The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
PULANG



"Arya?"


Gadis itu menoleh menatap ayahnya yang tiba-tiba memanggilnya.


"Apa?"


"Kamu boleh menggunakan penampilan seperti itu, hanya saja matamu jangan mengubah warnanya, tetap gunakan warna asli, kamu bisa melakukan itu?"


"Heuh?, loh mana bisa gitu, aku kan cosplay jadi anaknya Farel!" sangkal Arya.


Zaint merasa jika tiba-tiba darahnya mendidih. cosplay jadi anaknya Farel?


"Heh anak kecubung, sebenarnya siapa ayahmu?!"


^^^(Kecubung itu nama buah ya, buah yang membuat berhalusianasi/mabuk karena adanya kandungan zat atropin dan skolopamin, bahkan buah ini bisa membuat keracunan jika salah-salah dalam menggunakannnya, disamping itu manfaatnya juga ada ya(hanya sedikit informasi))^^^


^^^(Fyi: kecubung juga merupakan batu permata yang warnanya ungu atau biru)^^^


Zaint memanggil anaknya 'anak kecubung' gara-gara anaknya menyukai warna ungu jernih. Dia ingat jika hampir setengah barang-batang anaknya itu berwarna ungu cerah dan hanya sedikit yang berwarna gelap.


......


Arya terdiam sebentar, apakah ayahnya itu sedang cemburu sekarang?


"Jika aku mengatakan kalau Farel adalah ayahku apa yang akan kau lakukan?" pancing Arya yang langsung membuat Zaint mengeluarkan aura membunauh pekat.


Glup...


Baik Arya! Sekarang kau membangunkan iblis yang tertidur. Batin arya berteriak keras.


"Oh, jadi Farel ya?" nada suram pria yang hampir menyentuh usia 30-an itu membuat Arya bergidik. Itu adalah aura dari orang yang menghabiskan setengah hidupnya dimedan perang!?


"Ump, e-enggak deh! Ka-u yang ayah! Bu-bukan Farel!!? Ehe!" ucap Arya dengan sedikit takut. Takut jika satu-satunya pengawal penjaganya mati ditangan ayah tirannya. Sayang woy, itukan pengawal pertamanya!? Yakali mati gitu aja!


^^^Farel be like: #menghela nafas# apakah hanya sebesar itu harga hidupnya?^^^


Zaint membuang wajahnya sementara Arya menghala nafasnya. Gini banget punya ayah over :v


"Aku loh anaknya tahu yang namanya balas budi" ucap Arya mengkat dagunya.


"Aku tidak akan melupakan orang yang telah membesarkan ku, aku itu setia, karena itu semua orang memanfaatkan..." Arya yang sebelumnya mengangkat dagunya setinggi harapan orang tua itu seketika tersentak. Dia tanpa sadar mengatakan sesuatu yang tidak biasa dia katakan. Beban hidup terbesarnya.


Zaint mengerutkan alisnya, "memanfaatkan? Siapa yang berani melakukan itu?" ucapnya dengan nada dingin tak bersuhu miliki nya.


"Eum? Kapan aku bilang begitu? Tidak ada kok!" sangkal Arya memiringkan kepalanya dengan senyum canggung.


Zaint tahu anaknya tidak akan mengatakan apa yang dia pikirkan  denga begitu mudah, jadi dia tidak bertanya lagi, biarkan anaknya sendiri yang mengatakan semuanya. Dia tidak ingin anaknya terbebani.


Arya mengajak ayahnya duduk dibangku kosong taman Akademi yang terlihat kosong.


"Yah? Aku itu baik atau jahat?" tanya Arya duduk dikursi itu sambil mengayunkan kakinya.


"Pertanyaan macam apa lagi itu?"


"Anu, itu, katanya... Aku itu orang jahat yang merebut sesuatu yang penting dari seseorang*, dan katanya juga aku baik karena aku patuh... Jadi aku ini baik atau jahat?"


^^^(*Eps 01, pas Gia ngomong)^^^


Arya menautkan kedua ibu jarinya dan memainkan jari telunjuknya. Mengharap tidak mendapat jawaban apapun. Takutnya kalau dijawab malah sesad.


Zaint terdiam mendengar ucapan anaknya itu.


"Pertama, kamu itu anak baik, walau nakal kamu tetap anak baik, kamu bukan orang yang meninggalkan tanggung jawab dengan begitu mudah"


"Kedua, kamu anak yang tidak pernah peduli pada status, buktinya kamu asal makan diluar tanpa peduli apakah itu bersih atau kotor"


Arya langsung menoleh kearah ayahnya dan matanya menyipit. Ada jejak permusuhan didalamnya.


"Gak semua yang ada diluar istana itu kotor, bukannya diadalam istana yang lebih kotor"


^^^(Maksudnya: makanan ada yang diberi racun atau pertarungan politik)^^^


"Kamu tak tahu betapa nikmatnya makan di kedai makan makanya kamu gak tahu rasanya"


Zaint menepuk kepala Arya dengan ringan, jika dilihat-lihat Arya benar-benar mirip dengan dirinya. Mata nya tidak bulat tidak juga sipit, kulit putih mendekati pucat, bibir tipis tak begitu merah hanya saja ada warna nya. Rambutnya... Seharusnya merah tapi jadi merah muda.


Satu-satunya anak perempuan miliknya yang dia besarkan dari dulu dan kini anak perempuannya beranjak dewasa.


"Tak terasa ya?" gumam Zaint menusuk pipi putih mulus Arya dengan jari telunjuk nya.


Arya menoleh lagi kearah ayahnya dan wajahnya terlihat jengah.


"Apanya yang tidak terasa?"


"Tidak ada" Zaint melanjutkan aksi menusuk pipi anaknya dengan wajah yang terlihat puas.


......


Di sisi lain taman Akademi....


Rechan duduk dikursi sambil menopang kedua tangannya pada lutut. Matanya lurus pada satu objek dihadapannya.


Dia memperhatikan wajah anaknya dengan seksama


Mirip ya?



"Kamu mirip seperti ibumu"


Hansel dengan wajah dingin dan jantung maraton membuka mulutnya.


"Ya, saya tahu itu ayah"


Rechan menyeringai.


Padahal dirinya bukan orang dingin begitu pula dengan istrinya. Ngomong-ngomong, istrinya sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Dia sangat mencintai istrinya sampai-sampai dia tidak ingin menikah lagi.


Namanya adalah Ametrine, wanita yang berhasil mengambil hatinya. Perempuan itu adalah orang pertama yang memukul nya sampai meninggalkan bekas.


Wanita yang baik, mungkin karena dia adalah anak ilegal keluarganya. Dia juga berasal dari kerajaan kecil di ujung Kekaisaran Theodore.


"Jika mereka tidak menginginkanmu, aku yang menginginkanmu, aku yang akan memberi keluarga untukmu, aku akan bersumpah untuk itu, Rine!"


Ck, padahal dulu dia sudah bersumpah, tapi kenapa wanita itu malah menemui sang pencipta lebih cepat? Kan bikin kesal!?


Hah~, mau sekesal apapun dia, tapi tetap saja dia merindukan wanita yang sudah menemani delapan tahun nya sebelum meninggal.


Wanita itu bahkan meninggalkan dua ekor monster kecil disampaingnya.


"Hah! Hansel, lain kali jika ingin pergi katakan dulu pada ku, jangan asal pergi tanpa pamit, paham? Kakak mu juga jadi panik gara-gara kamu"


Hansel mengalihkan matanya dan dia bergumam kesal.


"Terserah, saya masih ada satu jam pembelajaran, saya pamit dahulu"


Rechan yang ditinggal sendirinan kembali menghela nafasnya.


Kenapa kelakuannya yang malah mirip dengan ibunya?!


Asal pergi tanpa pamit, benar-benar ciri-ciri ibunya.


"Huu, lihat sayang? Itu anakmu! Mirip kamu!" adu Rechan menengadah kan kepalanya keatas.


......


Dikelas...


Arya kembali kekelasnya dan duduk diam. Matanya tetap hijau zamrud tanpa dibuat pudar. Teman-teman nya yang tak sengaja berpapasan dengannya langsung menatapnya sampai ketempat duduknya.


Tolonglah, itu malah semakin membuat dirinya diperhatikan.


"Ar? Matamu?" Hansel dengan bingung menatap Arya.


"Biarin aja!"


Guru masuk dan pelajaran akan dimulai.


Tapi guru itu menatap Arya dengan tatapan penasaran.


"Aryan, ada apa dengan mata mu?"tanya guru itu.


Semua siswa menoleh menatap Arya yang masih berkedip diam.


"Saya hampir diamuk sama ayah saya"


Pftt...


"Gak usah ketawa kalian!" Arya mendelik kesal menatap teman-temannya yang tertawa disampingnya. Bahkan guru pun hampir tertawa.


"Ar, jangan terlalu jujur lah!" ucap Delvan yang tertawa sambil menyembunyikan setengah wajahnya ditangan kanan nya.


Dia yakin jika tadi Arya bertemu ayahnya dan ditegur. Kasihan astaga tapi lucu juga.


Arya menatap datar temannya yang satu itu dan rasanya dia ingin menenggelamkan anak itu keselokan.


Sudah lah....


Pelajaran pun tetap berlanjut dan semuanya kembali seperti semestinya.


+_+_+_+_+_+


Beberapa bulan kemudian...


Apa yang terjadi?


Arya membuka pintu Istana miliknya dan suasana sunyi langsung menyambutnya.


Dia berjalan menyusuri tempat besar dan luas itu seorang diri. Ruangan yang lebih tepat jika dikatakan ballroom itu.


Dia pergi ke lorong dekat dengan taman.



"Apakah tempat ini memang luas dan sepi?"


Arya membuka salah satu pintu di lorong itu dan pandangan hijau menyambutnya.


"Huh, kangen ternyata"


Arya merasakan angin yang berhembus kearahnya dan menutup matanya.


"Btw, kemana semua orang ya?"


Gadis itu berjalan-jalan kedapur dan dia hanya bisa menemui dua orang koki dan pelayan disana.


"Paman koki, dimana Lina dan Tera?"


Koki itu menatap Arya sebentar dan dia langsung tersenyum. Dia melihat anak laki-laki dengan rambut pendek merah muda memanggilnya dan dia langsung mengenalinya.


"Nei Lina ada di dilantai tiga, dan kalau Sie Tera ada di belakang Istana memberi makan peliharaan, Tuan Putri"


Nie Lina adalah panggilan untuk Lina yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dan Sie Tera untuk tera yang usianya baru 27 tahun. Jangan salfok dengan umurnya Lina, walau pun begitu dia sudah merawat dua generasi, mulai dari ibu sampai putri. Itupun dari kecil sampai besar


"Okelah kalau gitu!"


Arya berlari kembali keluar dan mencari Lina.


\=\=\=\=


tinggal satu lagi


jangan lupa tinggalkan jejak