Zaara

Zaara
bab 48. Rencana gagal 2 (bertahanlah Zaara)



......................


Carissa mencoba mencari tahu racun apa itu,,,


"suster...tolong campurkan ini" Carissa memeriksa kandungan didalam racun itu agar ia tahu jenis apa racun itu.


Carissa adalah dokter yang ahli dibidang racun dan obat tradisional karena itu mudah ia mengetahui segala jenis racun.


namun kali ini berbeda, Carissa kesulitan mengetahui racun yang ada ditubuh Zaara.


"mengapa racun ini dicampur kedalam parfume?" ucap Sagara bertanya tanya.


"tentu ada alasannya" jawab singkat Carissa


"kau tenang saja, kita akan mengetahuinya sebentar lagi" sambung Carissa, ia menatap cairan yang tengah diteliti,,,


Sagara hanya bisa menghela nafas kasar, ia sangat cemas, sedari tadi ia hanya menggenggam tangan Zaara yang tidak sadarkan diri.


"sayang....kau akan sembuh" ucap Sagara kepada Zaara yang terbaring lemah.


"ckk... sebenarnya racun apa ini...kenapa komponen didalamnya sangat sulit" batin Carissa.


Carissa sangat serius meneliti racun itu,,, hingga tiba tiba ia menyadari sesuatu.


"ini apakah mungkin....!?" gumam Carissa.


"ada apa? apakah kau mengetahui sesuatu?" tanya Sagara melihat Carissa gusar.


"sepertinya aku sudah tahu racun ini..." ucapnya.


"apa kau serius?!" tanya Sagara mendekati Carissa,,,


"emm...benar, setelah aku lihat dan teliti dengan sangat baik akhirnya aku tahu apa itu" sebelum melanjutkan perkataannya, Carissa mengambilkan semua Sempel yang telah ia teliti dan diperlihatkannya kepada Sagara,,,


"lihatlah, aku menyebut racun ini dengan racun dingin" ucap Carissa.


"racun dingin, apa itu?" tanya Sagara serius.


"racun dingin mengandung dua jenis racun seperti botulinum dan tetradotoxin, yang jika botulinum ini digunakan maka akan menyebabkan panas yang berlebihan jika dengan dosis yang tinggi, karena itu tubuh Zaara demam, dan kau lihat Zaara lemah, itu karena racun tetradotoxin yang mematikan sistem saraf" Carissa mencoba menjelaskan,,,


"jadi dengan kata lain jika dua racun ini disatukan akan menjadi racun yang mematikan,dan botulinum disini juga akan menyebabkan pembekuan dan kelumpuhan" sambung Carissa.


"siapa yang berani menggunakan racun mematikan ini untuk bermain main denganku!!" desis Sagara sangat marah.


"siapapun mereka, aku yakin mereka memiliki tujuan, karena itu kau jangan lengah!" ucap Carissa menatap mata Sagara tegas.


"sudahlah aku akan membuat penawarnya, hitunglah waktu untuk ku, karena hanya dalam setengah jam, jika tidak Zaara tidak akan selamat" kemudian Carissa pun memulai membuat penawarnya.


Carissa dan suster yang menangani Zaara dan Sagara hanya bisa menunggu dalam waktu setengah jam.


Sagara pun keluar kamar itu dengan suasana hati yang sudah sangat mendidih, ia tidak sabar untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang dari permainan ini.


"Andreas keruangan ku sekarang!!" perintah Sagara.


Andreas yang sedari dari menunggu diluar kamar itu pun mengikuti Sagara,,,


setelah mereka didalam ruangan Sagara,,


Sagara tengah menatap lurus kedepan dan melipatkan tangannya didepan dada.


"jadi apakah kau sudah tahu resepsionis itu terlibat?!" ucap Sagara datar dengan suara berat.


"begini tuan..." Andreas pun mulai menjelaskan bahwa,,,


"saya sudah periksa tuan latar belakang keluarga wanita itu ia adalah yatim piatu, ia hanya tinggal sendiri dan ia termasuk karyawan yang cerdas diperusahaan"


"dan saat wanita itu ditemukan, keadaannya seperti dibunuh seseorang"


"dibunuh!?" desis Sagara


"benar tuan muda"


"dengan kata lain kita tidak bisa mencari informasi dari wanita itu" sergah Sagara tajam.


"hhmmm...sepertinya....orang dibalik kejadian ini merencanakan dengan sangat matang" ucap Andreas juga dengan serius.


Sagara tidak mengatakan apapun lalu ia berjalan keluar ruangan,,,


tap...tap...tap...Sagara menaiki tangga dan menuju kamarnya,,,


jam telah berlalu selama 15 menit, berarti waktu Carissa hanya 15 menit lagi.


tiba tiba sebelum Sagara sampai dikamarnya, dari luar terdengar teriakan Carissa,,,


"ZAARA!!"


"TENANG!!" teriakkan itu terdengar cemas.


Sagara pun segera berlari,,,


BRAK...!!! dengan bantingan keras Sagara masuk dan melihat apa yang terjadi.


"ZAARA!!" ucap Sagara diambang pintu, berapa terkejutnya Sagara ketika melihat tubuh Zaara yang kembali kejang kejang dan memberontak.


"sayang...kau kenapa!?" kata Sagara menghampiri Zaara dengan cemas Sagara mencoba memegang tubuh Zaara.


"CARISSA APA YANG TERJADI...HAH!!" teriak Sagara tanpa sadar.


"sepertinya racun ini mengganas, liat bibir Zaara telah berubah warna" ucap Carissa juga panik.


disaat Carissa membuat penawar ternyata Zaara kembali terbangun dan kejang kejang bahkan bibirnya berubah biru keunguan.


"hah...huh....hhmm....." Zaara menjadi sesak napas.


"Huhhhmmm....hhuhmmmmm" Zaara benar benar tidak bisa bernapas.


Sagara yang melihat hal itu ia sangat terpukul dan tanpa sadar menitikkan air matanya,,,


"sayang...aku mohon bertahanlah" ucap Sagara dengan sangat lirih.


namun bukanya membaik Zaara semakin tak terkendali dan nafasnya benar benar tercekat.


"suster, ambilkan penawarnya!" perintah Carissa ditengah Susana menegangkan itu.


bahkan pelayan mulai berdatangan untuk melihat keadaan Zaara, begitu juga Andreas.


"tapi Dokter, penawarnya belum selesai?" ucap suster itu.


"ambilkan saja, aku telah berusaha membuatnya dan itu ditahap akhir dari proses, aku harap itu berhasil" ucap Carissa.


namun yang sedari tadi tubuh Zaara kejang kejang dan nafas tercekat kini tiba tiba berhenti dan kaku.


DEG!!


"ZAARA!!!" sontak tubuh Sagara menegang.


dengan menggoyang tubuhnya Zaara, Sagara berusaha membangunkan Zaara, ia benar benar kalap.


"Zaara... bangun...sayang..." panggilnya dengan sangat pilu, namun Zaara tidak bergeming sedikitpun.


"tik...tik..." air mata Sagara sudah tak terkendali, saat ini ia benar benar berharap Zaara membuka matanya.


"Zaara....Zaara...." suaranya yang berat semakin terdengar lirih.


tiba tiba Sagara berdiri,,,


dengan suara yang nyaring ia berbicara kepada Zaara dengan memohon.


"ZAARA, BERTAHANLAH AKU MOHON!!" teriak Sagara mencoba membangunkan Zaara.


"KAU TELAH BERJANJI TIDAK AKAN PERGI!!" sambunnya lagi, ia berharap dengan begitu Zaara mendengarkannya.


mereka semua yang menyaksikan itu menjadi sedih, melihat Sagara yang mencoba untuk membangunkan Zaara.


"sayang jangan tinggalkan aku, kau telah berjanji bukan!" teriakkan Sagara berubah lirih dan terdengar lembut.


"Zaara...Zaara...Zaara...." kini Sagara tak terkontrol dan mengguncang tubuh Zaara yang lemas.


Carissa yang sedari tadi membeku akhirnya Tersadar.


"Andreas!!... bawa Sagara keluar!!" perintah Carissa.


Andreas pun mencoba membawa Sagara keluar, lagipula melihat Sagara yang mengguncang tubuh Zaara itu akan menyakiti Zaara.


"Tuan Muda Sadarlah!!" ucap Andreas mencoba menyadarkan Sagara.


"nona muda akan baik baik saja!!" mencoba sekuat tenaga Andreas membawa Sagara keluar,,,


"JANGAN PEGANG AKU!!" teriak marah Sagara


"DIAM TUAN MUDA, KAU HANYA AKAN MENYAKITI NONA" tanpa sadar Andreas juga berteriak.


namun seperti pedang tertusuk tepat mengenai sasarannya, Sagara menjadi tersadar dan melemah, lalu dengan masih di papah Andreas, Sagara melangkah kaki berat,,


Carissa pun bertindak dengan cepat ia memeriksa denyut jantung Zaara,,,


"Zaara aku mohon bertahanlah" ucap Carissa.


"suster siapkan alat defibrilator" perintah Carissa setelah ia sadar jika jantung Zaara masih berdetak meskipun lemah.


"baik Dok" suster itu dengan cepat menyiapkan alat kejut jantung.


"ini Dok"


Carissa mengambil alat itu dan bersiap memompa jantung Zaara,,,


"siap Suster..." tanya Carissa, ia akan mulai berhitung,,,


"satu...dua...tiga..." Carissa meletakan alat itu didadanya,,,


*DEG!


*DEG!...tubuh Zaara terangkat,,,


"siap...satu..dua...tiga"


*DEG!


*DEG!.... dengan sekuat tenaga Carissa mencoba membuat jantung Zaara berdetak normal.


Tit..tit....tit.....suara ECG...


sedangkan suasana Sagara saat ini benar benar merasa sangat hancur,,,


didepan pintu yang terbuka Sagara berlutut, terserah betapa banyaknya pelayan dan pengawal yang menyaksikan hal itu, namun ia tidak lagi perduli.


"Ya Robb.....tolong selamatkan Zaara, jangan biarkan ia tiada" doa Sagara, Andreas ikut bersedih melihat keadaan Sagara.


"tuan muda... anda tenang saja, Tuhan sangat menyayangi nona Zaara, Tuhan tidak akan membiarkan gadis sebaik nona Zaara berakhir dengan cara seperti ini" ucap Andreas mencoba menguatkan Sagara.


"kau benar, dia tidak akan meninggalkan aku dengan cara yang seperti ini, tidak akan" ucap Sagara sambil menggeleng gelengkan kepalanya,,,


semua orang yang ada disana ikut berdoa untuk keselamatan Zaara.


"siap...satu...dua...tiga"


DEG!!!


DEG!!!....tit....tit....tit....tit....


tiba tiba,,,


monitor itu menunjuk jantung Zaara yang berdetak lebih teratur,,,


"huh... akhirnya huh...hhmmm" dengan nafas yang tersengal-sengal Carissa berhasil membuat jantung Zaara normal.


semua yang mendengar menjadi sangat bersyukur, begitu pula Sagara,,,


"terimakasih Tuhan" dengan menarik nafas dalam-dalam Sagara menutup matanya dan kembali berdiri,,,


"suster... penawarnya" ucap Carissa lalu dengan berhati hati ia menyuntikan obat itu dan juga mengusapkan obat itu di dekat hidung Zaara agar ia bisa menghirupnya.


"semoga ini menyembuhkan mu" ucap Carissa, lalu ia berjalan keluar dan membiarkan Zaara dalam masa penyembuhan.


tap...tap...tap....


"kau tenang saja Sagara, dia akan pulih" tepuk Carissa menguatkan Sagara.


"terimakasih" ucap Sagara berterimakasih.


"kau tenang saja, aku juga tidak akan membiarkan Zaara pergi dengan cara ini"


"emm..ya" ucap Sagara masih cemas.


melihat hal itu Carissa mencoba menghiburnya,,,


"eh.. ngomong ngomong tumben mengucapkan terima kasih, seperti bukan Sagara yang kukenal" ucap riang Carissa menepuk pundak Sagara lagi.


Sagara tidak bereaksi apapun, namun sebaliknya kalimat Carissa hanya membuat Sagara menatap tajam kearahnya.


"ah...baiklah baiklah...sudahlah kita tunggu saja, sekarang Zaara dalam masa penyembuhan, selama satu jam kita tunggu" ucap Carissa menyerah untuk menghibur Sagara.


bersambung....