
Ketika seorang gadis membuka matanya, dia disuguhi pemandangan... Gelap?
"Engh..."
Gadis itu mengangkat kepalanya sedikit untuk menghindari benda didepannya.
Gadis itu membuka mata nya dan terpampang dengan jelas sisik naga berwarna hitam yang ternyata juga ikut tidur dengan perut menghadap ke wajah gadis itu dan kepala yang bersandar pada kepala gadis itu.
Dia bergeser sedikit lalu menarik naga itu ke pelukannya.
Lili, Delvan, Feron, Riden, Brian, dan juga seorang remaja laki-laki yang tadinya sedang berbincang ria itu langsung menoleh pada Arya yang sudah membuka matanya sayu.
Arya terdiam untuk beberapa saat lalu membuka mulutnya.
"... Hing.... Shushu angaht khu, manah...hoam...?"
Pertanyaan Arya membuat semua orang yang ada dikamar itu menatap nya datar. Dia bahkan masih menguap karena mengantuk, pelafalannya pun kurang jelas.
"... Kumpulin nyawa dulu baru ngomong!" ujar Lili mendekati Arya.
"Hm..."
"Cepat bangun dan mandi, sana! Kamu harus mandi tubuhmu bau kemenyan(?)" ucap Lili menyingkap selimut yang digunakan Arya.
Arya cemberut dan langsung turun dari kasur. Walau langkahnya sempoyongan tapi akhirnya dia kejedot pintu kamar mandi hingga kesadaran nya sepenuhnya kembali.
Dia memegangi dahinya dan membuka matanya lebar. Seribu satu sumpah serapah dia ucapkan didalam hati meruntuki kesialannya sendiri.
"Kenapa sih masang pintu dikamar mandi jadinya kan sakit?!" sungut Arya mengusap hidung dan jidatnya kesakitan.
"Bukan pintunya yang salah tapi kamu!? Jalan itu pakai kaki dan melihat pakai mata!! Kalau kamu jalan pakai mata dan melihat pakai kaki itu namanya kamu ceroboh!! Dasar tidak waras!!" celoteh Lili membuat bibir Arya yang semula cemberut anak ayam jadi seperti congor bebek.
"Yang bilang kalau aku waras itu siapa?" tanya Arya membuat Lili speechless.
Gadis itu dengan cepat membuka pintu kamar mandi dan masuk, tak lupa dia membanting pintu itu membuat semua orang sedikit tersentak.
__ 25 menit kemudian __
Arya keluar dari kamar mandi dengan memakai sweater dibalut dengan jaket dan juga rok mini dan sepatu berwarna coklat muda.
Dia berjalan mendekati Raya yang masih ada di kasur lalu mengangkat bayi naga itu dan menaruhnya di atas kepalanya. Sudah kebiasaanya menaruh Bayi naga nya di atas kepala, entah kenapa tapi dia menyukai pose membawa bayi naga itu seperti itu.
Dia mendekati teman-teman nya dan duduk di samping Feron. Mengambil gelas berisi susu hangat nya dan meneguk semuanya sekaligus.
"Hah~ tenggorokan ku hangat"
Arya bersandar di sofa yang didudukinya dan melirik seorang remaja laki-laki yang tidak dikenalnya sedang duduk di samping sahabatnya pun mengerutkan kening nya aneh.
Remaja yang memiliki rambut hijau tua itu juga menatap datar Arya dari tadi pun mengedipkan matanya datar.
"Fer, siapa tuh orang? Kamu mengenalnya? Dia terlihat sangat kaku dan dingin!" tanya Arya menoleh pada Feron yang menyesap teh miliknya.
"Ah... Tentu saja aku mengenalnya, jika aku tidak kenal ngapain dia ada disini! Namanya Steve Jobs, panggil dia Steve. Sekretaris pribadiku! dia memang sangat dingin" jawab Feron mengambil cemilan di meja lalu memakannya.
"Haha, sepertinya setiap hari kau harus melihat pemandangan kutub, ya? Aku pun juga sama saja tapi milikku ada dua, hebat kan?" ucap Arya dengan senyum miris yang terdistorsi miliknya.
Riden dan Brian yang merasa pun langsung menoleh, wajah tanpa ekspresi mereka seperti menembakkan belati kearah Arya yang punggungnya agak berkeringat.
"Hehhe, sepertinya kawan satu status ku ini sedikit(?) tertekan, lihat saja wajah kusut mu itu? Mirip seperti peppa pig!?" ujar Feron mengejek Arya membuat sang empunya nama langsung menoleh lalu mencubit pipi Feron hingga merah.
(Satu status \= sama sama putra/putri kaisar)
"Peppa pig pala kau jamal!! Kau kali yang mirip ikan mola-mola!!!?" ujar Arya sangat geram.
"I-ikan mola-mola?" beo Feron sedikit syok.
Delvan langsung terbatuk-batuk ketika minum minumannya saat Arya menyebutkan jika Feron mirip ikan mola-mola.
Lili juga tidak jauh berbeda dengan Delvan, kakaknya. Dia ikut tersedak kue di mulutnya ketika mendengarnya Arya mengatakan ikan mola-mola.
"Mirip dari sisi mananya sih tuh rubah!? Kamu lihat dari lubang bakteri sampai tembus lubang cincin hitam pun itu tidak ada mirip-mirip nya, heh!?" seru Lili langsung berdiri.
Arya terdiam lalu menatap Feron sebentar lalu kembali terdiam.
Iya juga yah?
Dia mau dibanting sampai dibogem pun gak akan mati.
Tapi ikan mola-mola.... Agak gak mirip ya?
Arya menutup matanya, menyilang kan kakinya, bersedekap dada, dan mangut mangut tidak jelas.
Dia tadi terbawa emosi jadi tanpa sadar mengatakan jika Feron itu ikan mola-mola, ikan yang sangat rentan akan kematian. Bahkan jika disentuh pun bakalan mati tapi Feron tidak.
Arya mengerutkan keningnya lalu membuka matanya menatap Feron sejenak dan berpindah menatap Steve intens.
Dia bangun dan berjalan kearah balkon. Semua orang diam hingga....
"Arya!!!"
Semua orang berteriak kaget ketika gadis itu berbalik dan bersandar di pagar balkon. Tak lama kemudian senyum menyeringai muncul dibibir merah cerry miliknya dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya kebawah.
Feron dan yang lainnya langsung mendekati balkon tempat dimana Arya menjatuhkan dirinya.
Diantara semua, ada beberapa orang yang hampir mengutuk gara gara aksi anti mainstream yang dilakukan oleh Arya.
Ya, Orang-orang itu adalah para penjaga bayangan dan juga pengawal yang selalu mengawasi Arya dari jauh.
Mereka hampir kehilangan kepala mereka gara-gara kegiatan gila Arya itu.
Karena kelakuan Arya yang selalu diluar nalar manusia, hampir dua puluh kepala akan menghilang dari tempat nya.
Arya berjalan kearah taman dan terdiam sebentar didepan pintu gerbang taman itu.
Semua teman-teman nya datang dan mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Delvan menepuk pundak Arya.
"Ketutup" jawab Arya polos
"Ya dibuka!" ucap Lili menoleh kearah Arya
"Dikunci" jawab Arya lagi dengan wajah polos dan lugunya.
"Tendang" ujar Feron ngasal.
Arya menoleh kearah Feron dan mengedipkan matanya.
Brak.... Prang....
Kurang dari sepersekian detik pintu gerbang taman itu roboh bersamaan dengan gerakan kaki melayang milik Arya.
"...."
Semua orang terdiam dan tidak ada yang bersuara. Mereka menatap tidak percaya pada gadis itu yang sudah menurunkan kakinya, dan menatap mereka tanpa ada rasa bersalah.
"Kamu...." Feron mengedipkan matanya beberapa kali masih tercengang melihat kelakuan teman minim akhlaknya itu.
"Kamu bilang tendang, jadi aku tendang, kan kamu yang punya taman ini?" ujar Arya dengan polosnya.
Feron menepuk keningnya dan berkata: "ini adalah taman ayah ku, bukan milikku!"
Tiba-tiba senyum Arya menegang.
"Jadi--"
"Apa yang terjadi disini?"
dari arah belakang mereka tiba tiba Kelion datang dan menyela perkataan Arya. Dia membawa beberapa orang bersamanya.
Arya sedikit merasa bersalah dan perlahan mundur.
"Hehe, tidak ada paman Kaisar!" ucap Arya dengan cengengesan. Tangannya ditaruh nya dibelakang dan dengan perlahan mengeluarkan sihirnya dan mengangkat pintu gerbang itu kembali ke tempatnya.
Feron dan yang lainnya sedikit melirik kebelakang dan mengerutkan kening.
Itu hanya bersender saja?
"Paman Kaisar, kami ingin masuk kedalam, tapi kami tidak bisa membuka pagarnya, bisakah kamu membantu kami?" terselip pikiran licik Arya membuat Feron menoleh.
Ah... Begitu...!
"Iya, ini kan taman milikmu, seharusnya kuncinya ada padamu?" kata Feron mengikuti arus permainan yang dibuat oleh Arya.
"Baiklah" kelion mengangguk dan mengeluarkan kunci dari kantung pakaiannya.
Ketika dia menyentuh pagar untuk memasukkan kuncinya, Tiba-tiba pagar itu langsung roboh, dengan bunyi yang keras.
Kelion Tertegun.
"Pftt...ahem... Ayah! Apa yang kamu lakukan? Kamu merusak pagarnya?!!" Feron adalah orang pertama yang menyadarkan Kelion dengan cara meninggikan nada suaranya dan berpura-pura tidak percaya. Dia menahan tawanya mati-matian agar ayahnya tidak mendengarnya. Sedangkan Arya menyenderkan kepalanya di punggung Delvan dan bahunya bergetar menyembunyikan tawanya yang juga hampir meledak.
Ujung bibir Kelion yang sedikit terbuka bergerak gerak, sepertinya dia merasa jika dia dipermainkan.
Dia menoleh kearah belakang menatap semua orang yang ada dibelakangnya.
"Ulah siapa ini?" tanya Kelion dengan nada berbahaya.
Ketika dia bertanya matanya menajam menatap mereka semua.
Semua orang saling pandang dan dengan serempak menunjuk padanya. Kelion membulat kan matanya tak percaya.
"Kan cuma anda yang memegang pagarnya, baginda!" ujar salah seorang dari orang yang dibawa oleh Kelion.
"Ck, sudah lah ayah! Mungkin para pelayan penasaran dan mencoba membukanya mungkin?" sahut Feron menggosok rambutnya acak.
"Cih, ayo masuk!" ujar Kelion memimpin jalan.
hehe, Arya selamat, lempar batu sembunyi tangan!!
________________________________________________________________
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
______________________________________________________
Jangan lupa tulis komentar dan beri like.....