The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
MARQUES VINTAICS



Zaint tidak tahu apa yang terjadi kepada putrinya itu. Dia yang baru saja selesai berpakaian pun langsung dikejutkan dengan suara Putri kecilnya yang berlari tanpa henti dengan wajah yang penuh dengan keringat dingin dan melompat kearah pelukannya tanpa beban.


Mimpi buruk kah?


Yah semuanya pasti akan berpikir begitu, termasuk Zaint. Tapi setelah merasakan tubuh jangkung anak kecil itu yang bergetar tak menentu dugaannya terbukti benar.


Anak yang kini ada didalam pelukannya bukanlah anak yang mudah ketakutan dan bahkan selama ini dia membesarkannya pun merasa jika anaknya itu adalah anak yang kelihatan dewasa walau tak sepenuhnya.


Tapi sekarang, putrinya entah mengapa memiliki tubuh yang bergetar tidak wajar di pagi hari, Membingungkan sekali!


Dia tanpa sadar memeluk tubuh putrinya dengan sedikit canggung, dan mencoba untuk menyalurkan kehangatan untuk putrinya yang sedang meringkuk di pelukannya. Dia memejamkan matanya dan menempelkan wajah anaknya semakin dalam ke dadanya yang bidang.


Selama ini, anak ini selalu saja berbuat nakal dan juga urak-urakan tapi sifatnya yang seperti itulah yang membuat seluruh istana manjadi hidup.


Selama Zaint naik takhta pada usia 17 tahun dia sudah membunuh seluruh keluarganya termasuk ayahnya yang notabene-nya adalah seorang kaisar. Dia tidak ragu ragu untuk memenggal kepala ayahnya sendiri dan menggantungnya di pintu gerbang Kekaisaran.


Tapi kenapa? Kenapa ketika dia ingin membunuh putrinya ini dia merasa ragu dan malah membiarkannya hidup bahkan sampai memberinya nama? Sampai mengizinkannya untuk tinggal disisinya dan juga bisa bertemu dengannya dengan begitu mudahnya. Dulu orang yang ingin bertemu dengannya saja harus menyiapkan mental baja untuk bertemu dengannya. Dan lihat sekarang rasanya Zaint yang dulu sudah meninggal!!


Dia yang menjaganya jika ada kesempatan, melihatnya merangkak, melihat putrinya berjalan, bahkan sampai putrinya itu bisa bicara pun dia selalu memperhatikannya. Intinya dia sangat memperhatikan perkembangan dari putrinya.


Apakah ini yang disebut perasaan peduli?


Heh, agak konyol, yah?


Tapi begitulah yang namanya kehendak Tuhan, manusia hanya tinggal menjalaninya saja bukan?


Dan sekarang anak yang dulu ingin dia lenyap kan, kini berada tepat di pelukannya dan dia memeluknya dengan sangat erat tidak mau melepaskannya.


Dia merasa... Jika dia melepaskan anak ini maka anak ini akan hilang dan hancur berkeping-keping, dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi.


Zaint dengan perlahan bertanya nya dan menyimpulkan jika mimpi buruk yang dialami oleh putrinya adalah sesuatu yang tidak biasa.


"Menangislah, jika kamu ingin menangis, jangan ditahan, paham?"


Entah mengapa rasanya ada yang sedang mencubit ginj-- hatinya sampai hancur ketika mendengar isak tangis Anaknya.


Ada apa sebenarnya?


Rasanya sangat membingungkan ketika berada diposisi Zaint. Dia yang tidak tahu menahu tentang mimpi anaknya pun hanya bisa menyarankan saja tapi tak bisa membuat anaknya tenang. Sampai....


"Ayah... Hiks.... Aku....aku, Ayah kumohon jangan meninggalkanku.... Aku mohon ayah... Aku mohon... Hiks... Hiks..."


Permintaan Arya benar benar membuat Zaint tertegun, untuk pertama kalinya Arya meminta untuk tidak meninggalkannya sendirian.


'Se-sebenarnya mimpi apa yang dia alami? Sampai-sampai dia memohon seperti ini?' batin Zaint bertanya tanya mengenai sikap Arya yang tidak biasa ini.


"Ka, kamu kenapa Ar, ap-apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Zaint dengan nada khawatir. Heh, entah kenapa Arya merasa ini adalah pertama kalinya Zaint memanggilnya 'Ar' karena biasanya dia selalu memanggil dengan sebutan 'Ya' atau 'Arya' tatkala manggilnya 'Anak'


"Berjanjilah dulu ayah! Apakah kau akan meninggalkan ku?" Tanya Arya mengangkat kepalanya dan menunjukan wajah yang memelas dengan mata sembab yang masih menangis.


Zaint mengulas senyum tipis dan mengangguk dengan tangan yang menghapus air mata bombai milik putri satu-satunya yang dia punya.


Putri yang memiliki sifat pemberontak namun bertanggung jawab yang menurutnya unik.


Berani menghadapi masalahnya, kecuali kalau urusan politik dia sangat sulit untuk dibuat mengakui kesalahannya.


Kuat? Ya dia memang kuat tapi nyatanya tidak. Dia hanya kuat jika dibutuhkan saja dan selebihnya, itu sih kehendak Tuhan saja lagi yang menentukannya.


Memiliki jiwa bebas dan tak mudah dikekang, itu juga poin plus yang dimiliki oleh putrinya itu.


Cantik, yah harus ia akui jika putrinya itu sangat cantik dan imut di banding dengan gadis seusianya yang cantik cantik cengeng, gak guna!.


Lemah lembut? Cih jangan diharap! Anak blangsak seperti Putrinya itu gak mungkin bisa jadi lemah lembut, mungkin kalau ketemu sama cogan mungkin bisa berubah (?) Dih mana mau Zaint biarin anaknya naksir sama anak laki-laki, jangan harap!!


***


Arya yang mendapatkan jawaban yang dia inginkan akhirnya tersenyum cerah dan memeluk Zaint semakin erat dan membenamkan wajah berserinya di dada bidang Zaint. Dan akhirnya mereka pun berpelukan ala teletabis.


Di kehidupan pertamanya dia memiliki ayah yang sangat dingin tapi perhatian sangat mirip dengan Zaint tapi Menurutnya Zaint itu lebih baik dari Ayahnya di kehidupannya yang dulu, dulu ketika dia menangis dia hanya bisa memeluk bantal atau guling dan kalau dia sedang dihukum oleh ibunya maka dia hanya bisa memeluk angin yang bahkan tidak bisa menghangatkan nya, bahkan dulu dia berkali kali mencoba untuk bunuh diri karena merasa tidak bisa bertahan hidup, berkali kali tapi tetap gagal. Heh, takdir selalu mempermainkannya.


Tapi sekarang... Dia memiliki senderan untuk dia bertahan hidup. Ayahnya yang akan menenangkannya ketika dia bersedih dan menghapus air matanya ketika dia menangis. Hanya itu yang dia inginkan selama ini. Dan ini juga merupakan hari pertama dia menangis di pelukan ayahnya setelah bertahun tahun. Dengan tangisannya hari ini juga membuat seluruh perasaan tertekan dari mimpi itu perlahan pudar dan menghilang.


Rasanya sangat melegakan:)





Setelah acara menangis bombai akhirnya Arya pergi ke taman tempat biasa nya dia dan teman temannya berkumpul. Tapi sayangnya sekarang Riden sedang sibuk di menara tempat dia tinggal. Yap, benar Riden adalah keluarga penyihir menara yang tidak banyak orang yang tahu tentang keluarga itu. Bahkan tak jarang ada yang kepo dan ingin tahu tentang keluarga ini, dan mereka semua ditemukan meninggal atau tewas setelah masuk Arai pelindung yang memang sengaja dibuat untuk menjaga tempat itu tetap aman.


"Mm, ada apa?" Tanya Arya ketika dua bersaudara terus memperhatikan wajahnya yang terlihat tidak kenapa-napa.


"Katanya kamu habis menangis, tapi kenapa mata mu tidak bengkak?" Ini adalah pertanyaan dari Lili


"Ada deh B")" Arya benar-benar tidak ingin mengekspose tentang dirinya yang berlari dan menangis bombai dihadapan teman temannya yang sudah dianggap sebagai Sahabat nya itu.


"Hmph, terserah kamu saja deh!" Lili merupakan tipe orang yang mudah ngambek jadi itu bukan masalah besar.


"Pergilah, apa kami perlu ikut?" Tanya Evan memakan cemilan diatas meja.


"Tentu saja:>" Masih dengan kondisi menyeringai Arya memakan cemilannya juga.


"Hah! Baiklah" Evan menghela nafas dan meneruskan acara ngemil nya


"Ayo bersiap siap!!" Ujar Lili sama senangnya dengan kedua orang didepannya. Dia tidak sabar ada kejadian apa lagi yang akan terjadi nantinya.


"GO!!!"


▀▄▀▄ Di kereta ▄▀▄▀


Setelah berganti pakaian kini mereka bertiga sudah berada di dalam kereta kuda.


Arya yang menggunakan dress ungu dan rambut dikepang kesamping. Lili yang menggunakan pakaian berwarna merah muda dan juga dengan yang menggunakan pakaian santai.





"Hm, aku cocok gak kalau pakai dress yang ini?" Tanya Arya sedikit agak bingung.


"Cocok banget, malah!"


"Huh bagus deh"


"Oh iya kamu udah minta izin belum buat ke kediaman kakek mu?"


"Oh... Tentu saja sudah!"


Ditempat Zaint


"Yang mulia, ada surat dari tuan putri" ujar salah satu penjaga.


"Berikan" perintah Zaint, lalu mengambil Surat tersebut.


Yaps benar Arya minta izin pakek surat. Dia malu kalau langsung ketemu sama Zaint. Gara-gara pagi tadi.



"Untuk apa anak nakal itu pergi ketempat kakeknya, kurang kerjaan sekali" Gumam Zaint pelan.


"Atau perlu ku tambahkan pekerjaannya lagi saja?" Gumam Zaint memikirkan tugas apa yang cocok untuk anak nya itu.


"Terserah sajalah, akan ku pikirkan jika dia sudah pulang"


***


"Haciuh... Sepertinya Ada yang sedang membicarakan ku deh?" Tiba tiba saja Arya merasa dingin dan juga bersin.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, mungkin ayahku sangat 'merindukan' ku (?) " Ujar Arya seraya memalingkan wajahnya ke jendela.


...•...


...•...


...•...


Beberapa menit kemudian kereta pun memasuki kediaman Marques Vintaics, kakek Arya, ayah dari Ratu Arsella Vintaics, Gery Vintaics.


Saat Arya dan lainnya turun dari kereta, mereka langsung disambut oleh Marques sendiri. Marques memiliki rambut putih uban dan juga mata berwarna biru toska.


"Salam tuan putri" Ucap Sang Marques menaruh tangannya didada dan sedikit menunduk diikuti oleh seluruh bawahan.


"Ey kakek untuk apa anda menunduk, padahal saya adalah cucu anda" Ujar Arya mengangkat tubuh Marques dan tertawa kecil.


"Oh iya, Saya kemari juga ditemani oleh teman saya, yaitu Tuan Muda Rimson dan juga Nona Muda Rimson"


Ujar Arya memperkenalkan kedua teman nya kepada Marques.


"Halo tuan Marques, apa kabar anda?" Tanya keduanya lalu menunduk.


"Saya sehat tuan muda dan nona muda Rimson. Bagaimana dengan kalian bertiga?" Tanya Marques balik.


"Kami sehat kakek(Marques)" Jawab mereka kompak.


"Hoho, baguslah silahkan masuk anak-anak, anggap saja rumah sendiri"


Saat tidak ada yang melihat, Snicky, ular kesayangan Arya diam diam memasuki kediaman itu dengan memasuki ruang kerja Marques seperti yang direncanakan dia akan mencuri berkas penting yang bisa membuat Arya sangat senang nantinya.


jangan lupa ❤️ and 💬 guys.