
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hubby!!"
Zaara saat itu menjadi benar benar tersadar dari rasa terkejutnya, dengan hati yang sudah tegang dan takut, Zaara berjalan kearah Sagara sambil berkata,,,
tap...
tap...
"hubby, dengarkan penjelasan ku!" ucap Zaara berharap Sagara mau mendengarkannya.
namun apa yang ia dapat bukanya Sagara mendengarkannya, bahkan saat ini Sagara tidak mengatakan apapun, ia hanya diam menatap Zaara dengan sorotan mata tajam dan dingin.
"hubby dengarkan aku!!.... hubby" ucap Zaara mendekati Sagara dan mencoba menggapai tangan Sagara, namun seketika Sagara menghempas tangan itu.
Zaara sadar akan penolakan Sagara,,,
"percayalah padaku" ucap lirih Zaara namun tiba tiba Sagara tertawa nyaring, tawa yang membuat Zaara gemetar.
"HAHAHAHA...!!!" tawa nyaring Sagara sinis.
"hahahaha...benar benar lucu" ucap Sagara sambil tertawa.
"kau bilang apa!?... hahahaha" lalu dari ketawa itu Sagara tiba tiba berhenti lalu dengan suara yang dingin.
"PER...CA...YA!! desis tajam Sagara.
DEG!!!...
hati Zaara hancur berkeping keping mendengar perkataan Sagara, Zaara membeku seketika.
begitu juga dengan Andreas, Rena dan Bunga mereka sama sama terkejut dengan reaksi Sagara.
"kau mengatakan aku harus percaya?..heh!!"
"setelah semua yang aku saksikan ini kau minta aku percaya!"
"KAU BODOH!!" teriakkan Sagara membuat semua orang terkejut begitu juga Niko, ia menjadi naik darah mendengar perkataan Sagara kepada Zaara.
"SAGARA!!" teriak nyring Niko.
"JANGAN KAU SAKITI ZAARA!!" teriak Niko
dengan langkah besar Niko mendekati Sagara dan menghantam wajah Sagara,,,
BUK...!!! tepat mengenai wajah Sagara,
"hisss!!!" Sagara memegang wajahnya lalu dengan amarah ia berdiri dan membalas meninju Niko dengan brutal.
"buk....!!
"buk....!!
kekuatan Sagara terlalu kuat, Niko tidak bisa menghindari setiap pukulan Sagara,,,
"siapa kau hah!!!" ucap Sagara sambil menghantamkan tinjunya kearah Niko.
"huk...huk....siapapun aku, aku lebih baik dari pada kau laki laki yang tidak bisa menjaga Zaara, kau tahu aku lebih mencintai dia dibandingkan dirimu" ucap Niko semakin membuat Sagara marah.
"buk....!!
"buk....!!
Zaara sudah tidak sanggup lagi melihat baku hantam itu dengan berteriak Zaara menghentikan Sagara.
"BERHENTI!!...AKU MOHON BERHENTILAH!!" benar saja teriakkan Zaara membuat Sagara berhenti.
tap...
tap...
tap....
Sagara mendekati Zaara dan menarik Zaara kasar,,,
"hubby berhenti....sakit" ucap Zaara kesakitan.
"DIAM!!"
"aku mohon lepaskan, sakit....hiks" pinta Zaara sambil menangis.
Rena merasa sangat kasihan dengan Zaara juga meminta Sagara agar melepaskan cengkeramannya.
"Sagara lepaskan tanganmu Zaara kesakitan!" ucap Rena membantu, namun Sagara tidak mendengarkan Rena.
Rena tahu jika yang ia lakukan sia sia namun ia juga tidak bisa membiarkan Sagara menyakiti Zaara.
"Andreas tolong pinta Sagara untuk melepaskan Zaara!" sekarang Rena meminta kepada Andreas, namun Andreas juga tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
"hubby lepaskan Zaara.... huhuhu....hik" Sagara menarik Zaara hingga didepan pintu, namun belum sempat Sagara melangkahkan kaki Niko kembali berbicara yang membuat Sagara menghentikan langkahnya.
tap...
tap...
"Sagara jangan kau sakiti Zaara, jika kau menyakiti dia, aku bisa merebutnya dari mu"
"heh!" Sagara hanya tersenyum sinis lalu dengan suara tenang ia berbicara,,,
.....***.....
sesampainya dirumah Sagara langsung membawa Zaara masuk kedalam kamar, Zaara sudah sangat pasrah, ia tidak menangis maupun memberontak.
Andreas, Rena, dan Bunga menatap mereka dengan tatapan iba dan kasihan namun apa yang bisa dilakukan mereka untuk Zaara, karena saat ini tidak ada siapapun yang bisa menghentikan Sagara.
Rena hanya bisa tertunduk lemah, dan menangis, ia ikut merasa kesedihan untuk Zaara.
"buk...!"
"hik...hiks...hikss" Rena menangis sesenggukan.
Bunga juga cemas lalu dengan mengusap punggung Rena, Bunga mencoba menenangkan Rena.
"Rena jangan terlalu khawatir, Bagaimanapun Zaara adalah istrinya, aku yakin jika tuan Sagara tidak akan menyakiti Zaara" ucap Bunga mencoba menghibur dengan kalimat tersebut.
"benar, tapi kau melihat bukan jika Sagara tidak mau mendengarkan Zaara sedikitpun" saut Rena, Bunga terdiam.
"ckk....!" sekarang giliran Andreas yang gusar, ia sangat paham sifat Sagara namun kali ini ia sangat berharap jika Sagara tidak melewati batasan.
dengan hati yang ikut cemas, Rena dan Andreas memutuskan untuk kembali terlebih dahulu kerumah masing masing, bagaimanapun masalah ini berkaitan antara hubungan suami-istri.
di kamar Sagara,,,
buk...!
Sagara menjatuhkan tubuh Zaara hingga terduduk diatas kasur.
Zaara kembali takut akan kejadian yang baru siang tadi dialami olehnya, dengan perlahan lahan Zaara mundur dengan takut.
Sagara mencoba merapatkan tubuhnya dengan Zaara, namun Zaara berusaha menjaga jarak dari Sagara, dengan menarik selimut yang ada diatas kasur Zaara menyelimuti tubuhnya,,,
"ja...ja..jangan mendekat!!" ucap lirih Zaara ia benar benar takut.
Sekarang Sagara yang ada dihadapannya bukanlah Sagara yang dikenalnya, bukanlah suami yang selalu lembut padanya.
lalu dengan isakkan tangis yang lirih Zaara berkata,,,
"hubby...jika kau tidak percaya padaku tidak apa apa, tapi tolong dengarkan aku sekali ini saja" ucap Zaara lirih dengan hati yang benar benar hancur.
"tolong dengarkan semua yang ingin aku katakan, tolong percayalah...hiks...hiks"
Sagara tidak menggubris perkataan Zaara, ia malah menjauhkan tubuhnya lalu membelakangi Zaara, lalu dengan mengatakan,,,
"kau tenang saja, aku bisa mencari tahu kebenaranya tanpa kau beritahukan kepada ku!" ucap datar Sagara.
"heh!!...aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dan apa yang aku rasakan" sambung Sagara.
lalu setelah mengatakan hal itu Sagara pergi meninggalkan Zaara seorang diri,,,,
BRAKK...!!..pintu dibanting dengan keras,,,
"huhuhu....hiks....huhu... hiks" Zaara semakin menangis, betapa terlukanya dia.
"mengapa bisa menjadi seperti ini, mengapa...hiks" ucap Zaara sambil menyelimuti dirinya sendiri.
"Apa kesalahanku...hikss...." Zaara kembali mengingat apa yang terjadi kepadanya, bagaimana ia sampai di tempat Niko.
flashback....
"Hiks....hiks...."
Zaara berjalan seorang diri dijalan raya,,,
setelah shalat magrib Zaara keluar dari kamar,,,
hatinya sangat sakit begitu juga dengan fisiknya, dengan berlinang air mata Zaara berjalan keluar dari pintu belakang, ia berpikir jika lewat depan para pengawal akan mengetahui ia sedang keluar sendirian, saat ini ia ingin sendiri saja.
dengan keluar lewat pintu belakang Zaara berjalan melewati samping taman yang langsung menghubungkan dengan gerbang kecil disamping taman itu yang biasanya menjadi tempat keluar masuk pelayan.
malam itu di gerbang tidak ada yang menjaga jadi dengan mudah Zaara keluar dari kediaman Sagara.
setelah ia berhasil keluar Zaara berjalan kearah jalan besar seorang diri, entah kemana tujuan kakinya melangkah namun untuk saat ini hatinya benar benar sesak bahkan untuk sejenak pun ia tidak ingin berada dirumah itu.
namun ketika ia sudah lama berjalan kaki, ia melewati jalan yang lebih sepi tanpa sadar,,,
"ini dimana?!" Zaara menjadi takut, sepertinya ia sudah tersesat.
"aku berjalan terlalu jauh" ucap Zaara sadar namun tiba tiba...
"ngiiing....ouch!!" Zaara tiba tiba merasa pusing.
"hihhss...ouch..." Zaara berjalan terhuyung-huyung sambil memegang kepalanya.
dengan sekuat tenaga Zaara kembali berjalan, berusaha untuk menemukan jalan besar,,,
namun rasa sakit Zaara bertambah, hingga Zaara tidak sanggup untuk melihat dengan jelas.
disaat kepalanya pusing saat itulah Zaara juga menyadari jika ada yang menghampirinya.
dengan setengah kesadarannya Zaara mencoba melihat siapa orang itu, namun ketika ia mendongakkan kepalanya, kesadarannya pun hilang total.
dan disaat ia sudah sadar dari pingsannya, Zaara sudah berada didalam kamar dan ternyata orang yang menyelamatkannya ialah Niko.
bersambung.....