The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
129



Di lapangan luas yang tidak banyak orang, terdapat beberapa anak yang memiliki niat menghanc-- tanding persahabatan untuk berjaga-jaga ketika ujian akhir akan dimulai.


Beberapa siswa yang memakai tempat itu menyingkir ketepian membiarkan anak-anak itu memakainya.


Yang pertama, Delvan dan Feron. Benar, mereka akan melakukan nya dengan membagi kelompok. Kelompok sihir melawan kelompok pedang


Feron menggerakkan tangannya perlahan meregangkan setiap buku-buku jarinya. Sebaliknya Delvan mengangkat pedangnya dengan tangan kananya dan tangan kiri menjaganya agar seimbang.


"Oke dalam hitungan 3-3, 3-2, 3-1, MULAI!!!"


Feron tak menyia-nyiakan waktu, dia langsung menyerang dan Delvan bertahan.


Serangan balasan terjadi dan Delvan menggunakan Aura nya. Hanya dengan sekali ayunan pedang, gelombang angin bertiup membentuk pisau tajam.


"Itulah kenapa aku benci dengan bakat alami, sialan, dasar tak ngotak!" decak Feron menahan tebasan Delvan.


Beberapa guru datang saat mendengar ada pertarungan dari tempat latihan.


"Dua anak jurusan sihir dan pedang"


"Itu Feron kan? Astaga anak itu!" ucap wali kelas jurusan sihir gemas-gemas kesal.


"Sudahlah, bukankah mereka masih anak-anak? Biarkan saja dulu, bukankah kamu sendiri bilang jika anak itu terlalu kuat hingga sulit mencari lawan tanding yang pas dengannya, kan?"


"Siapa tahu anak dari juruan pedang itu bisa menandinginya, lihatlah anak itu kuat dan membuat anak didikmu terdesak kan?" ucap pria tua mengusap janggutnya.


"Ah ngomong-ngomong, Taiga kamu seharusnya tahu siapa anak itu kan?" tunjuk pria berjanggut itu pada Delvan.


Guru Taiga, guru teori pedang sekaligus wali kelas jurusan pedang(rahasia) tercengang dengan pemandangan didepannya bahkan tak bisa merespon apa pun.


"Taiga?" panggil pria tua itu sekali lagi.


"Ah iya?"


"Siapa anak itu?"


"Oh itu, namanya Delvan, usianya sebentar lagi 11 tahun"


"Begitu ya? Dua bibit unggul ya..."


Kembali pada pertandingan....


Feron dengan kuat terdorong kebelakang sementara Delvan dengan mantap memajukan langkahnya perlahan.


"Kakak!! Dorong dia lebih keras!! Dia akan jatuh!! Semangat!!! Feron!! Sudahlah menyerah saja!!"


"Ahhh! Sialann! Hei, Evan mundur kau!!"


Delvan melompat mundur saat tiba-tiba dia diserang oleh seekor singa chimera. "Itu familiar mu?" tanya Delvan menunjuk pada makhluk itu. Wali kelas jurusan sihir sedikit terkejut. Benar, Feron tidak pernah menunjukan familiar nya pada orang lain.


Dan ini adalah pertama kalinya orang lain melihat familiar dengan rupa campuran seperti itu.


"Apakah sekarang adalah waktunya serangan Familiar? " tanya Delvan diangguki Feron.


Feron mengusap keringatnya yang mengucur dari wajahnya. Tadi itu hampir saja dia kalah...


Delvan mengangkat tangannya dan memangil familiar nya. "Ayolah Raby, ini permainan kita"


Seekor kelinci putih bertanduk kecil terlihat dan jatuh tepat didepan Delvan.


Feron berkedip, hampir saja dia tertawa karena keimutan kelinci itu. "Itu bantal yang hidup itu kan?" tanya nya menunjuk Pada kelinci Delvan.


Delvan menganguk mengiyakan. Selama ini sebenarnya itu adalah pertama kalinya dia menggunakan kelincinya untuk pertarungan. Dan kebanyakan dia menggunakan nya untuk... Tidur hehe...


"Woooo" sorak beberapa siswa melihat kedua binatang yang benar-benar terlihat kontras.


Besar dan kecil... Siapa yang akan menang??


"Chaa..."


Kelinci itu menatap Delvan bingung dan Delvan merasa hatinya melemah. "Raby, jadilah baik dan serang dia" ucapnya sambil menunjuk pada singa chimera milik Feron.


"Chaa...?" cicit kelinci itu menatap singa chimera didepan nya.


"Astaga aku bisa mati karena keimutannya...!" sorang beberapa siswa yang melihat kelinci Delvan


Bhak...


Tak ada yang melihat apa yang terjadi tapi singa chimera milik Feron tiba-tiba terdorong kebelakang.


"Ehhhhhhh!!!" semua orang kaget, apalagi Delvan yang notabene nya adalah sang pemilik. Dia...tidak tahu jika kelinci nya sekuat itu. Dan Feron hanya bisa ternganga lebar.


Pria tua berjanggut itu turun dan mendekati Emilly yang tidak bisa menutup mulutnya.


"Familiar akan kuat mengikuti tuannya, seberapa kecilpun familiar, jika tuannya kuat maka dia juga akan kuat. Tadi sekilas dia menggunakan element petir..."


"Apa?"


"Dia kakakmu?" tanya pria tua itu.


Emilly mengangguk.


"Memiliki element petir?"


Emilly mengangguk lagi.


"Itulah sebabnya itu tadi terjadi"


"Tunggu, jadi kakak saya kuat?"


"Kamu tidak tahu? Hanya dengan mengeluarkan Aura saja dia sudah dianggap kuat, haha?"


"... Huh?" Emilly menggelengkan kepalanya.


"Haha! Astaga..." pria tua itu tertawa keras membuat Emilly terdiam.


"Dia adalah profesor penelitian sihir, dia yang mengajari kelas 3" bisik Riden pelan.


Emilly membuka mulutnya lagi, namun kali ini lebih lebar. Dia menoleh dan berkata: "ah, anda pro-profesor?" tanya Emilly gagap.


Pria tua itu tersenyum, "sepertinya dua tahun lagi kita akan bertemu, benar?"


Tak lama kemudian pertarungan berakhir dangan kemenangan milik Delvan. Semuanya tak ada yang percaya namun hasil adalah penentuan akhirnya.


"Gi-giliranku!!" teriak Emilly mengacungkan tangan.


Gadis itu maju dan tak lama kemudian Brian maju untuk menjadi penantang.


"Eeh? Bukan Hansel?" tanyanya merasa dingin tiba-tiba.


Hansel hanya menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku ingin terakhirnya saja"


"B-Brian... Tolong pelan-pelah, yah?"


Brian mengangkat alisnya dan berkata: "tidak ada gender dalam sebuah pertarungan"


"Briaaaannnn!!"


Dan seperti perkiraan, Brian menang tanpa mendapat satupun goresan berbanding terbalik dengan Emilly yang rambutnya sudah acak-acakan. Dia itu kan penyihir dengan element angin, tapi--- tapi kenapa bisa kalah?


"Dasar bren*sek kejam!!" umpat Emilly benar-benar kesal.


Wali kelas jurusan sihir hampir tertawa ketika melihat dua anak didiknya kalah dalam dua pertarungan berturut-turut dengan anak jurusan pedang.


"Kamu berhasil Taiga" puji pria itu menepuk punggung guru Taiga.


Guru muda itu menggeleng dan mengatakan: "pada akhirnya itu adalah bakat keduanya, sejak awal mereka memang sudah kuat"


"Yaa kamu benar, haah! Anak-anak berbakat, yang menakutkan"


Setelah kekalahan telak Emilly, Hansel maju kedepan dengan percaya dirinya. Dan Riden juga maju dengan wajah datar.


"Ideeen!! Jika kamu kalah kita musuhan!!" seru Emilly dari pinggir.


Riden mengangkat tangannya untuk mengambil pedang dan menoleh, "memang kamu siapa? Aku bahkan tidak mengenal seseorang yang kalah sepertimu" sarkasnya pada gadis itu.


Emilly memang merasa tertohok, tapi Feron lebih tersinggung lagi. "Apa maksudmu? Kalau aku tidak lengah aku akan menang tahu!!" Delvan hanya tersenyum sedikit bersalah.


"Karena kamu lengah kamu kalah, kalau kamu dalam pertarungan asli, kamu mungkin akan mati tanpa ada perlawanan, menyedihkan..." ucap Riden memandang rendah pada sepupunya itu.


"Bren*sek itu!!"


"Sudahlah, biarkan mereka bertarung sekarang" lerai Delvan mencegah Feron yang marah.


"Itu juga salah mu, tahu! Jika saja kamu sedikit berbelas kasihan..." keluh Feron pada Delvan amat kesal. Dan delvan hanya bisa tertawa takut. Ayolah, Feron itu pangeran dan dia hanya anak Duke.


"Baik, semua bersiap, 3-3, 3-2, 3-1, MULAI!!"


*********&***********


Arya, sesaat sebelum pendengarannya kembali hanya bisa mendengar suara retak yang parah, suara berdengung yang sebelumnya menghilang setelah dia mulai mendapat kesadaran penuhnya.


"Aryan, kamu bisa mendengarku?" tanya Jazlyn melihat Arya khawatir.


"Ah, iya..." jawab Arya parau. Suaranya terasa berat saat dia bicara.


"Hei, teman-teman? Tidakkah tadi itu masih siang?" ungkap Cris memperhatikan sekitarnya.


"Ah... Tempatnya juga berubah" sahut Jazlyn menatap sekeliling.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki yang mendekat membuat mereka waspada. Tapi Arya tidak merasakan ancaman sama sekali saat mendengar suara itu.


"Tahukah kamu, tadi kamu hampir mati?" ucap seseorang yang baru datang.


"K-kak Raha?!" seru mereka serempak.



Haniel Aidel, dia adalah wakil ketua Osis, dari jurusan sihir tahun ketiga. Dia bisa mengendalikan waktu dan ruang. Memiliki kepribadian yang aneh dan suka membawa orang masuk kedalam ruangnya. Memiliki kepekaan yang sangat bagus.


Sebenarnya Sofia ingin menjadikannya sebagai wakil ketua dua tahun sebelumnya, yaitu saat Haniel masih kelas 1, tapi karena peraturan 'berganti saat kelas 4' membuat Sofia sedikit panik. Iya, saat Sofia kelas 2, Haniel baru saja diterima kelas 1. Ketua sebelum nya pun cukup menyukai kemampuan Haniel, hanya saja semua tempat anggota OSIS saat itu benar-benar tidak tersisa satu pun, dan itu berlangsung sampai 2 tahun berikutnya.


"Kak, apa yang terjadi?" tanya Jazlyn penasaran.


Haniel menunjuk pada Arya dengan mata menyipit. "Dia?" jarinya menari perlahan di udara. "Tubuhnya sensitif pada hal-hal yang samar"


"Apa?" tanya Arya bingung.


"Yang tadi, aku melihat semuanya, kamu benar, ada yang melewati kalian, dan ada sesuatu di dalam tubuhmu yang mencoba menangkalnya"


Arya memiringkan sedikit kepalanya, pelindung?


Saat itu Haniel mendekati Arya lalu menarik dagunya pelan. Tak terasa dua anak yang lain tiba-tiba menghilang dari tempat itu.


"Kamu itu manusia, seorang gadis berkulit putih pucat... Hm, keturunan ya?"


"Mata hijau zamrud, ohh ada kristal tengah-tengah nya, itu langka. Rambutmu mirip mawar merah ya, tapi sepertinya warnanya lebih pekat persis darah segar, seperti di tumpahi darah sungguh cantik"


"Ah, a-apa maksud--"


"Apa... kamu putri yang terkenal itu, kan? Aryalania Frosen Alexander Roseland? Anak Kaisar satu-satunya, kan?"


Arya membeku tak tahu harus merespon apapun.


Haniel berdehem canggung ketika melihat tatapan Arya. "Ahem, itu... Tubuhmu itu seperti memiliki ketertarikan unik untuk kekuatan dunia bawah"


"Hah?"


"Seperti... Ah magnet, mungkin seperti itu konsep penariknya"


"Uh, jika ayah tahu mungkin dia akan sangat terkejut" gumam Haniel bergumam pelan.


Arya berkedip. Matanya menatap nanar pada telapak tangannya.


"Jadi, jika tubuhku bersentuhan dengan kekuatan dari dunia bawah aku akan..."


"Iya, kamu mati" ucap Haniel blak-blakan.


"Jangan terlalu jujur, dong?" ungkap Arya spontan.