
Selamat membaca + sedikit pertanyaan^^
Dari balik pohon seorang pria dengan tubuh tinggi dan kulit merah terus mengintip pertengkaran dua orang 'aneh'. Wajah nya seperti berkerut cemas, dia cukup pemalu, padahal dia adalah pendamping nya Aryan yang notabenenya kasar, tapi dia? Malah takut akan keramaian, ugh dia merasa seperti tidak berguna.
Perlahan dia melihat Arya yang berwajah kesal, tangannya mengepal-- apakah dia harus mendekat? Tapi orang-orang pasti...
"Woy Ross!! Tolongin!! Pegel ni tangan!!" teriak Arya melihat tangannya sedikit memerah.
Ah, tanpa sadar Yoma bergerak cepat dan mengangkat Aryan dari pangkuannya Arya.
Oh...
Arya tertegun menatap hampa pada kedua tangannya yang tiba-tiba kosong.
Mata dengan netra hijau zamrud itu perlahan terangkat menatap pada Yoma yang sedikit gemetar.
"Kau mengambilnya?" tanya Arya datar.
"Ah i-itu..." jawabnya gagap.
"Huh, baguslah, untung saja masih ada yang bisa diandalkan?"
Rosiel yang masih tatap-tatapan dengan Kakek Damien merasa tertohok mendengar ucapan gadis itu.
"Apaan tuh maksudnya??"
"Kau... Gak guna!"
Arya memimpin jalan dan berbalik untuk pergi. Langkah kakinya berhenti saat dia menoleh.
"Kakek, saya ingin rebahan dulu jangan ganggu!"
"Terserah saja, masih ada tiga hari empat malam lagi untuk kembali jadi puaskan saja hatimu"
Arya melambaikan tangannya saat dia mulai berjalan lagi, beberapa kali terdengar suaranya yang sedang bertengkar dengan Rosiel
Kakek Damien menatap lurus pada bayangan cucunya itu. Dia tersenyum miring. "Kau melihatnya Zaint? Itu adalah sosok muda kaisar ke-13 yang akan membawa Kekaisaran kejalan yang penuh ■■■■■"
Zaint berkedip dia tidak bisa mendengar apapun kata terakhir yang diucapkan oleh kakek didepannya.
"Kau mungkin akan menatapnya kesal saat ini, tapi saat dia perlahan dewasa hanya ada ■■■■ yang kau rasakan saat menatapnya"
"Kau tidak akan menyangka anak yang akan kau besarkan itu akan ■■■■■ dihadapan matamu"
"Kau mungkin akan kecewa berat dengannya karena telah ■■■■■ begitu saja"
"Tapi tak akan ada orang tua yang akan tega ■■■■■■■■, walau orang tuanya memerintahkan seperti itu"
"Mungkin kau akan membenci ■■■■■ tapi nyatanya kau tidak akan membencinya, itu hanya perasaan egois mu saja"
Zaint semakin mengerutkan keningnya, banyak kata-kata yang seperti terpotong dalam ucapan kakeknya.
"Kamu tidak akan mengerti, jadi, cobalah lebih dekat dengannya"
"Oh, benar, saat lahir dia hanya sendiri yaitu 'Arya' tapi kamu akan memiliki dua anak setelah 'itu' dilakukan. Aryan akan segera launching"
Tatapan Zaint mengikuti setiap langkah yang dibuat kakeknya. Dia merenung sebentar menatap pada Kelion dan Rechan yang wajahnya tidak bisa diartikan. Ada kebingungan dan keanehan ditatapan mereka berdua.
"Ingin ikut?" tawar Zaint melirik Kelion dan Rechan pergi keluar. Nada dinginnya terdengar seperti biasa tanpa ada kalimat berlebih.
"Tentu saja" balas keduanya mengangkat bahunya acuh tak acuh.
Mereka bertiga keluar dan menyusuri lorong istana yang panjang dan bercabang.
"Kau mengenal anak bernama Arya itu?" tanya Rechan menatap lurus jalan.
"... Tidak"
"Tapi dia mirip kamu tahu, wajahnya seperti cetakan mu, apalagi yang laki-laki nya, mirip banget malahan, apa kau sudah melakukan 'sesuatu'?"
"..."
Swisss... Kecanggungan tercipta diantara mereka bertiga.
Apakah tidak ada yang memiliki pikiran normal? Usia Arya dan Zaint itu terlihat mirip, apakah mungkin membuat anak saat masih bayi? Gak masuk akal!!
Bayi punya bayi gitu? Wkwk!
"Ingin menemuinya lagi?" tanya Kelion memecah suasana karam tadi.
"Ayo saja"
Dengan persetujuan semuanya, mereka pergi menemui Arya dan Aryan dikamar mereka
Tak ada yang berbeda dengan ruangan lainnya, Arya memiliki ruangan yang bagus layaknya kamar tamu istana lainnya. Hanya saja bedanya dengan kamar lainnya adalah aroma manis yang semerbak diruangan itu.
Kelion tersenyum hampa saat aroma itu memasuki indra penciumannya. Bahkan ruangan anak perempuan pun tak akan sedominan itu aroma manis gulanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Zaint menatap Arya yang membolak-balikan sebuah buku
"Mencari buku bagus"
"Tentang? Mungkin aku bisa merekomendasikan sesuatu?" tawar Rechan mendekati Arya.
Gadis itu menurunkan tangannya dan menoleh, "huh, cara mengatur trik dan intrik dalam sebuah hubungan politik negara maju dan berkembang"
"Eh??" Rechan terhenti saat matanya menatap bingung pada Arya.
"Aku hanya bercanda, aku ingin mencari buku khusus pedang dan sihir, siapa tahu ada?"
"Kamu menyukai pedang dan sihir?"
"Tidak juga, hanya saja dua hal itu agaknya menjadi kebiasaan lama" jawab Arya sedikit menarik bibirnya.
"Kebiasaan, ya?"
Arya menarik satu persatu buku dengan judul unik yang tidak ada di istananya.
"Itu untuk apa?" tanya Kelion menatap Arya penasaran.
"Ini? Untuk dibaca, lah!"
Kelion melirik Rechan dan Zaint bergantian. Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. Mungkin dia yang terlalu kekanak-kanakan atau gadis itu yang dewasa sebelum waktunya, siapa yang tahu?
"Hei, tadi namamu Arya, bukan?"
"He'em"
"Kau masuk akademi kan?"
Arya mengangkat alisnya, kenapa dia mengulang perkataannya dengan saat ditaman tadi sih?
"Iya"
"Kau juga memberitahu kami bahwa teman-temanmu adalah anak... Um kami?"
"Mending kalau tidak nyaman gak usah dibahas, nanti risih sendiri" ucap Arya dengan tatapan malas.
"Hei, beritahu kami satu hal!"
"Apa?"
"Kamu kan siswa akademi, jadi kamu pasti tahu organisasi osis kan? Menurutmu itu bagaimana?" tanya Rechan duduk di sofa samping.
Arya mengambil kue kering diatas meja dan membuka lembar pertama bukunya.
"Menurutku ya? Hm... Entahlah... Aku tidak begitu tahu tentang organisasi itu" Arya berkedip perlahan saat dia mengingat sesuatu. Diakan juga anggotanya!
"Mungkin itu akan menyenangkan" gumam Arya tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya mengingat sesuatu yang penting saja"
"Apa itu?"
Kepo banget sih?
"Ehm, aku ingat jika beberapa hari(menit) yang lalu pergantian anggota OSIS telah berlangsung"
"Benarkah?"
"Iya"
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Zaint sedikit curiga.
Arya mengerutkan sedikit alisnya, kenapa ayahnya begitu menyebalkan? Kalau dikasih jawaban tuh mending jangan terlalu dipertanyakan, bisa gak sih?
"Huh... Calon Ayahku dimasa depan... Tolong jangan bertanya, saya tidak tahu harus menjawab apa, ya?"
"Kenapa?"
"Ya karena.... Karena... Uhg mana saya tahu!"
Kek presentasi sejarah, heh!
"Calon ayah? Jadi...?" jari telunjuk kelion bergerak bolak-balik menunjuk Arya dan Zaint. Wajahnya yang tidak percaya itu membuat Rechan menepuk keningnya pusing.
Haha, pantas saja mereka mirip... Ternyata memang sedarah!!!
Zaint tidak terlihat terkejut, karena apa yang di katakan oleh kakeknya sudah membuatnya sadar akan siapa sebenarnya Arya itu.
"Apa, kenapa kalian terkejut?"
"Sifat kalian berbeda!" ujar Rechan masih memegangi kepala nya. Suaranya yang tenang tiba-tiba naik 2 oktaf.
"Aku tahu itu?" angguk Arya membenarkan ucapan Rechan.
"Kembali ke topik, kamu tahu organisasi OSIS, kan?" Kelion duduk dengan cukup sopan disofa, matanya yang seperti lelehan emas itu tampak seperti dicampur madu, cantik dan menggoda.
"... Lumayan?" wow, ternyata ayah nya Feron bisa tegas juga ya?
"Apa saja?"
"Sebenarnya kenapa kalian ingin tahu?"
"Karena kami ingin tahu seperti apa susunan otoritas mereka, kekuasaan mereka bahkan ada dibawah kepala Akademi, bahkan rumor tentang reputasi mereka tidak main-main loh, itu membuat orang penasaran, tahu!"
Arya berkedip membuka halaman buku selanjutnya, "ada sebuah pepatah 'semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik untuk dirimu', itu pepatah lama, tapi itu sama saja seperti menjadi 'semakin banyak yang kau tahu semakin curam jalan yang kau buat'
"Dan aku akan melakukannya, jujur saja aku baru-baru ini tahu tentang OSIS dan itu memang cukup mengejutkan"
"Kekuasaan yang luar biasa, mengeluarkan siswa langsung setelah membuat masalah sebanyak 3 kali, menjadi pusat penilaian untuk guru dan para siswa dan bahkan anggota yang lulus akan mendapatkan 'posisi' ditempat mereka tinggal, sama seperti rakyat biasa yang menaiki tangga menjadi bangsawan"
"Tapi, itu hanya untuk anggota yang sudah memenuhi kriteria tertentu, misalnya menjadi peringkat atas selama empat tahun berturut-turut, memiliki prestasi ketika pertukaran pelajar, atau hal lainnya"
"Walau begitu, tanggung-jawab mereka tidak main-main karena mengawasi seluruh Akademi secara menyeluruh tanpa ada celah, ditambah harus bisa membagi waktu tugas dan belajar diwaktu bersamaan"
"Sudah?" Arya membuka halaman selanjutnya dari bukunya dengan ringan, matanya fokus pada buku dan lidahnya aktif menjelaskan.
"Ya, itu saja"
"Jadi kau bagian mana?" kali ini Rechan bertanya dengan cukup serius tapi ada jejak bercanda di setiap kata-kata nya.
"Sekretaris"
"Wow! Jadi kamu benar-benar ganggotanya! Keren!!" ucap Kelion dengan terkekeh kecil diakhir ucapannya.
Arya memutar kepalanya dengan cepat, karena terlalu fokus pada buku dan ceritanya, dia tanpa sadar mengungkapkannya. Lagi, lagi-lagi dia membuat masalah dengan mulutnya!
Arya! Kau lebih bodoh daripada udang!!
Khusus pembaca
Hai, saya kembali ^v^
Kalian mau lanjut atau udahan?
Tulis komentar ya:)