Zaara

Zaara
bab. 97. Kematian Zaara!



...*************...


Sikap Sagara yang dingin dan kejam kepada Zaara ternyata memiliki alasan!, bukannya Sagara bodoh untuk menyadari sesuatu hal yang janggal dan disaat Sagara mencari tahu kebenaran, ternyata karena penyelidikannya membuat Zaara menjadi taruhannya.


pada akhirnya Sagara menghentikan penyelidikan sementara waktu namun lagi lagi ternyata semua adalah jebakan yang dibuat oleh wanita yang memiliki identitas ganda 'Bunga', alias 'Hallen' dan menyebabkan hubungannya dengan Zaara hancur.


namun meskipun begitu Sagara tetap merasa jika semua hanya permainan dan dengan berat hati Sagara mengikuti alur yang dibuat oleh Hallen untuk menyelamatkan Zaara dengan bersandiwara!!


SANDIWARA!


Sikap dingin dan cuek terhadap Zaara semua itu hanya sandiwara Sagara pada awalnya, namun pada akhirnya karena rasa cemburu dan posesif serta ego yang besar membuat Sagara buta dan benar benar hilang kendali atas Zaara, Dan sekarang hanya sebuah penyesalan yang tertinggal.


...*************...


Setelah keadaan Sagara lebih baik, saat ini Sagara dan Andreas berada di atas jurang tempat Zaara jatuh, saat ini pencarian sedang dilakukan dan Sagara mencoba semaksimal mungkin untuk menemukan Zaara.


Pasukan dan tim SAR telah Sagara kerahkan, sekarang hanya tinggal menunggu. apakah Zaara bisa ditemukan setelah satu malam pencarian, namun nihil, tidak ditemukan!.


Sagara menatap jauh kebawah jurang, jurang yang terjal bahkan tidak tahu apa yang ada dibawah sana, Tanpa sadar jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat,hatinya nyeri terasa sakit dan sesak.


Tatapan Sagara benar benar sendu dan juga tegang, semua rasa menjadi satu dan disaat Sagara sadar seberapa besar kemungkinan menemukan Zaara.


Sadar! jika Zaara tidak bisa selamat tapi tolong temukan Zaara untuk terakhir kalinya, hanya itu harapannya sekarang walaupun Sagara masih berharap sebaliknya.


Sagara menarik napas lemah!


"Zaara..jika aku tidak bisa menemukanmu dalam keadaan hidup,tapi biarkan aku menemuimu dan memeluk untuk terakhir kalinya...!"


Sambil menatap sayu kedalam jurang dibawah kakinya, Sagara mengingat kembali hari hari sebelum ada Zaara,sampai bertemu gadis cantik dan lembut itu, hingga membuatnya jatuh dan bangun bersama Zaara, tawa, tangis, sedih, bahagia Zaara selalu ada disampingnya.


Hingga Prahara datang di kehidupan keduanya, dengan terpaksa membuat Sagara melakukan hal hal yang membuat keduanya juga tersakiti.


"Tuan muda..,mari kita pergi!' Andreas datang menghampiri Sagara, Menggulung bentang langit sore...sinar hangat itu akan pudar.... bergerak perlahan bayang bayang malam.


Sagara diam sejenak lalu menarik napasnya sambil menutup matanya sejenak,


"Ayo kita kembali" desah lirih Sagara, suara itu hampir tak terdengar namun Andreas tahu seperti apa perasaan Sagara saat ini.


Mereka pun bersama-sama meninggalkan tempat itu dan kembali kerumah untuk mengistirahatkan tubuh dan perasaan.


*******


Malam telah larut, tapi Sagara masih terjaga. bersandar pada dinding kasur, sambil menerawang jauh,


Sekarang Sagara ada didalam kamar!


Bukan kamarnya bersama Zaara, tetapi kamar baru untuknya dirumah itu, Sagara belum mampu masuk kedalam kamarnya, jika ia masuk, ia takut kenangan bersama Zaara didalam kamar itu teringat kembali.


Sekarang bagaimana Sagara bisa mengatakan semua kepada keluarganya, tentang jatuhnya Zaara dan kemungkinannya.


Sagara tidak tahu akan seperti apa sang mamah nantinya, namun yang jelas adalah Veera akan kecewa pada Sagara, karena dulu ia pernah berjanji untuk selalu menjaga Zaara disetiap kehidupannya.


Namun sekarang ia telah gagal!


Sagara tersenyum kecut!,hatinya meringis dan juga menertawakan dirinya sendiri karena sebagai suami ia telah gagal.


Apapun yang akan dikatakan oleh keluarganya akan Sagara terima karena apapun yang terjadi saat ini Sagara adalah orang yang paling pantas untuk disalahkan.


...************...


...Plakk!!...


Tamparan keras mendarat di pipi Sagara!, Andreas terbelalak!


"Rena!!...apa yang kau lakukan!!"ucap Andreas meninggikan suaranya, Andreas melangkah maju namun kemudian dihalangi oleh Sagara.


Rena tiba tiba datang kekediaman Sagara dan dari raut wajah Rena tampak jelas amarah yang tak terbendung.


"Apa yang aku lakukan?!!,heh!..." sungut Rena tertawa kecut,sambil menatap lurus kearah Sagara.


"Harusnya aku yang bertanya bukan!?, apa yang telah kau lakukan kepada Zaara!?,...kalian...!" tiba tiba Air mata itu lolos.


Rena menangis dan menumpahkan segala rasa keterkejutannya dan dengan sorot mata tajam dan suara yang lirih karena menangis.


"Zaara..Zaara..apa yang terjadi padanya?, jawab aku!, katakan padaku dimana dia sekarang.. apakah...hik..hik..hik...Apakah benar apa yang diberitakan itu?" lanjut Rena sesenggukan.


"Jawab saya tuan sagara yang terhormat!"teriak Rena meluapkan semua emosinya.


DEG!!


Seketika itu jantung Sagara berdegup keras, kalimat terakhir Rena seperti tamparan telak baginya. Sagara lagi lagi hanya diam namun tidak bisa dipungkiri jika hatinya saat ini bergejolak hebat.


"Hik..hik..hik...mana..mana janjimu untuk menjaganya.. huhuhu..!"


"Mana...janjimu untuk selalu mencintainya,.. sekarang apa yang telah kau lakukan padanya...hiks" suara Rena semakin lirih dan melemah,


"Maaf..." dengan segenap rasa bersalah Sagara mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia lontarkan kepada orang lain selain Veera dan Zaara.


"Heh!!..maaf," Rena membuang mukanya, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi saat ini, hatinya benar benar tergoncang.


Pagi ini disaat tengah asiknya Rena menonton TV tiba tiba berita yang mengguncangkan hatinya!, berita mengatakan jika perusahaan dan kediaman Sagara telah diserang habis dan dikabarkan jika sang istri ikut menjadi korban.


"Sekarang katakan dimana adikku Sagara!!, biarkan aku menemuinya..!!" desak Rena membuat hati Sagara bergejolak hebat, lalu dengan suara yang menggambarkan rasa putus asa.


"AKU TIDAK TAHU DIMANA ZAARA!!" teriak Sagara seketika itu juga.


"AKU TIDAK TAHU SEKARANG DIMANA DIA,...AKU BELUM BISA MENEMUKANNYA!!"lanjut Sagara berteriak didepan Rena.


"Aku tidak tahu apakah sekarang ia masih hidup... atau mati...!"desah lirih Sagara diakhir kalimat.


Mereka semua bungkam,merasakan hati mereka masing-masing, Sagara dengan rasa penyesalan tanpa akhir, Rena dengan hati yang sangat pilu dan Andreas yang tidak bisa berbuat apapun untuk Sagara saat ini.


Mereka hanya bisa menunggu takdir Tuhan, apakah Zaara masih ada bersama mereka didunia ini atau mungkin telah kembali bersama sang pencipta.


********


Dengan kedatangan Rena kerumah itu, semakin membuat Sagara merasa bersalah dan penyesalan itu telah menggerogoti hati dan jiwanya.


Lagi lagi Sagara mendatangi tebing curam itu, masih berharap jika pencarian ini berbuahkan hasil yang manis, walaupun hanya badan tanpa nyawa.


Sagara akan selalu melihat semua jalan mencarian yang telah dilakukan selama satu minggu lamanya, namun hasil masih menemukan titik gelap.


"Dimana..kau sayang...!"


"Sudah satu minggu aku mencari,.. berapa lama kau ingin bersembunyi dibawah sana, kau marah padaku!?, kau masih kecewa kepadaku Zaara!.."


Sagara membatin sambil menatap lurus kedepan, hari itu cuaca agak dingin dan berangin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


Sagara menggigil! namun ia biarkan saja tubuh itu diselimuti oleh hawa dingin yang menusuk tulang.


"Hhhmmm....Zaara..!!"


Disaat Sagara mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan menyandarkan tubuhnya pada pembatas jalan, sekarang Sagara ingin membuka hati dan pikiran, menurunkan ego dan harga diri serta perasaan sesak didalam dadanya,


Apa itu mengikhlaskan?, Apa itu merelakan?.


Bagi seorang seperti Sagara begitu asing kalimat tersebut didalam hidupnya, biasanya orang-orang akan memandangnya segan bahkan orang orang akan menghormati dan menjunjungnya karena sikap Sagara yang kejam dan dingin.


Siapapun itu jika membuat kesalahan terhadap Sagara, Sagara pasti akan menghukumnya, oleh karenanya bagi Sagara dendam dan kebencian selalu diterimanya dari orang orang yang pernah diperlakukannya kejam.


Namun bagaimana dengan segelintir orang yang tak mampu membalas Sagara, hanya bisa mengatakan maaf dan memohon pengampunan dari Sagara dan setelah itu mereka akan melupakan dan mencoba menerima apa yang telah Sagara lakukan kepada mereka.


Contoh kecil saja pernah satu kali seorang OB wanita dikantornya membawakan kopi dan tidak sengaja menjatuhkan minuman tersebut kepakaian Sagara, Sagara langsung marah besar dan tak segan-segan memecat ibu tersebut padahal pekerjaan itu adalah satu satunya yang bisa dilakukan ibu itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Mengingatkan kembali bagaimana sikapnya dulu membuat Sagara kini bisa paham apa yang dirasakan oleh mereka semua.


Mungkin saat inilah Sagara menjadi tahu apa itu 'mencoba untuk mengikhlaskan' karena saat ini Sagara berusaha untuk menerima takdir dari sang pencipta.


Dan disaat itu juga tiba tiba dari bawah jurang terdengar suara helikopter yang telah diturunkan untuk membantu pencarian Zaara.


Helikopter itu naik dan didalamnya ada beberapa orang, Sagara langsung melihat apa yang terjadi, mungkinkan Zaara ditemukan dan benar saat itu salah satu dari tim tersebut berbicara.


Salah satu orang dari tim SAR turun dari helikopter dan menghampiri Sagara,,


"Tuan muda kami telah menemukan 1 mayat perempuan namun kami tidak tahu pasti apakah benar jika orang tersebut adalah Istri anda!" ucap laki laki tersebut setelah berada didepan Sagara dengan nada yang terdengar pelan dan hati hati, takut Sagara akan marah.


DEG!!!...


"Siapapun perempuan tersebut bawa kehadapanku sekarang, aku ingin memeriksanya sendiri!" ucap Sagara dengan nada tegas namun tak bisa menutupi getaran dalam suaranya.


"Baik akan saya laksanakan!" mereka pun kembali kebawah menggunakan helikopter tersebut.


Tepat saat itu Andreas tiba menghampiri Sagara dengan langkah cepat, ternyata Andreas juga telah mendengar kabar tersebut dari pengawal dibawah jurang lewat telepon.


Andreas tiba dan tidak mengatakan sepatah katapun dan bersama dengan Sagara menunggu helikopter itu kembali naik membawa seorang mayat yang diduga.


dengan hati yang bergetar hebat Sagara mencoba tetap berusaha tenang dan harus siap dengan kenyataan yang harus didapatkannya saat ini.


Ngiiing..!!... ngiiing...!!


helikopter itu naik dan dengan membawa sebuah kantong mayat bersama mereka, dengan segera mereka pun menurun mayat tersebut dan dengan hati yang benar benar bergejolak Sagara mencoba untuk mendekat.


tap!!..tap...tap..!


dan satu langkah lagi menuju mayat itu berada tapi tiba tiba tangan Sagara dicekal oleh Andreas,


"jangan tuan muda, biarkan saya yang membuka!" imbuh Andreas, Andreas sendiri tidak sanggup melihat sorot mata kesedihan dari Sagara.


Sagara menggeleng kepala! dan dengan sorot matanya Sagara terlihat jelas jika ia mengisyaratkan bahwa ia ingin melakukannya sendiri.


Andreas pun pada akhirnya melepaskan Sagara lalu dengan wajah yang sama sama tegang Andreas menyaksikan Sagara yang tengah berusaha membuka resleting kantong tersebut.


Sreerttt!!


Deg!!!, saat itu Sagara membuka setengah resleting dan betapa terkejutnya ketika itu juga Sagara melihat jilbab yang digunakan oleh Zaara terakhir kali.


jilbab berwarna pink bermotif bunga itu membuat Sagara melemah lalu dengan mencoba untuk menguatkan hatinya lagi, Sagara membuka semua resleting dan semakin lemah lah Sagara.


Deg..!!..Deg..!!..Deg..!!


tubuh Sagara lemas terduduk,wajah itu telah sulit untuk dikenali namun pakaian yang sama dengan Zaara pakai terakhir kali!, tubuh yang mirip dan cincin yang digunakan Zaara.


tik..!..tik...tik,


Sagara tak kuasa melihat jasad Zaara yang menjadi sulit untuk dikenali namun luka tembak itu benar benar sama dengan luka yang dialami oleh Zaara.


"ZAARA!!!" teriak Sagara menggelegar, Habis sudah pertahanan dirinya, Zaara telah tiada! Zaara sudah meninggalkan Sagara didunia itu sendirian.


Sagara tak mampu menutupi air matanya dan membiarkan semua orang menyaksikan dirinya dalam keadaan yang begitu lemah.


Mereka semua ikut iba terhadap Sagara dan terharu akan cintainya Sagara kepada Zaara, mereka tak pernah menyangka jika Sagara laki laki yang terkenal kejam dan dingin itu bisa menangis dalam keadaan seperti sekarang ini.


Bersambung...