
Aroma ringan buku dan kayu bercampur dalam ruangan luas membuat suasana tenang dan damai.
Arya yang sudah terbiasa dengan tumpukan kertas bertinta hitam itu hanya bisa membolak-balikkan lembar demi lembar buku dihadapannya.
Buku yang dia baca adalah [apa itu hidup?] itu adalah buku yang dia dapat dalam perpustakaan paling pojok yang penuh dengan buku-buku lama
Dia membuka lembar berikutnya dan satu pertanyaan membuatnya bingung.
[Tidak ada hidup yang berarti jika jawabnya 'tidak', melupakan adalah ciri khas manusia, lalu mengingat? Apa itu omong kosong?]
Arya memiringkan kepalanya dan dia terdiam.
Jawaban 'tidak'?
Itu kalimat yang tidak asing.
Dari arah samping seorang gadis remaja mendekati Arya dengan tenang. Dia menatap lama pada Arya yang terlihat fokus pada bukunya.
"Ada apa?" tanya Arya pada gadis itu.
"Tidak ada"
Gadis itu duduk di samping Arya dan dia melirik sedikit pada lembar yang sebelumnya dipandangi Arya lama.
"Ah itu, arti jawaban 'tidak' disini adalah penolakan, misalkan kamu memiliki kehidupan sebelumnya, tapi kamu lupa jika kamu pernah hidup sebelumnya"
"Penolakan disini seperti kamu tidak ingin mengingat apa yang pernah terjadi, kamu memilih melupakan daripada mengingat kehidupanmu"
"Menurutku itu hanya mitos, karena tidak ada yang dilahirkan kembali setelah kematian"
Arya menatap lekat pada gadis di sampingnya. Gadis itu adalah satu-satunya gadis dikelasnya, namanya kalau tidak salah Seadna(?)
Menurut Arya gadis itu adalah gadis yang pendiam. Dia tidak tahu jika gadis itu tahu banyak hal tentang hal-hal seperti buku itu.
"Hm? Kamu bingung ya? Aku berasal dari keluarga sastrawan, jadi hal-hal seperti ini sudah biasa"
Arya kembali berkedip.
"Bukan, bukan itu! Aku lupa siapa nama mu..."
Seadna berkedip pelan. Apa? Lupa?
"Haha, astaga, jadi dari tadi kamu diam karena tidak tahu namaku? Haha, lucunya~ namaku Seadna, kamu bisa memanggilku Sena"
Seadna menghapus air matanya yang mengalir karena tertawa.
"Aku kan lupa" gumam Arya pelan.
"Astaga, lupa? Bukannya kita sudah berada di satu kelas selama beberapa hari?"
"Heum, kamu itu bagaikan tersamar tahu! Aku juga tidak begitu akrab dengan anak-anak sepertimu. Aku ingin mendekatimu tapi kamu seperti memasang tembok tinggi di sekeliling mu, bagaimana aku bisa mendekatimu? Lagi pula kita baru 4 hari berada di satu kelas" ujar Arya membuka lembar sebelahnya buku itu.
"Astaga, sepertinya kita sama-sama salah paham nih! Aku juga berfikir jika kamu itu orang yang dingin. Soalnya kamu memasang wajah datar pada semua siswa kecuali teman-teman sekitar mu saja. Tapi tak ku sangka jika kamu se-friendly ini. Kamu juga orang yang mudah diajak bicara, walau auramu terlihat cukup menyeramkan" ujar Seadna memiringkan kepalanya.
"Kamu... Semakin dilihat kamu sangat cantik ya? Bulu mata lentik, mata bulat tajam, hidung mancung, bibir lembab tidak merah tapi tidak merah muda juga, kulit putih halus dan lembut, alis rapi... Hanya rambut saja yang pendek, jika tidak mungkin itu akan sempurna untuk disebut seorang gadis" Seadna menilai penampilan Arya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan kagum.
"Aku mirip ayahku" jawab Arya masih membaca buku ditangannya.
"Oh, benarkah!? Berarti ayahmu tampan dan cantik disaat bersamaan dong? Bagaimana dengan ibumu? Apa kalian memiliki kesamaan?"
Arya yang ingin membalik halaman seketika terhenti.
"Tidak, kami tidak mirip, aku bahkan tidak mengenal seperti apa ibuku, orang itu sudah meninggal setelah melahirkan ku"
Seadna membuka lebar matanya dan seketika dia merasa bersalah.
"Ah, ma-maaf aku tidak bermaksud...!?"
Arya mengangkat bahunya santai.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa"
Arya bangun dan menaruh kembali buku itu ke-rak nya dan menunduk sedikit untuk pamit.
Sepanjang jalan keluar Arya menunduk dan berjalan cepat.
Bohong jika Arya bilang dia baik-baik saja. Hatinya sakit dan matanya panas. Tidak ada yang baik-baik saja jika ada yang membahas tentang ibunya.
Arya yang perlahan lupa dengan sosok ibu kembali diingatkan, rasanya benar-benar nyelekit banget, ha-ha:”)
Rasanya dia ngebadut lagi, wkwk
Lelah sekali, haha... Ha.
Huuu.. Em Arya yang tidak terbiasa terlalu lama tidak mendengar suara ayahnya jadi makin kacau.
Pengen nelpon tapi gengsi. Gini amat kalau lagi berantem sama bapak sendiri.
"Kalau menghubungi Lina, dia gak akan ngoceh kan?" tanya Arya pada dirinya sendiri.
Arya kembali mengeluarkan Monikator miliknya dan mencoba menghubungi Lina. Di Istana Malam hanya ada satu Monikator, dan itu adalah milik Lina.
...Lina is calling...
^^^Arya:^^^
^^^"Halo?" ^^^
Lina:
"Ya? Putri akhirnya anda menghubungi saya?!"
^^^Arya:^^^
^^^"Iya, maaf sudah menutup panggilan yang sebelumnya, aku ada kelas soalnya?"^^^
Lina:
"Kelas? Anda ada dimana sebenarnya Putri?!"
^^^Arya:^^^
^^^"Aku ada di Akademi"^^^
Lina:
"(Terkejut) bagaimana bisa anda ada di Akademi?!! Anda belum cukup umur loh!!?"
^^^Arya:^^^
^^^"Aku dapat rekomendasi dari kepala akademi, jangan terlalu khawatir"^^^
Arya duduk di lorong sepi dan menjawab setiap pertanyaannya Lina. Satu dari dua pengasuhnya yang menjaganya sejak masih jadi piyik.
^^^Arya:^^^
^^^"Lina, bagaimana keadaanmu dan Tera?"^^^
Lina:
"Semuanya baik, Putri"
^^^Arya:^^^
^^^"Kalau begitu.... Ayah bagaimana?"^^^
Aha, akhirnya Lina tahu kenapa Arya menghubunginya, itu pasti karena anak itu merindukan ayahnya.
Lina:
"Kaisar ada diperbatasan sejak beberapa hari terakhir"
^^^Arya^^^
^^^"(Lesu) Oh, begitu...."^^^
Lina:
^^^Arya:^^^
^^^"Hm, gak apa"^^^
Lina merasa tidak enak pada Arya jadi tidak bisa berkata-kata lagi. Anak itu pasti sedang mengulas fake smile seperti biasa.
^^^Arya:^^^
^^^"Lina, seperti apa ibu dulu?"^^^
Lina terdiam dan matanya terbelalak. Itu pertama kali nya Arya bertanya tentang orang telah melahirkannya.
Lina:
"Anda yakin?"
^^^Arya:^^^
^^^"Jika tidak ingin juga tidak apa, aku hanya penasaran"^^^
^^^Arya:^^^
^^^"Ah sudah ya, ada yang datang"^^^
Arya menutup monikatornya secara sepihak. Padahal tidak ada yang lewat. Ha-ha dia belum siap mendengarnya:D
Dia bersandar pada dinding dan menutup matanya.
Capek...
Arya menutup wajahnya dengan tangan kiri dan tertawa terbahak-bahak.
Keluhan yang tidak berguna.
Tidak akan ada yang mengerti...
Semuanya tidak mengerti...!
Dan tidak mungkin bisa mengerti...
༻𓊈𒆜FLASHBACK 𒆜𓊉༺
Hari itu adalah hari yang cerah untuk merayakan ulang tahun. Ayahnya memberikannya sebuah kado jepit rambut cantik dengan bentuk kucing dan kelinci.
Dia; Alice adalah gadis kecil berusia tujuh tahun. Hari ini adalah ulang tahunnya. Dia bahagia mendapatkan ucapan selamat dari ayahnya. Tapi... Kemana perginya ibunya?
Dia menolak meniup lilin yang ada pada kuenya sebelum sang ibu pulang. Namun, bahkan sampai jam sudah menunjukan pukul 11 malam pun ibunya belum kembali.
Ayahnya juga langsung pergi bekerja setelah memberikannya hadiah
Apakah... Tahun ini juga tidak bisa dirayakan bersama?
"Nona, sebaiknya anda segera pergi tidur, ini sudah hampir tengah malam, bagaimana jika anda sakit?" ucap salah satu pelayan membujuk Alice.
"Ti-tidak bisa! Aku tidak akan tidur! Ibu pasti akan pulang! Aku akan menunggu nya!" ucap Alice bersikeras menolak ajakan pelayan itu.
"Anda tidak bisa--!?"
Dari arah depan ada suara mobil yang baru saja sampai membuat gadis kecil itu langsung melompat kegirangan.
"Itu pasti ibu!?"
"Ibu!! Ibu akhirnya pulang, ibu ayo merayakan ulang tahun ku sekarang!" sambut Alice berusaha meraih tangan ibunya.
Sisca; ibunya Alice menepis tangan gadis itu dengan kuat.
"Hisss! Berisik banget sih!! Menyingkir dari hadapan ku sekarang!!" sentak Sisca mendorong tubuh Alice hingga tersungkur dilantai.
Saat ini dia dalam keadaan mabuk membuatnya jadi setengah sadar. Dia memang selalu bersikap kasar pada Alice, jadi itu bukan kejadian sekali dua kali tapi seringkali.
Ugh... Sakit....
Alice mengerucutkan bibirnya dan berkata maaf. Bagaimana pun juga pikiran anak berumur tujuh tahun, tetap saja itu anak-anak yang akan mudah sakit hati jika dibentak bagaimana pun bentuknya itu. Bocah tetap saja bocah!
Sisca pergi dengan sempoyongan kedalam kamarnya meninggalkan Alice yang sedikit terluka di telapak tangannya
"Nona?" pelayan itu memanggil dengan perasaan khawatir
"Tidak apa kok" jawab Alice masih dengan wajah ceria. dia mengepalkan tangannya.
"Bagaimana bisa tidak apa? Telapak tangan Anda berdarah karena menahan tubuh anda ketika jatuh, tahu?!" ucap pelayan itu menatap telapak tangan gadis kecil itu.
"Gak apa, lukanya juga sudah tidak ada, ini juga bukan yang pertama kalinya kok, untuk apa khawatir?" hibur Alice malah membuat pelayan itu mulai menangis.
"Hiks, nona sangat kasihan~! Saya tidak tega, hiks!"
Arya jadi gelagapan dan berusaha menghiburnya dengan berbagi cara namun tetap saja itu tidak berhasil.
Besok nya...
Alice diajak oleh ayahnya pergi ke suatu tempat menggunakan mobil. Mereka berhenti tepat di sebuah gedung besar yang terlihat seperti rumah sakit, hanya saja itu kosong.
"Ini tempat apa ayah?" tanya Alice menatap sekeliling.
Xionel, itu lah nama ayah Alice. Pria itu hanya diam menuntun Alice memasuki gedung itu.
"Aku membawa putriku kemari"
Dari arah berlawanan, seorang pria tua berjenggot panjang berjalan mendekati mereka berdua.
Siapa, siapa itu?
"Ayah?" panggil Alice yang perlahan menatap ayahnya.
Xionel berjongkok menyamakan tingginya dengan anaknya. Dia memegang kedua pundak Alice membuat gadis itu sedikit merasa takut.
"Ayah...?" panggil Alice sekali lagi.
"Alice, dengarkan ayah, kamu pergilah dengan paman itu ya? Ayah akan menjemputmu nanti" ucap Xionel membuat Alice tiba-tiba panik.
"Ayah, ayah, tapi...!!" Alice dengan cepat menangkap tangan ayahnya memohon.
"Pergilah" Xionel mendorong tubuh Alice kearah pria tua itu.
Alice memutar tubuhnya mencoba mengejar ayahnya yang mulai berjalan keluar dan memasuki mobil.
"Tidak! Tidak! Ayah! Alice mohon tolong jangan tinggalkan Alice!! Ayah!!" teriak gadis itu sambil menangis.
"Gadis kecil ikutlah dengan kakek, kakek akan berikan permen pada mu, bagaimana?" tanya pria tua itu mengeluarkan permen lolipop.
Alice menggeleng dengan cepat dan mencoba melepaskan tangan pria tua itu dari pergelangan nya.
"Ti-tidak, tidak mau! Aku mau pulang!!" ucap Alice menghentakkan tubuhnya berharap bisa lepas.
"Aih, anak ini benar-benar keras kepala!" pria tua itu menyeret Alice memasuki ruangan yang minim pencahayaan.
Tubuh gadis itu gemetar melihat sekeliling yang terlihat lebih gelap.
Dalam keadaan seperti ini rasanya dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, dia terlalu takut.
"Hiks, tolong Alican!!" teriak Alice meringkuk ditempat.
"Haha, nak apa yang kamu katakan? Tidak ada orang lain disin--" ucapan pria tua itu terpotong saat dia melihat tatapan menakutkan dari gadis yang perlahan bangkit dari tempatnya.
"Tidak ada orang yang boleh menyakiti Alice, bahkan orang luar sepertimu" kata Alican dengan mata tajamnya. Dia tidak bisa melihat Alice terluka apa lagi menangis.
"Kamu, siapa kamu!" aura gadis dihadapannya berubah.
Alican menyipitkan matanya.
Dia melirik sekelilingnya dan matanya berhenti tepat dibelakang pria tua itu.
Benda apa itu?
like and komen, komen ya! 😄