
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tap...
tap..
tap..
Zaara sampai di rumah....
Bunga yang sedari tadi duduk di ruang tamu pun menyapa zaara.
"kau sudah pulang Zaara!?"sapa Bunga yang sedang duduk di ruang tamu.
"kau pasti lelah karena menunggu mobil itu diperbaiki, lebih baik sekarang kau cepat beristirahat ku lihat wajahmu pucat" ucap Bunga dengan senyuman bahkan terlihat sangat tulus.
"kalau begitu aku kekamar dulu Bunga!" ucap Zaara sambil memegang tengkuk lehernya dan memang terasa sedikit demam.
"eum..ya itu lebih baik" saut Bunga.
Zaara pun pergi meninggalkan Bunga dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat, tak lupa Bunga memperhatikan setiap langkah Zaara hingga Zaara sampai di depan kamarnya dan masuk.
Setelah memastikan Zaara beristirahat, Bunga pun memanggil pengawal yang berjaga di depan pintu dan memintanya untuk menyiapkan mobil untuk pergi.
namun sebelum pergi Bunga berpesan kepada pengawal tersebut...
tap..
tap..
cklek...!
"pengawal antar saya kejalan ini dan setelah itu kembalilah dan katakan kepada nona mudamu jika saya tiba tiba ada urusan" ucap Bunga kepada pengawal yang mengantarnya saat ini.
"baik nona" mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman itu.
vroomm...!!
disisi lain dikamar Zaara...
Zaara kembali merasakan jika badannya demam dan sedikit pusing, entahlah mungkin beberapa hari yang lalu pun ia juga merasakan hal yang sama.
"huhhhmm...!!" Zaara menghela napas berat, semua lagi lagi berlalu tanpa adanya kemajuan tentang bagaimana hubungannya dengan Sagara.
mungkin ini sudah berlalu cukup lama Sagara tidak kembali kerumah besar itu, kediaman bagaimana istana itu sekarang benar benar terasa kosong dan hampa.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatnya kembali, untuk menghubungi saja sangat sulit" pikir Zaara, selama ini ia selalu mencoba untuk menghubungi Sagara namun teleponnya selalu akan diabaikan.
lalu Zaara bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar...
tap...
tap...
tap...
Zaara berjalan menyusuri setiap jengkal rumah itu dari kamar Veera, Tisha dan yang lainya dilantai dua itu sampai kantor Sagara yang ada di bawah hingga terakhir adalah ruang baca.
Zaara berhenti didepan pintu ruangan itu, lalu dengan perlahan ia menggapai Handle pintu dan membukanya...
tak!
cklek...! pintu terbuka.
"ternyata ruangan ini sangat bersih dan rapi" ucap Zaara disaat ia melihat ruangan itu, ruang baca yang penuh dengan buku dan juga ada piano disudut ruangan.
tap..
tap..
"aku tidak pernah tahu jika ruang baca ini cukup nyaman dan mewah!" puji Zaara dan disaat Zaara menatap sekeliling tatapan Zaara terhenti ketika ia tidak sengaja melihat album foto disudut ruang itu.
Zaara pun menghampiri album foto...
"sepertinya ini cukup tua!" pikir Zaara karena album itu berdebu dan juga memiliki sampul yang sudah kusam.
Zaara pun membuka satu persatu halaman yang ternyata potret- potret masa muda Veera dan Tristan.
"sangat cantik!" puji Zaara sambil mengusap foto itu, foto Veera yang terlihat muda dan sangat anggun wanita yang sangat berkhasima, pikir Zaara.
"heh!?"
ketika Zaara membuka halaman disebelahnya ternyata disana ada foto anak anak Sagara dan Andreas dan satu lagi gadis kecil yang berada ditengah.
"siapa gadis ini!?" tanya Zaara
"mungkinkah Tisha?" pikir Zaara lagi namun jika itu Tisha bukankah Tisha harusnya terlihat lebih muda karena mereka terpaut 6 tahun.
"hehmm...mungkin teman masa kecil mereka" tebak Zaara lalu Zaara pun kembali membolak-balikkan halaman demi halaman dan akan tersenyum jika melihat foto Sagara yang terlihat lebih lucu menurutnya.
"ternyata kau pernah mengalami masa kecil yang indah dan membahagiakan diwaktu kecil" Zaara berkata dengan senyuman diwajahnya.
betapa gamblang perasaan itu ketika sedetik yang lalu ia masih merasa sangat lelah dan tercekik namun sekarang ia merasa sangat lega dan seperti ada yang terangkat didalam dirinya, semuanya yang tersisa hanya ruang yang kosong dihatinya.
lalu dengan senyum kecil di wajahnya, Zaara menutup album itu lalu keluar dari ruangan itu.
sekarang dirinya ingin sebuah kepastian dari Sagara jika ia masih dibutuhkan dan diminta namun jika tidak maka ia akan pergi.
tap..
tap...
tap...
Zaara menghampiri salah satu pengawal di halaman rumah...
"permisi pak!"
"heh!!.....nona muda, selamat sore!" bow pengawal tersebut agak terkejut dengan kedatangan Zaara yang tiba tiba ada di sebelahnya.
"maaf pak mengganggu namun saya boleh meminta tolong!?" tanya Zaara.
"apa yang bisa saya bantu nona?" saut pengawal itu.
"bisakah anda menghubungi tuan muda?, maksud saya adalah saya ingin meminjam handphone anda sebentar untuk menghubungi tuan Sagara" ucap Zaara menjelaskan maksudnya.
"b..baik..!!?" sambil mengulurkan handphone miliknya kepada Zaara.
"terimakasih" Zaara pun mengambil handphone tersebut lalu dengan menekan nomor telepon milik Sagara dan kemudian terhubung...
Tut...Tut..Tut..!!
Tut...!!
("halo!!?" )telepon itu terhubung.
("ada apa apakah ada masalah!!?")ucap Sagara terdengar berat dan datar seperti biasanya.
Zaara tersenyum mendengar suara Sagara yang cukup lama tidak di dengarnya, dengan perasaan yang rindu Zaara mencoba mengatakan sesuatu.
"ini aku hubby" ucap Zaara lembut.
sedangkan di sisi Sagara,...
DEG!!
"Zaara!!" kenapa Suara itu milik Zaara pikir Sagara sangat terkejut.
("ini aku hubby!") ucap Zaara sekali lagi terdengar.
sedetik kemudian Sagara pun tersadar lalu ia ingin menutup telepon itu...
namun belum sempat ia menutup telepon tersebut Zaara dengan cepat berbicara.
("aku mohon jangan tutup teleponnya!?") ucap Zaara meminta agar Sagara tidak mematikan teleponnya.
("sekali ini saja tolong dengarkan aku hubby!")
Sagara tetap diam,..
di sisi lain Zaara menghela nafas berat, namun ia cukup senang,walaupun Sagara tidak mengatakan apapun tapi Zaara tahu jika saat ini Sagara tidak menolaknya.
"mungkin aku memang tidak akan pernah termaafkan untukmu, namun sekali lagi aku akan mengatakan jika semua hanya kesalahpahaman" ucap Zaara terdengar lebih tegar.
"aku sangat berharap kau bisa melihat kenyataannya dan kembali seperti dulu hubby yang aku kenal, orang yang dingin tetapi memiliki hati yang hangat"
"hhhmmm...!!" Zaara mengatakan semua itu dengan suara yang benar benar tegar.
"tolong katakan sekali saja... apakah aku masih diinginkan, apakah aku masih ada dihatimu?"
DEG...!!
mungkin mereka tidak saling bertatapan langsung namun perkataan Zaara membuat hati Sagara membeku seketika bahkan mulutnya pun tak sanggup untuk berbicara.
karena Sagara tetap diam tanpa mengatakan sepatah katapun, Zaara semakin sadar akan kepastian itu.
heh!..betapa singkatnya hubungan mereka berdua dan semua ini terjadi karena mereka tidak saling percaya dan memahami satu sama lain.
"Aku menyerah" kalimat itu seperti sambaran petir bagi Sagara.
deg..deg..!!
"aku menyerah mendapatkan kepercayaanmu lagi Sagara" dan untuk pertamanya kalinya Zaara tidak memiliki keberanian lagi untuk memanggil Sagara dengan sebutan itu.
"selamat tinggal Sagara dan berbahagialah"
tanpa menunggu jawaban Sagara, Zaara menutup telepon itu dan seketika tubuh Zaara luluh lantah...
"hhhmmm....hik..hik..!!"
"nona!!!" pengawal itu refleks untuk menahan tubuh Zaara namun ia tidak berani menyentuh Zaara sedikit pun.
"hik...hik...hik... hiksss!!"
Sagara tidak mengatakan apapun untuk perpisahan menyakitkan ini, bahkan untuk terakhir kalinya Sagara tetap mengacuhkannya.
"huhuhu...hikk...hikkk...."Zaara menggenggam erat dadanya, terasa sangat sesak, pikir Zaara.
namun itu adalah pilihannya,dan ini adalah akhir dari semua hubungannya dan ia harus terima kenyataan.
"huhu...hhmmm..." lalu Zaara mengusap air matanya dan perlahan lahan berdiri dan meninggalkan pengawal itu.
"nona!?" tanya pengawal prihatin.
"tidak apa apa pak, saya baik baik saja tapi saya minta tolong siapkan mobil!" pinta Zaara dengan senyum yang dipaksa.
"baik"
Zaara pergi kekamarnya lalu dengan cepat mengemasi setiap pakaian yang Zaara bawa pertama kali kerumah itu.
disisi Sagara...
DEG!!
DEG!!
DEG!!
satu menit...dua menit...Sagara terpaku dengan kalimat terakhir Zaara.
set....!!
Sagara tersadar lalu tanpa berpikir panjang ia segera keluar dari hotel itu dengan cepat, bahkan disaat ia melewati Andreas yang berada tak jauh dari kamarnya hanya menghiraukan panggilan Andreas.
"tuan muda!?" dengan perasaan yang bertanya tanya Andreas menyusul Sagara yang tidak menghiraukannya.
tap..
tap..
"anda ingin kemana?" tanya Andreas yang sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan Sagara.
namun Sagara tidak menjawab pertanyaan itu, ia tetap berjalan keluar dan juga mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang.
Tut..!!
"siapkan pesawat pribadiku!!" perintah Sagara sesaat setelah telepon itu tersambung.
tap...
tap...
"apakah ada masalah!! kenapa tiba tiba meminta menyiapkan pesawat pribadi!!?" Andreas semakin yakin pasti ada sesuatu yang sangat gawat sedang terjadi.
pesawat pribadi, Sagara tidak pernah memakai pesawat itu sebelumnya namun kenapa tiba tiba ia memintanya!?, berarti masalahnya sangatlah darurat pikir Andreas.
"Sagara berhenti!!" merasa tidak dijawab oleh Sagara, Andreas memaksa Sagara untuk berhenti.
dan benar saja Sagara pun menghentikan langkahnya lalu memandang Andreas dengan tatapan tajam namun tersirat kekhawatiran yang dalam.
"ada apa tuan muda?" tanya Andreas lagi.
"Zaara...Zaara...!!" saut Sagara sambil mengusap wajahnya kasar, ia merasa sangat tidak tenang.
"nona muda?, memangnya apa yang terjadi, apakah nona baik baik saja!!" Andreas pun ikut cemas dibuatnya.
"Zaara...dia......ingin meninggalkan rumah itu!!" ucap Sagara dengan nada yang berat dan terdengar serak.
"APA!!"
Andreas sama terkejutnya, berarti masalah ini memang sangat gawat, pikir Andreas seketika ikut khawatir.
"karena itulah malam ini juga aku ingin kembali!!!" ucap Sagara langsung bertindak cepat, lalu dengan cepat ia berjalan kearah parkiran mobil miliknya disusul Andreas.
dan akhirnya malam itu juga Sagara dan Andreas kembali ke kota Liu Liu untuk menemui Zaara.
bersambung...
hai semuanya 🤗...
sekedar info...✍️
jika kota tinggal Sagara bernama kota Liu Liu salah satu kota yang ada di negara K tersebut.
dadah sampai berjumpa di bab berikutnya...👋