Zaara

Zaara
bab. 62 aku hanya ingin memperbaiki



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sagara yang mengetahui Zaara kembali berkuliah, ia kembali marah lalu dengan kecepatan tinggi ia menuju universitas itu.


cittt....!!


sesampainya di universitas itu, Sagara langsung keluar dari mobil dan langsung mencari Zaara dikampus itu.


tap...


tap..


tap..


kedatangan Sagara yang tiba tiba itu disambut histeris para mahasiswi disana.


"KYYAA...ITU TUAN SAGARA!!" histeris mereka memandang Sagara yang ada dihadapannya mereka saat ini,namun Sagara tetap mengabaikan teriakan- teriakan itu.


sedangkan mobil Andreas baru tiba, dan dengan menghubungi beberapa pengawal, Andreas datang menyusul Sagara.


"cepat temukan tuan muda!" perintah Andreas.


lalu mereka pun juga memasuki universitas itu, sama halnya dengan Sagara, Andreas juga ditatap dengan tatapan berbinar-binar.


tap...


tap..


tap..


"cepat!!" Andreas semakin melangkah kakinya cepat, karena ia sudah melihat Sagara yang berada tak jauh darinya.


"tuan muda!!" panggil Andreas setelah berada disamping Sagara, yang masih berjalan, lalu dengan menghentikan langkahnya Sagara menatap tajam Andreas.


"tuan muda jangan membuat keributan disini!" tegur Andreas, ia takut Sagara akan marah kepada Zaara.


"jangan mengaturku!!" sergah Sagara tajam


lalu tak lama Sagara sampai didepan kelas Zaara, lalu dengan berteriak Sagara memanggil Zaara.


"ZAARA!!!"


betapa terkejutnya Zaara ketika ia melihat kedatangan Sagara disana.


"hubby!!!" betapa senangnya Zaara melihat Sagara ada disana, lalu dengan cepat Zaara menghampiri Sagara.


sedangkan teman teman satu kelas Zaara juga ikut terkejut karena kedatangan Sagara.


"kenapa kau kemari hubby?" tanya Zaara setelah ada dihadapan Sagara.


Sagara tidak menjawab, namun sebaliknya Sagara malah menarik tangan Zaara sampai Zaara kesulitan menyamakan langkah kakinya dengan Sagara.


"hubby...perlahan lahan!" ucap Zaara.


"DIAM!!"namun Sagara malah berteriak kepadanya.


"ikut aku pulang sekarang juga!!" ucap Sagara.


"tidak, lepaskan hubby...Zaara tidak akan pulang!"


ucapan itu membuat langkah Sagara terhenti lalu dengan tatapan tajam Sagara berkata.


"jangan membantah Zaara, pulang sekarang juga!!" desis Sagara tajam.


tap...


tap..


tap...


Sagara kembali menarik Zaara, memaksanya untuk pulang, sedangkan Andreas masih mengikuti Sagara, memperhatikan situasi itu, dan berharap Sagara tidak meledak marah dikampus itu.


selama perjalanan menuju gerbang utama kampus pun sebenarnya mereka diikuti dengan tatapan tatapan para mahasiswa, mahasiswi disana dengan perasaan yang bertanya ada apa gerangan.


"tidak...aku tidak akan pulang!" namun sia sia Sagara tetap menarik Zaara sampai didepan gerbang utama kampus.


"STOP!!" ucap Zaara pada akhirnya menghempaskan tangan Sagara.


"berhenti!!, aku tidak ingin pulang, jadi tolong jangan paksa aku hubby!" ucap Zaara menatap wajah Sagara terlihat mata itu berkaca kaca.


"hubby tahu saat inilah yang paling aku tunggu tunggu, kenapa? karena aku menunggu hubby muncul didepanku lagi" ucap Zaara tersenyum tipis.


"hubby aku rindu" ucap Zaara melemah sambil menatap Sagara yang sama sekali tidak bergerak sedari awal.


"cukup.!!..cukup.!!..jangan katakan kalimat itu lagi, sekarang pulanglah!!!" ucap datar Sagara.


"he!!..tidak.." ucap Zaara terkekeh sambil membuang mukanya lalu kembali berbicara.


"aku akan pulang jika hubby mau pulang bersamaku kerumah" ucap Zaara membuat Sagara terkejut, sekarang Zaara cukup berani, pikir Sagara.


"Zaara!!!" desis Sagara terdegar dengan suara yang dicoba untuk tidak membentak Zaara.


"aku hanya ingin bertemu dengan suamiku kembali, apa susahnya!, aku hanya ingin menjelaskan padamu tentang permasalahan beberapa hari itu, namun kau tidak juga kembali!" ucap Zaara sambil menggapai tangan Sagara, ia ingin menggenggam tangan itu, namun Sagara menolaknya.


Zaara hanya bisa tersenyum kecut, hatinya meringis melihat sikap Sagara sekarang, namun sekuat tenaga Zaara mencoba untuk tetap terlihat tenang, karena ini adalah salah satu jalan yang bisa ia lakukan agar Sagara mau mendengarkannya.


"pulang Zaara!!" desis tajam Sagara.


"tidak!!" ucap tandas Zaara.


"ZAARA!!!"teriak Sagara pada akhirnya.


"pulang Zaara, jangan buat aku marah, apa yang kau lakukan disini, apakah kau ingin menemui laki laki itu lagi!" ucap Sagara menuding tuduhan seperti itu kepada Zaara.


"heh!!?.. bagaimana hubby bisa berpikir seperti itu" ucap Zaara, terlihat mata itu sekarang tersirat rasa sakit dihatinya.


namun Sagara benar benar sudah tidak tahan lagi, ia pun menarik paksa Zaara dan mengangkat tubuh Zaara dan memasukkan Zaara kedalam mobil secara paksa.


"lepaskan!!" ronta Zaara.


"Andreas kemudikan mobil!!" perintah Sagara kepada Andreas yang sedari tadi tegang dengan adegan didepannya,Andreas pun mengemudikan mobil itu.


Vroomm...!!


didalam mobil...


"tidak...lepaskan!!!" Zaara memberontak.


"DIAM ZAARA!!!" teriak keras Sagara.


DEG!!!... seketika Zaara diam membisu.


selama diperjalanan pulang mereka tidak sama sekali berbicara, menyembunyikannya semua perasaan dalam pikiran mereka masing-masing.


tak beberapa lama kemudian mereka sampai di depan gerbang utama rumah Sagara, lalu Andreas membelokkan mobil itu memasuki halaman luas itu.


Citttt...!! akhirnya mereka sampai di kediaman Sagara.


cklek...! Sagara membuka pintu mobil dan menarik Zaara lagi sampai keluar dari mobil itu.


Brakkk!!!...pintu mobil dibanting dengan keras, sampai sampai Zaara menutup matanya karena bantingan keras itu.


tap...


tap...


tap...


Sagara menarik Zaara sampai kedalam, lalu tiba tiba Zaara menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah.


sedangkan Andreas tidak ikut masuk dan lebih memilih untuk berdiam diri diluar halaman.


"cukup hubby!" ucap Zaara menghentikan langkahnya dan menghempaskan tangan Sagara yang masih mencengkram kuat tangannya.


lalu Zaara memundur tubuhnya beberapa langkah kebelakang, membuat jarak cukup jauh dari Sagara.


Sagara pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Zaara yang terlihat menatap Sagara dengan sorot mata yang sayu dan pasrah.


lalu dengan suara melemah Zaara berkata,,,


"selamat datang hubby!" ucap Zaara tersenyum tipis.


Deg!!


sedetik kemudian ekspresi itu berubah menjadi sangat sedih, sedangkan Sagara hanya menatap Zaara.


"aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ini kepadamu.."


"aku tahu bahwa kau masih marah kepadaku, namun aku tidak bisa hanya diam saja membiarkan kau selalu salah paham tentangku" sambung Zaara masih dengan suara yang terdengar tegar.


"kau tidak pulang beberapa hari ini sudah sangat menyiksa, dirumah sebesar ini aku kesepian tanpamu..." Zaara berhenti berkata.


"hhmmmmm....!!!" sebelum melanjutkan perkataannya Zaara menarik nafas dalam-dalam.


tik...tik...tik...!! menangis, mengalir air mata Zaara, hatinya meringis sakiti.


deg...!!


deg...!!


deg...!!


jantung Sagara berdegup kencang melihat air mata itu, sekarang terlihat sangat jelas luka dimata Zaara, namun sekarang ego Sagara terlalu besar untuk mengakui jika ia merindukan gadis itu.


"hanya ini satu satunya caraku untuk berjumpa denganmu lagi, hubby aku merindukanmu...sangat sangat merindukanmu" dengan mengusap air matanya Zaara berkata lagi.


"aku terpaksa keluar dari rumah ini setelah kau melarangku kerena apa?, karena aku ingin membuat kau keluar dari perusahaan itu dan mau menemuiku, aku sudah memikirkan konsekuensi apa yang aku terima nantinya..." lagi lagi Zaara menghentikan ucapnya.


lalu dengan perlahan lahan Zaara menghampiri Sagara yang masih terdiam.


tap...


tap...


"jangan menghindariku!" pinta Zaara berbicara sebelum Sagara memundur tubuhnya.


benar saja Sagara yang ingin mundur itu seketika tidak jadi.


tap...


tap...!?


Zaara berhenti tepat didepan Sagara, lalu dengan mengulurkan tangannya,Zaara menggapai wajah Sagara dan menyentuhnya lembut, lalu dengan tatapan lembut Zaara berkata.


"jangan pinta aku untuk mundur perlahan lahan hubby, karena untuk bersamamu pun aku berjuang terlebih dahulu"


deg...!!


deg...!!


"jangan pinta aku untuk pergi hubby, karena yang membawaku kedalam kehidupan ini adalah hubby sendiri, jika ingin melepaskanku..."


DEG!!!


seketika jantung Sagara serasa berhenti berdetak mendengar ucapan itu.


"maka lepaskanlah baik baik, seperti dirimu yang memintaku untuk hadir dikehidupanmu" lalu dengan menjauhkan tangannya sendiri dari wajah Sagara.


Zaara benar benar pasrah jika Sagara memang tidak ingin mendengar penjelasannya lagi, kemungkinan yang paling sakit adalah ia harus rela mendengarkan Sagara yang meminta untuk pergi.


hening....


satu menit...dua menit...tiga menit...


melihat Sagara yang diam itu membuat Zaara semakin pasrah, lalu dengan kalimat yang terdengar tegar.


"hhmmm....aku menyerah" ucap Zaara pada akhirnya, lalu Zaara pun memundur tubuhnya perlahan.


tap...


tap..!


"siapa yang membiarkanmu pergi!!!"langkah Zaara terhenti mendengar kalimat itu.


bersambung....