
⚠ RADA GAJE
Arya dan Aryan tiba disebuah tempat yang terlihat familiar namun asing. Mereka berdua terdiam ditempat mereka tiba.
Anehnya pakaiaan mereka sudah berubah dan sudah tidak terlihat seperti awal lagi. Apakah itu sihir kakeknya? Masa sih? Tapi apa tidak sebaiknya gak usah diubah? Cute tau gak sih baju animal nya.
"Ngomong-ngomong, Aryan, apa kita bertanya saat ini Ayah berusia berapa tahun?"
Aryan menggelengkan kepalanya.
Duakh....
Arya terkesiap saat melihat sebuah tubuh melayang diantara mereka.
"Sudah kubilang, jangan hina ibuku" suara dingin dan magnetis melewati telinga mereka berdua dengan cukup jelas.
"Hah! Sialan, lalu kenapa jika aku menghina ibumu?"
Bugh... Arya menginjak wajah anak itu sampai pingsan. Menghina seorang ibu didepan orang yang tak punya ibu itu benar-benar tidak bermoral!!
Arya memutar kepalanya kearah suara didepan dan dia membeku. Siapa anak menakutkan itu? Dia terlihat seumuran dengan mereka.
Aryan melindung Arya saat tiba-tiba anak laki-laki itu mendekat.
"Siapa kalian?"
"Manusia, human, makhluk hidup yang bernafas, babunya kucing, anak kesayangan ayah yang paling cantik dan tampan!" jawab Arya tanpa ragu.
Oh ayolah sekarang malah Aryan yang malu mendengar ucapan Arya. Kenapa disaat begini malah pakai logika anehnya. Kenapa tidak menyebut nama saja sih??
"Aku tidak bercanda!" anak laki-laki itu menggeram kesal.
"Aku juga serius an---" mulut Arya dibungkan oleh Aryan karena hampir menyebut makian kasar.
Beberapa saat kemudian....
"Jadi, kalian tersesat?"
"Iya"
"Kalian pikir aku akan percaya?"
"Eh, apa?"
"Ciri khas keluarga kekaisaan yang paling unik adalah darah dan penampilan. Penampilan kalian sama persis"
"Semakin pekat hubungan darah, semakin mirip ciri khas seseorang"
Zaint tidak terlihat waspada namun juga tidak bisa disebut terlalu santai. Dia tetap was-was namun tidak diperlihatkan.
"Penampilan kalian sama, kecuali tatanan rambut yang berbeda, kalian kembar?"
Uh, ya... Gak bisa dibilang begitu juga sih...??? Tapi untuk situasi kali ini katakanlah seperti itu!
"Iya"
"Pangeran keberapa? Aku baru pertama kalinya melihat kalian"
Arya diam dan menoleh kearah Aryan yang sedikit menunjukkan wajah keringat basah. Mereka harus jawab apa??? Tidak ada yang mengatakan kalau Zaint itu anak yang kepoan, ihh!! Dan apakah Zaint itu buta? Arya saat ini menggunakan pakaian oversize, apakah itu benar-benar tidak terlihat??
"Huft... Kami 'kan sudah bilang, kami itu tersesat! Kami tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran ini!!"
"Itu artinya kalian penyusup?"
"Engga bang--!!" lagi-lagi Aryan membungkam mulut Arya.
"Kan sudah kubilang jangan pakai kata kasar!!?"
"Maaf, keceplosan!"
Zaint berjalan menuju tempat yang terlihat seperti taman kecil. Itu tempat yang cantik, banyak bunga dan beberapa bangunan gazebo ditengah-tengah taman.
Arya mendongakkan kepalanya. Angin berhembus halus menerpa wajahnya yang seputih salju. Bulu matanya lentik dan bibirnya merah cherry. Rambut panjang nya sedikit terekspos keluar dari jaketnya.
Zaint tertegun sebentar menatap wajah Arya yang terlihat tak ada beban. Dia.. Sudah hidup dilingkungan istana selama ini tapi tak pernah dia melihat orang yang memiliki wajahnya sesantai itu.
Apalagi saat melihat Aryan yang terlihat seperti orang kurang tidur. Dia sepertinya agak... Kenal? entah lah rasanya seperti melihat diri sendiri.
Arya memutar tubuhnya dan menarik Aryan mendekatinya.
"Sekarang aku ingat tempat ini! Ini Istana Malam!!" seru Arya, wajahnya terlihat bahagia.
Aryan mengangguk pelan.
Sreeekkk...
Zaint memutar kepalanya reflek saat mendengar suara dari arah semak-semak.
Beberapa saat kemudian ada yang keluar dari arah semak-semak langsung menyerang Zaint.
Pang... Suara pisau yang baru saja beradu dengan sesuatu. Arya memutar pisau itu empat puluh lima derajat pada sumbu x membentuk garis diagonal, alias menarik pisau dari arah bawah ke atas dalam kemiringan tertentu untuk menghadang lawan tandingnya.
"Hei, tolong jangan mengganggu orang lain ya, satan!!" ucap Arya tersenyum manis. Dia menekan kata-kata kata akhirnya.
"Ar, jangan memaki!" untuk yang kesekian kali nya Aryan memperingati hal yang sama kepada Arya.
"iya, maa--, oh?"
Splashhhhh... Darah mengalir dari wajah Aryan yang tiba-tiba di serang seseorang.
"Dasar.... Baj*ng*n bed*bah si*lan! Mati kau a*j*ng!!" maki Aryan pada orang yang baru saja melukainya.
"Katanya jangan berkata kasar, padahal sendirinya paling parah" gumam Arya.
Lihat berapa kata umpatan dalam ucapan anak laki-laki itu!!
"Kalian berdua hentikan!" ucap Zaint melerai perkelahian dua orang itu dengan lawan masing-masing.
"Wah, Zaint kau bahkan sudah memiliki penjaga pribadi, ya?" ejek seseorang dengan wajah sombongnya.
Arya melempar tangan lawannya dan langsung berdiri disamping Zaint.
"Mata mu! Aku bukan penjaganya, aku ana-- temannya tahu!!"
Aryan menarik Arya sedikit, tubuhnya cukup banyak terciprat darah terutama tangan dan wajahnya membuat Arya ilfeel.
Dia benci darah menciprat, itu sulit dihilangkan dan aroma nya amis.
"Kenapa?"
"Temani aku berganti pakaian"
Arya memiringkan kepalanya, "kamu waras?"
"Cepat lah! Ini lengket" ucap Aryan terlihat risih, Arya tanpa sadar merinding membayangkan lengketnya darah itu.
Geli ce'!
"Tapi..." perkataan Arya terhenti saat melihat dua orang yang baru saja datang.
"Kami memberi salam kepada mawar Kekaisaran!!" semua orang menunduk saat melihat dua orang itu kecuali Arya dan Aryan.
"Ada apa ini?" tanya orang paling depan. Wajahnya putih dan muda dia adalah Kaisar ke-11 atau bisa juga disebut ayahnya Zaint. Wajahnya muda banget lah pokoknya!
"Loh, kalian sudah sampai? Kenapa langsung kesini!?" tanya seseorang, itu Kakek Damien.
"Anda yakin itu sebuah pertanyaan?" sarkas Aryan. Bukankah pria tua itu yang langsung mengirim mereka ketempat itu? Kenapa masih nanya??
Kakek Damien mengerutkan alisnya menatap Aryan dari atas kebawah.
"Haah, Arya berikan jaketmu pada Aryan!" dia dengan tidak berdaya menggelengkan kepalanya.
Arya menoleh kearah Aryan dan menatap jaket nya. "Ih gak mau, badan nya banyak darah!!"
Aryan menatap malas Arya didepannya lantas melepas pakaiannya didepan banyak orang yang menyaksikan.
"Woy-woy stop, hey!! Kok bukanya disini??" teriak Arya kesal.
"Mau dimana lagi?"
"Ergggh"
"Hey dua bocah! Ikut dengan ku!" perintah Kakek Damien berputar badan. Sungguh! Rasanya dia ingin membuang dua anak random itu
Arya menyusul sambil melepaskan jaket nya dan memberikannya kepada Aryan dengan berat hati.
Pada saat itu semua orang baru sadar dengan pakaian yang dipakai Arya. Pakaian santai, benar-benar gaya Arya saat diluar Istana. Bukan, bukan itu masalahnya! Tapi masalah utamanya adalah Arya menggunakan pakaian oversize yang panjangnya tak sampai paha bawah.
"Kakek!!" teriak Arya melihat Kakek Damien sudah berjalan cukup jauh.
Aryan memutar tubuhnya, dia melihat semua orang yang terpaku ditempat.
"Apa? Apa kalian mengira Arya itu laki-laki? Dia itu perempuan! Jangan menatapnya seperti itu! Nanti ku cabut satu-satu mata kalian!!" Aryan memberi peringatan sebelum dia melesat mengejar Arya dan Kakek Damien.
Kaisar ke-11 mengedipkan mata hijau zamrud nya dan dia tak bisa berpikir dengan benar. Yang dia tahu semua pangeran itu adalah laki-laki, apakah ada permaisuri yang melahirkan Anak perempuan?
Zaint menatap hampa pada bayang-bayang Aryan yang sudah hilang. Dia merasa perasaan familiar saat mendengar peringatan Aryan. Seperti... Dia sudah berkali-kali mendengar kalimat itu.
^^^(Dejavu nya seorang ayah)^^^
Arya meminta gendong pada Aryan di punggung dan langsung dituruti. Nah sekarang yang jadi masalah utamanya adalah celana yang di pakai oleh Arya terlihat sangat pendek.
Semua orang memalingkan wajahnya. Mereka masih punya sopan santun.
"Hra-tsa-tsa, ia ripi-dapi dilla barits tad dillan deh lando.
Aba rippadta parip parii ba ribi, ribi, ribiriz den teahlando" teriak Arya cukup lantang. Dia bersenandung dengan sangat semangat. Semua orang yang mendengarnya reflek menoleh padanya. Banyak pelayan yang melihatnya dan semua nya terpesona dengan wajah Arya dan Aryan yang terlihat asing.
Aryan menghembuskan nafasnya lelah. Dia rasanya ingin tidur.
Kakek Damien mengusap kepala Aryan dan mengangkat tubuh Arya. Dia memijak kan kaki gadis itu diatas tanah dan membiarkannya berjalan sendiri. Pria paruh baya itu menggendong Aryan yang terlihat ngantuk berat di punggungnya.
Kakek Damien memang sudah dikenal sebagai orang 'baik'(?) oleh semua orang, buktinya dia 'menyukai' cucu-cicit nya. Dia menyukai bakat anak-anak 'kuat', bisa otak atau otot. Dan kebetulan cucu-cicit nya itu menguasai keduanya, unggul dalam hal otak(akademis) dan otot(nonakademis)
^^^(Cucu \=> Zaint,,, Cicit \=> Arya & Aryan)^^^
Arya terus bersenandung sepanjang jalan. Kurang lebih ada empat lagu yang dia nyanyikan sedari awal. Lihatlah Aryan yang telah masuk alam mimpi itu, benar-benar nyenyak tidurnya.
Dia berhenti saat kakek Damien menutup mulutnya dengan jari telunjuk. Setelah dia perhatikan sekelilingnya ternyata ada seseorang didepan pintu.
Hm? Seorang perempuan?
Arya mundur kebelakang kakek buyutnya dalam satu langkah lebar. Auranya tidak bisa terdeteksi. Gadis itu menyipitkan matanya tajam, wanita itu cantik tapi sedikit tua.
"Damien? Kamu membawa siapa? Seingatku kamu tidak memiliki cucu seperti mereka?" ucap wanita itu menatap Arya dan Aryan bergantian.
Wanita itu memiliki rambut pirang dengan sepasang mata biru laut dalam. Hmmmm, cantik banget!!! Pasti saat muda dia itu idaman para pria!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebenarnya masih ada 3 lagi, tapi tunggu selesai direview dulu. Sorry malas nasih judul ehe