
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Zaara.....maafkan mbak karena tidak menjagamu, harusnya mbak lebih memperhatikan mu". Isak tangis Rena.
Rena yang telah menganggap Zaara seperti saudaranya, ia sangat perduli dengan keselamatan Zaara.
flashback...
3 tahun yang lalu
terlihat Zaara yang masih remaja berumur 16 tahun,
Saat itu Zaara masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Tante, boleh nggak Zaara minta uang, Zaara mau beli buku?" pinta Zaara kepada Mira,
"enak aja, memangnya saya ibumu" ucapan Mira tersebut membuat Zaara menjadi sedih.
"tapi tante, Zaara sangat membutuhkan buku untuk pelajaran Zaara" sahut Zaara lembut,
kala itu Zaara harus membeli buku karena buku tersebut sangat penting untuk ujian nya kelak, tetapi Mira tidak pernah mau peduli dengan Zaara, ia hanya memperhatikan kebutuhan Nadyra saja.
Mira tetap cuek, ia malah pergi begitu saja dari hadapan Zaara,,,
dengan hati sedih Zaara berjalan keluar rumah,,,
tap...
tap...
tap...
"ya Allah Zaara harus apa? Zaara bingung dimana Zaara bisa mendapatkan uang"batin Zaara.
ia kini sangat sedih juga bingung, Zaara berjalan keluar rumah dan melangkahkan kakinya entah kemana, karena terhanyut dengan pikirannya Zaara sampai sampai tidak menyadari jika kini ia sudah berjalan terlalu jauh.
"astaghfirullah, aku udah jalan terlalu jauh". ucap Zaara sadar tetapi ia malah tidak ingin pulang, ia terus berjalan hingga tidak lama dari tempat ia berjalan Zaara tidak sengaja melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
tepat tak jauh dari mobil itu ada seorang wanita menyebrang jalan, wanita tersebut tak lain adalah Rena, ia tidak menyadari mobil itu ia pun langsung menyebrang tetapi disaat Rena melihat kesebelah kanannya baru ia menyadari sebuah mobil melaju kencang.
tit....titt....tittt...
orang orang ditempat kejadian pun ikut berteriak
Zaara yang melihat kejadian itu dengan berlari ia menghampiri wanita itu lalu mendorong nya
Citt..
mobil tersebut berhenti tepat pada waktunya
Zaara yang sontak mendorong Rena pun terjatuh dan membentuk sebuah batu.
Bukk....
Zaara terjatuh tepat mengenai kepalanya lalu tak sadarkan diri.
sontak Rena menjadi panik itu meminta tolong kepada orang orang sekitar, setelah itu zaara Langsung dilarikan kerumah sakit.
***
sesampainya dirumah sakit Rena langsung memanggil suster, tak lama kemudian Zaara langsung ditangani oleh dokter.
Rena yang khawatir juga bingung hendak menghubungi keluarga Zaara tetapi ia tidak tau sama sekali dan juga Zaara tidak membawa identitas apapun ditubuhnya,terpaksa ia harus menunggu Zaara hingga sadar.
dokter yang menangani Zaara pun keluar lalu dengan cepat Mira menghampiri dokter tersebut,,,
"bagaimana keadaannya dokter? apakah dia baik baik saja?" tanya Rena dia benar benar cemas jika terjadi sesuatu dengan Zaara.
"nona tenang saja, gadis itu baik baik saja, ia hanya pingsan sebab gadis itu kekurangan gizi, oleh karena nya saya akan memberi vitamin dan juga obat lainnya". jelas dokter tersebut.
"baiklah, terimakasih dokter" ucap Rena
walau begitu Rena tetap cemas, Rena pun memasuki ruangan itu, menghampiri Zaara yang masih terbaring lemah,,,
"gadis yang malang"batin Rena.
"hei gadis cantik, maafkan aku karena aku, kamu menjadi seperti sekarang, dan terimakasih juga karena telah menyelamatkanku". ucap Rena merasa bersalah walau Zaara tidak mendengarnya tetapi ia benar benar merasa bersalah.
beberapa waktu Zaara pingsan akhirnya bangun
Rena yang melihat hal tersebut menjadi bahagia
"bagaimana perasaan mu, apakah ada yang tidak nyaman?" tanya Rena, Zaara hanya menggeleng kepala, ia masih merasa pusing.
"bolehkah aku bertanya! siapa namamu?".
"Zaara" kali ini zaara menjawab
"Zaara, bolehkah aku bertanya alamat keluarga mu,aku ingin menghubungi nya" ucapan Rena tersebut membuat zaara menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menjawab karena tantenya tidak akan perduli kepadanya.
"maafkan Zaara mbak tetapi Zaara nggak bisa bilang" ucap zaara lembut
"kenapa Zaara?"
"Zaara tinggal sama Tante dan Zaara nggak mau ngerepotin Tante".
"nggak zaara, Tante zaara harus tau" Rena menjadi bingung kenapa Zaara mengatakan hal tersebut.
Zaara yang menjadi sedih itu langsung menangis,,,
Rena menjadi kasian kepada Zaara, dia benar benar merasa bersalah karena telah bertanya.
"maafkan mbak ya, mbak nggak tau jika hal ini membuat zaara bersedih".
"nggak mbak"
"Mbak Zaara mau langsung pulang aja" sambung Zaara, Zaara telah pergi sangat lama hal itu bisa membuat Mira menjadi marah.
"ayok, mbak anter pulang" Zaara pun langsung pulang dengan Rena yang mengantarkannya.
***
benar saja sesampainya dirumah Mira sudah menunggu nya didepan rumah.
dengan marah Mira berteriak kepada zaara
"kenapa kau baru pulang hah ?!!" ucap Mira, dia sangat marah karena Mira tidak pulang dan memasak untuk nya.
"maafkan Zaara Tante "
"maaf maaf,kau tau kan aku ini belum makan !!" berang Mira
"maaf Tante" Zaara hanya bisa mengatakan maaf Rena yang menyaksikan itu menjadi kesal.
"maaf sebelumnya Tante!! apakah Tante nggak bisa lihat kalau Zaara itu sedang sakit?" tanya Rena dengan berang.
"heh!? siapa kau? berani beraninya ikut campur, kalau saya liat memangnya kenapa?" jawab Mira
Rena menjadi tahu apa yang selama ini zaara alami tantenya tidak pernah menyayangi nya dan perduli hanya menjadikanya sebagai pembantu bahkan sebuah hal yang menyusahkan.
Karena hal tersebut Rena bertekad untuk selalu menjaga Zaara.
flash off
"Zaara bangun....mbak mohon" ucap Rena menatap Zaara yang terlihat lemah.
disaat itu Rena tidak menyadari jika tangan Zaara bergerak perlahan.
"jangan membuat mbak takut...Zaara..hik!" ucap Rena tersedu-sedu.
untuk kedua kalinya Zaara merespon kalimat Rena dengan menggerakkan tangannya tapi Rena masih saja tidak memperhatikan hal tersebut.
"mm....mbak.. " lirih terdengar Zaara menggerakkan bibirnya, namun Rena tetap tidak menyadari hal itu
"mm...mbak Re...na!" sambung Zaara mengerjapkan perlahan matanya.
"mbak!..." ucap Zaara yang ketiga kalinya terdengar lebih keras, baru saat itulah Rena menyadari kesadaran Zaara.
"Zaara... Zaara... Zaara kau sudah sadar! syukurlah!!"
betapa bahagianya Rena mengetahuai bahwa Zaara sudah sadar, begitu juga Sagara yang sedari tadi yang berdiri dibalik kaca memperhatikan kedalam ruangan Zaara.
"dokter!!" teriak Rena memanggil dokter.
"dokter...Zaara sudah sadar, dok!!" teriak Rena sangat bahagia.
tap...
tap...
brak..!! pintu terbuka dan dokter masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Zaara.
dokter pun langsung memeriksa Zaara lalu dokter tersebut mengatakan bahwa Zaara sadar dengan cepat.
"syukurlah, sekarang keadaan pasien telah melewati masa kritisnya" ucap dokter juga bersyukur melihat Zaara yang telah sadar dengan cepat.
"mbak sangat senang melihat kau sudah sudah sadar, mbak benar benar takut jika terjadi sesuatu padamu, Zaara..!" ucap Rena menatap Zaara tersenyum dan membelai kepada Zaara.
Zaara hanya tersenyum tipis, dan mencoba mengingat - ngingat kejadian malam itu.
Zaara teringat dengan wanita yang ditolongnya waktu itu, kedatangan Sagara dan juga tembakan nya mengenai dirinya, Zaara mengingatkan semua itu.
"mbak, apakah mbak tau bagaimana keadaan ibu itu?" tanya Zaara dengan suara lemah mencemaskan keadaan Veera.
"siapa Zaara?"tanya Rena bingung karena ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
tap...
tap...
tap...
tiba tiba Sagara masuk dan menjawab pertanyaan Zaara,,,
"mommy baik baik saja" saut Sagara masuk sambil menatap kearah Zaara yang masih terlihat pucat.
"syukurlah jika baik baik saja" ucap syukur Zaara ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada ibu itu.
"tunggu....!.. mommy?" seketika Zaara menyadari sesuatu pikir Zaara.
"wanita itu adalah ibuku" ucap Sagara lagi, ia bisa tahu apa yang di pikirkan oleh Zaara.
betapa terkejutnya Zaara mendengar hal itu dan sekarang ia ingat penjahat itu pun mengatakan Jika Veera adalah keluarga Rahardika dan Zaara tau jika Rahardika adalah kakek nya Sagara.
sebenarnya Zaara juga cukup terkejut dengan keberadaan Sagara saat ini, ia tidak tahu jika Sagara ada disana, dan apakah selama ini juga Sagara ada disampingnya, pikir Zaara.
bersambung ...