Sagara kembali dari taman.


"hhhmmm...dia sedang membuat ayunan kursi untuk nona muda" saut Andreas.


"ayunan!, untuk Zaara?" Meena terkekeh geli.


"sepertinya hubungan mereka tidak separah apa yang didengar"Meena tertawa kecil.


"sepertinya!" saut Andreas mengiyakan.


tap..


tap..


terdengar suara langkah kaki masuk kedalam ruang makan...


"tuan muda!" ternyata Sagara lah yang masuk.


"tuan muda sudah selesai?" tanya Andreas.


Sagara tidak menjawab ia hanya diam sambil berjalan mengarah dapur dan mengambil air es dari dalam kulkas.


"tuan muda jika sudah selesai saya ingin menyampaikan sesuatu kepada anda" teriak Andreas.


tap..


tap...


"hisss...kau sangat berisik!" imbuh Sagara datang dari arah dapur.


"hehehe...saya kira tuan tidak mendengar ucapan saya tadi" ucap Andreas cengengesan padahal itu hanya alasannya saja.


"sudahlah, kita bicara diruangan ku" saut Sagara lagi.


"baik" dengan sigap Andreas mengikuti langkah Sagara dari belakang sambil tersenyum geli kearah Sagara.


setelah mereka tiba didalam ruang kerja Sagara, mereka bertiga pun masuk...


mereka pun duduk disofa dan dengan raut wajah yang sudah serius, Andreas mulai menceritakan semua dari awal hingga akhir.


"jadi tuan muda saya telah mendapatkan informasi dari Ratan Lee dan seorang mata mata lainnya diperusahaan xibei" Andreas mulai membuka suaranya dan mejelaskan.


"aku sudah mendengar ini, lalu apa yang kau dapatkan?" tanya Sagara.


"jadi dari penuturan mereka berdua ada satu persamaan dan ini memang terbukti jika mereka tidak berbohong"


"seorang wanita bernama Hallen lah salah satu kunci kejadian ini"


"hallen?, siapa dia!?"


"inilah hal yang paling utama yang ingin kami sampaikan tuan Sagara" saut dari Meena.


"benar!, tuan muda apa kau masih ingat semua kejadian yang terjadi selama beberapa bulan ini!?"


Sagara hanya mengangguk singkat...


"tuan muda kau pasti tahu sesuatu kan?!" lagi lagi Andreas menanyakan pertanyaan ini.


"dan aku sangat yakin tentang ini, masalah ini terjadi dari kita pergi ke negara M waktu itu,saya sekarang merasa itu jika waktu itu hanyalah sebuah pengalihan untuk kita atau kita sudah terjebak dari awal oleh permainan ini"


tatapan mata Sagara seketika berubah lebih tajam dan serius,namun ia tetap bungkam dan hanya mendengarkan semua informasi yang sudah didapat.


"tuan muda saya curiga jika anda sudah tahu siapa wanita yang saya maksud!..."


"Bunga" imbuh Sagara.


"ternyata memang benar jika tuan sudah tahu!"


"aku tidak bodoh untuk membiarkan begitu saja orang asing masuk kedalam kehidupanku dan Zaara" sergah Sagara datar.


"jadi itulah alasan anda mengapa selama ini anda tidak bertindak secara langsung tapi... selalu secara diam diam karena anda telah sadar bahwa ada orang yang berniat jahat kepada nona muda!"


benar inilah semua yang selama ini disimpan rapat oleh Sagara dari semua orang.


"sialan wanita itu, ternyata selama ini aku telah membantu musuh masuk kedalam kehidupan Anda" Andreas menjadi marah disaat ia ingat, Andreas lah yang menyelamatkan wanita licik itu.


brakk!!


"tuan saya berjanji akan menemukan wanita ular itu" tekad Andreas kepada Sagara, bukan hanya tentang kesalahan apa yang telah dilakukannya namun juga membalas semua apa yang dilakukan Bunga kepada Zaara.


"cepat atau lambat saya akan menemukannya!!" desis Andreas.


"tidak perlu" sergah Sagara.


"Apa!!" Andreas agak terkejut, apa maksudnya.


"Andreas wanita itu ada dikota ini, namun ia berhasil lolos dari kejaran pengawal pengawal khusus, coba kau pikirkan siapa yang bisa melakukan ini semua dengan mudah!!" seringai terlihat diwajah Sagara.


"ma...maksud...tuan..!!" sepertinya mereka sudah bisa menebak siapa dalang dibalik semua ini.


"setelah sekian lama akhirnya orang itu bertindak!!"


"jadi tuan sekarang kita harus bagaimana, jika benar dugaan kita berarti sekarang pun bisa jadi Bunga telah dibunuh"


"tidak!..aku tidak berpikir seperti itu!" imbuh Sagara memotong ucapan Andreas.


"maksud anda!!"


"wanita itu...kau ingat Andreas teman masa kecil kita Halena!?"


"Halena...ahh benar gadis itu, jadi maksudmu jangan katakan bahwa mereka adalah orang yang sama" kenapa masalah ini sepertinya terlalu banyak plot yang tidak terduga.


"Halena, Hallen, dan Bunga adalah orang yang sama"


DEG!!!


flashback...


malam harinya setelah Zaara membawa Sagara masuk kedalam ruang baca, entah mengapa malam itu Sagara kembali memasuki ruangan itu.


tap..


tap..


terlihat Sagara berjalan mendekati beberapa rak buku dan sesekali mengambil buku itu dan kembali meletakkanny.


entahlah apa yang sekarang ia lakukan, apakah Sagara masih teringat bagaimana sikap Zaara siang tadi, pikiran Sagara semakin campur aduk dibuatnya.


"huhmmmm...apa yang sebenarnya aku lakukan disini!" pikir sangat menertawakan dirinya sendiri yang terlihat konyol dan tak berdaya jika berhadapan dengan Zaara.


ditengah berkecamuknya perasaan Sagara tiba tiba matanya tertuju kepada satu sudut ruangan yang dimana diatasnya ada album kenangan miliknya.


Sagara pun berjalan kearah album tersebut dan langsung membuka halaman halaman album tersebut.


dan disaat itulah Sagara batu sadar jika masih ada foto masa kecilnya bersama Andreas dan satu teman wanitanya.


"mommy... mommy...kenapa masih saja menyimpan foto tidak berguna itu" Sagara tidak terlalu suka melihat masa kecilnya.


namun tiba tiba Sagara tersadar akan sesuatu...


"kenapa rasanya sangat mirip seseorang!?" pikir Sagara tiba tiba merasa jika foto teman wanitanya itu terlihat seperti seseorang.


"tapi siapa?" gumam Sagara mencoba mengingat-ingat kembali dan ketika ia sadar.


DEG!!


"mereka sangat mirip...ckk...sial kenapa baru sekarang aku ingat!"


Sagara pun bergegas keluar dari ruangan itu dan menuju ruang kerjanya dan langsung membuka komputernya untuk mencari sesuatu.


"siapa namanya...benar aku harus menanyakan pertanyaan kepada mommy saja"


dan tidak berpikir lama lagi Sagara pun menekan beberapa buah nomor dan langsung menghubungi ibunya.


drrttt...!!


Tut!!


("ya.. halo Sagara ada apa menelpon tengah malam seperti ini!?") suara serak terdengar dari seberang telepon tersebut dan yang mengangkat telepon itu ternyata Daddynya.


"Dad..aku ingin berbicara dengan mommy!"


("untuk apa sekarang mommymu lagi tidur jangan menggangunya") saut Tristan.


"sebentar saja!" Sagara mendesak Tristan namun ayahnya itu juga tidak ingin diganggu lalu tanpa mengatakan apapun lagi Tristan mematikan teleponnya secara sepihak.


"ckk...dasar kenapa malah dimatikan" Sagara menjadi kesal lalu ia harus bertanya kepada siapa selain orang tuanya.


"ahhh...benar bibi Nan !" Sagara pun bergegas memanggil bibi Nan.


tap...


tap...


"selamat malam tuan muda" bow bibi Nan


"bi masuklah!, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu" saut Sagara.


lalu bibi Nan pun masuk kedalam ruangan itu...


"ya tuan muda?"


"bibi Nan apakah masih ingat siapa nama temanku ini?" tanya Sagara sambil memperlihatkan foto tersebut.


"tuan muda ini anda bersama dengan tuan Andreas dan juga nona Halena" saut bibi Nan.


benar ternyata bibi Nan masih ingat siapa wanita itu, pikir Sagara tersenyum.


"baiklah bi kau bisa pergi"


"baik tuan muda" lalu dengan raut wajah yang penasaran bibi Nan meninggalkan ruangan itu.


lalu Sagara pun mulai mengetik sesuatu di komputernya...


"benar Sekarang aku ingin namanya adalah Halena Adams" gumam Sagara terlihat tegang dan apa yang tengah dicarinya, ternyata adalah indentitas Halena.


"apa Halena sudah tiada?" betapa terkejutnya Sagara melihat artikel itu.


"tidak mungkin!!" artikel tersebut mengatakan jika Halena Adams adalah seorang putri dari seniman terkenal di negara M dan sekarang dikabarkan telah tiada satu tahun yang lalu.


flash off...


"tapi tuan muda kenapa kau merasa jika mereka adalah orang yang sama?" tanya Andreas masih tidak mengerti.


"aku telah memastikan hal itu" saut Sagara singkat.


"baiklah karena anda telah mengetahui semuanya, lalu apa perintah selanjutnya tuan?" Andreas benar benar tidak sabar untuk mengeksekusi wanita itu.


"tunggu mereka bergerak terlebih dahulu"ucap Sagara sambil menyeringai.


waktunya untuk membalaskan setiap yang dilakukan oleh Bunga kepada Zaara selama ini bahkan untuk nyawa yang hampir tiada.


bersambung...