
Malam, pukul 19.47
Alican melepas pelukan nya dengan perlahan dan mengusap air matanya. Dia masih sedikit sesenggukan tapi dia sudah berhenti menangis.
Sonya mendekati Alican dan menepuk kepala anak itu sembari menggosoknya.
"Hehe, aroma manis buah dan coklat yang dipadukan dengan aroma dingin yang menyegarkan dari mint membuat ini terasa seperti nostalgia" ucap Sonya terus menggosok kepala Alican.
Alican mengernyit dan langsung menepis tangan Sonya dengan kasar. Dia sudah cukup lama tidak terlalu menyukai wanita dihadapannya ini sejak wanita itu melarangnya untuk muncul.
"Jauhkan tangan kotor mu itu dari kepalaku, sudah berapa kali aku katakan a.ku.mem.ben.ci.mu!" ucap Alican dengan sangat tajam.
Sonya mengangkat tangannya dan tanpa sadar mundur kebelakang dua langkah.
Dasar bocah menakutkan!
Dia mulai mengenal Alican sejak dia tidak sengaja berpapasan dengan nya saat dia berada di rumah kakaknya. Sebenarnya kakaknya yang merupakan ayah dari Alice dan Alican itu adalah kakak sepupunya. Walau begitu tetap saja Alice a.k.a Arya itu adalah keponakannya.
Saat itu dia tidak sengaja melihat Alice(Arya) membawa bungkusan aneh masuk dengan terburu-buru hingga tidak sengaja menabraknya.
Ok, Flashback...
Saat ini Fesya(Sonya) baru saja sampai dari luar negeri setelah mengurus kelulusannya. Dia memilih untuk mengunjungi kakak sepupunya yang sudah beberapa tahun tidak dia temui.
Jadi saat memasuki mansion besar itu dia mencoba untuk mencari keponakan kesayangannya. Perbedaan usianya dan keponakannya itu adalah 2 tahun jadi mereka jadi sangat mudah untuk bergaul.
Bruk...
"Ouch! Pinggangku encok!?" ucap dramatis seorang gadis yang tiba-tiba menabrak Fesya(Sonya) hingga jatuh.
"Aduh, bisa tidak jalan itu pakai mata! Kakiku keseleo si*alan!" Fesya(Sonya) dengan tertatih-tatih mengangkat kakinya yang tidak sengaja di sleding kakinya yang lain hingga jatuh.
"Maaf-maaf, saya buru-bur-- eh aunty?!" gadis yang tak lain Alice(Arya) itu langsung terkejut ketika melihat Fesya(Sonya) yang lagi kesakitan.
"Ugh... Loh Cece ngapain kamu cepat-cepat gitu sih jalannya?" tanya Fesya(Sonya) yang kakinya masih agak nyeri. Ya memang saat masih kecil Alice(Arya) itu dipanggil Cece tapi semakin besar dia akan dipanggil dengan nama lengkapnya kok.
"Eh, umh, gak apa-apa! Aku pergi dulu!" jawab Alice(Arya) dengan gelagapan dan langsung membawa bungkusan aneh nya kamarnya.
Saat ini usia Alice(Arya) sekitar 10 tahun, sedangkan Fesya(Sonya) sekitar 12 tahun.
Fesya(Sonya) mengernyit dan memandang Alice(Arya) dengan mata menyipit dan penuh tanya.
"Apa itu? Kok aneh?"
Karena penasaran Fesya mengikuti Alice hingga ke kamar nya dan mengintip dibalik celah. Kamarnya Alice(Arya) tidak pernah gelap karena dia tidak menyukai kegelapan.
Alice(Arya) tidak suka kegelapan karena dia takut. Dia takut jika didalam kegelapan tiba-tiba ada sesuatu yang menakutkan. Bagaimana jika ada sesuatu yang tidak diketahui didalam kegelapan tiba-tiba melahap nya? Ya, pikiran yang terkadang overthinking itu membuat nya seperti paranoid. Dia juga suka mendengarkan musik baik ketika dia yang bernyanyi atau musik dari handphone nya, intinya dia juga takut kesunyian.
Apa kalian ingat mainan gantung yang ada dikamar Arya, nah itu dia putar-putar agar bisa mengeluarkan suara, biasanya tertiup angin pun akan berbunyi.
Alice(Arya) juga sangat suka keramaian, tapi dia tidak berani untuk membaur didalamnya. Dan sekarang sudah berbeda, Alice yang sekarang sudah dikenal sebagai Arya kini sudah menganggap keramaian adalah tempat paling damai untuknya melepaskan kebiasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fesya(Sonya) menelusuri seluruh ruangan hingga dia tidak sengaja melihat kearah beberapa obat yang tidak diketahui di atas nakas samping sebuah cermin besar.
"Apa ini?" gumam Fesya(Sonya) meneliti obat apa itu.
"Seperti kenal? Tapi kenapa tidak ada namanya?" gumam Fesya(Sonya) pada dirinya sendiri.
Dari arah belakang Alice(Arya) memandang Fesya(Sonya) dengan cara yang tidak bisa diartikan. Dia merebut obat yang ada ditangan Fesya(Sonya) dengan kasar.
"Beraninya kamu memasuki kamarku sesuka hati mu!? Apa kamu mau mati!!?" ucap Alice(Arya) memandang Fesya(Sonya) dengan tajam. Dia mengacungkan sebuah carter dengan darah ditangannya kepada Bibinya seperti itu bukanlah masalah besar.
Fesya(Sonya) yang terkejut langsung mengangkat kedua tangannya dengan perasaan ngeri.
"He-hey itu da-darah siapa? Tolong tur-turunkan~!" kata Fesya(Sonya) dengan gugup.
"Aku ini Aunty mu loh anak curut!!"
Alice(Arya) menurunkan carter nya dan langsung menyembunyikan obatnya kedalam nakas.
Dia berjalan melewati Fesya(Sonya) dan melempar carter nya ketempat sampah. Dia melirik sedikit sebelum keluar.
"Tutup mulut busuk mu sebelum aku yang menutupnya!"
Fesya(Sonya) mengelus dadanya dan bergumam...
"Huft, kenapa sifatnya berubah? Dan darah siapa itu?"
Fesya(Sonya) memutar tubuhnya dan menelusuri seluruh ruangan hingga dia menemukan sesuatu yang janggal.
"Tadi dia melempar carter nya ketempat sampah kan?"
Dia dengan cepat membuka tempat sampah itu hingga matanya membelalak menatap isi didalamnya.
Semua isinya adalah carter yang berlumuran darah, tak terkecuali satupun.
"Apa yang terjadi dengan semua carter nya?!"
Dia butuh penjelasannya....!
Fesya(Sonya) dengan cepat menuruni tangga dan mencari di mana keberadaan Alice(Arya).
"Ah, nona Fesya? Nona sedang mencari apa?" tanya salah satu pelayan di Mansion itu.
"Dimana Alice? Kau melihatnya?" tanya Fesya(Sonya) dengan cepat.
"Oh, nona Alice, tadi saat Nona baru turun, Nyonya langsung menarik nona keluar" pelayan itu mengingat apa yang tadi dia lihat.
"Kemana, kemana kakak ipar membawanya?"
"Ah, saya tidak tahu!"
Fesya(Sonya) memasuki mobilnya dan menyuruh sopir nya untuk duduk di kursi sampingnya dan dia duduk di kursi pengemudi.
"No-nona, apa yang anda ingin lakukan?"
"Diam, kemana Sisca Jalan* itu membawa Alice?"
Sedari dulu Fesya(Sonya) itu tidak pernah menyukai ibu dari keponakannya itu. Menurutnya, wanita itu adalah wanita yang sangat munafik dan bermuka dua.
"Itu... Saya kurang yakin tapi sepertinya mereka pergi kearah timur(?)"
Fesya(Sonya) memasang sabuk pengamanannya. Dan langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Sopir yang masih mencintai hidupnya be like: "Nona jika anda ingin mati silahkan mati sendiri, jangan bawa-bawa saya! Hutang-hutang saya masih banyak yang belum lunas, saya juga masih banyak tunggakan cicilan!"
Fesya(Sonya) dengan kesal semakin melajukan mobil itu hingga kecepatannya di atas 200km/jam.
"Jangan curhat, aku juga banyak kali tunggakkan tugas untuk masuk Univ, tahu!"
Tanpa disadari oleh Fesya(Sonya) ternyata mereka sudah beberapa kali melakukan pelanggaran lalu lintas, salah satunya adalah menerobos lampu rambu lalu lintas yang menyebabkan beberapa kendaraan mengalami kecelakaan.
Wiuw... Wiuw... Wiuw...
"Tuh kan nona, kita dikejar polisi!!!" seru sopir itu dengan paniknya.
"Jangan panik, jangan panik, woi!! Diam kubilang jangan panik, aku kan jadi panik juga!"
"Ahh, bagaimana kalau tertangkap? nona harus tanggung jawab!" ucap sang sopir terus memutar kepalanya untuk melihat beberapa mobil polisi sedang mengejar mereka.
"Dih gak mau! Kamu kan sudah dewasa dan aku masih anak dibawah umur, jadi kamu yang harusnya tanggung jawab, dong!?" sewot Fesya(Sonya) terus menggas mobilnya
"Kan nona yang bawa mobilnya?"
"Loh? Tapi kan kamu sopir nya?!" ucap Fesya(Sonya) tak mau kalah
Dan berakhirlah dengan kejar kejaran antara Fesya(Sonya) dan para polisi.
Fine, flashback off.
"Hey, kau mendengar ku tidak, kok malah melamun?" ujar Alican dengan nada tinggi.
Sonya tersentak sebentar dan linglung untuk sementara. Apa yang dia pikirkan tadi?
"Ah, apa?" tanyanya menoleh dan menatap wajah kesal Alican.
"Dari tadi kamu benar-benar tidak mendengarkan ku?!" ucap Alican dengan wajah gelap menahan kesal.
"Maaf, tapi... Aku hampir lupa! Obat apa yang dulu ada di kamar mu?" tanya Sonya secara spontan membuat Alican terdiam.
"..."
Jika boleh jujur dia tidak bisa bilang pada semuanya kalau itu adalah obat penenang yang diberikan Xionel(ayahnya Alice). Obat yang digunakan setelah melakukan 'pemeriksaan'.
"Entahlah"
Sonya menyipitkan matanya dan kembali bertanya.
"Lalu, bagaimana dengan tempat sampah penuh carter?"
"..."
"Aku memang belum sempat bertanya gara-gara aku lupa(soalnya dia masuk kantor polisi, makanya lupa) tapi itu banyak banget loh?"
".... Kau kan sudah tahu, Arya melampiaskan semua emosinya apa tubuhnya atau orang lain"
"Bahkan kau juga sudah tahu hubungan yang tidak seharusnya ada malah menjadi ada"
"Jangan lupa satu-satunya orang yang tahu darah wanita jal*ng itu selain mengalir di tubuhku juga ada ditubuh orang lain"
Deg....
Sonya seketika kehilangan kata katanya, Alican juga sangat membenci ibunya.
"Wait-wait! Mengalir ditubuh orang lain? Apa maksudnya?" sahut Hayeo tiba tiba menimbruk pembicaraan mereka berdua.
"Tanya saja padanya?" tunjuk Alican pada Sonya.
"Hah?!"
"Cepat katakan!!" Hayeo dengan kasar menggebrak meja membuat semua orang tersentak.
"Apa?"
"Gak usah pura-pura ogeb kao!!?"
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
hay samua apa kabar?
ipar lagi di kelas nih
masih sepi, soalnya hujan, ehe😅
like and komen🥰🥳🥳