
Tengah malam....
Alican masuk kedalam kamarnya dan menuju ke sebuah cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya.
Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaan cermin itu perlahan.
"Sudah lama aku tidak melihat penampilan seperti ini"
Dia terakhir kali melihat penampilan seperti itu saat dia berusia 16 tahunan. Penampilan yang unik, pupil mata hijau zamrud dengan sedikit hijau bersinar di netranya. Rambut lurus dengan sedikit gelombang berwarna merah cerah hampir mendekati warna darah. Kulit pucat, lembut, dan sedikit dingin mirip seperti salju. Bibir tipis dengan warna merah cherry yang alami.
Dia menarik sedikit rambutnya dan menatapnya.
"Kenapa ini bisa sangat mirip ya? Alice? Kenapa?"
Biasanya saat rambut merah dan mata hijaunya muncul adalah sekitar tanggal 28-30 Juli sebelum---
Eh...
Tunggu!
Alican sedikit mengernyit, dia mulai menyadari sedikit kejanggalan.
"Kenapa tanggal lahir nya sama?!"
Yup, Alice dan Arya lahir di tanggal dan bulan yang sama, 1 Agustus.
"Apa ada hubungannya?"
Cek lek...
Pintu terbuka dan menampilkan Zaint yang baru saja memasuki pintu.
Zaint memandang Alican yang ada pada cermin lalu pada Alican ditubuh anaknya.
Dia hanya melihat pantulan seorang anak laki-laki yang sama dengan anaknya, hanya saja di pantulan itu bukanlah anaknya, itu orang lain.
"Siapa sebenarnya kamu?"
Sebenarnya Zaint sudah tahu hanya saja dia hanya ingin tahu langsung dari orangnya.
"Apa?"
Alican sedikit bingung mendengar apa yang ditanyakan oleh Zaint secara tiba-tiba.
"Apa maksud anda?"
Zaint mendudukkan dirinya sendiri di sofa yang ada di ruangan itu tanpa beban.
"Siapa. Sebenarnya. Kamu? Kenapa kamu ada ditubuh anakku?" tanya ulang Zaint.
Sikapnya yang cool membuatnya terlihat keren. Tapi, berbeda jika Alican yang melihatnya.
"Apa yang anda lakukan?" Alican mengernyit dan menatap sofa yang diduduki Zaint.
Dia dan Arya itu sama, hanya saja dia tidak se-sensitif Arya.
"Hah, saya tidak mengerti maksud anda?"
"Siapa kamu? Kamu bukan Arya! Jika itu adalah Arya dia tidak akan berbicara formal seperti itu dengan ku? Siapa kamu Alican?" selidik Zaint membuat Alican tersentak.
Benar, selama 7 tahun Arya hidup dia tidak pernah bicara formal kepada siapapun, kecuali beberapa orang yang baru dia lihat.
Alican ikut duduk dan melipat tangannya dan sedikit mencibir.
"Aku adalah Arya, aku adalah dia. Aku anakmu! Anakmu!" Aliran mempertegas perkataannya dengan menaruh tangannya di dadanya dan wajah meyakinkan.
Zaint memundurkan sedikit wajahnya. jika Arya itu kadang otaknya geser, tapi sepertinya Alican itu memiliki otak waras(?)
((?): gak yakin juga¯(ツ)/¯)
Zaint menatap wajah Alican lalu meneliti sedikit.
Dia tidak bisa tahu apa yang dipikirkan anak itu jika seperti itu. Wajahnya memang memiliki ekspresi tapi itu tidak bisa dibaca dengan mudah.
Hah....!
"Apa maksudmu tadi?"
"Maksudnya anda yang mana? Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan?"
Alican memandang Zaint dengan malas, sudah jelas dia sedikit bosan saat ini. Biasanya dia tidak pernah bangun mendadak ditubuh Arya.
^^^(Maksudnya itu, tadi kan Arya minum anggur tuh tanpa pikir panjang, and dia terbangun buat ngegantiin Arya yang teler) ^^^
Jika itu dulu dia tidak akan kaget, tapi karena ini pertama kalinya dia bangun setelah sekian lamanya jadinya dia tidak memiliki kesiapan apapun.
"Yang tadi kalian bicarakan sampai membuatmu menangis?!"
Blush....
Seketika wajah Alican memerah.
"A-aku tidak menangis!" sangkal Alican menutup sebagian wajahnya dan mengalihkan matanya ketempat lain agar wajahnya yang memerah tidak dilihat Zaint.
"Ha! Kamu kira mata semua orang hanya hiasan dan telinga semua orang adalah dekorasi?" ucap Zaint dengan wajah menghina dan juga sinis.
"Hah~ Yang Mulia, maaf atas kelancangan saya ini, tapi bukankah anda ingat jika dulu anda juga ada salah?"
Zaint mengernyitkan keningnya dengan tidak suka. Dia sangat kesal dengan bahasa formal yang digunakan Alican. Terutama karena Alican berbicara menggunakan tubuh Arya, anaknya!
"Secara garis besar, saya ada karena seseorang menginginkan saya. Mau itu anda atau istri si*ala* anda itu"
"Anda menelantarkan Permaisuri anda dan pergi berperang, lalu saat anda tahu bahwa Permaisuri anda itu sedang hamil anda ingin membunuh nya. Tapi wanita itu mati duluan"
"Bagaimana....?"
"Anda juga berniat membunuh anakmu sendiri, kan?"
"Itu..."
"Tapi saat anda melihat wajah tak takut mati anak itu, anda memilih untuk mentolerir nya, kan?"
"..."
"Anda ingin melihat apakah anak 'ulat' itu akan hidup atau malah mati ditempat yang juga disebut sarang penjahat, atau banyak yang mengenalnya dengan sebutan Kekaisaran Roseland"
"..."
"Tempat yang hanya melahirkan keturunan laki-laki tanpa ada satupun yang terlahir perempuan"
"Apakah Anda tidak merasa aneh? Kenapa dari banyaknya generasi, hanya Anda yang bisa memiliki anak perempuan?"
Zaint sedikit mengernyit, apa yang ingin dikatakan Anak didepannya itu adalah...
Bahwa dari sekian banyak anak yang lahir dari keluarga kaisar hanya ada Arya sendiri yang lahir sebagai gadis.
Bukankah seharusnya gadis itu anak yang istimewa?
"Jika melihat dari semua buku yang di baca oleh Arya mengenai sejarah Kekaisaran Roseland, bukankah pernah ada terlahir anak perempuan?"
Zaint berkedip dengan tenang...
"Ya, tapi kebanyakan mati di rahim wanita yang mengandung nya, tidak pernah ada yang selamat sampai dilahirkan, para penyihir baru tahu tentang gender nya setelah di keluarkan dari rahim"
"Bagaimana dengan Arya? Dia lahir dengan keadaan prematur, tapi tidak ada yang menyadari itu?"
"Tidak, orang yang membantu persalinan itu tahu, tapi tidak ada yang memberitahukan itu padaku"
"Hmmp, apakah anda tidak janggal, Yang Mulia? Saya ingin bertanya, apakah anak perempuan yang mati itu.... Tidak membuat ibunya mati juga?" tanya Alican dengan tawa remeh nya.
"Itu... Tidak"
"Lalu kenapa saat kelahiran Arya, ibunya mati dan anaknya selamat walau dalam keadaan prematur?"
"Eh!"
"Hehe!, baik mari kita menggunakan hipotesis dahulu! Jadi menurut saya, Arya lahir dengan mengambil hidup ibunya, atau~ karena terlalu kuat, Arya menyerap inti hidup ibunya agar dia bisa hidup, kan?"
Zaint kembali berfikir, jika dipikirkan lagi itu cukup masuk akal, dia kembali menatap wajah Alican yang masih sedikit terkekeh-kekeh dengan lucu.
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada!"
Pada kenyataannya Alican mengambil beberapa ingatan Arya dan menggunakan nya, dan beberapa lagi adalah karangannya, walau dia tidak tahu bahwa apa yang dia katakan itu tidak lah salah.
"Jika dilihat-lihat kau memiliki pandangan terbuka, dan cukup blak-blakan"
Alican seketika terkesiap mendengar peryataan dari Zaint yang tiba-tiba.
"Apa maksud anda itu?"
"Kamu berbeda dengan Arya yang terlihat tidak terlalu suka untuk menyatakan hal sepertimu?"
"Seperti perkataan mu ketika diruang tamu, Arya suka mengumpat, bertegang urat dengan ku, bahkan berselisih paham pun pernah, tapi dia tidak pernah ingin mengatakan apa yang dia rasakan"
"Hanya satu yang membuatku kepikiran selama ini, dia selalu bermimpi yang sama--"
"Maksud anda, Arya selalu bermimpi tentang seorang gadis berambut putih dan seorang wanita berambut ombre coklat kan?"
"Bagaimana kamu tahu?"
Alican dengan tanpa ekspresi memandang Zaint.
Bukankah dia tadi sudah bilang kalau dia itu Arya? Dan bahwa ia itu adalah kepribadian ganda Arya? Kepribadian yang memiliki kesadaran nya sendiri?
"Hah! Terserah lah!"
"Anda pasti bertanya-tanya kenapa saya menangis kan? Itu karena kelas penerus yang pernah Arya hadiri, ajarannya sesat banget si*lan!? Aku benar-benar tidak percaya!!" keluh Alican dengan wajah kesal dan marah. Walaupun sebenarnya dia juga tidak mengatakan kebenarannya tapi itu lebih baik.
Dia tidak bisa membantu dirinya sendiri disaat seperti itu, dan itu membuatnya semakin kesal.
Kenapa dia tidak keluar di waktu seperti itu?
Hah, tapi untungnya saat percakapan tadi dia tidak menyebutkan tentang 'ayah' dan 'ibu' tanpa sadar. Bisa-bisa dia nanti yang diinterogasi.
"Ah, lupa! Nanti pagi Arya akan bangun dari mabuknya, aku lelah"
^^^(Maksud nya : "kamu pergi saja sana!") ^^^
" baiklah" Zaint beranjak pergi dari kamar itu, tapi sebelum itu dia berbalik sebentar dan mengatakan sesuatu yang sepertinya tidak didengar Alican yang juga sudah berbalik untuk naik ke kasurnya.
"Aku sampai sekarang juga masih berfikir bahwa Arya bukanlah anakku, jika bukan karena dia prematur, mungkin aku akan berfikir jika Sella berselingkuh dengan b*ji*gan 'itu'!?" gumam Zaint langsung menutup pintu.
Zaint kembali ke kamarnya dan membuka sesuatu yang berada didalam saku bajunya.
Zaint menggenggam surat itu dengan perasaan marah yang meluap seketika.
"Dia adalah putri ku, b*re*g*ek, aku tidak akan membiarkan mu menyentuh ujung rambutnya begitu saja!!" geram Zaint langsung membakar surat berwarna hitam itu begitu saja.