
Sementara itu di tempat arya...
Selama dua minggu dia terkurung di ruangan itu bahkan untuk makan dan minum pun hanya bisa sekali dalam sehari. Arya tidak terbiasa dengan makanan itu pun merasa mual setiap memakan makanan itu.
Hari ini arya kembali menjalani kelas rasa neraka itu. Pakaian putihnya pun sudah ternoda oleh darahnya. Tapi itu tidak meninggalkan bekas karena kondisi tubuhnya. Setiap kali dia diberi pertanyaan dia pasti tidak ingin menjawabnya. Dan karena marah sekaligus kesal biasanya mereka akan mencabuk punggungnya. Tak jarang menyayat-nyayat tubuhnya sampai bahkan siapa pun merasa tak tega melihatnya.
Arya sudah terbiasa seperti itu dari kehidupan dahulu nya. Jadi dia hanya diam menikmati setiap penyiksaan yang mereka berikan padanya. Dia tidak pernah sekalipun berteriak ataupun menagis, karena baginya itu adalah hal yang tidak berguna, dan mungkin itu bahkan bisa membuat mereka semakin menggila menyiksanya.
Semakin mereka gencar menyiksa nya, maka, semakin tinggi pula gunung kebenciannya dan juga keinginannya untuk membunuh mereka. Dia tidak pernah membiarkan orang yang telah menyakitinya untuk hidup sedetik pun. Tapi, saat ini, dia ingin melihat apakah tubuhnya masih bisa menanggung rasa sakit yang sudah menjadi makananya sehari-harinya dikehidupan dulu.
"Apa prinsip seorang kaisar?"
"... Harus manjadi pemimpin yang baik"
Heh...
Cetlar...
Cetlar...
Dua cambukan mendarat tepat di punggungnya, dan dia hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya hingga sedikit mengeluarkan darah.
Sial, tubuhnya masih terlalu kecil untuk menerima semua penyiksaan itu!
"Seorang kaisar Roseland harus memiliki hati sedingin es, dia tidak boleh baik pada siapapun termasuk pada anaknya. Dia tidak bisa memaafkan musuhnya dan juga merteman dengan musuhnya. Kaisar Roseland tidak bisa bersikap seperti anda, semua Kaisar Roseland harus memiliki sikap kasar dan kejam!"
"Oh, harus memiliki sikap kasar dan kejam? Baiklah, ini semua sudah cukup! Sekarang sudah waktunya aku mengakhiri semua ini."
Arya berkata sambil berdiri membersihkan tangannya dari debu. Dia menatap santai kearah lima orang yang sedang memperhatikan nya dari samping, lalu dia tersenyum menghina yang sudah jelas ditunjukkan untuk mereka semua. Dia mengulirkan tangannya untuk menyentuh alat pengekang di lehernya.
Heh, rasanya seperti kalung anj1n9!
Crak...
Dan didetik berikutnya kalung itupun hancur berkeping-keping keping bahkan menjadi debu. Kelima pria tegap itu tertegun melihat pemandangan didepan mereka. Arya yang melihat itu pun tersenyum remeh melihat itu. Dia dengan cepat mengambil pedang yang ada pada salah satu orang itu.
Arya yang sudah mendapatkan pedang itu tersenyum semakin lebar. dia melirik kearah mereka dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Heh, karena alat pengekang nya sudah lepas, sudah saatnya menunjukan bakat seorang Arya!
Saat mereka semua baru saja sadar dari keterkejutan mereka mereka pun kembali kaget ketika melihat Arya yang sudah diselimuti aura membunuh di sekujur tubuhnya. Bahkan pedang nya pun juga sudah diselimuti dengan Aura Merah pekat darah.
Cras...
Satu kepala menggelinding dihadapan mereka ketika Arya memenggal kepala mereka. Dia tersenyum senang dan memiliki ekspresi layaknya seseorang yang haus akan darah. Belum sempat mereka semua bereaksi salah satu dari mereka pun sudah mati ditangan Arya.
"Jadi, bagaimana? Apakah aku kurang kejam? Ah, iya kenapa aku tidak melakukan hal sama yang seperti kalian lakukan padaku ya?" Ujar Arya mengelus pedang ditangannya. Bahkan seluruh tubuhnya yang sudah berlumuran darah pun kembali terkena darah muncratan dari korbannya itu. Bahkan wajah baby facenya pun juga ternoda oleh darah.
Arya maju mereka mundur, Arya mulai berjalan cepat mereka pun terjatuh dan memohon maaf dari nya. Tapi sayang beribu sayang arya tidak menggubris meraka sama sekali karena saat ini dia sudah dikuasai oleh kemarahan kekesalan.
Beraninya mereka memohon ampun setelah mereka membuatnya seperti ini?!
Setelah pembunuhan yang pertama kini Arya menuju pada pria yang memegang cambuk. Pria tersebut gemetar ketakutan ketika melihat Arya yang berlumuran darah.
Pertama-tama Arya memotong tangan pria itu.
Aaaaaaakh.... TIDAAAK TANGAN KUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Lalu dia memotong lehernya. Ya memang semua orang disana memiliki porsinya masing masing. Saat ini Arya masih berlaku baik, karena jika dia masih lah 'alice', maka dia akan merebus mangsanya hingga matang dan memberikannya pada dua serigala kesayangannya.
Lalu pandangan Arya mengarah kearah ketiga perua tersebut dan bernyanyi.
"Tiga ekor monyet manjat dipohon
Monyetnya nakal ambil topengmu
Pawang, pawang
Ambil pisang mu
Siapa yang kutunjuk
Siap ber, ma, in...
Kau, sini maju, sini!" Arya sangat girang ketika selesai menyanyikan lagu yang gak jelas itu.
Orang yang ditunjuk olehnya adalah orang yang menggunakan tangannya untuk menampar nya.
Crass...
Aaaaa akhh...
Itu adalah pembalasan karena sudah berani menyentuh wajahnya.
Dan dia tidak dibunuh oleh Arya tapi dia dibiarkan seperti itu. Arya melihat sekelilingnya dan menemukan baskom air panas. Dia mengambilnta dan menumpahnya pada pria yang baru saja dipotong tangannya oleh Arya. Arya menumpahkan nya tanpa merasa bersalah sedikit pun, baginya itu masihlah terlalu ringan untuk nya dan dia berniat mencari sesuatu yang bisa di digunakan untuk menyayat tapi sebelum itu terjadi pria itu menemukan sebuah pisau kecil dan menusuk jantungnya. Arya membelalakan mata nya karena terkejut. Dia tidak menyangka orang ini akan memilih mati duluan ketimbang disiksa oleh Arya.
Apa yang tanam itu yang kau tuai...
Arya menghela nafasnya dia menatap nyalang kearah dua lainnya. Dia tidak Terima jika mereka juga akan melakukan percobaan bunuh diri, jadi Arya langsung berlari dan memotong mereka menjadi dua. Pemotongannya rapi bahkan organ dalam tubuhnya pun masih utuh.
Setelah dia menyelesaikan semua nya dia berjalan keluar. Tempat itu berada ditempat terpencil yang dikelilingi hutan tapi jika tidak salah hutan ini dekat dengan wilayah kekuasaan Archduke. Tapi Arya tidak tahu siapa pemilik archduchy itu, Karena dia tidak pernah menemukan di mana pun, bahkan perpustakaan Kekaisaran pun hampir tidak ada. Ruang arsip dia bahkan baru membuka ¼ dari ruangan seluas hampir satu hektar tanah bahkan lebih besar lagi kemungkinan.
Dia berjalan terhuyung-huyung bahkan hampir jatuh tapi dia berhenti, lalu tertawa dingin. Konyol, bagaimana bisa dia merasakan sesuatu yang terus menatapnya secara intens.
Ada yang mengawasinya?
Tapi biarpun dia berputar berapa kali dia hanya menemukan rindang nya pepohonan, karena sudah hampir larut dia berbalik dan mengangkat tangannya sedada jari telinjuknya terangkat menujuk kearah bangunan itu. dia bergumam sebuh mantra dan bangunan kelas itu pun berguncang hebat dan akhirnya roboh dan rata dengan tanah.
Disisi lain ada seorang gadis yang melihat pemandangan itu pun kagum, dia tidak menyangka gadis yang terlihat lebih tua darinya(?) menghancurkan sebuah bangunan dengan begitu mudahnya.
Dia awalnya kesini karena dia hanya merasa bosan selalu berada di Mansion milik ayahnya. Dia ingin pergi keluar dan tiba tiba dia melihat anak perempuan keluar dari bangunan itu. Tubuh yang berlumuran darah dan wajah yang terlihat dingin itu berjalan terhuyung-huyung dan diam. Awalnya dia kaget tapi dia tetap bersikap tenang. Dia terus menatap gadis itu intens.
Saat dia masih memperhatikan gadis itu, gadis itu berbalik dan merobohkan bangunan itu dengan mudahnya. Dia terkejut.
Seberapa kuat sebenarnya gadis itu?
&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&-&
Yang minta up nya dibanyakin