
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"jadi maksudmu!!?"
"benar, wanita ini menyamar dan bisa saja saat ini ia berada sangat dekat tanpa kita sadari"
Andreas baru sadar hal tersebut, benar selama ini ia selalu menggali informasi apapun sampai yang terdalam namun ada yang luput darinya.
"coba kita ulang kejadian itu....mula mula masalah ini datang begitu saja dan sepertinya yang selalu menjadi target adalah nona Zaara...setelah itu masalah datang dengan mudah dan juga ketika aku mencari kebenarannya juga selalu menemukan jalan buntu namun beberapa saat kemudian masalah akan muncul kembali"
"benar!! begitulah tapi tunggu maksudmu selama ini masalah selalu datang tanpa henti kepada Zaara!!?" tiba tiba Meena baru ngeh akan sesuatu.
"astaga Meena...ternyata kau tidak juga berubah!!" Andreas terkekeh kecil.
"heh apa maksud ucapanmu" ucap Meena tidak terima, nah kok kenapa malah mereka berdua yang ribut.
"bukan apa apa!!" sambil terkekeh geli Andreas mencoba kembali ke ekspresi normal.
"baiklah kita kembali ke topik pembicaraan"
dan mereka pun pada akhirnya berbagi informasi apapun yang selama ini yang menjanggal dihati keduanya hingga mendapatkan jalan temu yang sama.
dikota Liu Liu...
"hei ternyata kita bertemu lagi!!"dengan wajah yang berseri seri Daniel keluar dari mobilnya dan menghampiri Zaara yang tengah berada dipinggir jalan raya.
"ckk..dia lagi!!" dengan raut wajah yang malas Zaara mencoba tidak menghiraukan Daniel.
Zaara yang sudah diperbolehkan untuk pulang disore harinya pun segera pulang dan mencari taksi untuk pulang kerumah kontrakan miliknya yang masih di jaga oleh pemiliknya untuk zaara.
dan disaat Zaara mencari taksi siapa sangka sebuah mobil merah berhenti didepannya.
citt...!
dan yang lebih mengejutkan yang keluar dari mobil itu adalah laki laki yang sama dengan laki laki aneh ditaman kota waktu itu.
tap...
tap...
"hai nona kenapa sendirian disini?" dengan senyum sumringah Daniel menatap Zaara.
"bukan urusanmu" ucap judes Zaara.
Zaara yang tidak ingin membuat orang lain salah paham pun pergi dari tempat itu dan berjalan menjauh dari Daniel.
Daniel yang memakai mobil tentu saja sangat mudah menyusul Zaara, namun Daniel membiarkan Zaara berjalan disana dan Daniel tetap mengikutinya perlahan-lahan di belakang Zaara.
"huhmmm....sabar sabar!!" Zaara menahan diri untuk tidak mengusir Daniel dan mencoba mengabaikannya.
"nona naik lah aku akan mengantarmu" teriak Daniel dari dalam mobil, namun Zaara tidak bereaksi apapun, ia hanya diam dan tetap berjalan.
tap..
tap..
"nona cantik siapa namamu?" tanya Daniel lagi.
"nona kenapa kau sangat dingin, aku hanya ingin membantumu" Daniel tidak menyerah mendapatkan jawaban dari Zaara.
"nona jika kau tidak menjawab saya juga tidak akan berhenti mengejar anda!" ucap Daniel berhasil membuat Zaara kesal dan seketika menghentikan langkahnya.
Daniel tersenyum melihat hal tersebut lalu dengan senang menghampiri Zaara...
"hai nona apa kabar?" tanya Daniel setelah berada didepan Zaara.
"jangan berbasa-basi saya tidak memiliki banyak waktu" sergah dingin Zaara.
"nona...baiklah baiklah saya hanya ingin membantu anda, nona saya bukan sengaja bertemu anda saya itu dari perusahaan saya dan tiba tiba melihat anda dijalan raya sendirian dan lagi pula ini sudah sore" jawab Daniel terlihat sangat tulus.
"saya tidak tanya itu..jika tidak ada hal lain maka saya pergi!!" Zaara pun kembali berjalan namun baru ia melangkahkan kakinya satu langkah kepalanya tiba tiba pusing.
"ugh!!"
"nona!!..ada apa" reflek Daniel menangkap tubuh kecil Zaara namun Zaara memberontak.
"jangan sentuh saya!!" sambil memegang kepalanya yang terasa berat Zaara mencoba menyeimbangkan tubuhnya.
"kamu baik baik saja nona!?, kenapa wajahmu sangat pucat!?" Daniel merasa sangat cemas dan perasaan itu benar benar ada untuk Zaara.
"ughh!!" seakan akan tak tertahankan lagi Zaara pun pada akhirnya membiarkan Daniel menolongnya dan Daniel pun membawa Zaara kedalam mobilnya.
"nona dimana rumahmu!?"
"di alamat ini..." Zaara pun memberi tahukan alamat rumahnya.
dan tak berselang lama mereka sampai di kontrakan Zaara dan Daniel pun segera membukakan pintu mobil untuk Zaara dan membantu Zaara.
namun lagi lagi Zaara menolak tapi bedanya sekarang Zaara menolak lebih halus.
"tidak apa apa saya baik baik saja" Zaara keluar dari mobil itu dan kemudian berterima kasih kepada Daniel karena sudah membantunya.
"terimakasih banyak atas bantuan anda"
Zaara berjalan meninggalkan Daniel disana...
"tunggu!!" namun Zaara sudah masuk kedalam rumah itu.
Daniel hanya bisa tersenyum tipis melihat Zaara dan kemudian ia pun segera pergi dari tempat itu dan menjalankan rencananya malam ini.
***
disisi lain...
plakkk...
plakkk....
wanita itu hanya diam menerima setiap pukulan, siapa lagi jika bukan Bunga.
sekarang ia tengah berada didalam ruangan rahasia dan bahkan tempat itu sekarang sangat rahasia tanpa diketahui oleh orang lain.
plakk...!!
setiap pukulan keras itu diterima Bunga dalam diam tanpa berteriak kesakitan apapun itu.
dan setelah sekitar 20 cambukan diterimanya baru tubuh itu tumbang dan terjatuh kelantai itu dalam keadaan yang penuh luka dan darah.
"dua puluh cambukan telah kau terima ternyata kau cukup kuat!!"
tiba tiba seorang laki laki menghampiri Bunga dan menatap dengan seringai lebar diwajahnya dan seperti mengejek Bunga.
tap...
tap...
"hei hallen bagiamana kabarmu!?" ternyata yang datang itu adalah Daniel, Daniel yang baru dari rumah Zaara Langsung menemui hallen yang tengah dihukum.
"apakah sangat sakit!!"
Hallen menatap tajam kearah Daniel, Daniel pun menjadi semakin tersenyum.
"baik aku tidak akan bermain main lagi, jadi apakah urusanmu sudah selesai...tapi sepertinya...!!?"
"huk...huk...huk...!!" hallen tersedak.
"fufufu....kemarilah lebih baik kau duduk disini!" Daniel pun melepaskan ikatan ditangan hallen dan mendudukkan tubuh Hallen dikursi yang ada disudut ruangan itu.
"sialan kau Daniel...jangan kira kau tidak akan menerima hukuman jika melakukan sedikit kesalahan" ucap dingin hallen mencoba memaksakan suaranya untuk terdengar.
"hehehehe...kau benar lagi pula kita ini hanya alat untuk tuan Damian dan suatu hari jika sudah tidak terpakai maka akan dibuang olehnya" imbuh Daniel berbicara dengan sangat tenang bahkan ia pun menyandarkan tubuhnya di dinding itu.
"tapi aku dengar kau sedang dalam pengawasan Sagara bahkan pasukan Sagara sudah mulai melacak keberadaanmu sekarang...."
"ckk...mari aku beri saran,.. lebih baik jangan sampai kau berhasil ditemukan oleh Sagara jika tidak ingin hidup dalam kekejamannya...."
hallen semakin kesal dengan Daniel dan Daniel lagi lagi mendapatkan tatapan tajam dari hallen.
"aku serius hallen kau pernah mendengar tidak jika Sagara itu..."
"ckk..lebih baik kau diam Daniel lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri dan cepat jalankan rencanamu" hallen benar benar kesal.
"hissss...kau ini sangat membosankan tapi kau ada benarnya juga...kalau begitu dadah...!!"
Daniel pergi dari sana dengan senyuman lebar dan melambaikan tangannya kepada hallen yang kesal padanya.
...ΩΩΩ...
malam harinya...
malam itu Sagara tidak pulang kerumah dan memilih untuk berada di kantornya...
"apa yang sudah kau dapatkan!?" tanya Sagara pada Andreas lewat telepon itu.
"Apa!!...Meena!" Sagara terlihat sedikit terkejut.
"lalu apa yang terjadi...."
Sagara mendengarkan setiap informasi yang sudah didapatkan oleh Andreas dikota xibei.
"bagus...bagus...lihat saja siapa yang akan menang kali ini!!" tatapan Sagara berubah dingin.
Tut..! telepon itu pun dimatikan, dan Sagara pun kembali menekan nomor telepon untuk menghubungi seseorang.
Tut...tuut...Tut...!!
"datang keruanganku sekarang!!" perintah Sagara dengan suara yang datar.
dan tak lama kemudian datang seorang pengawal kehadapan Sagara...
"selamat malam tuan..apa yang anda butuhkan tuan muda!?" bow pengawal tersebut.
"Pergilah ke Negara Prancis malam ini juga dan temui laki laki yang saya minta ini!!" perintah Sagara
"baik tuan muda akan saya laksanakan!!" dengan sigap pengawal khusus tersebut pergi sesuai dengan perintah Sagara.
setelah malam telah menunjukkan pukul 10 malam Sagara akhirnya beranjak pergi dari perusahaan itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang...
vroomm...!!!
"heuhmmm.....!!" Sagara menarik napasnya dalam dalam.
kadang terbesit dihati Sagara apakah rasa ini yang sering Zaara rasakan selama ini, pikir Sagara menerawang.
tapi lagi lagi amarah itu datang dalam hatinya dan menekan rasa cinta dan kasihnya untuk Zaara.
"sign*!!!" Sagara membanting setir mobil dan semakin melajukan mobilnya.
vroomm...!!
drrttt... drrttt...!!
tiba tiba handphone Sagara berbunyi, Sagara pun segera menghubungkan telepon tersebut dengan audio activity di mobil tersebut.
("selamat malam tuan muda")
"Hem..ada apa apakah ada informasi?" tanya Sagara datar.
("benar tuan saya sudah menemukan keberadaan nona muda")
berapa terkejutnya Sagara mendengar informasi tersebut sehingga tanpa sengaja ia menginjak pedal rem dan mobil itu berhenti dengan hentakan keras.
citttt....!
"dimana Zaara saat ini!?" tanya Sagara dengan nada yang mendesak.
("di alamat ini tuan...")
setelah itupun Sagara segera melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan yang ternyata adalah alamat kontrakan Zaara yang dulu.
vroomm...
setelah beberapa lama Sagara sampai didepan rumah kontrakan itu dan benar saja sepertinya rumah itu kembali dihuni.
tap...
tap..
tanpa menutup kembali pintu mobil itu Sagara segera berjalan kearah teras rumah itu dan mengetuk pintu itu dengan keras.
tokkkk...
tokkkk...
disisi lain Zaara yang bersiap siap untuk tidur dikejutkan oleh suara ketukan keras.
"astaghfirullah, siapa itu !!?" dengan perasaan yang bertanya tanya Zaara mencoba memberanikan diri untuk melihat siapa yang tengah malam ini datang kerumah itu.
tap..
tap..
Zaara berjalan pelan pelan hingga ia dapat melihat dari tirai yang sedikit terbuka jika dipintu itu sekarang ada Sagara yang berdiri tegak disana.
"tuan muda!!" Zaara terkejut sambil menutup mulutnya sendiri.
tokk..
tokk..
"Zaara aku tahu kau ada didalam..." panggil Sagara terdengar.
"Zaara buka pintunya!!" lagi lagi Sagara memanggil nama Zaara dan semakin lama suara Sagara terdengar lebih keras.
"keluarlah Zaara jika kau tidak ingin keluar maka aku bisa mendobrak pintu ini!!" teriak Sagara
Zaara semakin takut saat ini, ia takut Sagara Kana menyakitinya...
"tidak...tidak...!!" Zaara menutup telinganya sendiri dan merasa seakan akan Sagara benar benar akan mendobrak pintu itu.
dan benar saja seperti orang yang kalap Sagara mendobrak pintu itu...
Brakkk...! satu dua kali tidak berhasil namun itu membuat Zaara semakin takut dan terpaksa Zaara berteriak dari dalam.
"TIDAK...PERGILAH AKU TIDAK INGIN MENEMUIMU!!...HIKSSS!!" Zaara menjadi histeris.
"buka pintunya Zaara!!" Sagara berhenti mendobrak pintu itu setelah Zaara berbicara.
"tidak...aku takut....hiks.... huhuhu..!!" ucap Zaara lagi.
mendengar perkataan Zaara hati Sagara sedikit luluh dan merasa sedih.
"jangan menangis Zaara...aku mohon...!!" kali ini suara itu terdengar lebih lirih.
DEG!!
setelah sekian lama tak didengarnya suara lembut itu, betapa bergetarnya hati Zaara saat ini.
"tolong Zaara keluarlah!!" suara itu benar benar menjadi lebih lirih.
namun Zaara tetap takut untuk membuka pintu,Zaara merasa sangat trauma dengan perlakuan Sagara terakhir kali dan sekarang dibenak Zaara terngiang-ngiang ingat itu.
Zaara dan Sagara tetap berada disisi mereka sendiri, kokoh tak goyah sedikitpun, perasaan itu terlalu gamblang dan tidak mudah untuk dijelaskan.
perasaan rindu dan cinta Sagara membuat laki laki itu posesif terhadap Zaara.
beberapa lama keduanya diam tak terasa hujan mengguyur malam itu.
Jdeerrr....!!
tes...tes...tesss!!!
hujan turun dengan sangat lebat hingga membuat baju Sagara kecipratan hujan itu.
tes...!!...tesss...!!
"Zaara buka pintunya!!" suara Sagara tetap terdengar walaupun hujan lebat sedang turun.
"maafkan aku Sagara!!" ucap lirih Zaara dari dalam dan pastinya tanpa didengar oleh Sagara.
"aku terlalu takut sekarang, aku takut semua hanya angan angan ku" ucap Zaara lemah lagi lagi hatinya merasa sakit.
Hingga setengah jam berlalu hujan itu semakin lebat dan Sagara juga tidak kunjung untuk pergi dari sana.
"Zaara aku akan tetap menunggumu membuka pintu ini...." suara Sagara terdengar menggigil sekarang.
"pulanglah Sagara!" ucap Zaara lagi.
"tidak Zaara aku tidak akan kembali sebelum aku membawamu kembali kerumah itu..." saut Sagara dengan suara yang terdengar menggigil namun tetap terdengar jelas.
hati Zaara benar benar akan tersentuh jika saja Sagara tidak pernah melayangkan tuduhan tuduhan itu ataupun Sagara yang benar benar telah mendorongnya pergi, andai saja semua itu tidak pernah didengarnya dari Sagara.
"hik... mungkin saja aku akan luluh saat ini" pikir Zaara.
di sisi Sagara saat ini ia benar benar merasa kedinginan namun karena tekadnya kuat, Sagara tetap bertahan disana.
namun sebagaimana pun kuatnya tekad Sagara tidak juga menjadikan tubuhnya yang memang kelelahan beberapa hari ini merasa lebih dingin hingga tubuh Sagara menggigil kedinginan.
Sagara meringkukkan biasanya di pojok teras tersebut dan mencoba menunggu Zaara untuk keluar.
"kenapa tuan muda tidak juga pergi" Zaara menjadi sedikit gelisah terhadap Sagara dan sekarang pukul telah menunjukkan waktu 10:50 malam.
dan Zaara pun mulai mendekati jendela tersebut dan mengintip sedikit dari celah tirai itu.
DEG..!!
Zaara terkejut melihat keadaan Sagara yang benar benar basah dan kedinginan.
"aku harus bagaimana terhadapmu" lalu dengan hati yang mencoba berani Zaara keluar dari rumah itu sembari membawa selimut kering untuk Sagara.
kriettt..!
pintu terbuka dan Zaara berjalan perlahan lahan kearah Sagara, Sagara yang melihat Zaara membuka pintu sedikit tersenyum namun karena badannya tidak bisa digerakkan ia hanya diam dalam keadaan kaku dan kedinginan.
tap...
tap...
"kenapa kau sangat bodoh" celutuk Zaara sambil membungkuk badannya dan melingkarkan tangannya untuk menyelimuti tubuh Sagara.
deg..deg..deg..! tubuh itu benar benar bergetar hebat dan terasa sangat dingin.
hati Zaara mengeryit sedih, tanpa ia sadari tangannya semakin menguat memeluk tubuh Sagara dan membiarkan posisinya tetap seperti itu dalam beberapa saat.
hening...hanya suara air hujan yang terdengar saling bersahutan sahutan.
lalu dengan suara yang lirih Zaara berkata...
"untuk apa kau datang... apakah hanya ingin membawaku kembali dan mengurungku di rumah besar itu sendirian" ucap Zaara
"untuk apa kau membiarkan dirimu kebasahan demi aku" ucap Zaara dengan raut wajah yang sedih dan lirih.
"apakah kau datang kesini hanya kerena rasa posesif mu terhadapku!"
DEG!!
"benar!...karena aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku!!" suara yang bergetar itu terdengar tegas dan tandas.
Zaara tersenyum kecut...
"kenapa kau memintaku untuk selalu disisimu berada didalam rasa curigamu padaku...,"
"apakah aku hanya sebatas barang bagimu, seperti kau membutuhkannya namun kau akan mencampakkan dikemudian hari" suara Zaara terdengar lebih keras lalu Zaara melepaskan pelukannya dan berdiri menatap Sagara.
"setelah ini kau bisa pergi!!" ucap Zaara datar tanpa ekspresi.
deg..!
"tapi aku tidak akan pergi tanpamu!!" sergah Sagara tandas lalu Sagara berdiri dari duduknya dengan sekuat tenaga dan kemudian dengan gerakan cepat memeluk Zaara dan.
buk..! sagara memukul tengkuk leher Zaara dan menyebabkan Zaara hilang kesadaran.
"ughh!!" Zaara pingsan namun sebelum kesadarannya benar benar hilang ia sempat mendengar kalimat terakhir dari Sagara.
"maafkan aku"
bersambung...