Zaara

Zaara
bab 37. terselubung



......................


"Bibi, hubby akan kembali..." ucap Zaara senang kepada kepala pelayan yang selalu bersamanya dirumah itu.


Zaara mendapatkan kabar bahwa Sagara akan pulang, karena itu ia sangat senang bahkan sedari pagi hari Zaara sedang memasak khusus untuk kepulangan Sagara.


"iya nona muda" ucap kepala pelayan itu juga senang.


Zaara dan para pelayan telah berdiri didepan pintu untuk menyambut kedatangan Sagara, Zaara sudah tidak sabar bertemu dengan suaminya itu.


tak lama kemudian terlihat iringan mobil memasuki gerbang rumah itu, Zaara terlihat sangat senang.


Citttt.....mobil Sagara pun berhenti tepat di depan rumah itu.


Sagara keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah Zaara dengan senyum hangat di wajahnya,,,


ia sangat merindukan Zaara, Sagara pun berjalan lebih cepat dan langsung memeluk tubuh Zaara dalam dekapannya


"selamat datang kembali dirumah, hubby" ucap Zaara lembut, ia pun melingkarkan tangannya membalas pelukan hangat Sagara.


"aku sangat merindukanmu sayang" Sagara mempererat pelukannya dan mencium puncak kepala Zaara.


Zaara merona,,,


"hubby ini diluar, banyak yang melihat" ucap Zaara malu, disana ada pelayan dan pengawal yang menyambut Sagara.


para pelayan itu pun hanya tersenyum, mereka ikut berbahagia dengan kedatangan Sagara.


"selamat datang tuan muda" bow mereka serempak.


Sagara pun menatap mereka semua dan untuk pertama kalinya ia membalas bow para pelayan dengan sedikit tersenyum.


"aku kembali Zaara" ucap Sagara tersenyum


"emm..." Zaara pun ikut tersenyum dan mengangguk.


tiba tiba Andreas keluar dari mobil bersama seorang wanita,,,


Zaara melihat wanita itu, ia berjalan dibelakang tubuh Andreas dan menundukkan kepalanya.


"tuan muda, semua barang milik anda telah di cek dan semua lengkap" ucap Andreas, ia memang sedari tadi masih mencek semua yang barang milik Sagara di dalam mobil.


Andreas tidak lupa juga menyapa Zaara


"salam nona muda" bow Andreas kepada Zaara


Zaara membalas dengan senyuman, kemudian ia melirik kearah wanita itu yang sedari tadi hanya diam,,,


"siapa dia?" tanya Zaara lembut.


"maaf nona dia bernama Bunga, ia wanita yang..." Andreas tidak tahu bagaimana caranya menceritakan hal ini kepada Zaara sedangkan Sagara tidak ingin membuka suara.


"emm...begini ceritanya nona muda...." Andreas pun mencoba menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi.


Zaara yang mendengar pun turut menjadi kasihan, Zaara berjalan mendekati wanita itu,,,


"hai salam kenal, saya Zaara " ucap ramah Zaara.


bunga pun membalas perkataan Zaara dengan senyuman.


"salam kenal juga nona Zaara" jawab Bunga juga ramah.


"jadi setelah ini, kau ingin kemana?, bukankah kau baru di negara ini, dan pasti tidak tahu kawasan yang ada di sini" tanya Zaara


"tidak apa apa nona, saya cepat beradaptasi dengan apapun, saya sebisa mungkin akan mencari perkerjaan dan memulai semuanya lagi di negara ini" jawab Bunga, ia yakin dengan ucapnya sendiri.


Zaara yang tetap merasa kasihan berpikir, bagaimana jika bunga tinggal saja dirumah itu, ia bisa menjadi teman Zaara dan juga bisa bekerja di salah satu perusahaan Sagara.


Zaara yang memikirkan itu pun berjalan kearah Sagara kembali,,,


"bagaimana jika Bunga tinggal bersama kita?" ucap Zaara berhati hati.


Sagara dan Andreas menjadi terkejut, Zaara yang mengerti tatapan itu pun tetap mencoba menyakinkan Sagara.


"boleh ya hubby" bujuk Zaara.


"Zaara, aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan namun bagaimana bisa kau membiarkan ia tinggal bersama kita, bahkan kita tidak kenal dia" ucap Sagara, ia tidak perduli jika Bunga tersinggung dengan Ucapannya.


memang benar jika ia yang telah membawa Bunga namun ia tidak pernah ingin berurusan dengan hal yang tidak penting lagipula ia tidak pernah tahu wanita itu seperti apa.


Bunga yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara,,,


"nona Zaara, tidak apa apa saya akan pergi saja, mencari pekerjaan sendiri" ucap Bunga tersenyum.


"tidak, kau tenang saja saya pasti akan menyakinkan suamiku akan hal ini" ucap Zaara yakin


"hubby, Zaara mohon biarkan wanita ini disini" ucap Zaara kembali menghadap Sagara.


Sagara hanya bisa menghela nafas, ia benar benar tidak setuju dengan keputusan Zaara, namun ia juga tidak bisa menolak Zaara.


"baiklah Zaara, tapi aku tidak setuju jika wanita ini tinggal dirumah ini, aku hanya bisa menempatkan dia di apartemen saja" jawab Sagara akhirnya


"benarkah, terimakasih hubby " Zaara pun senang, walaupun Sagara belum benar benar setuju, namun itu sudah sangat bagus.


"bunga dari sekarang kau akan tinggal di negara ini dan kau boleh mengunjungi ku kapan saja dirumah ini, kita akan menjadi teman yang baik" ucap Zaara tersenyum.


"terimakasih nona, tuan Sagara" ucap Bunga, ia sangat bersyukur dengan hal itu.


"Andreas antar ia ke apartemen " perintah Sagara kepada Andreas.


"baik tuan muda" Andreas pun pergi bersama dengan Bunga.


setelah mereka pergi Sagara dan Zaara pun masuk kedalam rumah,,,


Sagara masuk kedalam dan melihat jika ruangan itu terlihat berbeda dari biasanya.


Sagara juga mengedarkan pandangannya keseluruhan rumah, dan tatapannya berhenti di dapur yang tidak jauh dari sana, ia melihat jika makanan telah tersaji di atas meja.


"makanan itu khusus untuk hubby, Zaara yang memasak semua itu" ucap Zaara.


"benarkah, sangat romantis, terimakasih sayang" ucap Sagara tersenyum manis, sangat manis membuat hati Zaara berdebar kencang.


"lebih baik hubby membersihkan diri dulu" ucap Zaara mencoba tetap tenang padahal jantungnya sudah mau copot.


"baiklah" Sagara pun pergi menuju kamar.


setelah Sagara pergi, Zaara menghela napasnya, ia benar benar gugup.


"hehmmmm...dasar hubby kenapa dia sangat manis" batin Zaara.


Zaara memegang dadanya, entah lah mungkin ia mulai mencintai Sagara.


tak lama Sagara pun datang dan mereka segera makan bersama dan bersenda gurau,,,,,


......


Keesokan harinya Zaara dan Sagara kembali ke rutinitas harian mereka.


"hati hati hubby" Zaara melambaikan tangan kepada Sagara yang telah pergi untuk kekantor.


begitu Sagara pergi, Zaara juga pergi kekampusnya.


ditengah perjalanan Zaara bertemu dengan Bunga, entah dari mana wanita itu namun Zaara pada akhirnya berhenti,,,


"Bunga, kenapa kau ada di sini?" tanya Zaara bingung.


"nona Zaara, ahh tidak saya sepertinya sedang tersesat" ucap Bunga tersenyum.


"benarkah, memangnya Bunga ingin kemana?" tanya Zaara.


"sebenarnya hanya ingin mencari pekerjaan sekitar sini, tapi saya malah tersesat " ucapnya.


"emmm...iya sepertinya lebih baik seperti itu " jawab Bunga akhirnya, lalu Zaara pun meminta bunga untuk ikut dengannya dan akan diantar oleh supir ke apartemen setelah mengantar Zaara ke kampus.


sesampainya di kampus Zaara,,,


Zaara segera keluar dan sebelum pergi ia juga berpamitan dengan Bunga.


"Bunga, kau tenang saja cepat atau lambat kau akan mendapatkan pekerjaan" ucap Zaara lalu ia tersenyum dan pergi.


"kau memang wanita yang baik" batin Bunga.


ia masih menatap kepergian Zaara lalu tersenyum.


"pak kita ke kembali ke apartemen yang di alamat ini ya pak" mobil itu pun pergi meninggalkan kampus.


.....


seperti yang sudah di janjikan Zaara, ai pun pergi kekantor Sagara setelah selesai kuliah.


"pak kita kekantor tuan muda ya" ucap Zaara, setelah pulang dari kuliah ia ingin langsung menemui Sagara.


Zaara melirik jam tangannya,,,


"sudah jam 3, bagaimana kalau aku belikan makanan dulu untuk hubby" gumam Zaara pelan.


"pak minta tolong nanti mampir dulu beli makanan di depan"


"baik nona muda"


setelah selesai membeli makanan, Zaara kembali melanjutkan perjalannya kekantor Sagara.


beberapa saat diperjalanan, akhirnya Zaara tiba,,,


citttt....


mobil itu berhenti didepan perusahaan Sagara, entah yang keberapa kali namun Zaara sangat jarang ke perusahaan Sagara.


Zaara berjalan masuk menuju resepsionis,,,


"permisi mbak" ucap Zaara.


"apa yang bisa saya bantu" ucap resepsionis itu menatap bingung kearah Zaara.


"maaf mbak, bisa saya bertemu dengan tuan Sagara?" ucap Zaara lagi, namun bukan jawaban yang didapat Zaara tapi malah tatapan aneh.


bagaimana tidak resepsionis itu menatap Zaara dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"maaf bisa ulangi perkataan anda!" ucap ia dengan nada mengejek.


"saya ingin bertemu dengan tuan Sagara, bisakah saya menemuinya?" jawab Zaara hanya tersenyum.


"maaf nona tidak bisa, tuan Sagara sedang sibuk, lagi pula tuan Sagara tidak akan menemui wanita yang berpenampilan seperti ini" ucap resepsionis itu menjadi kasar.


Zaara menjadi bingung kenapa wanita itu malah menyambutnya seperti itu, pikir Zaara mungkin saja karena penampilan Zaara memang terlihat sederhana dan terkesan biasa saja.


"tapi mbak saya memiliki urusan dengan tuan Sagara, bolehkan saya meminta tolong agar bisa menemuinya?" ucap Zaara ia berharap resepsionis itu mau mengerti.


namun lagi lagi Zaara hanya mendapatkan perlakuan yang lebih kasar oleh resepsionis itu, entah apa yang dipikirkannya.


"saya bilang tidak bisa ya tidak bisa kau tidak mengerti bahasa!?"


"PENGAWAL.... PENGAWAL!!" teriak wanita itu memanggil penjaga


pangawal pun datang,,


"tolong usir wanita kampungan ini!!" ucap wanita itu, Zaara sudah sangat tidak mengerti mengapa ia malah diusir.


"maaf nona jangan sembarang, saya hanya ingin bertemu suami saya disini" ucap Zaara ketika para pengawal itu ingin memegangnya.


"siapa memangnya suami mu hah.. pengawal cepat usir dia"


"JANGAN KAU BERANI!!!" terdengar suara yang sangat familiar di telinga mereka semua.


benar saja itu adalah Sagara, Sagara yang baru kembali dari meeting mereka ingin keluar mencari makan namun setelah ia sampai di lantai bawah ia malah mendengar ada keributan.


tatapan dingin Sagara melihat kearah wanita resepsionis itu dan berjalan mendekati Zaara,,,


"berani beraninya kalian!!!" ucap Andreas


"apakah kalian tidak tahu jika nona Zaara adalah istri tuan Sagara?!" sambung Andreas masih dengan tatapan tajam.


resepsionis itu kaget bukan kepalang ketika mendengar hal itu, bagaimana mungkin wanita kampungan itu menjadi istri tuan Sagara pikirnya.


"ma..aaf tuan s..ssaya tidak tahu lah itu" ucap wanita itu terbata bata.


"KAU!!" tatap Sagara dengan marah.


"DARI SEKARANG KAU AKU PECAT!! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!!" teriak Sagara


"tuan Sagara tolong maafkan saya, saya benar benar tidak tahu jika nona ini adalah istri anda, maafkan saya" pinta wanita itu berlutut.


"kau tahu bukan caranya menyambut orang dengan baik, setidaknya kau bisa memperlakukan orang dengan sikap yang baik, tapi tidak kau malah memandangnya rendah" ucap dingin Sagara


"kau pergi sekarang juga!!!" perintah Sagara tidak bisa diganggu gugat lagi.


wanita itupun hanya lunglai tak berdaya, sudah dipastikan jika keluar dari perusahaan itu maka ia akan di blacklist.


"dan kau pengawal bukankah kau sudah tahu jika dia istriku dan kau hampir menyakitinya dengan tanganmu itu hah!!" desis Sagara marah.


"maaf kan saya tuan, saya tidak melihat wajah nona muda dengan baik, ini kesalahan saya, mohon tolong jangan pecat saya" ucap pengawal itu dengan sangat mengiba.


Zaara yang merasa kasihan dengan pengawal itu, walaupun ia memang hampir di tarik olehnya.


"sudahlah hubby, lepaskan pengawal itu, ia tidak bersalah, pengawal itu hanya menjalankan perintah saja" ucap Zaara memberi pengertian.


"tidak Zaara, aku tidak terima ada yang menyakiti mu" ucap Sagara.


"aku mohon hubby...."


"hahmmmm...." Sagara benar benar marah sekarang karena istrinya itu sangat pemaaf kepada orang yang menyakitinya.


"sekarang kau pergi dari sini" ucap Sagara melepaskan pengawal itu.


"sebagai hukumannya kau tidak akan menerima gajih selama tiga bulan" ucap Sagara, pengawal itu pun sudah sangat bersyukur Sagara tidak memecatnya, atau yang lebih kejam lagi.


"terimakasih tuan" pengawal itu pun pergi bersamaan dengan resepsionis itu.


"Zaara kau tidak apa apa sayang, apakah ada yang sakit?" tanya Sagara kepada Zaara, mereka sudah berada di dalam ruangan Sagara.


Zaara tersenyum sambil menggeleng kepala,,,


"tidak hubby, Zaara baik baik saja"


"hubby jangan dipotong gaji pengawal itu selama tiga bulan" ucap Zaara yang kasihan dengan pengawal itu.


"dan juga resepsionis yang tadi, ya...."


"tidak Zaara keputusan ku sudah bulat dan tidak ada yang bisa mengubahnya"


"lebih baik kita membicarakan hal yang lain, ngomong ngomong kau kesini untuk apa?" tanya Sagara mengalihkan pembicaraan.


Zaara menghela nafas,,,


"hubby Zaara ingin membicarakan sesuatu dengan hubby tentang Bunga"


"begini hubby, Zaara ingin hubby......."


bersambung.....