
Di Kekaisaran Roseland
Terlihat di sebuah ruangan yang memiliki aroma ringan buku dan juga aroma Mint, aroma yang disukai oleh anak pemilik ruangan itu.
Ruang dimana seorang pria yang notabene nya adalah kaisar/pamud/sekaligus duren itu menggunakan hampir semua waktu yang dihabiskan untuk mengurus semua tumpukan kertas yang makin lama makin banyak. Iya, itu adalah ruang kerja Zaint.
Zaint pria dingin, tiran sadis, bajingan gila yang menyukai kolam darah dan tumpukan mayat itu, saat ini sedang duduk dengan tangan yang masih asik bergerak menulis setiap bait kata. Dia agak kesal dengan Putri tunggalnya. Apalagi, ketika dia baru saja sampai di ruangannya sebuah burung pesan datang, membawa pesan yang membuatnya semakin kesal dan marah.
Hah, dia lelah...
Kenawhy?
Tepat jam tiga subuh Gadis kecilnya datang dengan nafas terengah-engah menghampirinya dengan pedang ditangannya dan langsung melompat kearahnya dan berbaring di pahanya mengangkat tangannya lalu mengeryapkan matanya bingung.
Dan, hei ini baru jam tiga pagi dan dia belum tidur?
"Kau tidak tidur? Katanya kau ingin tidur?" tanya Zaint sedikit menundukkan kepalanya lalu mengusap poni Anaknya yang berantakan.
"Hum! Gak bisa tidur, aku mimpi aneh lagi! Bikin kesal :j" ujar Arya cemberut.
"Hm? Apa?" Zaint mengerutkan alisnya lalu mengangkat sebelah alisnya heran.
"Ayah tahu, aku dikejar oleh bola bulu besar yang diatasnya ada kamu! Lalu ruangannya jadi putih dan..." ketika dia bercerita dia jadi sedikit pucat. Tapi, ketika dia ingin melanjutkan apa yang ingin dia katakan dia tiba tiba tersentak.
What the hell?!
Dia bermimpi seseorang yang tidak ingin dia ingat.
****!!!
"Dan? Apa?" tanya Zaint penasaran
"Ah? Gak papa kok, hehe!" sahur Arya cengengesan.
"Lalu... Kenapa kau membawa pedang? Kau ingin menebas orang?" tanya Zaint melirik pedang yang dilempar Arya ke lantai ketika dia melompat tadi.
"Ouh itu, tadi aku ingin latihan tapi aku langsung berubah pikiran dan langsung kesini" jawab Arya tanpa beban. Dia memperbaiki posisi tiduran nya.
"Kalau begitu, apa hubunganku dengan bola bulu yang ada di mimpimu?" tanya Zaint menusuk pipi Arya sedikit gemas, sedangkan sang empu menatap kesal kearahnya.
"Hm, karena bola bulu itu adalah guguk dan kau kan juga.... An.. Jing...?" ucap Arya memerankan suaranya ketika diakhir.
Gerakan tangan Zaint yang tadi menusuk-nusuk pipi anaknya langsung berhenti. Makin hari anaknya itu makin mirip setan gak sih?
"kalau aku anj*ng maka kau juga adalah anak anj*ng!" ujar Zaint dengan smirk miliknya.
"Aku bukan anakmu!" sahut Arya langsung bangkit dan mengambil pedangnya. "Aku pergi dulu, Farel pasti menungguku!"
Zaint sedikit melirik punggung anaknya dan sedikit mengerutkan dahinya.
Dia menunduk.
"Aku tidak berharap seperti itu, kau adalah anakku, kau... Putriku... ? Hanya... Milik... Ku...?" ucap Zaint dengan samar.
Walau dia berkata seperti itu tapi hatinya masih saja gusar. Pesan yang dibawa oleh burung itu membuatnya sangat khawatir.
Satu satunya harta berharga miliknya hanyalah anaknya. Semakin dipikirkan semakin marah dirinya.
Dan jadilah dia mengirim para penjaga bayangan dan beberapa pengawal untuk mengikuti anaknya secara diam diam.
•
•
•
Di Istana Malam...
Lina sedikit menundukkan kepalanya melamun. Sepanjang hari dia terpikir dengan apa yang dikatakan oleh gadis kecil yang dilayani olehnya.
Setelah selesai sparing dengan Farel, Arya langsung menuju kamarnya dan membersihkan tubuhnya.
Ketika Lina melihat Arya yang terus saja mengerutkan alisnya, membuatnya khawatir.
Saat Arya berhadapan dengannya wajah gadis itu sangat serius.
Baginya, jika Gadis itu sudah berpenampilan serius maka dia akan menjadi orang yang sangat berkebalikan.
Lina mengerutkan alisnya dan menyentuh wajah Arya yang terlihat suram.
Arya menggosok wajahnya ditangan Lina.
"Lina? Aku seharusnya anak ayah dan.... Ibu... Kan?" tanya gadis itu ragu.
Pupil mata Lina menyusut dan dengan cepat menangkup kepala Arya.
"Apa maksud anda, Putri?! Kenapa anda berkata begitu?!" ucap Lina tak percaya.
"Em, tidak ada, hehe!" Arya melepaskan tangan Lina yang menangkup pipinya tadi. "Hm, ah, aku harus pergi sekarang untuk menemui yang lain, dadah Lina!" Arya langsung berlari pergi untuk menemui semua sahabatnya.
Sebenarnya ketika dia keluar dari ruang kerja ayah nya dia tidak sengaja mendengar suara lirih ayahnya dan dia agak bingung. Tapi, semakin dipikirkan, itu semakin menjadi tanda tanya besar dikepalanya.
•
•
•
Suhu di sana benar-benar jatuh ke titik terendah setelah pengakuan ibunya Feron, Lidya.
Ibunya dengan terang terangan menyebutkan Jika mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga dia akan mengangkat Arya sebagai anak angkatnya.
Feron yang masih tidak percaya mencubit lengan Lili hingga sang empunya tangan meringis kesakitan.
"Gak sakit kok, pasti mimpi!?" ucap Feron yang dihadiahi pukulan dan tamparan dari Lili.
"Idiot!! Otak semut!! Ya iyalah gak sakit!! Yang kamu cubit itu aku, syalan!!!" ujar Lili gemas dan terus mencubit lengan Feron sambil di putar.
"Uh, maaf! Hehe" ujar Feron dengan cengengesan. Dia mengusap tempat dimana Lili mencubit nya.
Ini lebih mirip dicabik daripada dicubit!!!
Arya tersenyum, lalu tiba tiba dia terpikir sesuatu.
"Teman-teman, bukannya sebentar lagi ada acara di Kekaisaran Jaeyang? Bukankah pasti ada pertunjukan?" tanya Arya menatap semua teman-teman nya.
"Iya, dan itu adalah ajang para nona dan tuan muda atau para bangsawan muda untuk menunjukkan bakat dan kebolehan mereka di suatu bidang yang menarik perhatian orang lain" Kelion menjelaskan dan semua menyimak dengan tenang.
"Jadi... Kami juga?" sahut Feron menunjuk ke dirinya sendiri dan Arya.
Kelion mengangguk: "ya, jika kalian mau, kalau tidak juga tidak masalah!" jawab Kelion mengangkat bahunya.
"Aku bisa melakukan tarian sih rapi itu butuh partner sebanyak dua atau tiga orang" ucap Arya menggaruk tengkuk lehernya.
"Hm? Tarian apa memangnya?" tanya Delvan mengangkat alisnya.
Oh iya lupa, jadi mereka itu lagi duduk di gazebo taman yang memang sangat luas. Duduk memutar di meja yang berbentuk bulat datar.
"Shuffle dance! Tarian yang diawali dengan tempo lambat hingga cepat! Gerakan kaki dan tangan mengikuti irama musik! Tarian yang memerlukan konsentrasi yang bagus untuk melakukan nya! Bagaimana?!" ketika berbicara Arya sangat bersemangat bahkan pipinya sampai terdapat semburat rona wajah.
"Kelihatannya sulit?" ujar Feron memiringkan kepalanya.
"Enggak kok! Tunggu sebentar!" Arya berdiri dan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Ketika dia kembali dia tidak berlari atau berjalan tapi teleportasi langsung.
"Pakai celana?" tanya Feron mengangkat alisnya.
"Iya, ya kali pakai gaun! Terbang guys nanti! Haha" jawab Arya dengan tawa ringannya.
Arya mulai memposisikan dirinya sendiri, dan melangkahkan kakinya dengan pasti untuk memulai tarian nya.
Semua orang hanya memperhatikan dan...
Ternyata mereka benar benar bengong.
Gerakan Arya yang awalnya hanya mengalir dengan santai semakin lama malah semakin cepat. Langkah kakinya yang cekatan juga terlihat sangat indah. Yah, mungkin karena latihan berpedang miliknya yang memang memerlukan kekuatan tangan dan kaki sebagai pijakan.
Tak lama setelah itu Arya menyelesaikan gerakannya dengan berlutut dengan satu kaki dengan salah satu tangan menumpu pada tanah.
"Huft... Seperti itu" ucap Arya merasakan kakinya yang ternyata terasa seperti bergoyang-goyang di atas jelly.
Mungkin efek gak pernah menggerakkan kaki dengan gerakan yang lentur begitu.
"Gerakan yang terlihat seperti gerakan menyiksa? Kok jadi merinding?" ujar Lili sedikit bergumam. Sedari tadi dia melihat gerakan kaki Arya dan dia terpana. Dia cukup tau jika gerakan kaki seperti itu tidak hanya mengandalkan kelenturan kaki tapi juga keindahan liukkan setiap gerakannya.
"Awalnya memang sulit tapi kalau di tekuni dan dipelajari dengan sungguh-sungguh pasti akan bisa!" sahut Arya ketika dia berhasil duduk di samping Lili. Kakinya pun juga sudah normal lagi.
"Heh, nanti kalau kau tidak bisa, aku akan membantumu!" kata Feron dengan percaya dirinya kepada Lili. Dan gilanya lagi adalah LILI MENGANGGUK!!!?
"Hm? Kok ada yang aneh ya? Kalian berdua itu sebenarnya kawan atau lawan sih? Bisa ganti ganti gitu rupanya ya?" tanya Arya sedikit lucu.
Bagaimana gak lucu, dua orang yang beberapa waktu lalu saling pukul dan cubit kini sudah terjadi Reformasi yang terlalu signifikan. Arya jadi sulit untuk mengatakan apa yang sudah hampir ingin dia katakan.
"Biasalah~ Emilly kan anaknya agak sedikit bermasalah!" sahut Delvan dengan santai nya.
"Yah, tidak jauh berbeda dengan Feron" timpal Kelion yang mengatai anaknya sendiri.
"Kalian berdua, menistakan keluarga sendiri, haha!" Arya menggelengkan kepalanya tak percaya.
••
••
••
yok, balik
bonus
❤️& 💬