Zaara

Zaara
bab 90. Pembalasan Adams



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat ditengah perasaan Sagara yang masih bergejolak, waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, namun Sagara tidak berniat untuk keluar dari ruangannya, bahkan hanya untuk makan malam saja.


Drrtt!!


Dering ponsel Sagara berbunyi untuk beberapa kali, Sagara yang awalnya tidak berniat mengangkat telepon itu pun, dengan perasaan kesal akhirnya Sagara mengangkat telepon tersebut.


Tut!


"Eum!!?"


"kau tunggulah aku!,aku akan segera kesana!"sahut Sagara dengan nada datar,lalu setelah itupun ia segara keluar dari ruangannya dan meninggalkan kediaman tanpa memberitahukan kepada Zaara sebelumnya lewat pembantu dirumah itu.


Sementara itu..


Tut!


Baru saja Andreas menutup teleponnya dan kembali duduk diruang tengah mansion Sagara.


Ternyata Andreas lah yang menghubungi Sagara, Andreas menghubungi Sagara untuk memberitahukan bahwa Adams telah berada di mansion tersebut.


tap!..tap..!


"Tunggulah! sebentar lagi Sagara akan tiba"ucap Andreas sambil berjalan kearah tuan Adams yang sedang duduk di sofa.


Adams hanya diam, karena saat ini perasaan Adams sangat tegang, tak menyangka, dan juga bahagia.


Semua menjadi satu dalam pikiran Adams, karena bagaimana mungkin ia tidak bahagia ternyata Putri satu satunya yang telah dinyatakan meninggal kini masih hidup.


Andreas juga tidak bersuara apapun, ia juga diam dan membiarkan Adams dalam pikirannya sendiri, Andreas tahu benar apa yang dirasakan Adams sebagai seorang ayah saat ini.


Tak lama kemudian Sagara tiba di mansion, Sagara berjalan masuk dengan langkah besar dan menghampiri dua orang yang sama sama diam itu.


Andreas pun berdiri dari duduknya, menyambut kedatangan Sagara dan segera berkata,jika kedatangan tuan Adams malam ini,karena tuan Adams telah bersedia melihat Halena saat ini.


"Kalau begitu kita langsung saja menemui wanita itu!" sahut Sagara tanpa basa basi dan langsung berjalan kearah lift bawah tanah.


Disaat mereka bertiga sampai di ruangan bawah tanah,dengan raut yang terpaku tuan Adams bisa melihat seorang wanita yang tergeletak dilantai didalam sebuah kurungan dengan pakaian yang berantakan penuh darah yang merembes.


DEG!!


Adams dengan cepat menghampiri dan dengan suara yang terdengar lirih, Adams memanggil Halena yang tidak peduli dengan kedatangan mereka sedari awal.


Sedangkan Sagara dan Andreas hanya diam tak jauh dari Adams dan memperhatikan adegan didepannya.


"Halena...!" panggil Adams dengan suara berat dan lirih, menatap lurus kehadapan halena.


Namun Halena hanya diam tak bergeming dari tempatnya sedikit pun, dan dengan raut yang datar tanpa ekspresi sedikit pun.


Kaku dan dingin!


Wanita itu jauh berbeda dari putrinya yang dulu, jauh sangat berbeda sehingga Adams tidak yakin apakah benar jika wanita yang ada dihadapannya sekarang adalah Halena!


Tetapi!..wajah itu terlalu mirip dengan putrinya!, melihat Halena yang tak merespon apapun. sekali lagi Adams mencoba berbicara dengan Halena.


"Apakah benar kau adalah Halena?" tanya Adams dengan nada berharap.


Lagi lagi Halena diam!,


Tak berputus asa Adams mencoba lagi untuk berbicara dengan Halena sampai ia mendapatkan satu jawaban saja yang bisa menyakinkan ia bahwa wanita didepannya saat ini benar putrinya.


"Humm...!!... apakah kau putriku!?"


barulah disaat Adams mengatakan kalimat tersebut, membuat Halena bergeming.


"Apa maksudmu hah!" ucap Halena dengan nada yang dingin.


Benar!,


Suara itu memang milik Halena putrinya! terlalu mirip, seketika hati Adams melemah dan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan sedihnya.


"Hik...kau memang putirku!"kata Adams dengan penuh keyakinan dan menatap penuh kerinduan terhadap Halena.


"Heh!!...jangan mengada-ngada tuan, saya bahkan tidak mengenal anda"imbuh tajam Halena dengan seringai kecil.


"Tidak ..tidak...!...kau memang putriku, aku sangat mengenalmu sayang..!"


"Kemarilah!!"lanjut pinta Adams dengan suara yang terdengar lembut.


Mendengar perkataan dari Adams tidak mempungkiri jika hati Halena pun merasakan gejolak yang aneh dalam dirinya terlebih lagi disaat ia sendiri melihat wajah lembut dan air mata laki laki paruh baya didepannya untuknya saat ini, membuat perasaan Halena tanpa sadar melemah.


Halena pun mencoba menegakan tubuhnya dan berusaha keras untuk berjalan kearah jeruji besi yang menjadi pembatas antara ia dengan Adams.


"Ya... kemarilah sayang!!" dengan perasaan yang bahagia Adams mencoba menggapai tangan Halena.


"Apa yang telah terjadi padamu, putriku!?, aku telah mengira kau telah tiada!..." dengan emosi yang menyeruak keluar dari dalam dirinya, Adams tidak bisa mengontrol tangisannya saat ini.


"Apa yang telah kau lalui Halena!!" Tak henti hentinya Adams mencoba berbicara dengan Halena dan berharap Halena mengingatnya.


"Aku tidak mengenalmu!"


DEG!!


"Tentu!..tentu! kau telah melupakan ayah Halena, karena itulah ayah disini dan ingin membawamu untuk kembali bersama ayah...!"


"Tidak!!"


Sagara bergerak dari tempatnya dan menghampiri Adams dan Halena.


"Saat ini wanita ini tidak bisa keluar dari sini!" sergah Sagara datar.


"Apa maksudmu Sagara!!" desis Adams mengeraskan suaranya.


Apa maksud dari tindakan Sagara yang tidak mengijinkan Adams membawa Halena!?.


"Tenanglah dulu tuan Adams!" imbuh Andreas.


"Tuan muda memiliki alasan untuk tidak melepaskan wanita ini!


"Kenapa kalian sangat kejam terhadap putriku hah!!" ucap Adams dengan rahang yang terkantup keras, disaat ini Adams menjadi benar benar marah dan emosi mungkin karena ia sedikit menyalahkan Sagara akan keadaan Halena sekarang.


"Kejam!!" Sagara tersenyum kecut,


Kejam!, bagaimana ia bisa dikatakan kejam!?, mungkin memang benar disaat ini ia sangat kejam dan berhati dingin, namun apa yang telah dilakukan oleh Helena lebih sadis.


"Kau tahu apa itu kejam tuan Adams!?"


"Anda tahu apa yang telah ia lakukan terhadap istriku!?, dan apakah kau tahu selama ini apa yang telah ia lakukan terhadap kehidupanku!?"


Tatapan Sagara menghunus lurus kearah Adams, lalu dengan suara yang berat Sagara menceritakan semua yang telah ia lakukan terhadap Zaara selama ini.


Tidak mungkin!,


Adams terperangah, tak percaya mendengar semua cerita yang disampaikan oleh Sagara, bagaimana mungkin putrinya bisa berubah menjadi wanita yang sangat kejam.


"Apakah Anda tahu bagaimana wanita ini bisa meracuni Zaara? dan apakah anda melihat bagaimana wanita ini telah menembak seorang gadis tak bersalah sampai meninggal!?" runtutan kalimat Sagara membuat perasaan Adams semakin menyangkal, namun bagaimana jika itulah kenyataannya!?.


DEG!!


"Tidak!!" Adams membeku dan tidak bisa mengucapkan apapun selain menggeleng-gelengkan kepalanya.


Adams syok saat ini, bagaimana dalam kurun waktu satu tahun Halena putrinya yang ceria,baik dan penuh perhatian itu bisa berubah menjadi seperti itu.


Namun disaat ketidakpercayaan itu, tiba tiba Halena berbicara sesuatu yang membuat hati Adams meringis serta tak menyangka.


"Hahaha...!!..benar itu yang aku lakukan, sekarang kau pergilah, aku juga sudah tidak berminat untuk hidup" ucap Halena dengan santainya.


Adams menjadi marah dan dengan suara yang keras ia berkata kepada Halena.


"Apa yang kau katakan Halena, kau ingin mati disaat kehidupan masih ada untukmu!, mungkin hari ini kau lupa Halena tapi sekarang ayah tidak akan membiarkanmu pergi lagi!"


Lalu dengan tatapan yang lebih tegas, Adams menatap Sagara.


"jika yang kau katakan semua itu benar, maka aku tidak akan meminta maaf padamu Sagara, mungkin semua yang terjadi saat ini juga karena kesalahan yang telah kau perbuat"


Tatapan tajam menghunus kearah Adams, namun Sagara tetap diam ditempatnya!.


"Dan sebagai tebusannya aku ingin kau bekerja sama denganku untuk membalaskan semua yang telah terjadi kepada Halena!"


Apa Maksudmu!!, sergah tajam Andreas, telah melangkahkan kakinya, ia tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan kepada Sagara.


Namun langkah Andreas terhenti disaat Sagara mencegahnya!.


"Heh!!...tuan Adams jika saya tidak mengingat hubungan kita saat ini, saya bisa saja membalas apa yang kau ucapkan tadi,namun karena saya mencoba untuk memahami anda sebagai seorang ayah, maka aku tidak akan mempersalahkan hal ini" ucap Sagara dengan seringai tipis diwajahnya.


Adams melunak, lalu masih dengan wajah yang serius lagi lagi Adams bertanya kepada Sagara.


"Apakah kau tahu sesuatu yang menyebabkan Halena menjadi seperti ini?"


"Ouh..ho...itu saya tidak tahu!" sungut Sagara cepat dengan ekspresi santai


"Hhmmm...!! lalu apakah kau tahu siapa dalangnya?" tanya Adams lagi.


"Eum...yah, begitulah!"


Dengan suara yang santai dan ekspresi tenang, pada akhirnya Sagara, Andreas dan Adams berbincang bincang serius, dan dengan pemikiran yang telah di tangkap oleh Sagara, Sagara memberitahukan siapa dalang dibalik semua ini.


Bersambung...