
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daniel yang bergerak keperusahaan, sementara itu pasukan kiri Damian juga mulai bersiap siap untuk menyerang kediaman besar Sagara.
"Tuan ini saatnya!" imbuh pengawal pribadi Damian yang tepat berada disampingnya.
"Lakukan sesuai rencana, bunuh semua yang ada dikediaman itu dan bawa istri Sagara kehadapanku!" desis Damian tajam, rasanya sungguh tidak sabar lagi untuk melihat bagaimana wajah Sagara jika tahu sang istri telah ada ditangannya.
drap..!!
drap..!!
Semua pasukan lagi lagi bergerak cepat keluar dan dengan perlahan lahan akan mengepung kediaman Sagara yang saat ini dipenuhi oleh Pengawal Pengawal yang berjaga.
Dan disinilah pengawal yang baru saja tiba di depan gerbang utama rumah yang tertutup rapat itu, dengan penyamaran kali ini, pengawal itu memantau situasi di rumah Sagara.
Ternyata hampir seratus lebih pengawal yang berada di kediaman itu saat ini, Sagara benar benar telah menyiapkan semuanya bahkan hanya untuk menjaga satu orang saja membuat rumah itu dipenuhi oleh pengawal khusus.
Sagara tidak bodoh meninggalkan Zaara dirumah itu sendirian, dengan sengaja Sagara menempatkan 100 pengawal khusus terbaik untuk Zaara hanya dalam kurang lebih setengah jam sesaat Sagara akan pergi ke Kanada.
Pengawal berkacamata hitam itu pun memundurkan tubuhnya secara perlahan dan kembali keposisi awalnya bersama pengawal yang telah bersembunyi mengelilingi kediaman Sagara dari segala penjuru yang telah mereka titikkan sebagai tempat terbaik untuk bersembunyi.
Dibandingkan dengan 100 pasukan khusus Sagara dengan pasukan yang telah dibawanya sekitar ada 300 pasukan tetap saja kemungkinan 50% mereka bisa saja kewalahan, satu pengawal khusus sebanding dengan 3 pengawal Damian.
harus mencari cara lain untuk bisa melumpuhkan pasukan Sagara, jika di lihat maka bisa saja mereka akan setara nantinya, namun yang menjadi tujuan utama adalah Zaara!
"Zaara..tentu saja!!" pengawal itu pun mendapatkan sebuah ide brilian.
laki laki itu melepaskan kacamatanya lalu mengganti dengan topeng wajah, lalu dengan aba aba seluruh pasukan akhirnya menyerang kediaman itu secara brutal.
Drap..!!
Drap..!!
Suara langkah kaki yang dipijak dengan keras dan cepat, menembus gerbang utama secara paksa.
Wosshh!!
Brakk!!
Semua pasukan berlarian, berhamburan di depan halaman luas dan saling menyerang dengan tembakan tembakan cepat.
DOR!!...DOR..DOR!!
Seketika suasana menjadi tegang dan memanas, pasukan Damian menembak secara brutal dan tak Ulung menyerang secara langsung dengan bela diri yang dimiliki masing masing pasukan.
Buk!!
Dor!!
Semua menjadi kacau dan pasukan khusus Sagara juga mulai berjatuhan satu persatu karena tak berhasil menghindari tembakan telak.
Pasukan Damian bergerak maju dan memukul mundur pasukan Sagara, mulai menerobos masuk kedalam rumah dan dengan sadis menembak pelayan yang ada di rumah itu.
Sementara itu di dalam kamar Zaara yang memang kedap suara, Zaara dan bibi Nan yang kebetulan masih membantu Zaara di kamar itu membuat mereka berdua tidak menyadari keberadaan pasukan yang telah berhasil menyerang.
"Non tumben ingin membereskan pakaian pakaian ini?" tanya bibi Nan sambil melipat beberapa pakaian Zaara.
"Tidak apa apa Bi, cuma ingin membereskan saja agar tidak berantakan, maaf ya jika saya merepotkan bibi" sahut Zaara.
"Ehh..tidak apa apa kok nona muda, ouh ya bibi ingin mengambil air untuk anda sebentar dibawah ya non" timpal bibi Nan lagi ambil berdiri dan berjalan kearah luar, dan menutup kembali pintu kamar Zaara.
Bibi Nan berjalan santainya melewati tembok yang memang membuat pandangan antara bibi Nan dengan lantai satu itu tertutup.
tap!! Namun sesaat kemudian baru bibi Nan sadar di samping pembatas pagar dengan tangga.
deg!!..
Sontak mata bibi Nan membulat dan membeku seketika, dibawah sana sudah tergeletak tubuh tubuh yang bersimbah darah.
"Akkkhhh!!!" sontak bibi Nan berteriak dan menutup mulutnya, pasukan Damian masih berada dibawah sadar akan keberadaan bibi Nan langsung mengejar bibi Nan.
"Tembak!!" perintah pengawal dengan topeng diwajahnya.
Dor!!
Woosh!!
"AKHH!!" tepat sasaran, peluru itu tepat mengenai belakang tubuh bibi Nan dan seketika bibi Nan tumbang.
drap..!!
drap..!!
Beberapa pengawal pun naik keatas lantai dua dan pengawal yang bertopeng itu memeriksa keadaan bibi Nan.
Saat ini bibi Nan yang masih setengah sadar, sorot matanya tak lepas menatap pintu kamar Zaara.
("no..nona... jangan.. keluar!")
Bibi Nan berharap Zaara tidak keluar dari kamarnya dan para pengawal itu tidak menyadari keberadaan Zaara, Namun laki laki bertopeng itu terlalu lihai untuk tidak menyadari kearah mana bibi Nan menatap.
Pengawal itu pun langsung membuka pintu kamar yang diduganya menjadi kamar Zaara!
Cklek!!
DEG!!
Benar saja Zaara yang juga yang ternyata ingin keluar, seketika terkejut.
"Akhh..si..siapa kau!!" Zaara mundur perlahan lahan, ia sangat terkejut ketika ingin membuka pintu ternyata malah ada laki laki asing itu.
Sadar keberadaannya sudah tidak aman lagi, dengan cepat Zaara mencoba memikirkan sesuatu untuk bisa kabur dari kamarnya.
"Ouh..ho..ternyata kau istrinya Sagara, mari ikut bersama saya nona cantik!" seringai menggoda tercetak diwajah pengawal itu.
"jja..ja..jangan mendekat!" sergah Zaara gugup, bagaimana sekarang ini sepertinya dibawah pun sudah penuh dengan pasukan, pikir Zaara.
Set!!, seketika Zaara berlari masuk kedalam kamarnya yang luas dan mencoba menghindari pengawal tersebut,
"Jangan mendekat jika tidak ingin saya pukul" ancam Zaara seketika ia bisa menjangkau sebuah vas kaca.
"Nona.. Anda lah yang jangan melawan jika tidak ingin tertembak!" namun Zaara tetap di posisinya walaupun sebenarnya ia sudah sangat ketakutan.
Pengawal itu benar benar maju kedepan Zaara, karena pergerakan itu tiba tiba.
Duk!!
PRANGGG!!
Vas kaca itu dipukulkan Zaara tepat di kepala pria itu dan ketika pria itu menahan kesakitan, Zaara berlari keluar secepat mungkin.
"SIAL!!..JANGAN KABUR!" teriak pengawal itu menggema dan langsung mengejar Zaara yang pontang-panting berlari kearah bawah.
tap..!
tap..!
("Ya Allah.. selamatkan hamba!") Zaara berlari keluar secepatnya dan tentu saja ia juga menyaksikan mayat yang telah bersimbah darah tak lupa bibi Nan yang juga tewas.
Zaara semakin histeris melihat hal tersebut, tak menyangka jika bibi nan yang baru saja ditemuinya itu sudah tergeletak tak bernyawa.
Zaara semakin mengencangkan larinya, dan ketika ia diambang pintu!!
"TANGKAP WANITA ITU!"
Teriakkan terdengar dari lantai atas dan seketika semua pengawal yang sibuk tebak menembak itu mengarahkan pandangannya kepada Zaara dan seketika itu Zaara tertangkap oleh pengawal itu.
"Lepas!!" Zaara memberontak ditangan pengawal Damian dan berusaha untuk kabur namun pergerakan Zaara terhalang.
"DIAM!!"
Bentak pengawal bertopeng yang tadi mengejarnya, sekarang ada dihadapannya dan menatap Zaara dengan tatapan yang tak biasa.
Zaara sangat risih dan takut ketika Pengawal tersebut menatapnya.
"Menjijikkan!!" sungut Zaara dengan suara yang terdengar dingin sambil menatap tajam kearah pengawal tersebut.
"Hahahaha...!!Ternyata kau gadis yang pemberani, namun nona saat ini suamimu tidak ada dinegara ini, jadi lebih baik menurutlah"
Mata Zaara membulat!, Sagara tidak ada dinegara itu, berarti sekarang perusahaan pun kemungkinan juga diserang!
Zaara semakin gemetar!
("Bagaimana pun caranya aku harus bertahan sampai Sagara tiba") batin Zaara lalu tanpa perlawanan lagi, Zaara dibawa oleh para pengawal dan segera meninggalkan kediaman Zaara yang sudah menjadi lautan darah dan mayat saking banyaknya yang mati ataupun terluka parah karena serangan itu.
Didalam mobil tangan Zaara yang memang sudah terikat dan dua pengawal yang ada disamping Zaara sudah bersiap dengan pistol ditangannya, menjaga Zaara agar tetap kooperatif.
Semoga Sagara segera menyelamatkannya!, Zaara benar benar berharap Sagara tiba di waktu yang tepat sebelum dirinya dibawa jauh dari kota itu.
Zaara diam membeku ditempatnya dengan jantung yang berdetak dengan kencang, ia sangat takut dan gugup, bagaimana tidak saat ini Zaara tengah hamil dan jika Zaara memberontak saat ini bukankah kandungannya bisa saja tidak selamat.
Bertahanlah sayang! Zaara mengusap perutnya yang rata dan mencoba tetap tenang dan berdoa kepada Allah agar selalu menjaganya saat ini.
Sekitar 30 menit perjalanan
Citt!!.
Akhir mobil itu berhenti tepat di sebuah bangunan tua di tepi kota agak jauh dan terasing dari pusat kota dan tentu saja sunyi dari pejalan kaki ataupun kendaraan bermotor.
Zaara dipakai untuk keluar!
"Cepat keluar dan jangan mencoba coba untuk kabur!" ancam pengawal tersebut.
Zaara hanya diam dan menurut!
Meskipun Zaara hanya diam tetapi ternyata mata Zaara tak pernah luput memperhatikan sekeliling bangunan, bagaimana pun caranya ia bisa kabur dari tempat itu sesegera mungkin.
Bersambung...