
......................
"Apakah kau baik baik saja?"
sekarang mereka tengah berada di taman kampus itu,Niko yang awalnya sudah pulang dari kampus tiba tiba harus kembali lagi karena ia lupa mengambil buku dibawah meja miliknya.
tetapi disaat ia masuk ke kampus ia malah melihat Nadyra sedang merundung seorang gadis, setelah Niko mencoba melihat apa yang terjadi baru Niko menolong Zaara.
"saya baik baik saja" jawab Zaara singkat, kalimat yang terdengar tegar, pikir Niko.
walaupun Zaara telah mengalami hal tersebut ia masih bisa bersikap baik, Zaara hanya mencoba untuk tetap tenang.
"tapi aku tidak melihatnya seperti itu, kau pasti sangat syok bukan, jika kau ingin menangis maka menangislah" ucap Niko tidak percaya yang dikatakan Zaara.
Zaara menggelengkan kepala,,,
"tidak, saya tidak akan menangis ataupun marah" jawab Zaara singkat,Niko mengerutkan keningnya,,
"kenapa?" tanya Niko merasa heran.
"berarti saya sama saja dengan wanita wanita itu" jawab Zaara singkat.
"saya hanya tidak ingin bertengkar dan lebih baik diam dan aku percaya mereka akan berdiam dengan sendirinya" sambungnya.
"kau sangat aneh" ucap Niko,baru pertama kali ia menemui gadis seperti ini, ia lebih baik diam dari pada melawan hanya karena ia tidak ingin bertindak dengan cara yang sama.
"menurut ku aku tidak perlu bertindak seperti itu melawan mereka dengan cara yang mereka gunakan berarti saya dan mereka sama saja, sama buruknya"
"dan aku tidak ingin itu, bukan hanya ingin di pandang baik tetapi aku lebih suka melihat mereka kalah dengan sikap mereka sendiri" sambung Zaara.
"pikiran yang sangat unik" pikir Niko.
"ngomong ngomong siapa namamu?" tanya Niko
sekarang terdengar lebih santai.
"Zaara" jawabnya singkat
"salam kenal Zaara, perkenalkan aku adalah Niko" ucap Niko.
"yah saya tahu itu" ucap Zaara datar.
Niko hanya tersenyum lalu ia segera pergi ia ingat jika hari ini ia harus menghadiri rapat, lalu ia berdiri,,
"baiklah, Zaara aku ingin pulang jika tidak keberatan apakah kau ingin aku antar?"
"terimakasih, tidak perlu" ucap Zaara berdiri lalu pergi meninggalkan Niko lebih dulu.
"heh!!..menarik!" Niko yang ditinggal itu pun menjadi berpikir jika gadis itu sangat menarik.
Zaara sangat berbeda dengan gadis lainnya, jika gadis lain akan sangat bersemangat mengejarnya tetapi Zaara malah mengabaikannya.
***
tap...
tap..
tap..!!dengan berjalan cepat Zaara memasuki rumahnya.
Zaara sudah berjanji dengan Sagara agar bertemu jam tiga tetapi sekarang hampir jam empat.
setelah ia sampai dirumah ia langsung menghubungi Sagara dan Sagara memintanya bertemu di sebuah restoran.
dengan tergesa gesa Zaara bersiap siap
setelah selesai ia segera pergi lalu tidak lama diberhentikan nya sebuah taksi.
"pak taksi!!" panggil Zaara melambaikan tangannya kepada taksi yang terlihat di depan jalan raya itu.
vroomm...!!
vroomm..!!
taksi pun langsung menuju tempat yang menjadi tujuan Zaara.
tidak lama Zaara sampai ketempat yang dituju.
Zaara berjalan dengan cepat dan masuk ke sebuah restoran dan mengedarkan pandangannya mencari Sagara.
tap...
tap...
tap...
"ah..itu tuan muda!" lalu ia melihat Sagara duduk sebuah meja didekat jendela, jendela itu langsung menghadap ke pantai.
tap..
tap..!!Zaara menghampiri Sagara,,,
"maaf tuan muda saya terlambat" ucap Zaara yang sudah ada dihadapan Sagara.
Sagara hanya diam, benar saja pasti Sagara marah padanya karena membuat tuan muda itu menunggu lama.
"maafkan saya tuan muda" kini suara Zaara terdengar lebih lembut, ia mencoba membujuk Sagara.
Sagara masih tidak bereaksi, ia sekarang sangat kesal kepada Zaara,Zaara membuatnya menunggu lama.
tetapi bukan hanya karena itu namun karena ia ingin menjahili Zaara, dasar tuan muda!!.
tetapi Zaara tidak menyerah dia tetap mencoba membujuk Sagara.
"tuan muda, maafkan Zaara ya" sekarang Zaara memanyunkan bibirnya.
deg..!
benar benar terlihat lucu,sebenarnya Zaara malah membuat hati Sagara berdebar saat ini.
"baiklah jika tuan muda tidak ingin memaafkan ku" kini Zaara malah merajuk.
Zaara mencoba berdiri dan pergi tetapi Sagara langsung menghalangi.
"Eitts.....!!Zaara akan hanya bercanda jangan pergi" kenapa sekarang malah ia yang membujuk Zaara.
"huh!.." Zaara mengalihkan wajahnya kesamping, hal itu membuat luka yang diwajahnya terlihat oleh Sagara,Sagara melihat goresan luka diwajah Zaara langsung bertanya.
"Apa Yang Terjadi Dengan Wajahmu!!" tanya Sagara dengan nada cemas.
Zaara yang tidak tahu jika ada luka diwajahnya langsung menyentuh wajahnya, benar saja itu terasa perih,tetapi Zaara yang tidak ingin Sagara tahu langsung mencari alasan.
"ahh ini mungkin ketika saya sedang mengangkat meja tadi, mungkin mengenai wajahku, soalnya tadi saya terantuk meja" ucap Zaara berbohong.
"benarkah?" Sagara curiga dengan jawaban itu.
"benar tuan saya tidak bohong" jawab Zaara singkat
"ya Allah maaf kan Zaara yang telah berbohong"batinnya.
"baiklah, aku percaya lain kali lebih berhati hatilah" ucap Sagara pada akhirnya, namun sebenarnya Sagara tidak percaya dan jika bertanya dengan Zaara maka ia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya.
tiba tiba suasana menjadi hening,,,
"tuan muda?" Zaara membuka suaranya terlebih dahulu.
"ya" jawab Sagara singkat.
"apakah anda marah?" tanya Zaara sambil menatap Sagara, barang kali Sagara marah kepadanya sekarang.
"tidak untuk apa aku marah" ucap singkat Sagara, Sagara mengalihkan wajahnya kesamping, laki laki itu terlihat tengah berpikir, namun ia tidak sadar jika sikapnya membuat Zaara sedih.
Zaara tiba tiba menangis,,,
"Hiksss...hiks..."Sagara yang mendengar terkejut lalu ia menghampiri Zaara dan berjongkok didepannya.
"Zaara kenapa!?...kenapa menangis?" tiba tiba Zaara menangis dihadapannya itu membuat Sagara sedikit bingung, ia tidak pernah mengahadapi wanita menangis sebelumnya membuat Sagara tidak mengerti cara membujuk.
"hu..hu.. tuan muda jahat" Isak tangis Zaara terdengar merajuk.
"tuan muda mengabaikan Zaara" sambungnya lagi masih terisak.
entah mengapa ia menjadi menangis, mungkin karena kejadian tadi, sebenarnya ia sangat sedih tetapi ai mencoba bertahan agar tidak menangis dan sekarang ia malah menjadi menangis dihadapan Sagara.
"huhuhu...bukan salah tuan muda, aku hanya ingin menangis saja..hik!"
"Hem!?" dahi Sagara berkerut mendengar jawaban itu, namun ia mengabaikan hal itu dulu dan lebih memilih menenangkan Zaara.
"baiklah, sekarang kamu ingin makan apa, pasti laparkan!?" tanya Sagara coba menghibur Zaara.
Zaara mengangguk,,,
"baik hapus dulu air matanya" ucap Sagara, Zaara pun menghapusnya dan mulai menenangkan diri.
"heh..hhmm..." Zaara menarik napasnya dan mulia kembali tenang.
tak lama kemudian pelayan datang dan Langsung mencatat semua pesanan Sagara.
***
setelah selesai makan Sagara mengantarkan Zaara bekerja di sore di toko buku Rena.
citt....!!! mobil berhenti tepat di depan toko.
brak..! Zaara membuka pintu lalu menutupnya, sedangkan Sagara hanya membuka kaca jendela lalu tersenyum kearah Zaara.
"Zaara aku akan pergi dulu, jaga dirimu baik-baik" ucap Sagara melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu.
didalam perjalanan...
Tut...Tut...Tut...!! Sagara menelpon Andreas
"Andreas cari tahu apa yang terjadi hari ini dengan Zaara di kampusnya!" perintah Sagara ditelpon.
Sagara tidak percaya jika tidak terjadi sesuatu, luka itu sama sekali tidak mirip dengan terantuk meja
"baik tuan muda" jawab Andreas dari seberang telpon, tanpa banyak tanya Andreas segera melaksanakan perintah itu.
***
tok....tok.... tok....!!
"masuk" saut Sagara.
"permisi tuan muda, saya telah membawa informasi yang anda inginkan!"Andreas masuk lalu memberi bow kepada Sagara.
"tuan saya telah membawa yang anda minta" sambil mengulurkan tangannya Andreas memberikan kepada Sagara sebuah flashdisk, flashdisk itu berisi rekaman video rundungan Nadyra kepada Zaara.
"apa ini!?"
"tuan muda lihat saja sendiri!" jawab Andreas.
Sagara pun mengambil flashdisk itu dan langsung menghubungkan dengan komputer miliknya.
Deg...!! Sagara yang menyaksikan rundingan itu tiba tiba saja menjadi marah, bagaimana bisa wanita wanita itu sangat tega melakukan hal tersebut.
tangan Sagara mengepal,,,
benar saja luka diwajah Zaara itu disebabkan oleh lemparan lemparan telur dan lainnya.
dan lebih terkejutnya lagi Sagara ketika melihat seorang laki laki menghampiri Zaara, lalu membawa Zaara pergi.
Sagara benar benar marah!!!.
BRAKKK...!!!
"Sialan... Siapa Laki Laki Itu !!!" amarahnya sudah hampir meletup,Andreas yang melihat itu pun hanya bisa diam, ia sangat tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
kali ini Andreas yakin bukan hanya wanita wanita itu yang merasakan akibatnya, namun juga laki laki yang menolong Zaara akan merasakan amarah dari Sagara.
tiba tiba Sagara berdiri lalu keluar menuju mobil
Sagara pergi menemui Zaara.
tap...
tap...
tap...
vroomm... vroomm...!!
Sagara menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.
disisi lain...
Zaara yang baru pulang dari tempat kerjanya, terkejut dengan kedatangan tiba tiba Sagara.
vroomm...!!!
citttt....!! mobil itu berhenti tepat sebelum Zaara masuk kedalam rumahnya.
tap...
tap..
tap..
Sagara berjalan mendekati Zaara,menatap lurus kedepan.
"tuan muda mengapa anda kemari?" tanya Zaara agak terkejut.
"Apakah ada urusan penting tuan muda?" tanya Zaara yang masih belum menyadari jika Sagara menahan amarah.
lalu Sagara yang berjalan mendekati Zaara berhenti tepat didepan Zaara lalu menatap dalam mata Zaara.
"Zaara jangan pergi dariku" ucap Sagara tiba tiba membuat Zaara kebingungan.
"Zaara aku tidak bisa jauh dari mu...."ucap Sagara masih dengan suara yang terdengar berat.
"tuan muda apa maksud dari perkataan mu?"
tanya Zaara, memangnya Zaara akan kemana,pikir Zaara.
Sagara diam lalu ia mencoba mengusap wajah Zaara, Zaara tiba tiba mundur,,,
tap..
tap..
"tuan muda jangan seperti ini!" penolakan itu membuat Sagara semakin marah tetapi ia tidak ingin menyakiti Zaara, ia mengalah lalu mengambil obat didalam kotak yang dia bawa didalam mobil.
"maafkan aku Zaara" lalu dengan membalikkan tubuhnya, Sagara berjalan kearah mobil, lalu terlihat ia tengah mengambil kotak tersebut dan membawanya kehadapan Zaara.
tap...
tap...
tap...
"Zaara duduklah!" Sagara meminta Zaara duduk, Zaara hanya menurut lalu ia pun mendudukkan tubuhnya di kursi depan terasnya.
"aku akan mengobati luka ini!" ucap Sagara mengulurkan tangannya, namun Zaara sedikit berpaling.
"aku mohon Zaara" ucap Sagara sambil menahan perasaannya sendiri yang sedari tadi bergejolak.
"Hem!" Zaara pun berdeham dan mengangguk kepalanya perlahan.
karena sudah dapat persetujuan dari Zaara,dengan sangat pelan Sagara mengobati luka itu.
Hening...
disaat itu tidak ada kalimat apapun yang terlontar dari mulut keduanya, hanya diam dalam pikiran masing masing.
Sagara selesai mengobati Zaara, lalu Sagara berdiri yang diikuti oleh Zaara, lalu dengan suara yang lebih lembut Sagara berkata.
"Zaara aku kemari ingin mengajakmu untuk makan malam bersamaku besok" kata Sagara sambil menatap Zaara.
"makan malam?" pikir Zaara.
"benar dan kuharap kau tidak menolaknya" saut Sagara tidak ingin menerima sebuah penolakan.
"baiklah" kali ini Zaara setuju dengan mudah, entah mengapa ia merasa aneh dengan sikap Sagara saat ini, namun Zaara juga tidak ingin membuat Sagara kecewa jika Zaara menolak permintaan itu.
bersambung....