Zaara

Zaara
bab. 95. Kehilanganmu Selamanya!



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain di Kanada...


Tak henti-hentinya Veera beserta keluarga berdoa agar Zaara baik baik saja, terlebih lagi disaat mereka semua mendapatkan informasi yang membuat mereka sangat terkejut.


Perusahaan mereka diserang dan menyebabkan korban jiwa dan juga kediaman yang seperti lautan darah!


Zaara!!


"Semoga kau baik baik saja Zaara" doa Veera dengan hati yang benar benar cemas tak terkira.


Dari 4 jam yang lalu Sagara kembali ke negara K, dan sekarang pukul telah menunjukkan waktu hampir sore hari namun Veera beserta keluarga tidak juga mendapatkan informasi lebih lanjut dari Sagara.


"Mommy yang tenang, Tisha yakin kak Zaara dan kak Sagara baik baik saja" imbuh Tisha sambil mengusap punggung Veera.


"Yah...semoga begitu" sahut Veera.


Sementara itu didalam bangunan yang menjadi tempat menyekapan Zaara.


"Ugh!!, Ukhh!!..uhkk!"


Zaara berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa dari dadanya saat ini, disaat Zaara sampai pertama kali dibangunan itu Zaara dipaksa untuk meminum sebuah air.


Air apakah itu?, Zaara tidak tahu namun yang pasti setelah menelan air tersebut kepala dan dada Zaara menjadi sakit luar biasa.


"Akhh,..uhh..uhh!" tangan Zaara yang gemetaran mencoba untuk menyentuh perutnya sekarang.


Bayinya!..


Zaara sangat takut, apa yang akan terjadi kepada bayi yang tengah dikandungnya saat ini yang bahkan usianya baru satu bulan lamanya.


("Bertahanlah sebentar lagi, sayang...ibu mohon!") batin Zaara sangat sedih dan takut.


Bagaimana pun saat ini Zaara berusaha kuat, namun lama kelamaan tubunya mulai melemah dan kesulitan untuk membuka matanya dengan fokus.


tap!!..tap..!!..tap..!!


"Hohoho...selamat datang istri Sagara!" suara itu tiba tiba datang dari arah tembok sebelah kanan Zaara.


Dengan langkah yang berat dan pasti, laki laki itu mendekati Zaara dengan sorot mata tajam dan penuh kelicikan.


Laki laki itu bertopeng dan Zaara tidak mengenal suara itu!?,..


"Kau pasti tidak mengenalku sebelumnyakan gadis cantik!?" timpal Damian seperti tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Zaara saat ini.


"Perkenalkan sebelumnya namaku adalah Damian Dowson" lanjut Damian memperkenalkan dirinya dengan santai dihadapan Zaara.


Zaara hanya diam dan tubuhnya kembali bergetar hebat dan semua ikut hitam Dimata Zaara namun lagi lagi digoyangkannya kepalanya agar Zaara kembali fokus.


"Shh...malang sekali nasibmu sayang,... apakah kepalamu saat ini rasanya ingin meledak!?" desah tajam Damian menatap wajah Zaara yang terlihat kuyu.


"J...jj...jangan mendekat!" ucap Zaara mencoba untuk melawan namun usahanya itu malah disambut tawa oleh Damian.


"Hahahaha...!!, kau ini benar benar!..eum, aku lihat lihat wajahmu sangat cantik..!!" tawa mengerikan bagi Zaara, ditambah tatapan mata damian yang membuat bulu kuduk Zaara berdiri.


"Pantas saja..Sagara tergoda oleh kecantikan gadis sepertimu..." lanjut damian ingin menyentuh dagu Zaara, namun refleks Zaara berpaling.


"Jangan menyentuh saya...!" desis Zaara marah, jika terkait dengan sentuhan fisik Zaara sangat tidak suka.


"Hihihi... baiklah, tenang gadis baik..." kekeh Damian lalu Damian pun sedikit memundurkan tubuhnya dan seperti menikmati pemandangan kesakitan yang terlihat dari wajah Zaara yang meringis.


Sementara itu, Sagara telah mengirimkan pasukan khusus ikut bersamanya dan dengan kecepatan tinggi Sagara menuju tepi kota yang cukup jauh dari pusat kota, tempat gedung terbengkalai dipinggir kota Liu Liu.


Cittt!!!


Mobil Sagara berserta rombongan yang kurang lebih 10 buah itu berhenti tepat disisi jalan, dan mereka semua keluar atas perintah Sagara.


"Keluar sekarang dan kepung tempat ini!" perintah Sagara dengan suara yang terdengar lebih dingin dan tajam.


Bangunan yang bertingkat itu terlihat sudah tua dan juga sedikit lebih kedalam dari jalan raya, membuat semua pasukan lebih ekstrak hati hati dalam bergerak takut-takut jika ada pasukan lawan yang menyerang secara mendadak.


Dan ketika Sagara beserta pasukan mulai mengendap-endap mendekati bangunan, sampai saat ini masih baik baik saja, tidak ada satupun pasukan yang terlihat!?, tidak mungkin bukan!.


Pasti ada sebuah jebakan!, Sagara pun menyebarkan pandangannya kesetiap sudut yang menjadi kemungkinan tempat peletakan bom atau ranjau.


drap!!


drap!!


Dan bersamaan dengan itu Andreas pun Sampai ditempat itu dan ikut menurunkan pasukannya.


"Tuan muda!"


"Berhenti!" desis Sagara tajam.


"Mundur!"geram Sagara karena disaat itu dengan jelas ia melihat ada bom yang diletakkan di depan pintu bangunan itu tepat disisi kanan dan kiri.


"Semua mundur dari sini!" dengan terpaksa Sagara memukul mundur pasukannya namun tetap dengan instruksi yang hati hati.


Mereka mundur lalu Sagara dan Andreas mulai mendekati bom waktu tersebut dan berusaha untuk menjinakkan bom itu.


Sementara didalam bangunan, tentu saja Damian sudah tahu kedatangan Sagara saat ini namun karena bom dan juga ranjau yang telah disiapkan oleh Damian, ia yakin tidak mudah bagi Sagara melewatinya.


"Ouh..kau dengar itu sayang...!"ucap Damian kepada Zaara yang menatap Damian dengan sorot mata yang tidak fokus.


"Sagara sudah ada disini!, mungkin ini saatnya untuk beraksi kan?!" timpal Damian


Sungguh Liciknya Damian!!, laki laki itu sengaja meletakkan semua bom di tempat itu dan meledakkan Sagara sedangkan alasan mengapa ia hanya membawa pasukan sedikit ketempat itu ia supaya Damian mudah menyelip kabur.


Lalu dengan perintah dari Damian, Zaara dan beberapa pengawal mencoba untuk pergi dari bangunan itu lewat belakang bangunan dan jalan yang sedikit rahasia karena jika bukan seperti itu pasukan Sagara yang tengah memencar itu bisa saja menemukan keberadaan mereka.


Zaara di pegang oleh dua pengawal itu,Zaara ingin memberontak namun apalah daya yang dimiliki Zaara saat ini, untuk menopang berat tubuhnya sendiri saja sangat sulit.


("Ya Allah bantulah hamba untuk bisa kabur dari orang orang ini") pinta Zaara dalam hatinya.


Jika Zaara memiliki peluang sedikit saja mungkin ia bisa kabur, lari dari cengkraman para pengawal yang sekarang tengah memapahnya untuk pergi dari bangunan tersebut.


"S.a...sa..sagara!" gumam lirih Zaara,berharap suara kecilnya itu bisa terdengar oleh Sagara,bukan hanya telinga namun hati mereka.


"Hei kau kenapa lamban sekali hah!, cepatlah sedikit" para pengawal itu tak berperasaan sedikit pun, kemudian Zaara diseret dengan cepat.


Dan disaat mereka berhasil melewati tembok yang menjadi pembatas antara jalan dan bangunan itu, keberuntungan berpihak kepada Zaara saat ini, ada sedikit celah agar Zaara bisa kabur dari sana.


Dua pengawal yang menjaganya dengan cepat memasukkan Zaara kedalam mobil, dan mereka hanya betiga,salah satu Pengawal itu mengemudikan mobil dan satunya lagi meniaga Zaara dibelakang.


Vroomm!!


Sedangkan Damian memiliki caranya sendiri, dan bukannya membawa Zaara kembali kepusat kota Ternyata Zaara dibawa menuju dataran tinggi.


"A... apa..yang kalian lakukan ditempat ini!!?" tanya Zaara disisa sisa tenaganya.


"Sstt!!..nona manis kita akan segera sampai, kau tenang saja ya, lihatlah pemandangan dari atas sini sangat indah bukan!" sahut pengawal di samping Zaara.


Memang benar indah,namun juga mengerikan tempat itu menanjak keatas dan tepat di bawah itu ada jurang, jalan yang sekarang mereka lewati ini memang terkenal dengan pesona indahnya dan sering dijadikan sebagai tempat wisata para pemuda dan tepat di depan mereka ada tebing.


Citttttttt!!!


Mobil mereka berhenti tepat di depan tebing curam itu, Zaara benar benar takut, tubuhnya bergetar hebat dan sekarang hanya Allah yang bisa membantunya saat ini.


Sedangkan disisi lain,,,


Vroom..Vroomm..!!


Saat ini Sagara dan Damian sedang kejar-kejaran dan saling kebut mengebut. sebelumnya disaat Zaara telah pergi cukup jauh dari bangunan itu, Damian pergi menemui Sagara.


Beberapa saat sebelumnya!!


"Prookk!!..prokkk!!...hebat!" tiba tiba suara langkah kaki terdengar dari dalam bangunan menuju keluar.


Sambil menepuk tangan Damian menghampiri Sagara yang sedang berupaya menjinakkan bom dan


Berhasil! Sagara mampu menghentikan waktu dari bom itu begitu juga Andreas.


"Kurang ajar, siapa kau hah!!" teriak Sagara seketika itu juga lalu dengan langkah besar Sagara langsung mencengkram kuat kerah baju Damian.


Bukan Damian namanya jika tidak berusaha tenang dihadapan Sagara saat ini, Damian dengan santainya melepaskan cengkeraman Sagara.


"Tenanglah sebentar Sagara!, kita harusnya saling mengenal dulu satu sama lain bukan!?"


"Siapa kau hah!?" desis tajam Sagara,


"kau tidak mengenalku Sagara, ternyata kau telah melupakan aku" sahut sedih Damian berpura pura namun sedetik kemudian suara yang terdengar sedih kini menjadi sangat tajam dan dingin.


"Kau lupa Sagara....," Damian sambil melepaskan topengnya dan Sagara menajamkan pandangannya, menatap Damian dengan seksama.


Dan ketika topeng itu terbuka!


DEG!!..wajah yang rusak sebelahnya!


"Kenapa kau terkejut seperti itu Sagara, bukankah harusnya kau ingat!?"


"Kau...kau......?" Sagara benar benar merasa ia pernah melihat wajah itu namun ia tidak ingat dimana.


"Hahahaha...sayang sekali ternyata anak sepertimu bisa lupa!!... kalau begitu mari aku ingatkan!" tawa dingin terdengar dari Damian lalu dengan tatapan tajam Damian mulai menceritakan semua kepada Sagara.


"5 tahun yang lalu Sagara, penyerang yang merenggut nyawa putriku Tania mungkin kau sudah lupa tapi aku tidak!"


Deg!!, seketika itu jantung Sagara berdegup kencang, Tania!?, nama gadis yang sama dengan yang disebutkan oleh Adams beberapa waktu lalu.


"Kau Damian Dowson...!" tak heran Sagara Memang pernah bertemu dengan Damian dalam sebuah penyerangan kala itu.


Sagara yang memang acuh tak acuh itu tentu saja gadis seperti Tania ia bisa lupa, namun dari cerita Adams sepertinya memang ada kaitannya.


"Ini bukan kesalahanku, kau mungkin juga harus ingat siapa yang lebih dulu menyerang hah!!" sahut Sagara dengan geramnya.


"Dan gadis itu mati karena keinginannya sendiri.." lanjut Sagara mengatakan kalimat tersebut.


DEG!!


"KURANG AJAR KAU SAGARA!!" teriak menggelegar Damian sangat marah, bagaimana bisa Sagara mengatakan kalimat itu dengan mudahnya.


"KAU MUNGKIN TIDAK TAHU SAGARA NAMUN TANIA ITU ADALAH PUTRIKU DAN SIALNYA IA MENCINTAI PRIA BAJINGAN SEPERTIMU!!"


"HAHAHAHA..." gelak tawa Sagara menggelegar.


"Damian..Damian, harusnya kau tahu jika aku memang tidak pernah tertarik dengan siapapun dan untuk gadis itu ialah yang menyerahkan dirinya sendiri dan mati ditangan ayah sepertimu!"


"Jika aku tidak salah ingat bukankah putrimu itu yang masuk kedalam kehidupanku dan sayangnya ayah sepertimu itu terlalu serakah dengan harta!"


DEG!!...sangat telak!, Damian merasa tertampar dengan kalimat Sagara.


"Dan...lebih baik kau katakan dimana Zaara saat ini..." desis Sagara lebih dingin dan tandas.


"Ckk...aku tidak akan kalah denganmu Sagara.." lalu dengan gerakan cepat tiba tiba Damian mengeluarkan sebuah tombol pemicu lalu dengan berlari menjauh dari Sagara.


Sagara yang telah waspada sejak tadi tiba tiba juga berlari mengejar Damian yang terdahulu kabur lewat belakang gedung.


Dan sialnya tepat sagara dan Andreas berlari kearah luar gedung...


JDERRRRR!!!


Sagara menduga jika ledakkan itu bukan dari bom yang Sagara dan Andreas tadi namun dari pohon pohon yang mengelilingi bangunan.


Kobaran api pun membesar dan tanpa ba-bi-bu Sagara dan Andreas memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera pergi.


Sedangkan Sagara hanya membawa beberapa pasukan di sisinya dan mengejar Damian, dan Andreas akan berjaga jaga jika ada pasukan lain mengepung mereka.


Dan pada akhirnya Sagara bisa mengejar Damian yang ternyata belum jauh dari tempat itu dan langsung menuju ke arah tebing.


Vroom..Vroomm..!!


Sagara semakin melajukan mobilnya dan dengan kecepatan tinggi Sagara mengejar Damian.


Sadar dirinya kalah dengan kecepatan Sagara Damian mengarahkan mobilnya kearah tebing tempat Zaara akan dihabisi.


Namun tiba tiba ditengah jalan dari kejauhan terlihat seorang wanita berlari dan tak lain adalah Zaara!


Zaara!!,


Berhasil kabur dari dua pengawal sebelumnya dan berusaha untuk melarikan diri dan disaat itulah Zaara juga melihat dua mobil sedang kejar mengejar.


Damian lebih dulu melihat Zaara pun dengan liciknya, mengarahkan mobilnya kearah Zaara lalu diseperkian mil antara Zaara dan mobil Damian.


Damian turun dan langsung menangkap tubuh Zaara...!!


"LEPASKAN SAYA!!" Zaara memberontak.


Bersambung...