
Suatu ruang yang gelap dan hampa, hanya ada satu kehidupan.
Satu-satunya yang hidup di tempat itu adalah sesuatu yang berwarna merah.
Makhluk itu bergerak tidak nyaman sama sekali.
"Kamu masih disini?"
"Kamu masih mengharapkan nya?"
"Kenapa?"
Makhluk merah itu mendongak keatas saat dia mendengar suara manis dari arah langit-langit gelap itu.
Sesuatu yang bercahaya putih itu perlahan turun dan mendarat di tanah.
"Kukira kamu akan pergi dan menemuinya?"
Makhluk itu sedikit tersenyum suram.
"Kenapa? Apakah aku ke sana untuk melihat kematiannya lagi?" tanya makhluk itu dengan wajah ingin menangis.
"Ratusan kali aku melihat nya mati tanpa bisa menolongnya, aku hampir gila, kamu tahu?" gumam makhluk itu memegangi dadanya.
"Kamu memang membawanya pergi, tapi... Kenapa kamu tega melakukan semua itu, kamu sangat kejam!?"
Pria dengan telinga runcing dan wajah cantik yang tadi turun perlahan mendekati makhluk merah itu.
"Maaf, itu bukan kehendak ku, dia sendiri yang mengatakan jika dia tidak ingin mengingat kehidupannya"
Pria dengan telinga lancip itu duduk di samping makhluk itu dan menekuk lututnya.
"Tapi, kamu tahu sesuatu yang terakhir dia katakan sebelum 'kembali'? Kamu mungkin tidak akan percaya"
Makhluk merah itu menoleh dan
menatap mata pria dengan telinga lancip itu intens.
Matanya memiliki warna hijau permata dengan sedikit perak. Rambutnya lurus berwarna biru dan telinga lancip, dia adalah ras Elf yang sangat jarang bisa ditemui, bahkan bisa dibilang hampir mustahil ditemukan.
"Apa?"
"Dia ingin dilahirkan dengan ingatan sebelumnya, percayakah kamu?"
Makhluk itu terdiam dan tertegun.
Beberapa ingatan lewat di kepalanya.
"Serya! Kemari~ tangkap kumbang itu!"
"Sean, ayo berenang!? Sangat panas hari ini!"
"Sora, ayo mutilasi anak orang?! Bisa-bisanya dia bilang aku anak psikopat! Huh!"
"Key, dimana kunci motorku! Aku mau balapan ini woy, jangan kamu sembunyikan!!"
"Der, rasanya sakit... bisa kamu lepaskan aku dari rasa sakit ini? Kamu bisa mengambil nyawaku sekarang, ini sangat menyakitkan"
"Rick, besok ada persembahan ballet, kamu ikut jadi pendamping ya? Soalnya Erik dan Sovi ada kesibukan disekolah mereka"
"Kak Kevin, oh Kak Kevin, lihat laptop aku yang warna silver? Di sana ada banyak berkas sama dokumen penting loh, kok bisa aku kehilangan laptop nya?"
Banyak kenangan yang terlintas di kepalanya membuatnya tersenyum getir lagi.
Dulu dengan ratusan identitas dia gunakan untuk bisa dekat dengan 'orang itu'. Tapi sekarang.... Apakah bisa seperti dulu lagi? Apakah kenangan itu bisa kembali lagi?
"Dia sudah berada ditempat yang semestinya dia berada, aku sudah melakukan sebisaku"
"Dengan kemampuan milik'nya' aku yakin dia bisa melakukan hal besar nantinya"
Makhluk merah itu tiba-tiba menyela
"Tempat semestinya?"
Elf itu tersenyum dan mengangguk.
"Benar, tempat semestinya dia lahir, dia hanya perlu menentukan jalan hidupnya sendiri!"
"Ugh, kapan dia akan menyadari diriku?"
"Sabarlah"
"Kamu tidak ada pikiran untuk menemui Naga Hitam? Sepertinya dia sudah dibangunkan?"
"Ugh, apa aku harus bertemu naga sombong yang tidak tahu malu itu? Aku sangat tidak mau, kau tahu?!"
"Ouh, baiklah, padahal apa yang kamu inginkan ada padanya juga"
Elf itu kembali tersenyum lalu pergi dari sana meninggalkan makhluk merah itu seorang diri.
"Yang Mulia...."
******
******
******
Disaat bersamaan
Seorang gadis yang sedang berjalan jalan di taman mawar nya seketika menoleh kebelakang. Rambut merahnya berkibar karena ditiup angin, dan netra mata hijau zamrudnya berkedip dengan bulu mata panjangnya.
Seperti ada yang sedang memanggilnya, siapa itu?
Dia hanya menggedik kan bahunya dan kembali melenggang menyusuri taman itu.
"Kalian sudah tumbuh dengan baik, aku juga sudah tumbuh, semoga kalian tidak mati sia-sia sepertiku ya?"
"Putri, baginda memanggil anda, sebentar lagi ada rapat dengan para petinggi Kekaisaran!"
"Ya~ aku akan datang~"
Gadis itu berlari dari Istana nya dan langsung mencari ayahnya.
"Met pagi Perdana Mentri Tama yang baik beda dengan Majikannya yang menyimpang~"
"Ah, selamat pagi Putri, tapi anda juga majikan saya"
Krik... Krik.. Krik...
"Uh, benar-benar deh"
Arya hanya menyentuh kepalanya dengan hampa dan menggeleng.
"Ah, tidak terasa ya, anda sudah delapan tahun" Tama mengalihkan topik membuat Arya seketika menautkan bibirnya
"Ha~ah, benar banget, tidak terasa sudah delapan tahun aku hidup, waktu benar-benar terus berjalan ya, dan tentu saja tidak ada yang berubah"
"Hehe, anda benar! Tapi ada satu hal yang berubah menurut saya"
"Apa?"
"Sikap Baginda yang dulu perlahan menghilang, jika dulu Baginda bisa melepaskan hawa mematikan hingga ke luar Istana, sekarang sudah tidak pernah lagi(ya walau jarang)"
"Begitu kah?"
"Hu'um"
Arya dan Tama berjalan beriringan menuju ruang rapat, sepanjang jalan mereka isi dengan candaan ringan ataupun cerita.
"Ar?" tegur Zaint mencoba untuk tidak memarahi anaknya yang tidak ada anggun-anggunnya itu.
"Ah, ehem! Selamat pagi semuanya, maaf saya sepertinya sedikit terlambat" sapa ulang Arya sedikit meregangkan roknya yang memiliki panjang sedikit di atas lutut.
(Arya itu memiliki pakaiannya yang tidak memiliki batasan, tapi paling engga dia punya 'rok' lah sebagai seorang gadis)
Rapat dimulai dengan sapaan yang dilakukan oleh Tama dan berlanjut dengan beberapa materi yang dibahas. Arya yang juga sudah terbiasa dengan rapat seperti itu hanya bisa diam dan terkadang jika diperlukan dia akan dimintai pendapatnya, kadang berjalan baik, kadang juga menyimpang.
Arya yang memiliki pikiran gila kadang mengeluarkan beberapa membuat seisi ruangan menepuk jidat mereka serempak.
Setelah rapat...
Arya keluar dari Istananya dan pergi ke Kekaisaran Ruffela hanya untuk menemui Feron yang sudah jarang menemuinya. Dia pergi bersama Delvan dan Emilly dan jangan lupa dua gunung berjalannya juga harus ikut.
"Feron Jeres Ruffela, pangeran tampan dari Benua lain, idola para Lady muda, dimana kamu~"
"Jangan buat keributan!" tegur Feron dengan buku ditangannya.
Beberapa saat kemudian dia mendongak dan...
Currr...
Darah merembes dari hidungnya ketika dia menatap wajah Arya yang sedang tersenyum cerah. Jantung nya juga ikutan maraton jadinya.
"Mulai lagi anak itu" Emilly memutar bola matanya jengah.
Entah sejak kapan, jika Feron menatap Arya antara wajahnya berubah jadi merah, ya mimisan. Mau koid kali dia!
"A-ada apa? Tu-tumben sekali kalian datang?"
"Tidak apa, hanya ingin melihat wajah ngeselin mu saja" jawab Arya yang langsung duduk di sofa.
"O-oh?"
"Lili sini dulu kamu!" Feron mengayunkan tangannya untuk memanggil Emilly yang ingin duduk di sofa.
"Kenapa?" tanya Emilly mengangkat alisnya.
"Sini dulu!"
"Dih, malas"
saking gemas nya Feron melihat Emilly yang seperti mengabaikannya, dia berdiri dan menarik gadis itu langsung.
"Apaan sih bocah?!" sentak Emilly menghempas tangan Feron.
Feron hanya mengelus tangannya yang sepertinya sedikit terkilir
Kejam banget~
Jantung Feron yang sebelumnya lari maraton kembali normal saat dia menyentuh tangan Emilly.
'Ternyata benar... Berarti dia adalah obat berjalan ku, kan?' batin Feron memandang Emilly dengan senyum licik.
"Ke-kenapa kamu menatapku seperti menemukan seekor mangsa, sih?" entah kenapa Emilly jadi gugup melihat senyum anehnya Feron.
Merinding yeh!
"Tidak apa kok?"
Arya memiringkan kepalanya kesamping ketika dia melihat sebuah kertas yang memiliki stempel aneh.
"Itu apa?"
Feron seketika menoleh pada kertas yang ditunjuk Arya.
"Ah, itu surat pendaftaran masuk Akademi"
Feron menyerahkan surat itu pada Arya dan langsung dibaca oleh gadis itu.
"Heum, ternyata cukup banyak jurusan yang bisa diambil ya"
"Yeah, hanya saja tidak boleh mengungkap identitas begitu saja"
"Hem, sepertinya aku tertarik dengan ini!"
"Gak bisa Ar! Kamu itu masih 8 tahun sedangkan usia minimal untuk masuk Akademi adalah 10 tahun"
"Diantara kalian yang bisa masuk Akademi hanya Delvan, Riden dan Brian. Sedangkan kamu dan Lili tidak bisa"
"Cih apaan itu?!"
"Jika ingin masuk, paling tidak kamu harus dapat surat rekomendasi dari ketua Akademi langsung. Sedangkan ketua Akademi itu sangat jarang berasa di tempatnya"
"Apakah sesulit itu masuk Akademi?"
Feron mengangguk dan berkata.
"Iya, karena bukan hanya bangsawan tapi juga rakyat biasa yang akan bersekolah di sana, itulah sebabnya peraturan itu dibuat"
"Apa lagi, aku juga dengar ada beberapa kasus pembullyan di sana hanya karena identitas mereka terungkap ke publik, itulah sebabnya di formulir itu tidak dicantumkan 'alamat' para calon siswanya"
"tunggu-tunggu, apa hubungannya dengan alamat, kan gak akan guna juga kalau namanya ditulis lengkap?" ucap Arya mengelus alisnya.
"Tidak, kita tidak boleh menulis nama lengkap, kamu tahu, setiap nama yang diberikan orang tua itu hanya nama depan dan tengah saja yang boleh ditulis?"
Arya jadi semakin mumet ketika mendengar penjelasan dari Feron yang sangat membingungkan.
"Huft, jadi gini, misal ni ya! Namaku kan FERON JERES RUFFELA, yang akan ku gunakan hanya FERON JERES-nya saja marga keluarga tidak boleh diikutsertakan" Feron dengan sangat sabar menjelaskan nya pada Arya yang perlahan mengerti.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Oh begitu~ paham-paham!"
like komen jan lupa😁👍