The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
SANDIWARA



Setelah keluar dari ruang Zaint, Arya bergegas untuk menaiki kereta yang didalamnya sudah ada dua bersaudara. Mereka menyapa Arya dan kereta pun melaju.


Saat hampir sampai Arya mulai mengatur ekspresinya agar terlihat menyedihkan. Dia bersaudara yang duduk disampingnya memutar mata malas.


Ck, topeng terossss....!!!


Mereka sudah biasa melihat pemandangan Arya yang terlihat seperti teratai putih, tapi nyata nya gadis kecil itu adalah Venus, Tumbuhan 'karnivora'


Tak lama mereka menempuh perjalanan akhirnya mereka tiba ditempat kediaman yang sudah bukan kediaman lagi karena ulah Gadis cantik bersurai merah yang kini sudah mulai turun dari kereta. Dia menggunakan pakaian dress uang terlihat cantik walau pun dia tidak mau. Dia terpaksa karena dia dilarang menggunakan pakaian rakyat oleh ayahnya sendiri. Alasannya sederhana yaitu, "kamu sudah jelek jangan pakai pakaian yang sama jeleknya seperti dirimu". Ya itu adalah perkataan yang sederhana tapi sangat sarkastik yang sering dilontarkan oleh Zaint untuk Arya.


Nusuk banget lah woy?!!


Back...


Setelah turun dari kereta Arya melihat kakeknya yaitu marques yang sedang marah ke kebawahannya.


"Salam Kakek..." Sapa Arya sopan


"Ah, putri apa yang anda lakukan disini?!"


"Hm...tadi saya mendengar dari para pelayan istana, kalau kediaman kakek hancur. Sebenarnya siapa yang melakukannya, dan... Kenapa?"


Arya mulai memulai pertunjukan yang menarik, dia sudah memasang tampang menyedihkan membuat semua jadi ikut prihatin. Tapi pada kenyataannya dia tersenyum evil didalam hatinya.


Dia mulai memainkan perannya lagi sebagai putri lemah tak berdaya yang sangat dia kuasai. Dua bersaudara benar benar hampir tertawa melihat permainan yang sudah memulai pemanasan nya itu.


"Apakah itu musuh kakek atau orang yang berniat buruk pada kakek? Atau itu karena saya, makanya mereka ingin menyakiti kakek? Kalau karena saya, ma-maka saya akan meminta maaf pada kakek, hiks....!"


Arya sudah memberikan petunjuk tapi apalah daya mereka malah salah pengertian. Dan pada akhirnya Arya benar benar mengeluarkan air mata buayanya yang benar benar membuat semua orang terkejut, tapi tidak dengan dua bersaudara, mereka malah menikmati pertunjukan yang terlihat agak dramatis akibat ulah Arya.


Wow, sepertinya dia bisa diberikan lima bintang penuh jika ini adalah pertunjukan drama.


"Tidak itu bukan salah putri! Saya yakin jika ini adalah ulah para b4jin94n b3d3b4h itu! Aku sangat yakin itu!!!"


Tanpa disadari oleh siapapun disana, Arya tersenyum menyeringai dan terus mengeluarkan air matanya.


"Jadi... Apakah kakek tidak marah pada ku? Kalau saja kemarin aku tidak berkunjung maka...." Ujar Arya dengan wajah kusut yang dibuat buat.


"Apa maksud anda putri! Itu tidak benar! Ini semua benar benar bukan salah anda!" Ujar Marquis lantang. Jika saja dia tahu jika cucunya lah yang telah menghancurkan kediaman nya yang berada diibu kota, bagaimana kah ekspresinya nanti? Haha, pasti akan seru.


"Be-benarkah? kalau begitu biarkan para kesatria Kekaisaran yang menyelidiki masalah ini! Kakek tidak perlu khawatir" Arya mulai memainkan permainan inti nya yang sebenarnya sedikit menarik.


"Ti-tidak, tidak perlu putri, kesatria disini pun bisa menyelidiki masalah ini!" Wajah Marquis Vintaics menjadi pucat ketika Arya menyebutkan kesatria Kekaisaran, dia takut jika mereka menemukan bukti rencana miliknya. Jika sampai ketahuan makan dia akan mati dipenggal.


Tidak, mereka tidak boleh mengetahui semua itu!!! Tidak!!!


"Tapi kakek ayah sudah mengirim mereka kemari, jika mereka tidak menyelidiki masalah ini apa gunanya mereka disini? Bolehkan kakek?" Ujar Arya menunjuk para kesatria yang berdiri tegap dibelakangnya.


Sebelum kemari dia mengatakan sesuatu kepada Farel untuk menyampaikannya ke Zaint yang masih bersama dengan Rechan diruang kerjanya. Dia meminta beberapa kesatria untuk mengikutinya dari belakang. Farel juga ikut, dia yang memimpin pasukan tersebut.


"Tapi... Putri itu tidak perlu" Ujar Marquis mulai merasa takut didalam dan tenang diluar.


"Maaf menyela tuan Marquis, tapi Anda tidak bisa menolak permintaan Putri, tuan Marquis. Anda paham kan?" Farel menyela karena dia tidak suka penolakan terhadap seorang putri kaisar.


Farel sebenarnya tahu masalah ledakan itu karena dia kemarin melihat wajah sumringah Gadis itu yang baru saja keluar dari ruang kerja Zaint membuatnya curiga. Dan benar saja keesokan harinya ada berita ledakan di kediaman ibukota Marquis Vintaics, entah mengapa rasanya hatinya terasa bangga entah sebab apa.


Memang satu Istana Kekaisaran gila, kan?


Marquis yang mendengar teguran dari Farel pun benar benar pucat, dia benar benar tidak memiliki darah diwajahnya. Arya yang melihat itu menundukan wajahnya dan menyeka air matanya, tapi pada kenyataannya dia tersenyum miring.


Ini sedikit menyenangkan bukan, kakek?!


"Tuan Marquis, sepertinya Putri Arya sedikit kepanasan, kalau begitu kami akan mengantarnya kembali!" Ujar Evan sopan sambil membungkukan tubuhnya setelah dia maju dua langkah dihadapan Arya.


"Ah, baiklah" Marquis sedikit tersentak ketika melihat mata milik Evan yang terlihat seperti predator yang sudah mengunci mangsanya.


Tiga sahabat itu pergi ke kereta mereka yang tadi, sementara para kesatria mulai menyelidiki kediaman Marquis.





Dikereta...


Sesampainya mereka dikereta mereka benar benar melepas beban yang sedari tadi mereka tahan.


Hahaha...!!!


Yah mereka tertawa bersama mengingat kejadian yang tadi. Menurut mereka tadi itu sangat menyenangkan. Apa lagi, saat melihat wajah pucat Marquis, mereka benar benar terhibur.


"Tadi itu... Sangat hebat!!" Ucap Lili sambil tertawa gembira.


"Kau luar biasa Arya!!?" Ucap Evan sama senangnya seperti Lili


"Benar apa lagi ketika kau menangis!! Kau terlihat sangat menyedihkan! Sungguh kau benar-benar hebat!!!" Lili kembali menimpali perkataannya dan juga perkataan kakaknya, Evan.


"Yah, siapa dulu? Arya~ haha" Arya berkata sambil tersenyum miring.


Berani bermain, berarti berani kalah!


"Baiklah, Sudah-sudah, jangan dibahas lagi! Nanti bisa bisa kita mati konyol, lagi!" Ujar Evan mengakhiri acara tertawa ria mereka.


Ngomong-ngomong tentang mati konyol Arya jadi teringat tentang pemuda yang dia lihat saat kehidupan pertamanya yang lewat didepannya sambil sempoyongan karena mabuk, salah jalan, bukannya lurus dia malah belok, kan jadinya ketabrak mobil, terkempal ke pinggir jalan, trus itu mati, masuk kuburan, ketemu malaikat, habis tu masuk neraka~ tamat~. Mengingat saat itu membuat Arya terkekeh pelan.


"Hm... Baiklah. Jadi, kemana kita akan pergi?" Tanya Arya mengangkat alisnya dan bersedekap dada, menopang kakinya di kaki yang lain dan bersender ditempat duduk. Layaknya seorang CEO angkuh yang sedang mendengar laporan dari bawahannya.


"Bagaimana kalau kita pergi kepasar? Hari ini kan ada pasar malam?" Lili memberi saran.


"Kau benar! Aku juga sudah minta ijin dengan ayah kutub ku itu!" Ucap Arya yang kembali tersenyum lebar.


Apakah mereka tahu seberapa senangnya Arya ketika diberi izin, ekhm sebenarnya ga dikasih izin sih, kan dia langsung kabur setelah bertemu dengan Kaisar Theodore. Jadi ya sudah ayahnya paling tidak akan menghukunnya untuk membaca 10 buku semalaman.


Sebelum mereka kepasar mereka menutup diri dengan jubah yang memiliki tudung panjang untuk menutupi sebagian wajah mereka.



Yang minta up nya dibanyakin.