The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
GIGI PATAH!!?



Keesokan harinya, Arya langsung beranjak pergi dari kamarnya dan mendatangi dapur, dia memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk dibuatkan cokelat hangat dan juga cemilan dia piring.


Seperti biasa, dia akan bersandar di sofa kamarnya dan menunggu makanannya datang. Semenjak beberapa minggu ini gadis itu jarang melakukan sarapan, dia paling tidak akan menyuruh kepala koki untuk membawakannya cemilan.


Saat cemilan dan cokelat hangatnya sudah sampai dia menyuruh kepala koki untuk membawakannya dua peti permen untuk simpanannya selama dua bulan ke depan.


Dimana Raya? Dia selalu ada di atas kepala Arya sepanjang waktu kecuali kalau sedang tidur, dia akan duduk di sampingnya.


Di sela-sela acara makannya Zaint datang dan duduk didepannya.


Dibelakangnya ada Lina dan Tera yang tersenyum menatapnya.


"Apa?" gadis itu tiba-tiba membuka percakapan dengan ayahnya itu.


"... Tidak ada! Aku hanya datang untuk mengatakan jika kamu akan ikut rapat setiap satu pekan sekali"


Kratak...


Mendengar perkataan ayahnya membuat Arya yang sedang memakan permen terkejut.


Saking terkejutnya dia sampai mematahkan dua gigi depannya.


Gadis itu membulat kan matanya dan mulutnya terbuka hingga dua gigi itu jatuh kepangkuan nya.


Pfttt...


"Hu, huahhhh gwigwi kwelincwi kwu!! Gwigwikwu rwontwok!?(huahhh, gigi kelinci ku!! Gigiku rontok!?)" Zaint yang mendengar perkataan putrinya itu tak bisa menahan tawanya lagi dan terkekeh lucu.


Arya yang merasa dipermalukan menangis terisak, bahkan wajahnya pun memerah karena malu.


Darah merembes dari gusi yang kehilangan gigi itu, gadis itu dengan cepat berlari kearah kamar mandi dan menutupnya dengan suara 'brak' yang cukup keras.


Lina dan Tera tidak bisa untuk tidak menepuk kening mereka dan Zaint yang tidak bisa menghentikan tawanya membuat ruangan itu memiliki suasana agak aneh.




Setelah keluar dari kamar mandi gadis itu tidak berani membuka mulutnya dan terus menunduk.



"Putri, itu bukan masalah besar! Andakan masih muda jadi anggap saja itu sebagai masa pertumbuhan anda, mungkin sudah waktu nya untuk berganti gigi?" sedari tadi Lina selalu membujuk Arya untuk mau membuka mulutnya.



Tapi Arya menolak, dia terus saja menggeleng kan kepalanya.



Zaint yang tidak punya perasaan : "hah, bagaimana penampilanmu nantinya, karena gigi mu lepas, mungkin penampilanmu yang 'cantik' itu akan menghibur semua orang. Bukankah kamu sering tersenyum, sebaiknya kamu keluar dan tersenyum lah!"



"Huahhhh... Lwina.... Zwain cwiwalan menwewaylkwan!!(huahhhh... Lina... Zaint s1alan menyebalkan!!)" Arya yang tadi sudah tenang kembali menangis dan memeluk Lina.



Lina yang tiba tiba diterjang langsung memeluk Tubuh kecil Arya.



"Tenanglah Putri, yang mulia, bukankan Kata-kata anda berlebihan?" tegur Lina mengelus kepala Arya.



Zaint mengalihkan pandangannya dan mencibir.



Jarang jarang loh, dia akan mengejek anak nya sampai menangis.



"Putri coba lihat saya, dan buka mulutnya biar saya melihat gusinya!"



Arya agak ragu awalnya tau akhirnya dia membuka mulutnya.



Zaint yang minim akhlaknya : "Pfttt... Ahahahahaha!!"



"Ekhem" Lina mencoba menahan tawanya dengan berdehem beberapa kali. Jujur dia hampir tertawa ngakak melihat gigi Arya yang tonggos langsung dua sekaligus.



"Putri, mulai sekarang saya akan mengatur jumlah cemilan, permen, dan cokelat anda tiap harinya! Anda mengerti?!" Lina menyebutkan tiga hal yang merupakan hal penting dihidup Arya, bahkan ada nada penekanan di Kata-kata nya.



"Haha... Kasihan!!" Lagi-lagi Zaint mengejek Arya dan pergi dari kamar itu.



*Sialan*!!!!



"Lwina, twingwal kwan akwu cendwiwi!(Lina, tinggal kan aku sendiri!)" sepertinya untuk beberapa hari kedepan pelafalannya akan terdengar aneh.



Setelah Lina keluar....



\[*Hahaha, ternyata kamu benar benar humoris, ya*?\]



"Humwowis apwah? Kwiciz bwicawa iwya!(Humoris apa? Krisis bicara iya!)" Arya dengan kesal mengambil cermin dan menatap giginya yang hilang.



\[*Benar kok, buktinya gigimu lepas saja kamu heboh, bukankah kamu cukup humoris*!?\]



"Twelnywata kwammu cukup mwembyuyat kwesyal ywah?!(ternyata kamu cukup membuat kesal, yah?!)" gadis itu menaiki ranjangnya dan menyembunyikan seluruh tubuhnya dibawah selimut.



**Tok.. Tok**...



"Cwiwapa cwih?! Gwanggwu waja!!(siapa sih?! ganggu ajah!!)" gadis itu dengan kesal turun dari ranjang dan membuka pintu, didepan pintu ada seorang anak laki-laki yang menatap nya dengan dingin.



'*Oh ternyata anaknya grand Duke*'



Gadis itu menyuruhnya anak laki-laki itu masuk.



Dia mengambil kertas dan pena, menulis sesuatu di atasnya.



{ *bisakah kamu memperkenalkan diri dalam bahasa informal, jangan tanya kenapa aku gak ngomong*!}



Gadis itu menyerahkan kertas yang sudah dia tuliskan sesuatu itu.



"Brian Shen Gerald, dari Grand Duchy Gerald, kamu bisa memanggilku Brian, delapan tahun" ucap anak laki-laki itu dengan wajah dingin. Saat bersama ibunya dia juga tidak pernah bersikap dingin malah sebaliknya.



"Bwiwan?(Brian?)" gadis itu tanpa sadar menyebutkan nama anak laki-laki itu, membuat anak laki-laki itu mengerutkan kening.



*Dia bilang apa*?



*Pengucapan nya agak aneh*?



*Cadel*?



*Mana mungkin seorang putri cadel*?!



Ketika Arya sadar dengan apa yang dia katakan dia dengan cepat menutup mulutnya. Walau dia bisa mengatur wajahnya, tapi dia tidak bisa menyembunyikan telinganya yang terlihat memerah.




**Huft**....



{*Kamu udah tau kan kalau aku butuh sekretaris istana? Nah aku mau kamu yang jadi sekretaris istanaku! Jadi, dengan kata lain kamu harus menjadi temanku! Aku sudah punya tiga sahabat, aku mau kamu jadi satu frekuensi dengan kami! Ya misalkan jika aku kabur dari istana kamu akan ikut denganku! Jangan tanya kenapa aku kabur! Aku bakalan balik ke istana lagi kok! Tenang*!}



Lagi, gadis itu menyerahkan kertas itu kepada Brian dan bocah laki-laki itu membacanya.



"Apakah harus?"



Arya mengangguk.



"Bagaimana jika aku menolak?"



{*Mudah saja, kamu mati*!!}



"..."



Brian merasa speechless dibuatnya.



Sepanjang yang dia ketahui tentang Arya gadis ini merupakan putri satunya Kaisar, tapi dia tidak tahu jika putri ini sangat suka melarikan diri dari istana.



"Tapi... Apakah Kaisar tidak marah jika kau keluar?" tanya Brian ragu. Soalnya dia tidak tahu apakah Kaisar akan marah atau tidak kalau putrinya keluar.



{*Marah? Jangan bercanda! Ketika aku meledakan mansion Marquis Vintaics saja dia tidak marah, apalagi ketika aku keluar! Tenang saja walau ayahku terkadang terlihat seperti b4j1ng4n dia orangnya kalem kok*!}



"..."



Lagi-lagi Anak laki-laki itu dibuat speechless oleh Arya.



"Jadi kau yang--"



**BRAK**.....



"ARYA I'M BACK!!! SETELAH BERABAT-ABAT BERLALU AKHIRNYA AKU KEMBALI DALAM KEADAAN LELAH!! TOLONG AKU BUTUH PELUKAN MU... EH?.... EEEEHH!!? SIAPA KAMU?!!"



Ketika Brian ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba pintu didobrak secara kasar menampilkan dua wajah yang sangat familiar bagi Arya, ya itu adalah dua bersaudara yang baru saja kembali dari kediaman Duke Rimson yang memang letaknya agak jauh dari ibukota.



Lili masuk dengan wajah sumringah dan Delvan dengan wajah santai dan juga senyum yang tersemat di bibirnya.



Tapi ketika mereka masuk pemandangan pertama mereka adalah seorang laki-laki dengan mata silver berhadapan dengan pemilik kamar.



"Arya? Kamu memiliki teman baru ketika kami pergi?" Lili memandang dengan tidak percaya kearah mereka berdua, bahkan Delvan pun memicingkan matanya.



*Mirip seseorang, tapi siapa*?



"Kamu anak manusia, kan? Bukan anak Goblin, kan?" tanya Delvan.



Brian yang disangka anak Goblin : "..." *si alan*!



Arya yang tercengang : "..." *aku yakin dia habis jatuh dari tebing*!!



Adik yang punya kakak aneh : "..." *sepertinya dia benar benar ditemukan di tempat sampah terbengkalai*!!!



"Um.. Anwu dwiwa bwiwan!(um... Anu dia Brian!)" gadis itu hampir meneteskan air matanya lagi saat dia lupa jika nada bicaranya benar benar seperti anak umur satu tahun.



Akibat terlalu senang melihat temannya kembali, padahal baru kemarin mereka pergi tapi rasanya sangat senang ketika melihat kawannya kembali.



"Hihihi, kamu kehilangan gigimu dan kamu seperti bayi yang baru bisa bicara, tapi untungnya aku mengerti apa yang kamu katakan!" ujar Delvan dengan tawa kecil.



Dia menghadap ke arah anak laki-laki itu dan menaruh tangannya di saku celana.



"Hay, aku Delvan kamu bisa panggil Evan, dia adikku Emilly panggil aja Lili! Kata Arya namamu Brian kan? Salam kenal!" ucap Delvan dengan senyuman yang tersunging di bibir nya.



Delvan mengambil kertas yang tadi digunakan Arya untuk menulis, dia tidak sengaja membaca bagian {kamu jadi satu frekuensi dengan kami!} dan {meledakan mansion Marquis Vintaics} membuat dia memiringkan senyumnya menjadi seringaian yang terlihat cukup sadis.



"Artinya satu frekuensi itu adalah bisa membunuh orang tanpa rasa bersalah kan? Tidak membunuh anak kecil dan orang tidak bersalah, itu artinya kan?" ketika dia mengatakannya dia melirik Arya dan mendapat balasan anggukan.



Lili yang baru konek juga ikut tersenyum



"Brian... Putra keluarga Grand duke Gerald. Jangan bilang jika kamu tidak bisa membunuh penjahat, yah?" ucap Lili menatap Brian yang masih saja diam.



"Ternyata ini wajah asli kalian? Kukira kalian adalah anak anak polos dan lugu yang takut dengan pembunuhan ternyata adalah sebaliknya, ya?" ujar Brian dengan Menyilangkan kakinya.



Mereka bertiga saling menatap dan tersenyum.


••



••



••



••



••



••



hola, aku up lagi... mungkin kali ini makin aneh alurnya...



jangan lupa like and komen all🥰