
setelah mereka memasuki taman itu, mereka disuguhi pemandangan hijau rumput yang membentang sejauh mata memandang membuat mata mereka semua berbinar takjub.
Arya maju selangkah dan merasakan rambutnya yang panjang diterpa angin yang berhembus cukup lembut membuatnya melambai lambai indah. Dia menutup matanya dan memasukan tangannya kedalam jaketnya dan tersenyum.
Senyum teduh yang terpatri indah dibibir Arya sontak membuat semua orang lebih terfokus pada nya.
Saat ini wajah Arya yang menikmati angin yang berhembus membuat mereka seperti melihat seorang gadis yang kesepian.
Kelion menatap Arya dan bergumam: "Jika 'dia' masih ada disini, mungkin 'dia' juga akan menyukai tempat ini? Sama sepertimu"
Arya yang mendengar gumaman Kelion pun sedikit menunduk, senyumnya yang teduh itu langsung menghilang.
'Dia' yang dimaksud oleh ayahnya Feron pastilah anaknya yang menghilang kan?
Seperti apa wajahnya, sifatnya, kesukaannya, tawanya, lengkungan matanya ketika dia tersenyum, dan bagaimana dia bertahan hidup, pasti Kelion ingin tahu kan?
Orang tua mana yang tidak merindukan dan ingin bertemu dengan anaknya yang menghilang ketika masih kecil. Mendengar suara nya ketika dia bisa berbicara dan memanggilnya ayah... Melihatnya pertama kali berjalan... Berlari... Terjatuh... Pastinya Kelion ingin melihat semua pertumbuh kembangan anaknya kan?
Arya masih menunduk dan sedikit memutar tubuhnya, dia mengangkat kepalanya menampilkan senyum lebarnya yang menampilkan lesung pipinya dan juga gigi nya yang putih.
"Apa yang sudah pergi tidak akan kembali, tapi jangan putus asa, gapai apa yang ingin digapai, berusahalah! Karena sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasilnya, jika hati sudah bertekat, bahkan Gunung pun akan bisa digilas habis, tetap mencari dan dapatkan dia kembali! Bawa kembali senyum yang menghilang, tidak ada kemenangan tanpa perjuangan!" ujar Arya menepuk pundak Feron yang tadi juga sempat melamun mendengar perkataan ayahnya.
Feron tersentak dari lamunannya dan langsung menatap Arya yang masih tersenyum dengan mata yang melengkung menjadi bulan sabit.
"Ingat, kamu itu kuat jangan jadi lemah hanya karena sebuah ilusi semata, pasti ada petunjuk! Sedalam apapun seseorang menyembunyikan kejahatannya, pasti akan ada sebuah petunjuk yang dia tinggalkan! Penjahat bukan hanya ada diluar tapi didalam! Bisa dibilang seperti tikus dalam lemari, pasti ada jejak yang ditinggalkannya walau hanya secuil debu, kan?" ucap Arya lagi, dia tersenyum kearah Feron dan menepuk pundaknya sedikit keras, membuat Sang empu sedikit meringis.
"Wah~ Kata-kata yang bagus putri Arya~" sahut seorang wanita cantik yang tiba-tiba datang dan langsung mengelus rambut merah panjang Arya. Wanita itu sedikit membungkuk menyesuaikan tingginya dengan Arya, ya walau tinggi Arya yang setara dengan ketiaknya, bayangin aja betapa tingginya itu.
Arya menatap aneh wanita itu dan langsung beralih menatap Feron, dia langsung menyimpulkan bahwa wanita itu adalah Ibunya Feron. Walau gak ada kemiripan dari keduanya, lengkungan matanya ketika tersenyum saja sangat berbeda. Tapi tetap saja mereka ada kemiripan, walau gak tau letaknya ada dimana.
Memang benar kalau gen nya bagus akan menghasilkan bibit yang bagus. Tapi, bagaimana bisa parent nya good looking anaknya malah gelinding, ga ada mirip-miripnya, mungkin gara-gara belum dipermak kali. Iya, butuh glow up dulu.
Wanita itu menarik Arya langsung ke Gazebo yang memang disiapkan dari awal dibuatnya taman itu.
"Apakah ayah mu yang mengajari mu tentang semua kata-kata itu?" tanya ibunya Feron dengan penasaran.
"No!"
Ha, boro-boro mau diajarin kek gitu, ketemuan aja kek kucing dan anj1ng, gak ada akur-akur nya.
"Jadi, bagaimana kamu tahu kalimat-kalimat itu?"
"Buku, karena buku adalah ilmu pengetahuan dan juga jendela dunia"
"Eh? Siapa yang mengatakan itu?"
"Perpustakaan, walau perpustakaan tidak bisa membaca tapi perpustakaan memiliki banyak buku yang bisa dibaca"
Ibunya Feron sedikit tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Arya. Hey, anak ini ternyata memiliki pemikiran yang aneh dan cukup rumit untuk dipahami. Ya, walau kata-kata nya ada benarnya.
"Ah, baiklah~ mari ganti topiknya~" ibunya Feron langsung mengganti topik ketika pembicaraannya mulai agak nyeleweng dari jalur utama. "Bagaimana perasaanmu ketika berada di sini?"
"Tidak merasakan apapun, tapi... Apakah hanya perasaanku saja, aku tidak bisa mendengar suara apapun?" Arya bertanya sambil mengalihkan Pandangannya pada semua orang, semua orang memang ada di sana tapi tidak ada suara sedikitpun yang bisa dia dengar kecuali suara ibunya Feron sang Permaisuri.
"Ahaha, aku menggunakan sedikit sihir kedap suara tadi ketika menarik mu ke sini" ibunya Feron sedikit menggaruk pipinya dan tersenyum cengengesan. "Tapi... Sungguh kamu tidak merasakan apapun?"
"... Iya, tapi aku sedikit merasakan sesuatu yang aneh, seperti... Sesuatu yang hangat menyentuh hatiku" jawab Arya menaruh tangannya di dada. Dia tersenyum simpul dan melanjutkan: "sama seperti ketika aku sedang bermanja dengan Ayah"
Ibunya Feron hanya menatap lekat kedua mata Arya yang terlihat sayu bagai bunga yang kehilangan keindahannya.
Arya menunduk, senyumnya lagi-lagi menghilang. "Mung... Kin? Aku juga tidak tahu, apakah perasaan mencekik ini adalah rasa kerinduan atau kesepian? Aku benar-benar tidak tahu" ucap Arya mendongakkan kepalanya dan kembali tersenyum lebar.
Ibunya Feron memalingkan kepalanya kesamping dengan cepat "topeng mu sangat tebal, ya?"
Arya kembali menunduk dan memainkan tangannya. Dia bergumam dengan lirih: "Hehe, topeng ya? Aku bahkan hampir lupa seperti apa topeng yang kupakai setiap hari, bahagia? tersenyum? Tertawa? Dingin? Bersikap seperti anak nakal? Konyol? Ataukah mental ku terluka? Kecewa? Sedih? Kesepian? Aku benar-benar terlalu terbiasa, apakah itu aneh, hehe! Malah curhat" ketika dia sadar jika dia mengungkapkan isi hatinya dia langsung merasa tidak enak.
Kenapa ya? Ketika berbicara secara privasi dengan Ibunya Feron membuatnya merasa nyaman untuk mengungkapkan hal-hal yang terus saja mengganjal dihatinya.
"Tidak kok, aku cukup senang mendengarkan mu berbicara" jawab Ibunya Feron dengan senyum lembut menatap Arya, dia sepertinya sudah menganggap jika Arya adalah putrinya sendiri.
"Em... Maukah kamu jadi putri angkat ku? Ya, jika tidak mau juga tidak masalah, aku tidak akan memaksa?" Ibunya Feron memandang Arya dengan penuh harap.
Arya mengedipkan matanya menatap bingung pada wanita didepannya itu.
putri... angkat?
"... Tapi.... Apakah aku layak memiliki seorang.... I.. Bu.....?" cicit Arya mencuri-curi pandang pada wanita didepannya.
"Kenapa tidak layak, kamu bahkan berhak mendapatkan kasih sayang sosok ibu kan?" tanya Ibunya Feron dengan sedikit semangat.
"Tapi, apakah kasih... Sayang.. Ibu... Tidak akan menjadi racun?" tanya Arya sedikit takut.
Ketika dia masih menjadi Alice, cintanya yang terlalu besar pada ibunya membuat dia melakukan segala yang diinginkan oleh ibunya. Terlebih lagi, dia yang memang polos banget, dia mau aja disuruh apapun yang diinginkan oleh ibunya. Sampai-sampai dia mengalami sedikit gangguan mental ringan tapi tidak ada yang sadar, hingga saat melihat jasad ibunya ketika ditemukan tewas tanpa ada tanda-tanda apapun, hatinya berdenyut sakit, tapi dia tidak berani menangis. Dia tersenyum ringan dan sedikit membelai rambut hitam ibunya. Dan selalu bergumam tanpa sadar 'aku sakit, tapi tidak ada luka, dadaku sesak, aku benci tapi aku juga sayang? Kenapa seperti itu? Kau harus jelaskan ibu?' dia terus bergumam pada dirinya sendiri sambil memandangi wajah pucat tanpa darah milik ibunya.
Dia terdiam sesaat lalu tangannya digenggam oleh seseorang membuat lamunannya buyar seketika. Tanpa diduga matanya kirinya basah oleh cairan bening.
Apa?
Apa... Dia... Menangis...?
"Tidak, jika kamu menjadi anakku kau bisa keluar masuk ke istana ini kapanpun kamu mau? Bagaimana?"
"Tidakkah dibicarakan dengan yang lainnya dulu?"
"Tidak perlu, kau hanya perlu mengangguk dan panggil aku 'BUNA', paham?" ucap Ibunya Feron dengan mengangkat tangan Arya didepan dadanya.
Arya berkedip, dia menganggukkan kepalanya dan perlahan memanggil: "Bu... Na?" ucapnya pelan.
"Bagus!" wanita itu kegirangan dan dengan cepat berdiri dan langsung memeluk Arya.
Ketika Ibunya Feron menarik Arya ke pelukannya, aroma wangi bunga mawar yang bercampur dengan wangi mint menjadi satu menghasilkan aroma segar yang dingin sekaligus.
Diluar...
Feron dan yang lainnya hanya menatap aneh pada kedua makhluk hidup yang sedang berpelukan.
Mereka agak kesal ketika mereka sadar jika mereka tidak bisa mendengar suara yang ada didalam ruang lingkup itu.
"Fer, aku tidak tahu jika ibumu memiliki suatu kebiasaan yang aneh seperti ini?" tanya Lili menyenggol pundak Feron yang tepat ada di sebelahnya.
"Aku yang sebagai anaknya saja tidak tahu tentang hal ini, padahal dari bayi hingga kini aku selalu melihatnya yang tampil elegan, tapi sekarang...." ujar Feron masih setia menatap interaksi antara Sahabatnya dengan ibunda tercintanya.
"Melihat dari sifatnya yang lama tidak terlihat... Aku yakin jika ibumu sekarang sedang mencari anak perempuan dan telah mendapatkannya" Kelion juga ikut menyaut ketika melihat kelakuan istri kesayangannya.
"APAAAA????!!!!!" teriak mereka ketika mendengar perkataan Kelion.