
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tap...!!
tap...!!
"tuan muda ternyata ada panggilan dari tuan besar dan nyonya siang tadi yang terabaikan" ucap Andreas memberitahukan kepada Sagara.
"heum...biarkan saja nanti aku akan menghubunginya kembali" saut Sagara sambil memasuki kamar hotel presidential suite itu.
tap...
tap...
"tuan muda, Ratan Lee telah diamankan di markas xibei" ucap Andreas lagi.
"Hem!!" jawab Sagara singkat.
lalu Sagara pun memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
sedangkan Andreas juga kembali kekamar disebelahnya,,,
disisi lain...
PRANGGG...!!
"TIDAK BERGUNA!, KENAPA RATAN LEE BISA TERTANGKAP!!" ucap Damian sangat marah.
didalam ruangan rahasia miliknya laki laki itu terlihat marah besar karena mendengar informasi yang baru saja ia dapat.
BRAKKK...!!
"cepat lakukan sesuatu agar Sagara tidak mengetahui keberadaan ku!!!"
perintah itu pun langsung dijalankan oleh pengawalnya itu.
prang...!!
prang...!!
"dasar tidak berguna!!, bagaimana ia bisa tertangkap!!" ucap Damian melampiaskan amarahnya dengan melemparkan semua vas didepannya.
"tidak akan aku biarkan rencanaku berantakan!!!"
***
dikediaman Sagara...
Veera beserta suami dan putrinya tiba dirumah itu, namun ketika ia masuk kedalam rumah,,,
tap..
tap..
tap..
"kenapa sangat sepi disini!?, bahkan pengawal yang berjaga pun tidak ada ditempat!?" ucap Tristan.
lalu dengan cepat ia masuk kedalam rumah itu dan melihat sekeliling rumah.
"PENGAWAL!!!" teriak Tristan memanggil pengawal lalu berjalan kearah luar halaman.
tap..
tap..
"kenapa sangat sepi, dimana Zaara dan Sagara!?" tanya Veera yang sebenarnya tidak tahu jika Sagara telah pergi ke kota xibei.
"Zaara!!!, Zaara... Sagara!!" panggil Veera namun tetap saja nihil, rumah besar itu seperti tidak ada penghuninya.
namun tiba tiba bibi Nan tiba,,,
"nyonya, anda kembali!!!" ucap bibi Nan menghampiri majikannya itu.
"bibi Nan dimana Zaara dan Sagara!?" tanya Veera.
"itu..itu...nyonya sebenarnya siang tadi nona Zaara pergi kerumah sakit!!" jawab bibi Nan.
"APA RUMAH SAKIT!!, UNTUK APA BI?"
"apakah terjadi sesuatu kepada Zaara Bi, pah..papah ayo kita kerumah sakit!" Veera cemas duluan mendengar ucapan itu.
"nyonya tenang bukan nona Zaara yang sakit tapi nona Bunga" jawab bibi Nan lagi.
Veera menjadi lega namun ia juga bertanya tanya siapa Bunga.
"Bunga!?, siapa dia?" kini Tisha yang bertanya-tanya.
"begini nyonya, nona Tisha, nona Bunga itu wanita yang beberapa bulan ini tinggal bersama tuan Sagara dan nona muda" jawaban bibi Nan membuat Veera menjadi terkejut plus heran.
"wanita!?, apa maksudmu bi?!"
"lebih baik nyonya langsung tanyakan saja kepada nona muda, nyonya" Veera semakin pusing dibuatnya.
"aduhh...dari tadi siang Sagara tidak bisa dihubungi dan sekarang apa lagi yang terjadi!" ucap Veera memegang kepalanya sendiri.
tap..
tap..
Tristan masuk menghampiri Veera,,,
"ada apa mah?" tanya Tristan yang datang.
"pah kata bibi Nan Zaara ada dirumah sakit" saut Veera.
"rumah sakit!, apakah Zaara sedang sakit!?" sama halnya Veera, Tristan juga sama terkejutnya.
"bukan pah...hhmmm...lebih baik kita temui saja Zaara kerumah sakit!!"
"tidak bisa mah, lihatlah jam telah menunjukkan pukul 10 malam jika kita kerumah sakit akan melelahkan, lebih baik telepon Zaara dan minta ia segera kembali!" usul Tristan.
"baiklah.."
Veera pun mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi Zaara.
drrttt...
drrttt...
Tut..!!
"halo Zaara!!" ucap Veera setelah telepon itu tersambung.
"wa'alaikumsalam, Zaara sayang mommy ada dirumah, sekarang pulanglah mommy ingin berbicara denganmu"
"baiklah..dah sayang, wa'alaikumsalam" telepon itu sudah ditutup oleh Veera.
"kita tunggu saja, tidak lama Zaara akan tiba, karena katanya ia telah didalam perjalanan pulang" ucap Veera.
sedangkan disisi Zaara...
"mommy kembali!!" pikirkan Zaara benar benar cemas bagaimana tidak jika Veera telah kembali apa yang harus dikatakan olehnya jika Veera bertanya tentang Sagara.
Zaara sedang diperjalanan pulang sendirian malam itu tanpa Bunga, karena kondisi bunga masih terluka.
"pak cepatlah sedikit!!" pinta Zaara.
lalu mobil itu pun berjalan dengan kecepatan yang lebih kencang dari sebelumnya dan tak beberapa lama kemudian Zaara mulai memasuki halaman besar itu.
sreeettt...!! pintu gerbang terbuka untuk mobil Zaara, mobil itu pun berhenti tepat didepan pintu utama.
cklek..!! Zaara membuka pintu itu lalu langsung berjalan masuk kedalam dan menghampiri Veera.
tap..
tap..
tap..!!
"mommy, Daddy, Tisha!!" panggil Zaara ketika Zaara sudah masuk kedalam ruang tamu dan langsung memeluk Veera.
"mommy!!"
"Zaara bagaimana kabarmu sayang?" Veera pun membalas pelukan itu.
"kak Zaara" panggil Tisha sambil tersenyum kearah Zaara.
"Tisha!" Zaara pun melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk adik iparnya itu.
"bagaimana kabarmu kak Zaara?" pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan oleh Veera.
Zaara pun melepaskan pelukannya lalu menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya saat ini.
"mom, Tisha, Zaara baik baik saja, bagiamana kabar kalian selama ini?"tanya Zaara menanyakan pertanyaan yang sama.
"baik sayang...kami baik baik saja" jawab Veera.
"Zaara!" panggil Tristan yang sedari tadi memperhatikan ketiga wanita tercintanya.
Zaara pun kembali beralih menatap Tristan.
"Daddy!!, bagiamana kabarmu dad?" tanya Zaara sama bahagia disaat melihat Tristan yang sudah dianggap sebagai ayah kandung.
"kemari!" pinta Tristan memeluk tubuh Zaara.
"kau sudahku anggap sebagai putriku sama seperti Tisha, Zaara"
Zaara tersenyum mendengar ucapan itu.
"iya dad, Zaara juga menganggap Daddy seperti ayah Zaara sendiri"
mereka kembali berkumpul malam itu dengan perasaan yang bahagia juga haru, namun siapa sangka tiba tiba Veera bertanya tentang Sagara kepada Zaara.
"Zaara dimana Sagara, mommy ingin berbicara dengannya namun sedari tadi mommy tidak melihat Sagara?" tanya Veera menatap Zaara.
"hubby sedang di luar kota, sekarang berada di kota xibei mom" jawab Zaara jujur namun ia cukup ragu untuk mengatakan hal itu.
"APA!?, berarti benar pah jika Sagara ada di xibei mengurus perusahaan itu, namun kenapa Sagara tidak juga memberitahukan apa yang terjadi" pikir Veera.
"ckk..dasar anak itu bisa bisanya ia meninggalkan Zaara sendirian"Veera tidak habis pikir dengan Sagara.
walaupun sekarang masalahnya sangat kacau namun bukan berarti Sagara mudah meninggalkan Zaara sendirian terlebih lagi di kondisi Sekarang pasti banyak sekali musuh yang mengincar.
sedangkan Zaara hanya bisa diam dan menyembunyikan apa yang terjadi sebisanya.
namun pikirannya itu salah tiba tiba Veera bertanya sesuatu yang membuat Zaara tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mommy perhatikan sepertinya kau ada masalah!?" pertanyaan itu tiba tiba terlontar dari Veera.
DEG..!
"eumm..tidak.mom, tidak ada masalah" jawab Zaara.
"jangan menyembunyikan apapun Zaara..."
"dan Mommy ingin bertanya siapa Bunga itu?"
"eum..itu mommy, Bunga itu wanita yang tinggal bersamaku" jawab jujur Zaara
"mommy mendengar itu, namun disini mommy ingin tahu mengapa bisa Bunga ada disini?" tanya Veera lagi.
namun Zaara tiba tiba diam, Apakah Veera tidak suka hal itu, pikir Zaara.
"mommy sebelumnya aku ingin minta maaf terlebih dahulu, dan juga kepada Daddy..."
"hhmm...jadi begini..." Zaara pun mulai menceritakan semua pertemuan dengan Bunga beberapa waktu lalu tak lupa Zaara menceritakan kesulitan Bunga dan masalah yang dihadapinya, dan beberapa masalah yang terjadi.
namun Zaara tetap menyembunyikan masalah yang dirinya yang terkena racun dan juga Sagara yang tengah marah padanya.
"jadi begitu..dan sekarang maksudmu ia ada dirumah sakit karena tertimpa vas bunga yang jatuh!?" Veera pun mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Zaara.
namun ia tetap merasa ini sedikit aneh, pasalnya Sagara tidak mungkin mau serumah dengan orang luar, namun lagi lagi Veera tahu jika Sagara melakukan itu pasti untuk Zaara.
"heum...!!" Veera pun menarik napasnya, ternyata dalam beberapa bulan ia pergi telah terjadi banyak kejadian.
Veera pun menatap Zaara yang tengah bercanda ringan dengan Tisha dan tiba tiba Veera baru menyadari jika Zaara agak kurusan.
"kenapa kau sangat kurus Zaara?!" tanya cemas Veera tiba tiba.
"hah!!, kurusan!!?...ouh mungkin itu karena Zaara sedang diet mom" jawab Zaara singkat tak lupa senyum diwajahnya.
siapa yang percaya itu Zaara...!!
"apakah ada sesuatu yang kau tutupi Zaara?" kini Tristan yang bertanya.
"jangan menutupi apapun Zaara, jika terjadi sesuatu padamu maka kami semua pasti sangat sedih, apa yang sebenarnya terjadi selama ini!?" tambah Veera.
"tidak mommy, tidak ada yang terjadi, Zaara baik baik saja" jawab Zaara tetap tersenyum sambil menyakinkan Veera dan Tristan.
"hhmm... baiklah... tapi ingat jika ada masalah mommy akan selalu ada untukmu" akhirnya Veera tidak memaksa Zaara untuk menceritakan apa yang terjadi.
suasana menjadi hening sesaat, karena suasana yang menjadi canggung Tristan pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"mah, bagiamana kita coba lagi untuk menghubungi Sagara siapa yang tahu dia akan mengangkatnya" ucap Tristan mengalihkan suasana hening itu.
"ide bagus pah" saut Veera.
"baiklah kita coba telepon Sagara"
drrttt...!!
drrttt...!!
"halo Sagara, bagiamana kabarmu nak?" tanya Tristan.
"aku baik Dad" jawab Sagara diseberang telepon.
"Daddy dengar perusahaan xibei dalam masalah besar, Apa itu sulit untuk ditangani?" tanyanya.
"jangan khawatir aku bisa menghandlenya" jawab Sagara lagi.
"eum..begitu...baguslah, kalau seperti itu keadaannya Daddy akan lebih tenang sekarang"
"Sagara apakah kau ingin berbicara dengan Mommymu?"
"baik"
Veera pun mengambil handphone itu...
"bagaimana bisa kau meninggalkan Zaara sendirian dirumah Sagara?!!" ucap Veera ketika ponsel itu sudah ada ditangannya.
bukannya mempertanyakan bagiamana kabar Sagara, Veera lebih mau memarahi putranya itu.
"kau tahu Sagara disaat ini sangat besar resikonya jika kau meninggalkan Zaara sendirian, apakah kau lupa itu Sagara!!" tambah Veera.
sedangkan disisi lain Zaara hanya bisa diam, bukanya lupa mom hanya saja Sagara memang sedang marah kepada Zaara, pikir Zaara.
"maaf mom aku sangat tergesa waktu itu dan tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal lain sehingga aku lupa lagi pula aku benar benar langsung pergi ke kota xibei waktu itu"jelas Sagara mencoba berasalan.
"tetap saja kau tidak bisa melupakan keselamatan Zaara bukan, Sagara ini bukan sifatmu!!"
"mom sudahlah jika tidak ada hal lain aku tutup dulu, besok aku harus segera pergi kekantor" ucap Sagara lagi, ia tidak ingin mengatakan apapun kepada Veera dan saat ini ia benar benar tidak ingin berbicara dengan Zaara walaupun dihatinya benar benar rindu dengan gadis itu.
Tut... telepon itu ditutup secara sepihak.
"ckk....ada apa dengan anak ini!" agak kesal Veera dengan sikap Sagara itu bahkan ia tidak sempat berbicara dengan Zaara.
"sudah lah mom, mungkin hubby ingin beristirahat karena itu dia menutup teleponnya" ucap Zaara mencoba menenangkan Veera.
itu semua ia lakukan hanya untuk Veera tidak khawatir denganya.
"sign*... Baiklah, tapi lihat saja nanti anak itu"
"sudah lah mah, lebih baik kita tidur mungkin Zaara juga sudah lelah, benarkan Zaara?" ucap Tristan.
karena malam telah menunjukkan waktu 11 malam dan berarti sudah satu jam mereka berbicara disana.
"benar mom, Tisha juga sudah sangat lelah" ucap Tisha sambil menguap.
"baiklah... selamat tidur semuanya"
mereka pun beranjak tadi sana dan langsung menuju kamar masing masing untuk beristirahat.
malam itu Zaara berhasil terhindar dari pertanyaan lebih lanjut dari Veera namun ia tidak tahu akan sampai kapan bisa menutupi hubungannya yang bermasalah dengan Sagara.
didalam kamar Veera...
"kenapa mamah merasa jika Zaara tengah menyembunyikan sesuatu dari kita pah"
"papah juga merasa itu terlebih lagi disaat kita menelepon Sagara bukankah mereka tidak saling menyapa"
"benar ini bukan sifat Sagara pah, Sagara sangat mencintai Zaara tidak mungkin bukan jika ia lupa dengan Zaara"
malam itu Veera dan Tristan membahas tentang itu namun mereka benar benar tidak mengerti, mungkin ia harus mencari tahu sendiri, pikir Veera.
***
keesokan harinya....
tap...
tap...
tap..
Veera lebih dulu bangun pagi itu dan langsung berjalan menuju dapur, dan tepat disaat itu bibi Nan juga ada disana.
"selamat pagi nyonya" bow bibi Nan.
"pagi Nan" saut Veera ramah seperti biasanya.
"Nan apakah makanan sudah siap?" tanya Veera sambil melihat beberapa masakan diatas kompor.
"sudah nyonya hanya beberapa lagi yang belum masak" jawab bibi Nan.
"eummm.... sepertinya sangat lezat, rasanya sangat lama tidak memakan masakanmu Nan" puji Veera sambil bercanda dengan kepala pelayannya itu.
"nyonya bisa saja!"
umur Veera dan Nan memang tidak jauh berbeda, mereka sama sama berumah 50 tahun, hanya saja Veera terlihat lebih muda.
"aku ingin bertanya kepadamu nan"
"apa itu nyonya, saya akan menjawab pertanyaan anda"
"nan apa yang terjadi dirumah ini selama ini, nan katakan padaku dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi dengan Zaara dan Sagara!?" tanya Veera lebih serius.
sontak mendengar pertanyaan itu pun bibi Nan kembali diam, namun kemudian setelah lama berpikir akhirnya bibi Nan membuka suaranya.
"nyonya sebenarnya beberapa waktu lalu sudah terjadi...."
bibi Nan menceritakan semua yang ia ketahui dirumah itu dari Zaara sakit sampai kejadian terakhir kali dengan Sagara.
betapa terkejutnya Veera, hatinya menjadi tidak menyangka semuanya yang didengarnya.
set...!!
"huhhh....hueh...!!!" Veera terkulai lemas di atas kursi, bagiamana bisa semua itu terjadi.
"nyonya!!!" bibi Nan mencoba menahan tubuh majikannya itu.
Veera memegang kepalanya sendiri mencoba menenangkan diri...
"jadi maksudmu hubungan Sagara dan Zaara saat ini tidak baik baik saja, karena Sagara mengira Zaara berselingkuh!!" informasi itu membuatnya sangat syok.
"tidak...tidak...!!" Veera menggeleng kepalanya.
"aku tidak percaya itu, aku tidak percaya Zaara bisa melakukan itu..."
"benar nyonya akan tetapi tuan muda marah besar dan mengabaikan nona muda selama ini"
"apa yang terjadi berarti selama ini Zaara sendirian dan sedang tersiksa karena perasaannya"
jika Veera mengingat wajah Zaara yang selalu tersenyum itu hatinya menjadi terenyuh, bagiamana bisa gadis kecil itu menahan semua itu sendiri.
Veera pun menitikkan air matanya, hatinya ikut merasakan sakit.
"hiks...!!"
"nyonya!, selama ini tuan muda pergi dan tidak pernah kembali pulang, saya sangat berharap hubungan nona muda dengan tuan muda kembali seperti dulu"
ditengah rasa sedihnya itu tiba tiba Zaara datang...
tap...
tap...
tap...
"mommy!!" Zaara menghampiri Veera yang sedang duduk di kursi itu sambil memegang kepalanya.
"mom apakah anda sedang sakit?" tanya Zaara menjadi khawatir.
Veera mendengar itu semakin sedih, bagiamana Zaara masih perduli dengan keadaan orang lain sedangkan dirinya saja sedang tidak baik baik saja.
"tidak apa apa Zaara...." saut Veera tersenyum ia mencoba untuk tetap diam.
"Zaara lebih baik kita segera makan, ayo sekarang kita keruang makan"
"baiklah mom" ...mereka pun berkumpul diruang makan untuk sarapan pagi itu.
sedangkan Veera yang sudah tahu apa yang terjadi menjadi lebih diam selama sarapan berlangsung.
"ada apa mom kenapa dari tadi Tisha lihat hanya diam?" tanya Tisha setelah selesai sarapan namun mereka masih duduk dimeja makan.
sreet...!!!
Veera berdiri dari duduknya dan berjalan kearah ruang tengah.
"ada yang ingin mommy bicarakan dengan kalian semua"
Tristan, Zaara dan Tisha hanya menurut lalu menyusul Veera yang berjalan lebih dulu...
tap...
tap..
setelah sampai diruang tamu tanpa mendudukkan tubuh mereka terlebih dahulu...
dalam keadaan yang masih berdiri, Tristan membuka pembicaraan.
"apa yang ingin kau sampaikan mah?" tanya Tristan membuka suara.
"hehmm....!!" Veera menutup matanya sejenak lalu dengan wajah yang serius menatap Zaara.
"Zaara jawab pertanyaan ini dengan sejujurnya!!, Zaara apa yang terjadi denganmu dan Sagara?" Veera kembali bertanya.
Veera ingin Zaara mengatakan semua yang telah terjadi kepadanya dengan penjelasan dari Zaara sendiri.
Zaara hanya diam, ia tidak bisa mengatakan apapun saat ini namun ia juga tidak bisa selalu menghindari pertanyaan ini.
"KATAKAN ZAARA!!" Veera sedikit berteriak kepada Zaara.
DEG...!
"MAMAH!!" Tristan syok mendengar suara Veera yang keras itu.
"kenapa berteriak kepada Zaara mah, sebenarnya apa yang terjadi disini...!?, kenapa mamah seperti ini"
"Zaara tolong katakan yang sebenarnya!!" ucap Veera lagi dengan suara yang ditekankan.
Zaara tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan semuanya, lalu dengan suara yang lirih Zaara menceritakan semuanya dihadapan mereka.
brukkk..!!
bagaikan tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri, Veera menjatuhkan dirinya di atas sofa itu...
"mom!!"
semua yang mendengar ikut terkejut, mereka tidak menyangka ternyata selama ini Zaara selalu menghadapi semua itu tanpa di ketahui oleh Veera ataupun Tristan.
"jadi selama ini Sagara sudah meninggalkanmu sendirian!!?" Tristan tidak percaya apa yang didengarnya namun dengan raut wajah yang memerah Tristan marah.
"DASAR SAGARA!!"
"kenapa kau tidak mengatakan apapun dari dulu Zaara !!?"
"iya kak Zaara kenapa kakak menutupi hal sebesar ini!!" ucap Tisha ikut terkejut sambil menggoncang tubuh Zaara.
"apa yang bisa aku lakukan!?" Zaara membuka suaranya, dengan perasaan yang hancur ia benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya lagi.
"mom, dad, Tisha coba katakan padaku bagiamana bisa Zaara memberitahukan kepada kalian jika suami Zaara sendiri meninggalkan aku karena dianggap berselingkuh!!"
"aku hanya diam karena tidak ingin hubungan ini lebih menyakitkan, aku diam dan mencoba memperbaiki akan tetapi masalah selalu datang dan hubby sama sekali tidak kembali!!"
jelas Zaara dengan raut wajah yang sangat pasrah dan terdengar sangat melelahkan.
"aku hanya ingin hubungan ini membaik karena itu aku memilih diam dan mencoba untuk memperbaiki hubungan ini dengan hubby" sambung Zaara melemah.
tik...!..tik....! air mata itu tidak tahan untuk keluar.
mereka semua membisu, terbuat dari apa hati gadis kecil ini begitu kuat dan sabar tanpa harus menyakiti yang lain.
"maafkan Daddy Zaara ternyata aku sudah salah membiarkanmu sendirian disini dengan anak sialan itu!!" ucap Tristan terdengar berat.
set...!! Zaara memohon kepada Tristan.
"tidak!!...tidak Daddy ini hanya kesalahpahaman antara aku dan hubby, jadi aku mohon kepada kalian semua untuk memberikan kesempatan kepada kami !?" ucap Zaara penuh keyakinan.
"tidak Zaara!!" kini Veera yang membuka suara.
"aku akan membawamu ke Kanada bersama kami dan aku tidak akan membiarkan Sagara menyakitimu"
Veera sangat kecewa dengan sikap putranya itu, keputusan sudah ia buat, namun Zaara tetap meminta kepada Veera untuk memahaminya.
set..!
"mom aku mohon, sebentar lagi hubby akan kembali dan Zaara akan memperbaiki kesalahpahaman ini!" pinta Zaara berlutut dihadapan Veera.
"Zaara.....!!" suara itu terdengar lirih.
"mom aku mohon beri Zaara kesempatan untuk memperbaiki ini, aku berjanji jika sekali ini aku gagal maka Zaara juga akan mundur " janji Zaara kepada Veera.
"dan Zaara akan memastikan jika kali ini hubby akan kembali bersama Zaara"
harapan itu terlalu besar namun pada akhirnya Veera pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
bersambung....