
Zaint yang merasakan jika anaknya tidak ada pun membuka matanya. Malam ini bulan bersinar indah menerpa seorang gadis yang berdiri didekat jendela. Zaint menatap anaknya dengan mata sedikit melebar, putrinya itu terlihat seperti kloningan nya sendiri. Dia menatap anaknya yang Lagi-lagi dia melihat anaknya menatap kosong ke langit.
Sebenarnya dia kenapa sih?
Lagi-lagi terlihat seperti orang yang kehilangan?
Zaint berdiri dan melangkah mendekati anaknya. Dia mengusap pelan kepala putrinya itu. Dapat dia rasakan tubuh putihnya itu tersentak kebelakang karena terkejut.
"... Ayah?" Dia kira hantu.
Ketika mendengar suara putrinya dia merasakan kesenangan tersendiri didalam hatinya.
Ya, dia memiliki seorang putri sekarang.
Dia bukan dirinya yang dulu yang selalu haus akan darah.
Sekarang dia memiliki anak untuk dia jaga.
Dulu dia tidak berniat memiliki anak dan sekarang... Rasanya pipinya sakit karena tamparan. Haha, Zaint yang dulu sudah benar benar mati ditelan bumi.
"Kau kenapa?" Tanya Zaint memegang dahi Arya.
"Tidak apa-apa, aku hanya bosan. Hm... Ayah kapan kita pulang?" Kata Arya yang menatap nanar Zaint.
"Besok pagi jemputan kita akan datang, kamu tidurlah dulu!" Ucap Zaint.
"Tidak aku sudah kehilangan nafsu tidur ku! Bagai mana jika kita keluar jalan-jalan?" Tanya Arya dengan senyum kecil.
"Hm"
"Ayo"
Arya berjalan sambil menggandeng tangan Zaint keluar dari kamar dia menyusuru lorong mansion besar itu dan sampailah mereka ditaman bunga dibelakang mansion.
Arya yang secara alami menyukai bunga pun langsung berjalan menyusuri pinggiran taman bunga dan berbalik menghadap Zaint.
Pakaiannya dan juga rambutnya berkibar ketika tertiup angin malam yang sejuk. Dia tersenyum simpul dan berbalik menatap ayah nya yang melihatnya dengan tatapan tertegun. dia menyelipkan rambutnya yang menghalangi wajahnya kebelakang telinga.
Sangat cantik!!
Zaint sedari tadi mengikuti anaknya hanya diam dan menatap anaknya. Ketika dia melihat anaknya bahagia, dia pun juga bahagia.
Apakah ini kebahagiaan memiliki seorang anak perempuan?
Dia berharap saat saat ini tidak pernah terlupakan seumur hidupnya. Dia hanya memiliki satu anak perempuan dan itu adalah Arya. Tapi dia masih memiliki dendam kepada para pelayan di istana Kekaisaran, karena sudah berani menyimpan rahasia sebesar itu darinya.
Daya tahan tubuh lemah?
Jika mereka berani menyembunyikan hal lainnya dari dirinya, mengenai putrinya, dia tidak segan segan membunuh mereka!!!
Arya hanya diam menikmati malam yang semakin larut. Dia kembali menatap kosong langit dengan pikiran yang kembali berkelana.
"..." Sepertinya... Pikiranku makin tidak dewasa saja setiap hari!
"Ayah, kau... Adalah_____"
Woooshh...
Ketika Arya mengucapkan ucapannya tiba-tiba angin bertiupan kencang. Zaint binggung ketika mendengar perkataan putrinya yang tiba tiba menghilang ketika dia berbicara.
Angin s14l4n!!!
"Ayo kembali kedalam ayah, angin sudah semakin kencang. Aku tak ingin mati kedinginan di luar sini!"
"Oke"
•
•
•
Saat ini Arya dan juga Zaint akan kembali ke istana mereka berpamitan kepada Archduke dan juga Kesha yang mengandung harimau kecil di pelukannya. Arya meminta tolong pada Kesha untuk menjaga bayi harimau itu. Awalnya Kesha menolak dengan alasan Arya lah yang telah membantu persalinan dan dia hanya memperhatikan dari samping. Dia tidak ingin mengambil kesempatan milik Arya.
"Tidak, aku tidak ingin menerima harimau ini! Dia seharusnya adalah hewan kontrak mu, dan Bukan aku" Tolak Kesha sambil menyerahkan anak harimau itu pada Arya.
"Ck, Terima saja lah! Aku tidak mau membawanya kembali!!" Arya masih saja mendesak nya.
"Kau tidak menyukai harimau kecil ini kah, sampai-sampai kau menolaknya?" Tanya Kesha khawatir.
"... Iya" Jawab Arya.
"Dia berbohong, pada kenyataannya dia sangat menyukai hewan! Bahkan dia sudah memiliki dua hewan silum-- ehem hewan peliharaan di istana nya." Ujar Zaint menyela pembicaraan mereka berdua.
Sion: "..." He-hewan siluman kan maksudnya tadi?
Arya: "..." Ayah kau terlalu banyak omong kosong!!?
Kesha: "..." Dia punya dua hewan peliharaan?!
"Tak usah didengarkan omongan tak bermutu orang aneh itu! Pokoknya kamu harus membesarkannya, titik!"
"Baiklah aku akan merawatnya dengan baik! Kau tidak perlu khawatir!" Ujar Kesha bertekat.
"Ok, aku percaya pada mu! Jangan kecewakan ku!" Jawab Arya dengan senyum tipis. Dia tidak menyangka gadis dihadapannya itu bisa juga terlihat serius yah?
Perjalanan menuju istana memakan waktu sekitar dua jam. Arya sangat menikmati pemandangan yang terpampang indah didepan matanya. Dengan senyum tipisnya dia memandangi setiap tempat yang dilaluinya menggunakan kereta.
"Ayah, kapan kau akan memberikan ku kuda?" Tanya Arya sambil menopang dagunya. Dan melirik Zaint dengan tajam.
"Tunggu saja jika kau mampu!" Jawab Zaint singkat dan padat.
"Huh! Baiklah"
"Oh iya, jika kau bisa tolong jangan membunuh para pelayan milikku jika kita sudah kembali nanti!"
"Terserah!"
Perjalanan terus dilanjutkan bahkan sudah hampir siang dan akhirnya mereka pun sampai di istana.
Arya langsung pergi ke istana malam untuk melepas rindu dengan kamarnya. Sudah dua minggu dia ada ditempat perantauan(?) Yang jauh, dan akhirnya dia pulang dengan hasil yang memuaskan.
Sementara itu, tempat Zaint...
Setelah sampai di istana Zaint memerintahkan pada Gils untuk memanggil semua pelayan yang terlibat saat kejadian kematian permaisuri dan juga kelahiran tuan putri. Dia ingin mendengarkan penjelasan dari mereka semua.
Lima belas menit kemudian...
Setelah pemanggilan semua orang langsung datang aula singgasana untuk berkumpul. Mereka merasakan Firasat buruk ketika mereka dipanggil.
Apakah kami akan selamat?
Mereka terus berfikir sampai kedatangan Zaint yang langsung duduk diatas kursi kebesarannya. Mereka langsung memberikan salam untuk menyambutnya. Zaint memandang mereka dengan pandangan tajam nan menusuk.
Mereka semua tertunduk ketakutan dengan badan gemetar.
"Kalian... Ternyata kalian cukup berani menyembunyikan tentang kelahiran tuan putri dariku?!" Ujar Zaint santai. Dia menopang dagunya dengan tangan dan menyenderkan tangannya di pegangan kursi.
"Ampuni kami baginda!!!"seru mereka semua ketakutan. Semakin santai Zaint berbicara, semakin besar kemungkinan dia ingin membunuh mereka semua.
"Heh, untuk apa juga aku mengampuni kalian? Apakah itu ada manfaatnya untukku?" Zaint menyeringai kejam.
"Tolong maafkan kami semua baginda!!! Kami mohon!!!" Sekali lagi mereka memohon hidup mereka sambil bersujud.
"Oh? Jangan kalian lupa jika aku mengetahui identitas kalian semua, jika aku mau aku akan mengeksekusi kalian semua saat ini. Tapi... Anak itu meminta untuk tidak membunuh kalian! Entahlah, bagaimana dia bisa tahu jika aku akan membunuh kalian semua?!" Ujar Zaint bergumam di akhir perkataannya. Semua pelayan terkejut, terutama pelayan yang sudah cukup lama bekerja di istana. Mereka tak menyangka Zaint akan mengungkit tentang identitas mereka dimasa lalu.
Zaint tahu jika identitas semua pelayan di istana Kekaisaran bukanlah hanya sekedar para bangsawan yang bangkrut tapi juga memiliki sisi gelap yang pastinya sangat bertolak belakang dengan pekerjaan mereka yang biasa.
"Lina, Tera! Datang ke ruang belajar kaisar nanti" Ujar Gils mengikuti Zaint yang sudah berjalan keluar.