
Di Istana malam....
Arya yang sudah selesai menyiapkan perlengkapannya menaruh tubuhnya di sofa.
Dia mengeluarkan benda komunikasi dari kantung bajunya. Alat komunikasi itu baru saja di berikan oleh Zaint untuknya, katanya buat jaga-jaga siapa tau nanti dia hilang, kan? Kan bisa repot, apalagi sifat Arya yang gak bisa diam.
Kek kaktus goyang~
Dia menekan tengah dari alat komunikasi itu dan langsung terhubung dengan seseorang diseberang. Dia sedang menghubungi Feron
...Feron x arya...
"Why?"
^^^"Ngapain?"^^^
"Gak ada, kenapa?"
^^^"Udah siap?"^^^
"Udah, tinggal berangkat aja"
^^^"Oh, sama kalau begitu"^^^
"Bertemu di penginapan yang sama yuk?"
^^^"Menginap di penginapan yang sama? Boleh"^^^
^^^"Oke, yang lain,nya boleh ikut gak?"^^^
"Tentunya, mereka biar aku yang kirim ke sana!"
^^^"Yaudah, babay!"^^^
"heum!"
Panggilan terputus dan Arya langsung berjalan dengan santai menemui ayahnya.
"My honey banny handsome father!" Arya menemui ayahnya yang sedang memasang dasi di kamarnya. Dia membuka pintu dengan cukup keras lalu tersenyum sumringah.
Zaint hanya memandangnya sebentar lalu kembali pada pekerjaannya. Putrinya benar-benar tidak bisa dikasih tahu, padahal sudah dibilangin supaya tidak mendobrak pintu tapi apa? Dilanggar dan diterobos terusss.
"Sudah siap?" tanya Zaint menyelesaikan putaran terakhir dasinya.
"Sudah, ayo pergi" jawab Arya dengan semangat yang berkoar-koar.
"Dra dra dra!!" sahut Raya juga ikut mengangkat tangannya tanda bersemangat.
"Hm, baiklah"
Zaint membawa Arya, Brian, Gils dan rombongan lainnya bersamanya. Dia tidak mau repot dengan menggunakan kereta kuda Dan kapal pesiar untuk pergi, dia orangnya simpel tinggal pakai teleportasi dan jeng-jeng sampai.
^^^^^^^^^
Pada saat bersamaan....
Kekaisaran Jaeyang.....
Kediaman perdana menteri Ahn.....
Kamar Hayeo.....
Kini Hayeo sudah mendapatkan kamar yang lebih layak untuk disebut tempat tinggal. Setelah dia berdemo beberapa bulan akhirnya dia mendapatkan kamar yang bisa disebut kamar.
Dia menatap cermin lalu sedikit meringkuk kan bibirnya. Menyipitkan matanya.
"Nona, jangan tersenyum jahat seperti itu! Anda tidak cocok!" sahut seorang pelayan pribadi miliknya. Pelayan itu adalah Satu-satunya pelayan yang mau melayaninya.
Mirip nenek sihir, please!?
"Aih, yoona! Bisa diam gak? Jangan berkomentar!" ucap Hayeo menyerahkan sisir ditangannya.
"Terserah Anda" pelayan yang dipanggil yoona itu menyambut sisir itu lalu memperbaiki tatanan rias rambut hayeo
Kepala batu!!
Yoona, ya itu adalah nama pelayan pribadi milik Hayeo, pelayan yang terlihat kalem diluar dan toxic didalam. Terbukti dengan kata hatinya yang cukup 'wah'
"Btw, bukannya pesta di istana tinggal tiga hari lagi kan?"
"Iya"
Anda kan udah tau!
"Semua kaisar dari Kekaisaran lain akan datang?"
"Iya, tapi kali ini Kaisar dari Kekaisaran Roseland akan datang juga, padahal selama ini Kaisar itu tidak pernah datang, apakah itu karena Putri nya?"
"Putri?"
"Ya, Putri tunggal Kaisar Zaint dari Roseland, Kekaisaran terbesar dari Kekaisaran lainnya. Kekaisaran yang dibangun dari pertumpahan darah banyak makhluk hidup, selalu mendapat tawaran perang setiap tahun, tapi beberapa tahun ini tidak ada kabar tentang berita pecahnya perang"
Tiba-tiba dari arah pintu masuklah seorang pemuda tampan dan tinggi dari arah pintu masuk.
"Oppa? Kau datang?" tanya Hayeo langsung berdiri.
"Iya" jawab Eun Jun langsung duduk begitu saja di kursi.
"Tapi, apakah yang oppa katakan sungguhan?" tanya Hayeo ikut didik di kursi yang berhadapan dengan Eun Jun
"Tentu saja memangnya aku pernah berbohong padamu?" Eun Jun mengangkat pundaknya dan tersenyum
"Sering tuh!" jawab Hayeo langsung membuat Eun Jun semakin tersenyum.
"Haha, sudahlah, jadi kau ingin tahu apa lagi tentang Kaisar dari Kekaisaran lainnya?"
"Tidak perlu, tapi aku ingin tahu siapa sifatnya dan kepribadian dari Putri Roseland itu!?"
"Namanya Aryalania Frosen Alexander Roseland, kalau sifatnya kebalikan dari sifat Kaisar a.k.a Ayahnya, kepribadiannya walau tidak pernah dipublish tapi pasar gelap yang berhubungan dengan dunia bawah sedikit tahu seperti apa Putri itu, 'Putri adalah seorang yang bermuka dua' begitulah" selagi Eun Jun menjelaskan Hayeo hanya memperhatikan setiap kata-kata nya saja, hitung-hitung nambah pengetahuan kan.
"Eh? Bagaimana mereka bisa tahu padahal dia belum pernah dipublish?"
Eun Jun menatap mata adiknya itu lekat lalu mengambil pisau yang ada di bawah pakaiannya membuat Hayeo panas dingin lagi dibuat nya. Biasanya kalau psikopat kek kakaknya ini udah pegang pisau gak akan berakhir baik.
"Kenapa?" tanya Eun Jun mengelus pisau miliknya.
"..." Hayeo hanya menggeleng.
"Kalau tidak salah, dulu pernah ditunjukkan wajah sang Putri saat pesta ulang tahunnya yang genap berusia satu tahun, setelah itu mereka yang bodoh mencoba mengirim para membunuh bayaran untuk membunuh Putri, tapi yang kembali hanya satu orang itupun sudah kehilangan satu lengan. Sedangkan rekannya tidak kembali. Awalnya mereka ragu ketika mendengar pengakuan dari orang yang selamat itu"
"Apa? Pengakuan apa?"
"Pengakuan seperti "Putri bisa menggunakan senjata". Ketika dunia bawah digemparkan dengan hal itu semakin banyak orang yang mengirimkan bawahannya dan juga pembunuh bayaran lainnya, tapi setelah itu satu pun tidak ada yang terlihat batang hidungnya" lanjut Eun Jun mengangkat pisaunya empat puluh lima derajat.
"Hm, dan sepertinya hari ini mereka sudah sampai di Kekaisaran ini"
Serrrrr...
Seketika seluruh darah yang ada di tubuh Hayeo berdesir dengan cepat.
"U-umur satu tahun? Pakai senjata? Kok bisa? Enggak maksudnya kok bisa gitu?! Aku aja umur satu tahun cuma bisa ngemut jari sama robek-robek buku, lah dia bisa pakai senjata? Dia kerasukan, kah?" ujar Hayeo menggerak-gerakkan tangannya membentuk '🤌'
"Aku tidak tahu! Oh ya Hayeo apakah kamu mau racun ular yang sudah difermentasi didalam tangan manusia, hah? Jika mau kau bisa mengambilnya dikamar Jae Hwa!"
"Ahaha, tidak terimakasih!!"
Aku tidak butuh
Hayeo menerawang jauh kedalam pikirannya, saudara ketiganya(Jae Hwa) cukup kasihan mengingat kalau dia itu sama sekali tidak diakui oleh Eun Jun. Korban kambing hitam, apalagi dia itu korban ghosting, walau bukan dalam artian pasangan. tapi, kalau dapat teman dia itu selalu dapat yang fake friend, kasihan sih tapi ya gitu orang nya aja yang memang terlalu t0l0l, and dia itu termasuk dalam orang yang terlalu setia sama teman jadi kalau temannya bilang Hayeo itu pernah ngomongin dia dibelakang yang kena imbasnya ya Hayeo.
^^^(Saudara ketiga ➡ Jae Hwa ➡ perempuan)^^^
"Salah apa aku bisa dapat saudara seperti dia?"
"Anda tidak salah, yang salah takdir, karena telah mengikat kalian berdua sebagai saudara"
"Jangan bicara omong kosong!"
^^^^^^^
Besok harinya...
Arya and friend....
Arya dan rombongannya yang sudah sampai langsung pergi mencari penginapan dan mendapatkan satu, tak lama setelah itu rombongannya Feron juga tiba di sana.
Dan saat ini...
Arya yang tidak bisa diam itu sudah menghilang dari penginapan dan sudah ada di pasar. Oh ya, ngomong-ngomong saat ini masih pagi ya. Arya dan teman-temannya termasuk Feron dan Steve juga tidak ketinggalan.
"Feron, kita cari baju khas disini yuk? Sabi lah buat souvernir?" ujar Arya dengan senyum mengembang dia merangkul bahunya Lili yang terlihat memasang wajah kesal.
Mereka sudah biasa mendengar kalimat yang selalu keluar dari mulutnya Arya. Dan mereka pun tidak masalah dengan tata bicara Arya yang agak berantakan. Hanya cukup menyambung dan menyatukan kata depan dan belakang dari satu kalimat saja.
Ya contohnya yang di atas kata 'sabi' di sambungkan dengan kata 'buat souvernir' yang kalau digabung jadi 'bisalah dibuat souvernir', mereka terlalu pintar untuk jadi bodoh.
"Ayo lah, lagi pula aku tidak punya pakaian dari tempat ini" kata Feron memegang tangan kedua gadis itu. Lili yang mendadak dipegang tangannya oleh Feron langsung mengernyit dan mencoba melepaskannya tapi bukannya lepas pegangan Feron malas semakin kuat, jadinya dia hanya bisa pasrah saja.
keknya yang berdua ini lagi bersitegang(?)
Dan jadilah mereka berbelanja di sebuah toko pakaian yang terlihat sepi dan terletak sedikit disudut.
"Kita mau cari baju atau mau uji nyali, kenapa ketempat suram dan sepi seperti ini?!" tanya Delvan dengan kening berdenyut-denyut karena kesal.
"Terkadang tempat seperti ini bisa menguji Adrenalin, hitung-hitung cari pengalaman berbelanja ditempat seperti inikan gak masalah?" jawab Arya tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk, tak lupa mengucapkan salam
"sillyehabnida, joh-eun achim"
(Permisi, selamat pagi)
"a, deul-eooseyoah"
(silahkan masuk)
"gamsa haeyo"
(terimakasih)
"ulineun yeogie ib-eul hanbog os-eul saleo wassseubnida. amado os-i issseubnikka?"
(kami kemari ingin membeli pakaian hanbok untuk dipakai, mungkin beberapa helai pakaian?)
"o, mullon jebal"
(oh, tentu silahkan)
Ketika Arya sedang berbicara dengan seseorang yang terlihat seperti pemilik toko hanya bisa diam. Beberapa ada yang diam-diam tercengang dan beberapa lainnya hanya tersebut miring.
Yang tercengang "kapan dia bisa berbahasa Korea?"
Dan yang biasa-biasa saja "Arya itu pintar cuma ya gitu ketutupan sama sifat gilanya aja"
Dan ketika mereka sudah benar-benar masuk, sudah ada dua orang gadis yang juga sedang berbelanja.
Tatapan Arya jatuh pada gadis berambut Oranye begitupun sebaliknya.
•••••♪•••••♪•••••♪•••••♪
join tele yuk, bisa nanya-nanya apa aja, terserah lah mau nanya hiatus terpanjang nanti juga boleh😏
link?
https://t.me/joypeyn