The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
DITELAN SLIME KUNING



Hari ini Arya dengan sangat malas turun dari kasurnya. Rasanya dia tidak ingin mengingat kejadian kemarin.


Kemarin...


Semua siswa dari sektor pedang memasuki ruang dimensi untuk latihan praktek.


Semua siswa terkesima dengan ruang dimensi yang sebegitu luasnya bahkan sepanjang mata memandang sama sekali tidak terlihat ujungnya.


Sebelum menjadi Aryan, Arya adalah gadis yang hiperaktif alias gak bisa diam. Namun, sekarang berbeda dia harus menahan diri dari gejolak penasaran yang seketika menerjang hatinya.


Jika bisa, dia ingin berlari dan berteriak..


Ruang dimensi itu dibuat khusus untuk latihan, ada banyak senjatanya. Ada juga beberapa gua yang seperti portal


"Pak, itu gua apa?" tanya Arya pada Guru Taiga, guru yang bertanggung jawab untuk teori dan praktek pedang.


"Oh itu dungeon, tempat yang dipenuhi monster yang sengaja disiapkan untuk latihan"


Arya berkedip dan pupil matanya bergetar.


Dia hampir lupa jika dunia ini [mirip] dunia fiksi WP yang sering dibaca oleh Hayeo. Dunia dimana hal yang mustahil jadi terwujud dengan sihir, kekuatan dan kekuasaan. Andai dia dulu juga baca yang gendre 'fantasi isekai' pasti dia tahu hal yang semacam 'Dungeon' itu.


Tapi sayangnya dia tidak membacanya. Padahal jika dilihat secara langsung, dungeon itu adalah tempat yang terlihat menarik(✪▽✪)


Luar gua yang disebut dungeon itu memiliki pelapis yang tertutup dan terlihat kokoh. Warna biru dan putih imagi terlihat sangat cantik dengan pola yang seperti setruman listrik bertegangan kuat.


Guru muda itu mengerutkan dahinya. Dia cemas.


"Jangan coba-coba memasuki tempat itu sebelum waktunya!"


Entah kenapa, guru itu merasa jika anak didepannya itu akan berbuat aneh dan tak terduga kedepannya.


Arya yang diperingati hanya mengangguk.


Dari arah belakang, Seadna menepuk pundak Arya membut gadis 'gender bender' itu tersentak kaget.


"Hah! Astaga, kamu hampir membuat jantungku pindah ke usus tahu?!"


"Huh? Apakah bisa separah itu?" tanya Seadna yang kebingungan.


"Tentu saja!" ingin sekali Arya mencekik gadis dihadapannya.


"Oh maaf kalau begitu" ucap Seadna berkedip imut.


Guru Taiga berteriak memanggil semua anak-anak muridnya untuk berkumpul.


Sangat banyak siswa yang ada di Sektor pedang dan rata-rata adalah laki-laki. Walaupun begitu, jika Arya bisa mengatakannya, Arya akan bilang jika kelas nya itu mirip seperti kelas IPA 1 didunia modern yang dimana muridnya itu adalah murid teladan tanpa masalah yang terlalu dibesar-besarkan, kalau ada masalah akan diselesaikan dengan diskusi diakhir pelajaran.


^^^(Berdasarkan pengalaman ygy ^w^)^^^


Guru muda itu mulai menjelaskan beberapa ringkasan singkat. Mulai dari kenyamanan dan kebiasaan setiap siswa.


Dimulai dari Seadna yang menyukai Knuckle. Tidak ada yang menduga jika gadis itu menyukai pertarungan dangan benda tajam, jika didunia sosial pasti akan dikatain 'tidak memiliki etiket', 'gadis kasar', 'gadis tidak sopan' dan bla-bla-bla yang benar-benar menyebalkan lainnya.


Berbeda dengan Arya yang terbilang cukup paham karena teman-temannya tidak ada yang sehat(waras). Untungnya dia adalah ciri-ciri orang yang kalau keluar dari istana selalu nyamar, jadi gak pernah ketahuan dikalangan bangsawan maupun rakyat.


Knuckle yang disukai Seadna adalah knuckle besi yang dimana pinggiran dari benda itu sengaja tidak dihaluskan agar menciptakan sensasi yang sangat menyakitkan jika bersentuhan dengan kulit lawan. Itu juga sesuatu yang hebat.


Selanjutnya adalah Hansel yang ternyata ahli dengan tombak dengan kedua ujung adalah besi tajam dan runcing.


Semua anak-anak itu mengambil senjata mereka masing-masing.


Dan entah bagaimana Arya mendapat urutan terakhir. Dia mengamati semua jenis belati yang tersusun rapi dihadapannya.


Arya aslinya tidak menyukai pertarungan langsung, tapi, dia menyukai pertarungan diam-diam.


Penggunaan sihirnya juga hanya disaat-saat tertentu saja atau keadaan mendesak. Jika tidak direncanakan ya seperti saat dia dikejar *****g beberapa tahun lalu. Dia bahkan lupa jika dia bisa mengunakan sihir. Itu adalah salah satu situasi sulit karena rasa ketakutan dan trauma lama langsung muncul bersamaan.


Dia dengan pasti mengambil dua  belati yang tersusun dihadapannya dan kembali ketempatnya.


Seadna melirik sekelilingnya dan sekali lagi menepuk pundak Arya, namun kali ini gadis itu tidak terkejut.


"Ada apa?"


Seadna hanya menarik sedikit sudut bibirnya dan berbisik.


"Ternyata kamu suka belati ya?"


Arya yang bingung dengan pertanyaan gadis disampingnya itu langsung mengerutkan keningnya aneh.


"Begitulah"


"Sepertinya aku sudah tidak perlu takut lagi nantinya" bisik gadis itu meninggalkan Arya yang semakin bingung.


Apa sih maksudnya?


Ambigu banget dah!


Arya yang merasa aneh hanya bisa mengkat bahunya tidak peduli.


'Keingintahuan akan membunuh sang kucing' itu adalah kata kiasan yang cocok dengan Arya saat ini.


Gadis yang merubah rambut dan matanya itu melihat sekelilingnya dan tiba-tiba rasa nya dia merinding.


Dia tanpa sadar menatap kearah 'Dungeon' dengan tatapan tak bisa diartikan.


Suara yang samar-samar kini mulai terdengar cepat dan semakin cepat.


Apa itu?


Waaaghhh...


Guru Taiga yang mulai memberitahukan intruksi pelajaran 'duel' pada para siswa itu langsung menoleh dan melihat anak didiknya yang baru beberapa menit yang lalu dia tegur kini digerumuni oleh seekor monster berbentuk jeli kuning raksasa.


"Warggh... A-apa apaan ini sih kok kek slime lengket"


"Kenapa warnanya kuning sih, uwergg...!?"


Arya seketika ingin muntah saat terbanyang sesuatu


Ugh, seperti eex kucing


Huweek...!!!


Sungguh, sempat-sempatnya anak itu membayangkan sesuatu yang menjijikan seperti itu di kepalanya, bahkan Aryan yang melihat langsung 'gambaran' nya seketika muntah ditempat.


Arya benar-benar si*lan!


Arya yang masih diselimuti oleh slime kuning itu merasakan jika lututnya seperti agar-agar saat dia mendengar suara Slime kuning itu bergema dikepalanya.


[Aromanya enak! Seperti buah~]


Oke, rasanya Arya ingin menjerit.


Ah, sepertinya bertengkar dengan ayahnya lebih baik dari pada dilahap oleh Slime aneh...


∘₊✧──────✧₊∘


Kembali ke waktu sekarang...


Arya memiringkan kepalanya dan  menatap sekelilingnya dengan tatapan hampa.


Walau seisi ruangan itu masih lengkap dengan lima orang lainnya, Arya benar-benar serasa kosong.


Seperti... jiwanya belum kembali sepenuhnya dari sebuah mimpi aneh.


Mimpi dimana dia bersama seorang anak laki-laki samar dikejar oleh benda merah dari belakang dan dua orang dewasa sedang tertawa.


Di mimpi itu rasanya seperti kenyataan, seperti sangat hidup.


"Oh Iyan, kamu sudah bangun?"


Pertanyaan yang sangat Dejavu :y


Arya menoleh, semua temannya menatapnya. Mata hijau samar itu berkedip perlahan. Bibirnya yang sedikit pucat bergerak-gerak.


"Mirip Lily dan Feron" gumam Arya mengalihkan kepalanya diatas bantal. Dia tidak ada keinginan untuk bangun dari tempat tidurnya karena tenaganya seperti habis terkuras.


"Kangen Lina~" ucap Arya perlahan.


Hansel dan Delvan yang mendengar ucapan Arya langsung menoleh.


"Serius? Kamu merindukan pengasuhmu? Bukannya kamu selalu meninggalkan mereka ya?" tanya Hansel berusaha menarik Arya dari kasur.


Sementara Delvan tanpa ampun menepuk kening gadis itu sampai bunyi 'pak' yang cukup renyah.


"Kamu kemasukan apa lagi, hah!?"


Arya dengan tidak percaya menatap temannya yang satu itu dengan mata cengok.


"Ka-kamu memukul ku lagi?!"


Bamn...


"Aryaaaa cepat bangun!!!" teriak Emilly yang tiba tiba masuk bersama dengan Feron yang diiringi Brian dan Riden dari belakang.


Arya yang tiba-tiba melihat teman sengklek nya masuk langsung bangun.


Oh, sepertinya dia tahu sekarang bagaimana perasaan ayahnya saat dia membanting pintu ruang kerja Kaisar.


Ternyata sangat menyebalkan


Arya mengangkat alisnya dan matanya menyipit.


"Ngapain kalian kesini?"


Untuk apa anak dari sektor sihir datang ke sektor pedang yang jaraknya hampir dua bangunan jauhnya.


"Kemarin guru yang masuk kekelas kami bilang minggu depan para Kaisar akan datang, besok adalah hari minggu, artinya hari kamis para Kaisar datang kan?"


"Apaan sih Li? Coba kalau ngomong itu dikasih jeda, nafas dulu, jangan langsung nyerocos kek ikan kelelep, bingung tahu!!?" protes Arya mengorek telinganya yang sakit.


"Haha, menurutku Kaisar akan datang hari senin atau hari selasa, karena aku diberi tahu langsung oleh Ayahku" ujar Feron tersenyum bangga.


"Bangga si anak monyet" celetuk Arya berdiri dari tempat tidurnya.


Semua anak yang ada didalam kamar itu tertawa bersama. Sedangkan Feron dan Ryzan menatap Arya dengan tatapan tak bisa diartikan.


"Kamu mau kemana?"


Arya berbalik, "mau mandi, makan, kekelas, nyantai dikerpustakaan, dah itu aja ya bye!"


Arya berlenggang pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya yang masih sedikit tertawa.


maaf sangat terlambat up nya, saya sangat sibuk di real-life🙏


jangan lupa tinggalkan jejak walau hanya komenan saja😄