
20.48 malam....
Arya dan lainnya hanya mengobrol membicarakan semua hal yang penting atau tidak penting.
Riden yang tidak terlalu memiliki kepentingan berpamitan dan pergi. Lili dan Delvan pun juga langsung pulang ketika mengingat jika mereka itu memiliki jatah bermain sampai pukul enam sore saja.
Dan sekarang tinggal empat orang dari dua keluarga Kekaisaran di sana.
Mereka dari tadi sudah ada di ruang tamu istana Malam.
Arya duduk di sofa panjang bersama Feron dan sedang bermain kartu siapa yang kalah akan dicoret wajahnya dengan tinta. Dan sayangnya Feron yang entah kenapa dengannya, hingga dia terus saja kalah dan hampir diseluruh wajahnya penuh dengan tinta. Sedangkan Arya hanya memiliki lima, hidung, pipi kanan dan kiri, kening, dan yang terakhir di dagu
Zaint yang dari tadi memandang kearah anaknya yang duduk bersebelahan dengan bocah Ruffela, tidak henti hentinya mengerutkan bibirnya dan menatap tajam kearah mereka berdua.
Kelion melirik sekilas kearah Zaint, lalu menatap anaknya. Dia tidak henti hentinya bergumam, berdoa agar anaknya hidup, kalau mati dia tidak bisa memanfaatkan anaknya lagi untuk jadi kaisar nantinya.
Memang Kelion pada dasarnya menjadi kaisar hanya semata-mata untuk menutupi kekosongan kedudukan seorang kaisar di Ruffela dan Zaint Tahu itu, dan anaknya sudah dididik untuk menjadi kaisar juga, namun~ karena Feron benar-benar tidak ingin repot dan lebih menyukai kebebasan, jadi dia selalu tidak betah dan memilih untuk melarikan diri. Mirip seperti Arya.
Tak...
"Ha! Aku menang lagi! Fer, sini! Tutup matamu!" Ujar Arya menyuruh Feron menutup matanya, Feron menurut walau rasanya sangat berat untuk menuruti permintaan dari gadis itu.
Arya tersenyum panjang dan melancarkan aksinya, dia menarik kuas dari arah kiri ke kanan membuat mata Feron tertutup oleh tinta.
Kelion kembali mendesah ketika melihat jika wajah anaknya berwarna hitam sepenuhnya.
Permainan kembali berlangsung dan kali ini Arya yang kalah.
Feron tidak ingin kehilangan kesempatan dan dia langsung mengambil kuas yang besar dan langsung mencelupkannya kedalam tinta hitam itu.
Arya yang melihat tindakan yang dilakukan Feron langsung berdiri dan mundur, wajahnya pucat hampir tidak ada darah diwajahnya.
"Fer? Jangan... Fer, jangAN... FER!? JANGAN COK?! CURANG WOI?! FERON!! JANGAN WOY... CURANG KAU TAYI?! PAKEK KUAS KECIL AJA BANGK*?! KAU MENYALAHI ATURAN... AHHHH... JANGAN MENGEJARKU.... SETAN!!!!" Arya terus saja berlari dan meneriakkan sumpah serapah kepada Feron yang masih saja mengejar nya dari belakang.
"HA? ATURAN?! TADI RASANYA TIDAK ADA ATURAN YANG MELARANG MENGGUNAKAN KUAS BESAR DEH!!? DATANG DARI MANA ATURAN YANG MELARANG ITU HAH?!! ATURANNYA KAN HARUS MENGOLESKAN TINTA MENGGUNAKAN KUAS?!! TIDAK ADA ATURAN YANG MELARANG MENGGUNAKAN KUAS BESAR?!!" Feron terus saja mengejar Arya dengan kuas dan tinta ditangannya.
Zaint menyenderkan tubuhnya Di Sofa, bersedekap dada dan menutup matanya, dia menganggukkan kepalanya, walau dia tidak terlalu menyukai Feron tapi dia juga tetap setuju dengan perkataannya.
Kelion menggelengkan kepalanya ketika dia melihat Zaint menganggukkan kepalanya. Apakah ayah dari anak perempuan yang dikejar oleh anaknya itu tidak memiliki pemikiran untuk menghentikan kedua bocah itu heh?!
Duak...
"Aduh... Sakit... Hiks..." karena Arya tidak fokus ke depan nya, jadinya dia menabrak dinding dan terjatuh dengan estetik dan merintih merasakan dahinya terus berdenyut.
Feron mengangkat kuasnya dan mengoleskan tinta dari atas kebawah membuat wajah Arya langsung penuh dengan tinta.
Arya membulatkan matanya dan tubuhnya bergetar tidak terkendali. Dia menyentuh wajahnya dengan tangan gemetar. Ketika dia melepaskan tangannya dari wajahnya, matanya langsung berkaca kaca, menatap Feron penuh kebencian dan ketidak percayaan. Wajahnya penuh dengan tinta basah. Tinta itu terus Menetes membasahi pakaiannya.
Dengan secepat kilat Arya memasuki kamarnya dan merendam tubuhnya di bathtub.
Ketika dia selesai mencuci wajahnya yang penuh dengan tinta dan tubuhnya juga sudah dia bersihkan dengan cepat dia memakai pakaiannya yang lain dan langsung turun, menatap Feron yang juga sudah selesai membersihkan wajahnya, dan bersiap untuk pulang. tak terasa waktu terus berjalan dan sudah hampir tengah malam.
"Ar?"
"Hum?"
"Jika ada waktu besok, kau mau kan pergi Kekaisaran Ruffela? Untuk tinggal disana beberapa hari?"
Kelion langsung menatap Anaknya dan tercengang. Dia hampir lupa jika dia memiliki taruhan dengan Zaint yang mengharuskan Gadis yang baru selesai mandi itu menginap di Kekaisaran nya.
Zaint langsung memelototi Feron. Jangan sampai anaknya yang kek kucing liar itu ma--
"Baiklah! Aku pasti akan datang!" jawab Arya mematahkan pikiran Zaint.
Sial....
"Baguslah, aku akan menunggumu! Oh ya, jangan lupa dengan tiga anak itu, bawa juga mereka!"
"Ok"
Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Feron langsung melangkah keluar diikuti Kelion yang melambai kan tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah pergi! Ini sudah malam dan aku butuh istirahat!" ucap Arya mengangkat sebelah alisnya. Dia bukanlah seseorang yang suka menggunakan kata kata kiasan, dia lebih suka menggunakan kata-kata yang bersifat langsung.
"Hah? Istirahat? Apakah tidurmu yang tadi sore masih belum cukup hingga kau ingin tidur lagi!" tanya Zaint tidak percaya.
"Be-lum!!" jawab Arya dan berjalan ke kamar nya.
Zaint mengangkat bahunya dan langsung menghilang dalam kegelapan.
••
••
••
Di Kekaisaran Jaeyang, kediaman perdana Mentri Ahn, tempat Hayeo.
Gadis itu bersender di tempat duduknya, di bawah kakinya ada sebuah tubuh yang masih bernafas. Walau penuh dengan darah tapi tubuh itu masih hidup.
Hayeo mengangkat kakinya dan terus mengetuk kepala dari seseorang yang ternyata merupakan pembunuh bayaran yang dikirim oleh istri pertama perdana Mentri.
Dia, yang merupakan anak dari selir ayahnya, sudah menjadi makanan sehari-harinya mendapatkan ancaman hidup dan mati dari semua sisi. Kakak keduanya yang juga merupakan anak dari istri pertama ayahnya selalu membelanya apapun yang terjadi, entahlah kenapa dia bersikap seperti itu.
Sedangkan kakak pertama dan ketiganya sangat membencinya. Bahkan ibunya yang merupakan selir ayahnya pun juga membencinya. Kenapa? Tentu saja karena Hayeo yang terlahir sebagai Anak perempuan, sedangkan ibunya menginginkan anak laki-laki.
Memangnya apa salahnya anak perempuan? Padahal anak perempuan itu adalah seseorang yang jika besar adalah seseorang yang paling mandiri dibandingkan dengan anak laki-laki.
><><><
Hayeo keluar dari ruangan itu dan merentangkan tangannya menikmati angin sejuk pagi hari. Semoga hari ini menjadi hari yang baik
Dia berjalan dengan santainya kearah pasar.
Setibanya di pasar, suasana nya sangat tentram, rakyat yang sibuk dengan urusannya masing masing memenuhi tempat itu.
Hayeo terus berjalan dan tidak sengaja melihat dua orang gadis yang asik berbelanja ke sana kemari.
Dia jadi teringat dengan Queen nya yang selalu mengajaknya berbelanja di pasar tanpa sepengetahuan yang lain. Pokoknya Queen nya adalah orang terbaik yang pernah menjadi sahabatnya.
Di saat dia sedang melamun, tiba-tiba dia menabrak seseorang dan membuatnya terjatuh ke tanah.
Dia merintih dan mengangkat kepalanya, menatap seorang pemuda bercadar yang jika dilihat lihat sangat... Tampan. Entah dari mana kepercayaan itu berasal, tapi dari garis wajahnya, mata tajam, kulit sawo matang, dan rambut tertata rapi membuat Hayeo yakin jika pemuda itu adalah pria tampan.
"Kau tidak apa?" tanya pemuda itu dengan suara dingin.
"Ya? Ah, iya aku tidak apa-apa! Aku permisi" jawab Hayeo dengan cepat berdiri dan ingin langsung pergi tapi langsung ditahan oleh orang yang berada di belakang pemuda itu.
"Hai dik, apakah kamu terluka? Di beberapa bagian tubuhmu ada bercak darah, dan ujung pakaian dan ujung lenganmu juga!" tanya orang yang ada dibelakangnya membuat pemuda itu fokus kearah pakaian yang dikenakan Oleh Hayeo.
Hayeo tersentak dan langsung memutar tubuhnya dan menatap pakaiannya.
"Haha, tidak ini... Bukan.. Darah... Ini, hanya corak dari pakaian ku, kok! Sungguh!" Hayeo mencoba menyangkalnya tapi melihat tatapan tidak percaya dari mereka membuat Hayeo melambaikan tangannya ke depan.
"Tapi... Jika itu adalah corak pakaian milik mu, kenapa aroma menyengat nya mirip darah?" kata Orang yang ada di belakang pemuda itu.
"Kamu hidung anj*ng ya? Kenapa penciuman setajam it--" seketika ucapan Hayeo terpotong oleh panggilan pemuda yang datang dari arah belakang.
"Hayeo? Kenapa kamu ada disini? Dan... Kenapa ada bau anyir darah dari tubuhmu? Apakah ada yang ing--hump" Hayeo dengan cepat menutup mulut kakaknya, Eun Jun, dengan kedua tangannya.
"Tidak ada kakak, ayo pulang!" Hayeo dengan cepat menarik kakak psikopat nya itu kembali ke rumah perdana menteri dan menuju ke Paviliun miliknya. Dan meninggalkan pemuda dengan senyum miring tercetak di bibirnya.
"Dia... Agak aneh!" ucap pria yang berada dibelakang pemuda itu.
"Hayeo, aku menginginkannya! Cari latar belakang dan juga identitasnya!!" ujar pemuda itu dan langsung berbalik.
"Eh, yang mulia!?" teriak pria yang sepertinya adalah pengawal pemuda itu
lanjut.....