Zaara

Zaara
bab 21. persiapan ( Lamaran)



......................


Zaara pun memasuki kamarnya, lagi lagi ia berpikir keras.


pukul telah menunjukkan angka 11 malam tapi Zaara belum juga bisa menutup matanya.


entah mengapa pikirannya sangat tidak tenang, Zaara pun berdiri, ia ingin mengambil wudhu untuk menenangkan pikirannya.


tap...!


tap...


Zaara memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah itu kembali ketempat tidurnya.


lalu dengan berdoa Zaara berharap hatinya menjadi lebih tenang dan damai.


"Ya Allah mudah mudahan dengan seperti ini menjadi lebih tenang hati hamba" ucapnya ia harus segera tidur karena ia ingin bangun untuk shalat tahajud dan shalat subuh.


tidak lama Zaara pun akhirnya tertidur...


***


"Assalamualaikum Warahmatullahi"


"Assalamualaikum Warahmatullahi"


Zaara selesai mengerjakan shalat tahajud, ia berdoa untuk keputusannya kali ini, apakah sudah benar atau tidak, apakah keputusannya kali ini terlalu cepat atau memang saat ini lah tepatnya.


dengan segenap perasaan dihatinya Zaara berdoa didalam shalat nya.


"Ya Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, tunjukanlah hamba bahwa yang benar adalah benar dan kuatkanlah hamba untuk menjalankannya, tunjukkanlah yang salah adalah salah dan berilah hamba kekuatan untuk menjauhinya"


"Ya Allah tunjukan lah Zaara jika keputusan kali ini memang benar jika tuan muda adalah laki laki yang tepat untuk Zaara maka mudahkanlah ya Allah... aamiin" doanya.


tak lama Zaara selesai shalat subuh, matahari pun mulai bersinar terang..


Pagi Hari...


Zaara melakukan aktivitas didapur, hari ini ia akan memasak untuk keluarga itu.


"nona biarkan kami saja yang melakukannya" ucap pelayan itu yang sedari tadi memperhatikan Zaara didapur itu.


"tidak apa apa bi, saya ingin memasak hari ini, lagi pula itu yang selalu saya lakukan dipagi hari" jawab Zaara tersenyum.


"tapi saya takut anda akan kerepotan mengurus semua ini.." ucap pelayan itu lagi takut jika Zaara akan terluka atau apalah nantinya yang membuat Sagara marah kepada mereka.


"tidak apa apa Bi, ini cukup mudah bagi saya, bibi bisa pergi untuk mengerjakan yang lainnya saja" ucap Zaara ramah.


kerena Zaara bersikukuh pelayan itu pun tidak bisa melakukan apapun dan segera melakukan pekerjaan yang lain dirumah besar itu, pelayan itu pun pergi...


Zaara pun memasak makanan itu dengan hati yang senang lalu tak beberapa lama Zaara pun selesai memasak dan merapikan meja makan lalu menyajikan makanan diatas meja itu.


"wah... wah....!!?kau rajin sekali Zaara" tiba tiba nenek datang.


nenek melihat Zaara sibuk menyiapkan beberapa hidangan makanan untuk mereka sarapan.


"iya nek silahkan duduk" saut Zaara ramah.


"baiklah" nenek pun duduk dikursi miliknya dan mulai melihat semua makanan itu, terlihat sangat lezat untuk disantap, pikir nenek.


Zaara pun bahagia lalu setelah membereskan semua yang tersaji Zaara pun meminta pelayan untuk memanggil semua orang untuk sarapan bersama.


setelah itu keluarga itu pun mulai turun dari kamar masing masing dan segera bergabung dimeja makan.


tap...!


tap...!


tap...!


"wah...Zaara!!, semua ini kau yang siapkan, sepertinya sangat lezat" kakek pun datang dengan sangat antusias menatap hidangan tersebut.


"iya kakek" Zaara menyambut kakek lalu mengambilkan piring lalu meletakkan beberapa makanan untuk kakek dipiring itu.


lalu dengan suara yang sopan Zaara berkata kepada keluarga yang telah duduk disana.


"sebenarnya ada yang ingin Zaara sampaikan kepada kalian, bolehkah Zaara menyampaikannya setelah ini?" tanya Zaara di ruang makan itu.


"tentu saja, setelah kita selesai sarapan kita akan membicarakannya di ruang keluarga" jawab Veera yang sedari tadi juga memperhatikan Zaara.


lalu mereka semua pun melanjutkan sarapannya hingga selesai dan pada akhirnya berkumpul diruang keluarga.


diruang keluarga...


"apa yang ingin kau katakan Zaara?" tanya Veera setelah mereka berkumpul di ruang keluarga.


"disini saya ingin mengatakan bahwa... setelah Zaara berpikir panjang tentang pernikahan itu,..." ucap Zaara agak gugup.


"dengan sangat baik saya memutuskan untuk setuju menikah dengan tuan muda"sambung Zaara telah mengatakan jawabanya.


deg...!! seketika jantung Sagara berdegup kencang disaat mendengar perkataan Zaara itu, namunia tetap diam dan membiarkan keluarganya yang berbicara dulu.


"benarkah, apakah kau sudah memutuskan ini dengan baik Zaara!?" tanya Veera dan diiyakah oleh yang lain.


"sudah saya pikirkan dan saya telah memutuskan untuk menikah" jawab Zaara lagi dengan yakin.


"baiklah, jika begitu kami semua ikut senang jika kau bersedia menikah dengan Sagara" Veera menatap putranya dengan senyuman bahagia.


Sagara yang sedari tadi hanya diam, Veera tahu jika sekarang adalah saatnya keputusan Sagara dan Zaara yang terpenting.


sedangkan nenek dan kakek hanya diam karena bagi keduanya mereka juga menerima Zaara sebagai menantu yang baik untuk Sagara dan mereka berharap semoga kelak Zaara bisa mengubah sikap Sagara yang dingin.


"Zaara keluarga ini sangat menerimamu, kami merestui pernikahan ini, dan terakhir adalah keputusan Sagara" ucap Tristan menambahkan lalu dengan meninggalkan Sagara dan Zaara untuk memberikan ruang untuk mereka berbicara.


tap...


tap...


mereka semua meninggalkan Sagara dan Zaara untuk berbincang secara langsung.


saat ini Sagara menatap Zaara,,,


dag..!


dig...!


dug..!


jantung mereka sama sama berpacu dengan cepat, dan suasananya sangat tegang mungkin ini adalah hal pertama yang di rasakan oleh keduanya.


Zaara pun mulai membuka suara,,


"Tuan muda saya tidak tahu apa yang harus saya katakan"


"namun dengan yakin...saya telah memutuskan untuk menerima pernikahan ini.." wajah Zaara sangat panas saat ini, ia merona, Zaara menutup matanya sangat gugup.


ternyata Sagara diam karena ia sangat bahagia dan ia juga tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya sendiri.


"tidak ada kalimat yang harus aku katakan lagi, karena aku lah yang melamarmu dan aku sangat bahagia karena kau mau menerimaku" akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Sagara telah tiba disaat ia menikahi gadis yang dicintainya itu.


Zaara ikut bahagia kala melihat kebahagiaan Sagara yang terpancar dari wajahnya.


"saya juga bahagia" saut Zaara agak malu.


"terimakasih Zaara" ungkap Sagara sangat berterimakasih kepada Zaara.


***


tiga hari kemudian...


sekarang rumah itu dipenuhi oleh kebahagiaan...


keluarga itu akan melaksanakan pernikahan Sagara dalam waktu dekat..


Sagara mulai merencanakan pertunangannya dengan Zaara, dan saat ini laki laki itu terlihat tengah sibuk memilih cincin untuk Zaara disebuah toko perhiasan yang terkenal.


"tuan muda pilihan saja yang terbaik dari toko ini" ucap Andreas mulai merasa kesal dengan Sagara yang sedari tadi belum juga memilih cincin itu.


"aku tahu itu Andres, tetapi aku tidak ingin memberikan cincin yang biasa kepada Zaara namun aku ingin memberikan Zaara yang paling istimewa" jawab sagara tidak menghiraukan Andreas yang mulai bosan itu.


"tuan muda desain seperti apa yang ingin anda beli?" tanya pramuniaga toko tersebut.


"kami disini memiliki sebuah desain cincin yang terbaru lihatlah tuan" pramuniaga itu pun menunjukan sebuah cincin yang sangat cantik dengan berlian berwarna biru.


"ini adalah cincin yang bermakna sangat indah tuan, bisa dikatakan sebagai perasaan yang sedalam lautan" jelas pramuniaga itu.


Sagara pun menatap cincin tersebut, memang cincin yang sangat indah untuk Zaara, berlian bermata biru itu terlihat menawan.


"saya akan mengambil yang ini!" ucap Sagara warna itu memang terlihat sangat cocok untuk Zaara.


sedangkan ditempat lain...


terlihat Veera dan Zaara juga sangat sibuk menyiapkan desain pernikahan Sagara.


Veera dan Zaara tengah melihat-lihat sebuah dekorasi pernikahan.


"Zaara pilihlah yang menjadi kesukaanmu" ucap veera sambil menunjukkan beberapa foto desain interior pernikahan itu.


Zaara pun hanya menuruti keinginan Veera lalu ia mulai melihat desain dihadapannya ini.


"eum...!!" Zaara sangat bingung karena semua terlihat sangat cantik dan indah akhirnya ia malah meminta Veera memilihnya.


"mommy.. sebenarnya semua ini sangat indah dan itu membuat saya bingung untuk memilihnya" ucap Zaara jujur, kemudian Veera pun yang memutuskan hal itu.


"bagaimana dengan yang ini Zaara, ini sangat cocok" ucap Veera kemudian.


pilihan Veera memang sangat indah desain interior ruang out door yang dipenuhi Bunga berwarna putih dan biru yang terlihat sangat cantik dan anggun terkesan sangat suci dan sakral.


"maa syaa Allah ini sangat indah" Zaara pun setuju dengan pilihan itu.


setelah itu mereka pun juga menyusun rencana pernikahan itu dengan sangat baik, dari surat undangan,desain pernikahan,pakaian, dan dekorasi semuanya telah selesai.


Mereka akan melaksanakan pertunangan dua hari lagi dan pernikahannya akan diadakan setelah tiga hari pertunangan tersebut semua itu direncanakan dengan sangat cepat dan hati hati oleh keluarga besar itu.


...ΩΩΩΩ...


dan akhirnya hari pertunangan pun tiba...


dua hari setelahnya..


disinilah ia berdiri,...didepan cermin itu terlihat seorang gadis cantik bergaun panjang berwarna biru dan jilbab yang menghiasi kepalanya.


Zaara masih tidak menyangka jika hari ini akan ada dalam kehidupannya sebuah pernikahan yang indah dan bahagia untuknya.


tap...


tap..


"Zaara kau sudah siap?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Veera lalu dengan senyum haru, Veera membawa Zaara keluar dan segera melakukan pertunangan.


hari pertunangannya dengan Sagara hanya dihadiri oleh keluarga den teman terdekat saja.


tap..


tap..


dengan langkah yang pelan dan kaku itu, jantung Zaara ikut berdebar kencang senada dengan langkah kakinya.


deg..!


dig..!!


dug...!!!


laki laki yang tengah menunggunya itu terlihat sangat tampan dan menawan, siapa yang menyangka jika laki laki itu akan segera menjadi miliknya.


seperti sebuah dongeng untuknya, sebuah cincin terpampang jelas di matanya, Sagara berdiri dengan setelan tuxedo berwarna dark blue dan dipadukan dengan bunga putih yang terlihat kantong dadanya.


deg..!!


"huemm...hhmm...!!" Zaara mulai menegang setelah ia berada dihadapan Sagara, lalu dengan mengatakan kalimat yang indah,,,


"Zaara,....seperti seberkah cahaya di kehidupanku yang gelap, kau datang dengan tiba tiba lalu perlahan lahan menyinari kehidupanku" ucap Sagara lembut menatap dalam gadis itu.


dag..!!


dig...!!


dug..!!


"Apa yang aku punya ketenaran, kekayaan harta, dan kekuasaan tetapi semua itu tidaklah bermakna selama ini,.."


"sebelumnya aku tidak pernah takut kehilangan, hampir tidak memiliki kelemahan, tetapi setelah bertemu denganmu, aku lemah, dan takut akan kehilangan"


"Zaara Cahya Elmeera maukah kau menjadi pasangan hidupku sampai maut memisahkan, maukah menjadi wanita pertama dan terakhir untuk ku" ucap Sagara mengungkapkan semua isi hatinya.


Zaara sangat bahagia dan terharu,,


"saya Zaara...hanya seorang gadis biasa bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban bagiku, selama ini saya takut berharap kepada orang lain tetapi setelah saya bertemu denganmu, saya mencoba untuk berani dan lebih kuat untuk menjalani hidup ini" ucap Zaara dengan perasaan yang hari dan bahagia.


"jadi apakah kau mau menerima segala sikap dan kekuranganku" tanya Sagara penuh harapan.


"iya tuan muda" jawab Zaara penuh keyakinan ia pun tersenyum.


Sagara sangat bahagia, lalu Veera diminta untuk memasangkan cincin itu dijari Zaara, tanpa sentuhan pun Sagara sangat bahagia.


bersambung...