
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tap..
tap..
Sagara kembali kerumah tepat jam 5 sore, dengan wajah yang kelihatan kusut Sagara naik kelantai dua menuju kamarnya.
cklek!!
kriitt..!! pintu kamar terbuka, Sagara pun masuk kedalam kamar dan melepaskan pakaiannya yang basah karena keringat.
"astaghfirullah" tiba tiba Zaara berteriak dan langsung menutup matanya.
Zaara yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan Sagara yang ada disana dengan telanjang dada.
Sagara juga terkejut dengan keberadaan Zaara saat itu tapi kemudian ia kembali tersadar jika Zaara memang ada dikamar tapi Sagara yang melupakan hal itu.
"Sa..Sagara...kapan kau pulang?" tanya Zaara masih menutup matanya.
"eum..itu baru saja" saut Sagara mencoba tetap tenang dan langsung mengenakan bajunya lagi tanpa mengancing kemejanya Karena Sagara merasa sangat gerah.
"apakah kau butuh sesuatu?, aku akan mengambilnya untukmu?" tanya Zaara lagi namun Sagara hanya menggelengkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"pasti sangat lelah karena seharian bekerja dan mencoba mencari keberadaan Bunga" batin Zaara merasa khawatir dengan keadaan Sagara yang terlihat lelah.
"eumm..itu apakah kau ingin mandi?, begini maksudku adalah jika ingin mandi aku akan membantumu menyiapkan air hangat" ucap Zaara merasa canggung.
"tidak" saut singkat Sagara masih menutup matanya.
Zaara tidak bertanya lagi Lalu Zaara pun berjalan keluar kamar meninggalkan Sagara yang sedang beristirahat.
Dibawah Zaara sibuk menyiapkan beberapa makanan untuk Sagara makan...
"nona muda apakah perlu bantuan?" tanya pelayan kepada Zaara yang sibuk memasak ayam kecap kesukaan Sagara.
"eum..boleh mungkin kau bisa mengambilkan piring didalam lemari" saut Zaara masih sibuk mengaduk-aduk masakannya.
Pelayan itu mengambilkan piring yang diminta Zaara dan memberikannya kepada Zaara.
"ini nona muda"
"terimakasih"
Lalu Zaara pura menyajikan makanan yang telah matang didalam piring lalu meletakkannya diatas meja makan.
"Pelayan tolong jaga makanan ini sebentar!,saya ingin memanggil tuan muda dulu ya!"ucap Zaara sambil menatap pelayan disampingnya.
"baik nona muda" saut pelayan tersebut dengan sopan.
Zaara pun pergi dari sana menuju kamar untuk menemui Sagara dan mengajaknya untuk makan, walaupun ini masih sore namun barangkali Sagara merasa lapar.
Zaara pun menaiki anak tangga...
tap..tap..tap...
Sesampainya di depan pintu,Zaara membuka pintu dan ketika Zaara melihat sekeliling kamar ternyata Sagara sudah tertidur diatas sofa.
"ehh!?..kenapa tuan muda malah tidur disini"ujar Zaara sambil berjalan kearah Sagara.
Zaara ingin membangunkan Sagara namun karena Sagara terlihat sangat lelap dalam tidurnya,Zaara pun mengurungkan niatnya.
Zaara berdiam didepan Sagara dan menatap wajah Sagara sangat tenang dalam tidurnya.
Zaara membungkukkan badannya...
"ternyata Sagara ketika tidur tampan juga"gumam Zaara sambil menatap wajah itu, Zaara terdiam dan menikmati pemandangan didepannya saat ini, jika saja Sagara bangun mana mungkin ia bisa memandang wajah itu,pikir Zaara.
"huhmm...suatu hari nanti mungkin aku bisa mengungkapkan perasaan ini dengan jujur padamu" gumam Zaara dengan tatapan sendu.
"semoga kau selalu bahagia Sagara dan aku harap kau bisa menjadi seseorang yang lebih baik" batin Zaara.
Disaat Zaara menatap Sagara dengan seksama tiba tiba Sagara membuka mata dan sontak membuat Zaara terkejut.
"!"Zaara terperangah dan sontak menegakkan tubuhnya namun karena posisinya tidak seimbang membuat tubuh Zaara limbung.
"Akh!!" tubuh Zaara akan jatuh.
"Zaara!!"dengan respon yang cepat, Sagara menangkap tubuh Zaara.
Pandangan mereka bertemu saat itu dan tak urung membuat jantung keduanya berdetak kencang.
dag..!!
dig...!!
dug..!!
"apakah aku ketahuan menatapnya tadi!?"batin Zaara
"eum...eum..sa..sa..garaa" Zaara menjadi gugup.
"apa yang kau lakukan?" tanya Sagara membuat Zaara semakin gugup.
"ss..sebenarnya saaya...ingin membangunkan anda untuk makan" saut Zaara masih dengan jantung yang tak karuan.
"saa..gara..itu.. lepaskan tanganmu!" imbuh Zaara lagi dan ketika itu pun sontak Sagara tersadar jika ia masih memeluk pinggang Zaara.
set!!
"maaf"Sagara pun segera menjauhkan dirinya dan berlagak santai seperti tidak terjadi apapun Sebelumnya.
"begini...aku ingin shalat terlebih dahulu baru makan dan mungkin aku akan ke masjid saja"ujar Sagara lagi dan segera masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Zaara.
Sedangkan Sagara didalam kamar mandi mencoba untuk mengendalikan jantungnya yang sedang berdetak kencang.
dag..dig..dug...
Terlintas kembali didalam ingatannya saat tubuh Zaara jatuh, dan dengan cepat Sagara menangkap tubuh itu dan membuat tubuh keduanya dalam jarak yang dekat,
Napas mereka yang sama sama memburu dan tatapan mata yang intens membuat jantung Sagara berdegup kencang.
"sial" runtuk Sagara sambil membasuh wajahnya sendiri.
****
Keesokan harinya...
Dirumah Sagara saat ini terlihat, Sagara, Zaara, Meena dan Andreas telah berkumpul di ruang tengah dan sedang berbincang bincang mengenai Bunga.
"Bagaimana sekarang apakah kita akan langsung menemui wanita itu" ujar Andreas langsung disaut oleh Meena.
"Saat ini dia belum sadarkan!" saut Meena kembali
Dianggukan oleh Andreas.
mereka pun berdiam sejenak namun tiba tiba Zaara menyeletuk...
"boleh aku bertanya?"ujar Zaara langsung di tatap oleh mereka bertiga.
"apa yang terjadi pada Bunga?, kenapa sedari tadi aku tidak paham apa yang kalian bicarakan!?" lanjut Zaara sambil menatap ketiga orang itu dengan tatapan mata yang terlihat kaku.
"hehe...benar sepertinya kami belum memberitahukan ini padamu ya" jawab Meena cengengesan.
"sebenarnya kemarin itu kami...!" namun belum sempat Meena menyelesaikan perkataannya Sagara memotong ucapan Meena.
"tidak ada yang terjadi" sergah Sagara entah mengapa ia tidak ingin menjelaskan apapun kepada Zaara.
"?!" Zaara mengerutkan keningnya, emm mulai lagi nih nyebelinnya pikir Zaara.
"kenapa kau tidak ingin memberitahukan kepadaku?!" seru Zaara sedikit tidak senang, walaupun saat ini Sagara tidak mengatakan apapun namun dari ucapan Meena sebelumnya sepertinya telah terjadi sesuatu kepada Bunga.
"bukankah aku berhak tahu hal ini kenapa..!?" ditengah ucapan Zaara tiba tiba telepon Sagara berbunyi.
drrttt...drrttt...!!
Tut!!
Sagara pun mengangkat teleponnya dan disaat itu juga tiba tiba ekspresi Sagara langsung berubah dingin dan terlihat marah.
"APA!!" dengan emosi yang tertahan Sagara segera mematikan ponselnya dan segera meninggalkan mereka yang ada disitu tanpa mengucapkan apapun.
set!!
"hei Sagara apa yang terjadi?!" dengan cepat Andreas, Zaara dan Meena menyusul Sagara dan bertanya apa yang terjadi.
Dan disaat Sagara memberitahu apa yang baru saja didengarnya, sontak juga membuat Andreas terkejut.
"wanita itu telah sadar dan berhasil kabur!!"saut Sagara dengan suara berat dan kemudian ia memasuki mobil itu.
"cepat Andreas!!!" Andreas pun segera masuk kedalam mobil.
"tunggu biarkan aku ikut bersamamu" ucap Zaara langsung ditolak mentah-mentah oleh Sagara.
"tidak" lalu dengan kecepatan tinggi mobil Sagara Langsung meninggalkan kediaman itu.
"kenapa dia selalu saja melarangku"ujar Zaara
"Zaara sebaiknya kau memang tetap disini"saut Meena lagi.
"aku tahu Meena maksud dari Sagara namun aku juga mengkhawatirkan dirinya" lanjut Zaara lagi namun kini suaranya terdengar lebih lirih.
"aku mengerti" Meena pun merangkul sahabatnya itu untuk masuk kedalam rumah.
"lebih baik kita segera masuk" mereka pun masuk kedalam rumah dengan perasaan yang sama sama cemas, namun apa yang bisa mereka lakukan jika kedua pria itu melarang mereka.
lalu pada akhirnya mereka berdua hanya bisa berada dirumah dengan harap harap cemas dan sesekali melihat kearah luar padahal mereka tahu jika Sagara ataupun Andreas tidak akan pulang.
namun baru sepuluh menit dari kepergian Sagara tiba tiba didepan halaman mereka terdengar suara keributan yang membuat Zaara dan Meena sama sama terkejut.
dan ketika itu juga terdengar suara tembakan yang kerah terdengar dan diiringi dengan suara teriakkan seorang wanita.
Dor!!!
"AKKKHHH!!!"
"!?" dengan perasaan yang terkejut Zaara dan Meena mencoba melihat apa yang terjadi dihalaman depan.
"Apa yang terjadi?!" Zaara dan Meena sama sama berlari kearah luar.
tap..tap..
dan betapa terkejutnya ketika mereka semua sama sama melihat jika ada seorang pelayan yang telah tergeletak bersimbah darah di halaman depan.
sontak membuat Zaara menutup mulutnya saking tak percaya dengan yang dilihatnya saat ini dan suasana menjadi lebih tegang ketika tiba tiba Bunga ada dihadapan mereka.
"Bu... Bunga!!!" seru Zaara dengan mata yang terbelalak melihat Bunga ada disana dengan raut wajah yang dingin dan menyeringai lebar dihadapan Zaara.
"bertemu lagi kita Zaara!!!"
DEG!!!
saat itu juga Zaara menjadi sadar apa yang telah terjadi dengan pelayan itu, Bunga menghabisi nyawa pelayan tersebut dihadapan Zaara langsung.
bersambung....