
Pagi berikutnya....
Matahari yang perlahan memancarkan cahayanya kesebuah ruangan sunyi membuat pemilik kamar itu terbangun.
Suara kicauan burung sahut menyahut menyambut indahnya pagi itu. Lembutnya semilir angin yang masuk kedalam kamar itu membuat siapa saja akan betah untuk jadi kaum rebahan yang enggan bangun meninggalkan kasurnya.
Arya perlahan membuka matanya dan mengucek nya dengan malas. Dia perlahan bangun dan menguap.
Dia baru saja bangun dari pingsannya tadi malam. Dia memandang kearah tangannya, itu pucat.
Dia menghela nafas panjang dan kembali merebahkan tubuhnya di bantalnya dan terdiam.
Pingsan lagi ya...?
Ini sudah kesekian kalinya dia pingsan setelah dia lahir. Padahal di dunia modern dia tidak pernah pingsan hanya karena masalah sepele.
Tapi, kenapa dia sangat mudah pingsan ketika di dunia yang terlihat seperti dunia fantasi ini?
Sihir yang kuat, tapi tidak menjamin tubuh yang kuat.
Pada dasarnya para penyihir memiliki tubuh yang lemah, tapi kekuatan mereka sangat besar dan kuat.
Sedangkan para pengguna pedang seperti Farel dan Delvan memiliki kekuatan yang besar, hanya saja mereka tidak bisa menggunakan sihir.
Kondisi Delvan sedikit istimewa karena dia bisa menggunakan (sedikit) sihir
^^^(FYI \= Rakyat biasa pun biasanya memiliki sihir, tapi tidak sehebat bangsawan yang sudah dilatih sejak dini)^^^
Tapi, hal aneh terjadi pada tubuhnya yang kuat untuk seorang penyihir dan juga pengguna pedang. Semakin kuat dia semakin mudah tubuhnya melemah.
Lebih detailnya adalah Ibunya adalah seorang penyihir sedangkan ayahnya seorang pengguna pedang sihir* yang tetap saja seorang penyihir.
^^^(* penyihir yang menggunakan pedang atau senjata lainnya untuk menyerang)^^^
Lalu, kenapa dia lahir dengan dua kemampuan yang harusnya hanya ada satu?
^^^(Maksudnya biasanya kan kalau penyihir ya keturunannya penyihir dan begitu juga kesatria) ^^^
Dan salah satunya* tidak berhubungan sama sekali dengan orang tuanya, heh tidak lucu sekali?!
^^^(* dia kan juga bisa menggunakan Aura pedang, yang mana hanya para pengguna sword yang bisa melakukan nya, bahkan untuk membuat Aura keluar membutuhkan proses yang lama dan butuh bertahun-tahun untuk melakukannya, tapi Arya dengan mudahnya melakukannya hanya dalam sekali belajar)^^^
Sekali lagi Arya menghela nafas nya dengan kesal.
Kenapa semua itu terjadi padanya?!
"Emh, kau sudah bangun, Arya?" tanya Zaint mengucek matanya dan menatap anaknya dengan setengah sadar.
Sudah berapa lama dia tertidur.
"Eum, ya, aku... Pingsan?" tanya Arya duduk bersimpuh menghadap ayahnya.
Zaint menatap Arya dengan dingin lalu mengalihkan matanya kearah lain.
"Ya begitulah, kamu pingsan karena ketakutan, tidak seperti dirimu"
"Ukh, itu diluar kendali ku"
Arya mengerucutkan bibirnya dan turun dari kasur, hari ini pasti akan menjadi hari yang sibuk.
Dia belum membeli hadiah untuk dibawa pulang, Terutama hiasan rambutnya. Dia juga tidak tanggung-tanggung membeli pakaian. Yup, dia membeli 100 helai sekaligus.
Arya mengambil tas ajaib nya dan memasuki kamar mandi, dia membuka pakaian luarnya hingga tersisa pakaian dalamnya yang menutupi tubuh bagian atasnya. Dia melihat sesuatu tato mawar nya yang terlihat menguncup.
Aneh banget¿
Arya meraba mawar itu dan tangannya langsung tergores.
"Anj*r gak ramah" ucap Arya membersihkan tangannya di air.
Dia menatap bayangannya di air dan entah dapat pikiran dari mana, Arya menenggelamkan kepalanya selama beberapa detik lalu mengangkatnya kembali.
Dia kembali menatap air yang bergelombang itu dan tersenyum.
Hah...
Dia bermimpi gila lagi
Dia lelah
Dia terlalu lelah untuk memimpikan hal yang sama berulang kali
Orang yang sama
Pemandangan yang sama
Tangisan yang sama
Teriakan yang sama
Dia sudah benar-benar capek
Wajah gadis yang ada didalam mimpinya terlalu mirip dengan nya.
Bahkan nasib nya pun sama.
Dibunuh oleh orang yang dekat dengan nya
Hanya takdir mereka yang berbeda
Dia memiliki ayah, sedangkan gadis itu memiliki ibu.
Satu-satunya mimpi yang tidak ada hentinya dia mimpikan. Tapi anehnya mimpi itu juga sudah pernah dia lihat di dunia modern.
Lagi...
Dia seperti dipermainkan dan dijadikan seperti orang bodoh dan konyol.
Sebenarnya dia ada salah apa?
Sampai-sampai dia tidak bisa menikmati kedamaian untuk dirinya sendiri walau hanya sesaat.
Huft... Huft...
Arya menghabiskan sekitar 25 menit di kamar mandi hanya untuk merenung.
Cepatnya...
Arya yakin jika ayahnya ini mandi ayam, gak mungkin cepat banget.
Zaint menoleh dan menatap anaknya sebentar lalu menutup berkasnya.
Dia berdiri lalu berkata: "Ayo sarapan"
"Okhe! Sebentar lagi" Arya menggosok rambutnya hingga kering dibantu dengan sihirnya.
Zaint menatap rambut Arya yang belum diapa-apakan, mengernyit.
Dia menarik tangan Arya dan membuatnya duduk di depannya dengan kepala menghadap ke arah Zaint.
Zaint mengambil ikat rambut Arya yang berbentuk tali dengan warna hitam lalu hiasan poni berbentuk bintang.
Awalnya Zaint bingung dengan semua jenis alat hias rambut milik anak perempuannya, jadinya dia hanya mengikatnya asal.
Arya sedikit tersentak merasakan rambutnya salah ditarik dan meringis kesakitan. Dia menuntun ayahnya untuk melakukan ini dan itu pada rambutnya. Didepannya ada cermin besar yang memuat pantulan mereka berdua.
"Ayah, jangan menyentuh poni ku!" ujar Arya dengan panik menutupi poni depannya, ketika ayahnya dengan kejam menyisir poni nya.
"Diam!"
15 menit kemudian...
Penampilan Arya sudah sempurna untuk ukuran seorang gadis berusia tujuh tahun. Dia hanya menggunakan pelembab bibir beraroma cherry dan parfum dengan aroma seperti biasanya.
Mereka berdua turun untuk sarapan dan seperti biasa, ada semuanya dimeja makan. Bedanya, kali ini ada kedatangan tiga anak setan.
Yap, karena Hayeo dan Eun Jun tidak pulang kemarin malam setelah acara kumpul-kumpul dengan hantu jadi mereka menginap.
Lalu Feng Yui pun juga ada, dia datang pagi-pagi sekali hanya untuk menemui Arya. Yah, walau tidak ada kepentingan sama sekali.
"Met pagi y'all!!!?" seru Arya menuruni tangga dengan setengah berlari.
"Huh?"
"Bisa gak jangan mencampur dua bahasa?" tanya Hayeo dengan kesal.
Yang lain menyimak.
"Ehe, udah kebiasaan" jawab Arya cengengesan.
Feron mengernyitkan dahinya dan berkata: "He?ada apa dengan gaya poni mu? Kau merubah style rambut milik mu?" tanya Feron mengangkat alisnya.
Arya menyentuh poni nya dan menghela nafas.
"Hah, ayah yang mengubahnya" jawab Arya membuat Kelion terbatuk dengan kaget..
"A-apa? Dia ya-yang mengubahnya? Dia yang mengikat rambutmu kah? Nak?" tanya Kelion dengan tidak percaya.
Arya mengangguk.
Lidya menutup mulutnya setelah beberapa kali batuk. Dia juga tidak percaya sama seperti suaminya. Tapi tak ada yang tak mungkin, es saja leleh ketika bertemu matahari, apalagi tiran yang ada pawangnya, beh jinak*
^^^(*sebenarnya engga(ಥ ͜ʖಥ))^^^
Zaint memandang Kelion dengan sinis dan berkata: "kenapa? Masalah? Anakku memiliki rambut panjang jadi terserah ku saja ingin mengikatkan nya atau tidak, tidak sepertimu yang hanya punya anak laki-laki" ucap Zaint dengan pedas. "Rambutnya pendek pula" lanjutnya membuat Kelion tersenyum jengkel
"Haha, kenapa anda berkata jujur?" tanya Feron melirik Zaint lalu berpindah menatap ayahnya.
"Aku juga punya adik perempuan, tapi itu sudah tidak ada, ketika memintanya pada ibu, ibu memukul ku" lanjut Feron kali ini menatap Lidya.
Lidya tersenyum ramah dan dalam hitungan detik dahi Feron diwarnai dengan warna merah.
"Kau kira enak ya melahirkan? Kalian puas, aku tewas!"
"Tapi... Aku kan hanya minta satu?"
Feron dengan sigap berlari kebelakang kursi Arya yang terletak empat kursi dari Ibunya. Dia bisa melihat ibunya sudah bersiap ingin memukulnya lagi.
"Satu-satu, kenapa tidak kamu saja yang menikah lalu memberiku cucu?" ucap Lidya membuat semua teman Arya menahan tawanya.
"Bu, aku masih sembilan tahun loh, kok disuruh nikah? Ini menyalahi prikeperkawinan dan prikeperjakaan" sahut Feron membuat Arya bingung.
"Keperjakaan? Apa itu? " tanya Arya bingung
Taplok....
Hayeo dengan tanpa ampun memukul mulut Feron dengan telapak tangannya.
Bangcat memang anak ini...
"Kenapa kau memukulku?" tanya Feron kesal.
"Beraninya kamu mencemari telinga gadis polos?!" kata Hayeo dengan nada rendah.
"Apa kamu tidak melihat jika ayahnya sudah memelototi mu, hah?!" bisik Lili ditelinga Feron.
Feron melirik sedikit dan dengan patuh duduk di samping Arya.
Bisa-bisa mati muda...
Poor Feron...!?
"Hei, kenapa pada bisik-bisik, aku tanya tadi itu apa woy?" tanya Arya dengan tidak sabaran.
"Sebaiknya kamu pertahankan kepolosan mu!" ujar Hayeo menepuk kepala Arya.
"Apa sih?"
⬇️
⬇️
⬇️
💜🤎🖤🤍like and komen❤🧡💛💚💙