
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah puas Sagara mencari keberadaan Zaara dirumah itu, namun ia tidak juga menemukan Zaara.
dengan perasaan yang sudah campur aduk antara cemas dan menyesal Sagara menelpon Andreas kembali tepat jam 9 malam.
"Andreas, Zaara menghilang" ucap Sagara cemas ditelepon itu, Andreas yang awalnya sudah hampir terlelap tidur karena kelelahan seketika kantuknya hilang.
"tunggulah aku akan tiba sebentar lagi" jawab Andreas diseberang sana, Sagara pun langsung mematikan handphonenya.
dengan perasaan tak karuan Sagara mondar mandir memikirkan Zaara entah kemana, sekarang ia tidak bisa berpikir jernih.
tak lama Andreas pun muncul,,,
tap....
tap...
tap....
dengan langkah cepat Andreas memasuki rumah, dengan ekspresi tegangnya.
"apa yang terjadi?" tanya Andreas
"Zaara tidak ada dirumah, dia menghilang dan aku tidak tahu ia ada dimana" jawab Sagara
Andreas pun menatap sekeliling rumah dan matanya berhenti tepat menatap Bunga yang ada disana.
"nona Bunga, bukankah kau dekat dengan nona muda, apakah kau tahu keberadaan nona muda?" tanya Andreas
"tuan Andreas, saya sama sekali tidak tahu, karena saya baru pulang dari kantor" jawab Bunga menjelaskan dengan ekspresi cemas.
"hehmmm...tuan muda apakah anda sudah mencari nona muda di tempat Rena?" tanya Andreas lagi, ia berpikir mungkin saja Zaara ada disana.
Sagara pun langsung teringat sesuatu, benar, mungkin saja Zaara pergi ketempat mbak Rena.
Sagara dan Andreas pun tanpa basa basi langsung berangkat menuju toko Rena ataupun rumahnya.
Vroomm...!! mobil pun pergi meninggalkan kediaman itu,,,
dengan harap harap cemas Sagara mencoba menghubungi nomor Rena yang dari handphone Zaara.
Tut....
Tut....
Tut...
ponsel Rena tidak aktif, Sagara pun mencoba lagi namun lagi lagi ia tidak bisa menghubungi Rena.
salah satu yang harus ia lakukan adalah cepat sampai ditempat Rena.
Cittt.... 15 menit kemudian Sagara dan Andreas sampai di toko Rena.
dengan langkah besar Sagara dan Andreas masuk tanpa permisi.
Rena yang sedang membereskan toko menjadi sangat terkejut dengan kedatangan dua laki laki itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Rena heran
Sagara dan Andreas yang awalnya mau bertanya keberadaan Zaara pun mengurungkan niatnya karena ia sudah tahu jawaban wanita itu nanti, dengan kata lain Zaara tidak ada disana.
"Zaara..."
"Zaara dia kenapa?" tanya Rena menatap heran Sagara, Sagara hanya diam tanpa ingin menjawab.
"nona Zaara....hilang" celetuk Andreas, ia menjawab pertanyaan Rena itu karena Sagara yang sepertinya tidak ingin mengucapkan kalimat itu.
"APA!!" refleks Rena nyaring.
"hilang, maksud kalian Zaara..."
"nona Zaara tidak ada dirumah dan juga tidak tahu dimana keberadaan nona Zaara saat ini" jawab Andreas
"bagaimana ini terjadi, hai Sagara apakah kau tidak menjaga Zaara dengan baik" tatap tajam Rena kepada Sagara.
Sagara tidak menjawab pertanyaan itu, ia pun pergi menjauh dari Andreas dan Rena.
"dasar laki laki aneh, Andreas apa yang terjadi,hah!?" Rena pun bertanya kepada Andreas, sedangkan Sagara terlihat sedang menelpon seseorang.
"begini nona Rena sebenarnya nona muda dan tuan muda......" Andreas pun menceritakan semuanya kepada Rena.
"kurang ajar, dasar laki laki bajingan, bagaimana dia bisa memperlakukan Zaara seperti itu" Rena pun berbicara dengan kesal menghina Sagara.
Sagara pun berjalan lagi kearah Andreas, ketika Sagara dihadapan Rena, Rena pun semakin kesal dan karena ia tidak tahan dengan sikap Sagara, Rena pun mengatakan hal yang semakin membuat Sagara yang kalut semakin menyesal setelah mendengar ucapan Rena.
"kau tahu Sagara dia sering menceritakan semua tentang mu padaku, dia selalu menceritakan semua kebaikan tentang mu padaku, karena apa? Karena dia hanya memiliki kamu sekarang sebagai keluarga, sebagai suami...ckk tapi kau...apa yang kau lakukan padanya" ucap Rena menatap Sagara dengan serius.
sebagai orang terdekat Zaara, ia juga marah Sagara memperlakukan Zaara seperti itu.
"dan sekarang kau menuduhnya sembarangan!" Rena membuang mukanya.
Sagara yang semakin kalut dan menyesal mendengar perkataan Rena, dengan perasaan seperti itu Sagara pun melayangkan tinjunya kearah dinding dengan keras.
Duk....Duk...!!! dengan kalap ia menghantam dinding sampai darah segar mengalir di tangannya.
Andreas yang melihat itu pun menyadarkan Sagara,,,
"Apa yang kau lakukan Sagara, sadarlah!" ucap nyaring Andreas ia sekarang tidak formal lagi.
"sekarang bukan waktunya untuk bersikap seperti ini, sebaliknya kita harus segera mencari nona Zaara" ucap Andreas setengah berteriak.
tetapi Sagara masih memukul dinding itu keras, ia tidak mendengarkannya perkataan Andreas.
"baiklah jika kau masih seperti ini, kau benar benar akan kehilangan nona Zaara" ucapan Andreas pun seketika membuat Sagara tersentak.
Sagara berhenti memukul, dan ia terdiam,,,
"Sagara, jika kau ingin memperbaiki kesalahanmu, cepatlah cari Zaara" ucap Rena yang sudah lebih tenang, saat ini dia pun sebenarnya harus lebih mementingkan kesempatan Zaara dulu, karena mereka saat ini tidak tahu keberadaan Zaara.
"dimana tempat yang kemungkinan di datangi oleh Zaara?" tanya Sagara tiba tiba bernada lebih tenang dan tegas, tersirat diwajahnya sebuah harapan.
Rena pun berpikir,,,
"apakah dimakam kedua orang tuanya, tapi aku tidak yakin" jawab Rena, ia tahu jika Zaara sudah sangat sedih maka ia akan datang ke makam orang tuanya.
Sagara dan Andreas pun bergegas menuju mobil,,,
"tunggu, biarkan aku ikut bersama kalian" ucap Rena bergegas menutup pintu toko dan langsung mengejar Sagara dan Andreas.
mereka pun pergi menuju makam orang tua Zaara, selama diperjalanan mereka bertiga harap harap cemas, mereka berdoa agar Zaara benar benar ada disana.
tak lama mereka pun tiba di komplek pemakaman
Cittt.....!!!
Brakk...!!
mereka bertiga pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke area pemakaman,,,
"Zaara!"
"Zaara!
"nona Zaara!"
mereka mencoba memanggil Zaara dengan suara yang lirih dan pelan, mereka mencoba melihat disekitar pemakaman itu dan berjalan dengan pelan kearah makam orang tua Zaara, namun lagi lagi Zaara tidak ada disana.
mereka pun langsung pergi kedepan komplek,,
"Tidak ada disini" ucap Rena menggelengkan kepalanya.
dengan wajah cemas Rena mengedarkan pandangannya di sekeliling komplek, namun ia tidak juga melihat Zaara.
Sagara juga mencoba berjalan menelusuri didepan jalan komplek, ia berpikir mungkin Zaara telah pergi dari sana, namun ketika kembali pun Sagara hanya sendirian tanpa menemukan jejak Zaara.
Andreas juga sudah mengerahka pengawal pengawal untuk bisa menemukan Zaara.
hari telah menunjukkan waktu jam 11 malam, namun keberadaan Zaara masih tidak ditemukan oleh Sagara.
dengan perasaan yang sangat sangat menyesal dan cemas, Sagara menjatuhkan dirinya di tanah dan memeluk kakinya sendiri.
keadaan Sagara saat ini sangat membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kasihan dan iba.
"dimana kau Zaara, maafkan aku!!" ucap Sagara sambil meringkukan badan.
hawa malam yang semakin dingin itu pun membuat tubuh Sagara bergetar, Andreas yang melihat hal itu tidak tahan lagi dengan pelan Andreas membujuk Sagara untuk pulang terlebih dahulu.
"tuan muda lebih baik kita pulang terlebih dahulu, disini pun kita telah mencari nona muda, dan pengawal juga sudah mencari keberadaan nona muda" ucap Andreas membuju Sagara, namun Sagara tetap bergumam nama Zaara, Sagara sekarang persis seperti orang yang kehilangan arah.
"Sagara, aku berjanji akan mencari keberadaan nona Zaara sampai ketemu, aku akan membawa kabar baik untukmu, jadi tolong Sagara sayangi dirimu sendiri, jika kau tetap memaksa seperti ini tubuh mu akan sakit" ucap Andreas bertekad akan menemukan Zaara untuk Sagara.
sekarang jiwa persahabatan Andreas pun menyeruak, bagaimanapun Andreas dan Sagara sudah berteman sejak kecil, dan disaat Andreas melihat Sagara kesulitan seperti ini ia akan siap membantu Sagara.
dengan ditarik oleh Andreas untuk berdiri, Sagara pun pergi meninggalkan pemakaman dengan langkah yang lunglai.
Rena yang menyaksikan hal itu pun juga iba terhadap Sagara, mereka bertiga pun kembali kekediaman Sagara dengan hasil yang nihil.
bersambung.....