
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mom...!...
Sagara tiba di rumah sakit, rumah sakit yang menjadi tempat dirawatnya sang ayah.
Sagara beserta beberapa pengawal dan tak lupa Andreas telah berjalan mendekati keluarganya yang telah ada dirumah sakit Canada city.
drap..!!
Veera berdiri dari duduknya dan langsung menyambut kedatangan Sagara dengan isakkan air mata.
Veera memeluk putranya dan dibalas oleh Sagara, Sagara mencoba menenangkan Veera.
"Mom..tenanglah Daddy pasti baik baik saja, dan akan baik baik saja!" ucap Sagara memeluk sang ibu.
"Eum..ya, ya!!" veera hanya bisa menganggukkan kepalanya, mencoba menenangkan pikirannya sendiri dan berdoa untuk keselamatan Tristan.
Sagara melepaskan pelukannya!
"Bagaimana ini bisa terjadi?" desis Sagara tiba tiba berubah dingin dan tajam.
Otaknya benar benar mendidih saat ini, ingin sekali Sagara menghabisi orang itu dengan tangannya sendiri, orang yang menyerang Tristan ataupun orang dibalik aksi penyerangan tersebut.
Veera pun menceritakan semua kronologi kejadian dan dengan raut yang masih sedih dan juga marah karena ada orang yang telah berani mengusik ketenangan keluarganya.
"Brengsek!!"desis Sagara geram, lalu tanpa menunggu waktu yang lama Sagara memerintahkan Andreas beserta pasukan yang lain mulai bergerak dinegara itu dan mencari tahu siapa yang memerintahkan OB tadi untuk menyerang.
Apakah ada yang memerintahkannya atau tidak!
Andreas langsung menjalankan tugasnya lalu dengan pasukan yang dibawanya mulai menuju pusat keamanan kota yang berada di bawah tangan keluarga Rahadian.
keluarga Rahadian tentunya bukan hanya berkuasa di negara K tetapi juga Kanada terlebih lagi perusahaan mereka yang disana juga di bawah tangan Tristan dan menjadi poros perekonomian yang berpengaruh oleh sebab itu sistem pusat keamanan dan informasi bisa dengan mudah mereka masuki.
Andreas tiba di depan sebuah kantor pusat keamanan dan informasi, Andreas segera membuat pasukannya untuk bersama sama memeriksa setiap data untuk mencari informasi wanita OB yang menyerang Tristan.
Tentunya wanita itu bukan benar benar OB di perusahaan Tristan melainkan salah satu penyusup dan identitasnya juga tidak diketahui, berbekal wajah yang memang telah mereka ketahui, tentu saja wanita itu sudah ada ditangan keluarga itu dan sekarang masih di pantau,
Namun yang sekarang menjadi masalahnya adalah orang itu tidak ingin mengatakan apapun selain menangis histeris.
Dan disinilah Andreas, setelah menyelesaikan mencari data wanita paruh baya itu, Andreas langsung bergerak lagi menuju markas besar keluarga Ardiaz dan Rahardian.
BRAKK!!
Andreas sudah benar benar geram karena wanita berumur sekitar 40 tahun keatas itu tidak juga mau berbicara selain menangis.
"Bicaralah sekarang!"sergah Andreas dengan nada yang dicoba untuk tenang.
Namun ibu itu hanya menangis, aneh bukan!, biasanya musuh yang akan di kirimkan lawan itu adalah wanita atau laki laki dengan kemampuan khusus atau seperti Halena, namun sekarang!!
("Apakah ibu ini juga dikirim oleh orang itu!?") pikir Andreas dalam benaknya saat ini.
Apakah ini trik baru!?
tap..!!..tap...
"Nyonya tolong jangan membuang waktu saya hanya dengan menangis seperti ini,..lagi pula jika anda tidak membuka mulut,...!"
Andreas berjalan mendekati ibu itu tanpa ada celah sedikitpun, dengan dijaga super ketat.
"huhm...!!, anda tidak bisa mengelak sekarang karena semua informasi anda saya sudah tahu Nyonya!"
deg..!!
ibu itu pun akhirnya menatap Andreas dengan wajah yang sangat ketakutan, matanya memancarkan ketakutan dan seperti sebuah harapan.
Lalu dengan anehnya ibu itu kemudian mencoba untuk memberikan isyarat kepada Andreas, kening Andreas mengerut!
"Jangan bermain main, bicaralah!"ucap Andreas lagi namun ibu itu dengan cepat mengibaskan tangannya dan seperti mengatakan jika ia tidak bisa berbicara.
"Jangan...jangan..kau itu bisu!"dan pertanyaan itu pun terjawab dengan anggukan kepala.
"Ckk..sial, ini akan sulit"sungut Andreas sambil melirik kearah jam tangannya, waktu Andreas sangat terbatas karena Sagara memerintahkannya untuk memeriksa semua dalam waktu satu jam setengah saja.
Dan sekarang sudah pukul 11 siang berarti waktu Andreas tinggal 30 menit saja.
Andreas pun mencoba tetap tenang dan lagi lagi dengan susah payah Andreas mencoba berkomunikasi dengan wanita itu.
"saya hanya ingin tahu siapa dalang di balik penyerangan ini, apakah ini benar benar murni tindakan anda atau tidak?" tanya Andreas.
"Nyonya saya bisa saja menghancurkan keluarga anda jika tidak berbicara!" ancam Andreas sambil menunjukkan sebuah data keluarga wanita didepannya sekarang.
"Ueem..hum..eum..!!"
ibu itu mulai membuka suaranya namun memang hanya seperti itu yang didengar Andreas, ibu itu sudah ingin memberitahukan sesuatu kepadanya namun terlalu sulit untuk memahami yang dimaksud olehnya.
"Pengawal ambil kertas beserta bolpen!" perintah Andreas, lalu tak lama pengawal pun datang dengan sebuah kertas dan bolpen.
Andreas memberikan itu kepada wanita didepannya dan membuat wanita itu memberitahukan kepada Andreas dalam sebuah tulisan.
Ia tidak sama sekali menolak perintah Andreas, lalu dengan cepat ibu itu menuliskan sesuatu dan memperlihatkan kepada Andreas.
"Ueem..ummh!" ucap ibu itu dengan menunjuk-nunjuk kertas yang baru saja di tulisnya.
Andreas melihat kertas itu dan kemudian terpampang jelas apa yang tertulis!
Andreas mengeryitkan keningnya, 'tolong selamatkan saya' itulah yang tertulis.
"Apa maksudmu hah!, cepat katakan!" Andreas pun menunggu lagi ibu itu menulis sesuatu.
('saya terpaksa melakukan ini, tolong maafkan saya dan tolong selamatkan saya')
"Siapa dalang dibalik semua ini!?, apakah anda tahu siapa?" lanjut Andreas bertanya
('Saya tidak tahu tapi yang saya tahu adalah, orang itu mengatakan bahwa mereka ingin mengulur waktu untuk menyerang')
"Menyerang siapa?, mengulurkan waktu untuk apa!?" timpal Andreas tidak sabaran, ia benar benar merasa ingin segera mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya saat ini dan ibu ini terlalu lambat untuk menjawab segala pertanyaan.
(' nama orang itu kalau tidak salah namanya Sagara, dan orang itu juga menyebut satu nama lagi... um namanya Zaara')
Andreas membaca satu persatu kalimat yang tercetak jelas dan hal itu seketika membuat Andreas mengumpat.
"Sial!!"
Andreas pun berlari sekencang kencangnya dan berusaha untuk kembali menuju rumah sakit.
vroomm!!
Didalam mobil tak henti hentinya jantung Andreas memacu dengan cepat.
"Celaka!!"
dalam waktu sepuluh menit saja Andreas tiba dirumah sakit dengan kecepatan di atas rata rata, dan dengan secepat mungkin Andreas berlari.
"Tuan Muda!!"
kedatangan Andreas yang tiba tiba itu membuat keluarga dan Sagara menoleh secara bersamaan.
"hoshh...hoshhh...hoshh!!" sangat terlihat jika sebelumnya Andreas berlari.
Andreas mencoba mengatur napasnya dan dengan napas yang masih berantakan Andreas mencoba untuk mengatakan semua yang telah ia tangkap hari ini.
"Celaka!!, tuan muda kita harus segera kembali!" ucap Andreas dengan raut wajah yang sangat tegang.
Andreas menjelaskan semua kepada Sagara dengan seksama dan seketika itu juga raut Sagara berubah.
"kurang ajar!!" rahang Sagara terkantup keras, darahnya seperti baik kekepala dan akan siap meledak,
Marah!!,
Sangat marah!! Sagara berpikir jika itu bukan untuk mengulur waktu tetapi mereka memang mau ingin menyerang hanya saja mereka berpikir untuk menjauhkan Sagara terlebih dahulu.
"Zaara!!"
Saat ini Zaara yang akan menjadi taruhannya! Sagara meruntuk dirinya sendiri, bagaimana ia bisa sangat ceroboh kali ini.
"Apa yang kalian maksud ini sebenarnya!" tiba tiba Veera angkat bicara.
Apakah telinganya tidak salah mendengar, apakah penyerangan kali ini hanya untuk mengalihkan perhatian.
Dan ketika Sagara tidak menjawab apapun pertanyaan, semakin yakinlah Veera jika benar dugaannya saat ini.
"Benar aku tidak salah menduga bukan Sagara, jawab pertanyaan mommy..dan...!!"
Dan sontak Veera menutup mulutnya sendiri, Zaara..Zaara tidak ada disana dan!!
"kenapa kau meninggalkan Zaara, Sagara!!" sergah Veera menatap dengan tatapan yang tak percaya dan cemas.
"Dan sekarang apa yang kau tunggu!, cepat kembali sekarang juga!!" timpal Veera membuat Sagara seketika tersadar dari pikirannya.
tanpa mengatakan sepatah katapun, Sagara segera pergi dari rumah sakit dan kembali menuju negara K secepatnya.
...**********...
Disisi lain, seperti dugaan Sagara, jika dalang tidak akan tahu kepergian Sagara dan mengira Sagara masih berada di negara K.
Namun kemudian, tiba tiba datang bawahan Damian yang mengatakan jika mereka telah terjebak, dan mengatakan jika Sagara sudah pergi dari negara K dua jam yang lalu.
BRAKK!!
"Ckk..sial!!"
Saat ini Damian lagi di dalam markas besarnya dan siap menyerang kediaman besar Sagara dengan menyiapkan seluruh pasukan miliknya.
"Sekarang apa yang kalian tunggu, serang sekarang juga!!" teriak Damian memerintahkan semua pengawal bergerak dan berangkat sekarang juga sebelum keburu Sagara menyadari rencananya.
Waktu mereka terbuang selama dua jam lebih dan Damian telah memperhitungkan waktunya dengan cepat, jika sekarang Sagara sudah menyadari rencananya maka tak lama lagi Sagara akan tiba di negara K.
Ditengah tengah pasukan yang siap menyerang, siapa sangka jika Daniel juga ada disana dan dengan membawa senjata yang sudah disiapkan.
Daniel yang memimpin pasukan sebelah kanan yang bertujuan untuk menyerang perusahaan Sagara dan melumpuhkan sebagian dari pasukan Sagara.
Rencana yang matang telah mereka siapkan, Daniel akan menyerang perusahaan itu untuk memecahkan titik fokus Sagara dan mengacaukan rencana Sagara.
Daniel pun bersiap siap dan dengan segara membawa pasukannya bergerak secara perlahan lahan dan akan menyerang perusahaan Sagara secara tiba tiba.
Bersambung...