
......................
Satu Minggu sudah berlalu,,,
siang hari itu Sagara dan Andreas sedang membahas tentang perusahaan tahun terakhir ini, seperti biasa Sagara akan meminta Andreas melaporkan semua itu, tetapi karena ia sedang berlibur terpaksa mereka tunda sementara dan tiba hari ini adalah kesempatan bagi Sagara membahas hal tersebut.
tidak berselang lama pekerjaan itu pun selesai,,,
"Andreas siapkan tiket pulang kita hari ini"ucap Sagara setelah selesai membicarakan tentang kantor.
"besok kita akan pulang dan cari tiket dengan penerbangan pagi" ucap Sagara.
"baik tuan muda" jawab Andreas.
Sagara menyandarkan tubuhnya disofa itu,,,
"Andres, beristirahatlah juga dulu"ucap Sagara
"baik tuan muda" ucap Andreas sopan.
"sudahlah Andres jangan terlalu formal sekarang bukan dikantor" ucap Sagara membuat Andreas terkejut.
"tunggu apakah yang aku dengar ini nyata, sejak kapan tuan muda menjadi seperti ini, sepertinya memang benar cinta telah membuat seseorang bisa berubah 180°"batin Andreas.
"kenapa malah bengong?" tanya Sagara heran, kenapa Andreas malah menatapnya dengan tatapan yang seperti itu.
"tidak apa apa tuan muda" jawab Andreas cepat menggelengkan kepala.
"sudahlah, pergilah beristirahat di kamarmu, aku jadi bosan juga melihat wajah mu itu" ucap Sagara menjadi datar.
"baiklah tuan muda" jawab Andreas, mungkin karena melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Andreas membuat Sagara juga tidak terbiasa.
"memangnya sangat aneh ya jika bersikap baik " ucap Sagara disaat Andreas telah pergi.
***
"Zaara malam ini kita akan membereskan semua barang, besok pagi kita akan pulang" ucap Sagara disaat ia memasuki kamar itu.
"baiklah tuan muda" jawab Zaara.
entah mengapa disaat Zaara memanggilnya dengan tuan muda membuat Sagara kesal.
"Zaara panggil aku dengan sebutan lain.." ucap Sagara memelas, ia mendekati Zaara dengan langkah yang dibuat buat.
"hah!!...tuan muda kau?" Zaara yang melihat kelakuan Sagara menjadi sangat aneh, apa yang terjadi dengan suaminya itu? tiba tiba saja bersikap lucu.
Sagara merebahkan kepalanya dipangkuan Zaara,,,
"aku sangat kesal mengapa kau belum juga mencari sebutan lain untuk suami tercintamu ini" ucap Sagara.
"emm..ituu.. karena Zaara belum tahu harus memakai sebutan apa" ucap Zaara jujur, ia sama sekali belum terpikirkan apapun.
"tuan muda nanti saja ya..Zaara mengantuk"jawab Zaara mencari alasan dan langsung menjauhkan kepala Sagara dari pangkuan nya.
Sagara yang diperlakukan seperti berpikir kalau Zaara tidak suka jika Sagara menyentuhnya.
"kau sangat membenci sentuhanku Zaara?" tanya Sagara yang sudah berubah dingin.
"astaghfirullah, bukan seperti itu tuan muda" ucap Zaara yang menjadi serba salah.
"kenapa sikap nya cepat sekali berubah-ubah" batin Zaara.
"sudahlah kau memang seperti itu, jika ingin tidur siang maka tidurlah aku tidak akan mengganggu mu" ucap Sagara yang sudah berjalan pergi, namun dengan cepat Zaara menghalangi tubuh Sagara.
"tuan muda jangan marah ya.."bujuk Zaara, ia tahu jika ingin membuat Sagara tidak marah lagi Zaara harus bisa membujuk Sagara dengan manja.
"tuan muda jangan pergi..temani Zaara aja yah" bujuk Zaara tidak menyerah.
"tidak perlu membujuk ku dengan gaya yang seperti itu"ucap Sagara yang masih tidak perduli.
"memang tidak mempan ya, aku memang harus mengunakan cara lain" ucap Zaara berbisik dalam hati.
tiba tiba Zaara menyentuh tubuh Sagara dengan perlahan, lalu dipeluknya Sagara,,,
"habis sudah aku sangat malu harus melakukan hal ini, tapi tidak apa apa dia adalah suamimu Zaara"batin Zaara.
Sagara sangat terkejut dengan perlakuan Zaara, ia mencoba tetap tenang, ia tidak boleh terlena dengan perlakuan itu.
Zaara tidak menyerah, ia harus bisa membuat Sagara berhenti untuk marah.
"tuan muda, Zaara janji dengan cepat saya akan memanggil tuan dengan sebutan lain ya" bujuk Zaara dengan suara manja yang dibuat buat, tangan Zaara juga tidak tinggal diam, jari jari itu mencoba menyentuh punggung Sagara dan membentuk pola pola yang membuat Sagara menggelitik.
akhirnya runtuh pertahanan Sagara, tiba tiba Sagara membawa tubuh Zaara keatas kasur dan menghepaskan tubuh mereka bersamaan,,,
"jangan coba coba menggodaku sayang, kau sedang bermain api sekarang" bisik Sagara tepat ditelinga Zaara, lalu Sagara meniup telinga itu.
"tidak tidak bukan seperti itu, Zaara hanya berusaha untuk membuat tuan muda tidak marah lagi...maafkan Zaara ya..." ucap Zaara cepat.
"baiklah, aku memaafkan mu sayang tetapi lain kali tidak akan mudah kau untuk melepaskan diri" Sagara pun menjauhkan dirinya dari Zaara.
"baik" jawab Zaara tetap tenang, sebenarnya ia sangat gugup dengan perlakuan Sagara,ia juga sangat malu dengan sikapnya itu.
setelah itu Sagara keluar kamar,,,
"huh..huhmmm..." Zaara mengelus dadanya, jantung nya hampir saja copot saking gugupnya.
begitu juga Sagara rupanya ia juga sangat gugup, sekarang ia sedang mengambil air minum dan meneguknya dengan cepat.
malam hari pun tiba,,,
Sagara dan sang istri sekarang mengemasi barang-barang dikamar mereka, begitu juga dengan Meena ia juga sedang sibuk dengan barangnya, sedangkan Andreas sedang di kota mengurus tiket pesawat.
***
seperti yang sudah disiapkan, paginya mereka sarapan dan langsung pergi meninggalkan pulau itu.
"kau sudah siap Zaara?" tanya Sagara
"iya, sudah tuan muda" jawab Zaara tersenyum.
"baiklah sekarang kita berangkat" ucap Sagara, mereka semua pun menaiki sebuah kapal untuk menyebrangi pulau itu untuk sampai di kota.
sekitar 30 menit mereka sampai di pelabuhan dan langsung disambut oleh para pengawal yang sudah menunggu kedatangan Sagara.
mereka pun pergi dengan mobil masing masing, Sagara dan Zaara berada di mobil mewahnya disetir oleh pengawal yang lain sedangkan Andreas bersama Meena berada di mobil pengawal menjadi pengawal di belakang mobil milik Sagara, mereka selalu seperti itu untuk menghindari musuh yang mengancam keselamatan Sagara.
setelah sampai di bandara mereka langsung memasuki bandara itu dan menunggu pesawat mereka siap, Sagara menggunakan pesawat yang sudah dilengkapi pengawal yang berjaga didalamnya, dan pesawat itu hanya ditumpangi oleh 35 orang saja.
"tuan muda pesawat telah siap" ucap pengawal Sagara, mereka pun berangkat pergi dari sana.
"Ngiiing....ngiiing...."pesawat pun melandas dengan cepat,,,
"beristirahat saja Zaara, kau boleh tidur dan jika sudah sampai aku akan membangunkan mu" ucap Sagara.
.....
setelah mengalami perjalanan yang panjang mereka pun sampai di rumah dan yang sudah disambut oleh Veera dan semua pelayan dan pengawal.
"selamat datang tuan muda, nona muda" bow semua pengawal.
Zaara menyambut Ucapan itu dengan senyuman,,,
mereka langsung masuk kedalam, terlihat veera dan Tristan menunggu mereka.
"selamat datang Sagara Zaara" ucap Veera, ia sudah sangat merindukan mereka berdua.
"terimakasih mom" jawab Sagara
"bagaimana keadaan mu disana pasti sangat menyenangkan" ucap Veera ia langsung menarik tangan Zaara untuk duduk
"ayo sayang kemarilah dan duduk bersama mommy"
"iya mom" ucap Zaara lembut, ia juga snagat merindukan Veera.
"bagaimana keadaan mu sayang selama disana, apakah Sagara memperlakukan mu buruk?" tanya Veera.
mendengar pertanyaan dari mommy nya itu lantas membuat Sagara terkejut, apa maksud mommy nya itu memangnya apa yang akan diperbuat olehnya.
"mommy, apa yang mom maksud, memangnya Sagara melakukan apa kepada istri Sagara sendiri" ucap Sagara tidak terima.
"hahahaha...tidak mommy bercanda, baik baik aja kan Zaara?" ucap Veera tertawa, ia beralih menatap Zaara.
"Alhamdulillah baik aja kok, mommy " jawab Zaara tersenyum, ia sangat beruntung bisa memiliki mertua seperti Veera.
"syukurlah, sekarang pasti kau sangat lelah, beristirahatlah dulu" ucap Veera
"tidak apa apa mommy, Zaara tidak lelah"
"iya, tetapi beristirahatlah Sagara juga pasti lelah"
"baiklah mommy" jawab Zaara sopan.
"Sagara, bawalah istrimu untuk beristirahat" ucap Tristan yang sedari tadi hanya memperhatikan pembicaraan itu.
"baiklah dad, mom" Sagara pun membawa Zaara beristirahat.
***
malam hari tiba,,,
setelah makan malam berlangsung, Sagara dan Zaara langsung pergi untuk tidur.
Sagara tengah bersandar ditempat tidurnya sambil membaca buku,,,
Zaara yang baru keluar dari dalam kamar mandi itu pun berjalan mendekati Sagara, lalu ia duduk disamping Sagara.
Zaara hanya diam dan menatap wajah Sagara yang tengah asik membaca buku tersebut.
Sagara yang sadar jika Zaara tengah menatapnya menghentikan aktivitasnya.
"ada apa Zaara?" tanya Sagara
"hah!?.. hehehe...tidak ada hanya ingin menatap saja" jawab Zaara jujur, lalu ia tersenyum sendiri.
"ada apa Zaara kenapa kau menjadi tertawa, apakah diwajahku ada sesuatu?" tanya Sagara yang menyentuh wajahnya sendiri.
"emm.... mungkin iya" ucap Zaara mengangguk-anggukkan kepala, lalu ia tersenyum.
"Zaara katakan apa yang membuatmu cengir- cengir sendiri" Sagara yang sudah sangat gemas.
"tuan mudaaa...jika dilihat dengan benar...ta.m..pa..n juga" ucap Zaara, entah mengapa ia ingin menggoda Sagara.
Sagara yang mendengar hal itu menjadi salah tingkah dan juga gemas.
"tampan ya, kenapa baru sekarang sadarnya" ucap Sagara mencoba tenang padahal hatinya sudah penuh bunga.
"eummm...iya" jawab Zaara polos, benar benar membuat Sagara gemas.
Sagara pun langsung menangkap tubuh Zaara dan menggelitiki tubuh itu,,,
"hahahaha...tuan muda hentikan" ucap Zaara disela tawanya.
"ini sangat geli"
"kau sudah beraninya mempermainkanku sayang, dan juga ini hukuman untukmu yang belum memutuskan untuk memanggil ku dengan sebutan yang lebih romantis" ucap sagra yang masih menggelitiki Zaara.
"hahahaha..tuan muda berhenti Zaara mohon, jika tuan muda berhenti Zaara kan memutuskan nya malam ini" ucap Zaara yang sudah sangat geli itu.
"pintar sekali"ucap Sagara lalu ia melepaskan Zaara.
"hahmm..dasar tuan muda, Zaara sangat geli tahu"
"sudahlah tepati janjimu tadi"
"baiklah, biarkan Zaara berpikir dulu.."
setelah beberapa lama Zaara berpikir,,,
"eum... bagaimana kalau ..." pikir Zaara yang belum menemukan ide.
"kanda...sayang...atau darling." ucap Zaara pelan, lalu ia merasa sebutan itu terlalu menggelikan.
"tidak ...tidak itu tidak bisa..sebutan lain saja.." pikir Zaara lagi.
"emmm... bagaimana kalau hubby" ucap Zaara
"lumayan...itu kependekan dari husband kan"
"benar dari sekarang panggil itu ya my lovely wife" ucap sagara.
Zaara menjadi sangat malu, tetapi mau bagaimana lagi ia harus memanggil Sagara seperti itu.
"iya, hu...bby" ucap Zaara yang terbata bata.
"tidak apa apa, kau nanti akan terbiasa" ucap Sagara lalu ia merebahkan dirinya.
"ayo sayang tidurlah sekarang" ucap Sagara menepuk tempat disebelah nya.
Zaara pun hanya menurut,,,
"selamat malam my lovely wife" ucap Sagara memeluk Zaara.
bersambung.....