
Di siang hari menjelang sore hari itupun berjalan sangat lambat bagi seorang gadis dengan seekor naga yang lagi nangkring di kepalanya. Mereka saat ini hanya berdua bermain ayunan di taman. Lili dan Delvan sedang berada di Mansion Duke Rimson yang berada sangat jauh dari ibu kota. Riden juga sekarang ini lagi sibuk dengan penelitiannya, entah apa yang dia teliti. Tapi bagi Arya saat seperti ini adalah waktu paling membosankan untuk dijalani.
Tapi... Kesunyian ini tidak buruk, mungkin dia memang butuh kesunyian... Pikirannya sedang aneh saat ini. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
Dia sedikit melamun dan terus berayun maju mundur. Dia bahkan tidak menyadari jika di belakangnya kini ada seseorang yang memiliki gelar sebagai penyihir agung sedang memperhatikan dirinya.
Dia terus memperhatikan anak didiknya itu dengan heran.
Ada apa dengan anak ini?
Dia melamun?
Apa pulak benda bergoyang di kepala nya itu?
Penyihir Agung Tarte pun terus memperhatikan benda yang ada di kepala gadis itu dengan seksama.
Tubuhnya hitam...
Punya kaki dan tangan...
Punya ekor...
Kulitnya ada sisik...
Ada sayapnya juga...
Mirip...
Tarte pun jadi ikut melamun jadinya, dia seperti pernah melihat benda ralat hewan seperti itu, tapi dimana. Hewan itu mirip...
Naga...?!
Ketika terlintas bayangan itu Tarte pun langsung tersentak, lalu dengan cepat dia mendekati gadis yang masih bermain ayunan itu.
"Salam, Putri?" Ketika ada yang memanggilnya Arya langsung tersadar dari lamunannya lalu menoleh kearah pria paruh baya yang dia tahu berusia sekitar 120 tahunan atau kurang ya, pokoknya umurnya udah ratusan.
"Hm? Ya? Kamu memanggilku guru?" Tanya Arya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya! Anda mendapatkan naga itu darimana?" Tanya Tarte langsung to the point tanpa basa basi bisu.
"Naga apa? Ini cuma kadal biasa kok!" Sangkal Arya mengalihkan matanya dan menghentikan gerakan mengayun nya.
Tarte mengangkat alisnya lalu memandang Arya seperti mengatakan "anda tidak bisa berbohong, yang mulia!"
Arya yang dipandang begitu langsung tersenyum walau batinnya sedang mengutuk.
"Dari tempatnya lah!" Ujar Arya memiringkan kepalanya, pura-pura polos.
"Tempatnya?" Tanya Tarte bingung. Pasalnya keberadaan naga itu sudah hampir punah dan hanya tersisa beberapa ekor saja, tapi kenapa bisa ada bersama gadis itu.
"... Iya" Jawab Arya, dia mengedipkan matanya dan menatap Penyihir Agung itu antisipasi. Dia tahu jika yang sebenarnya ditanyakan nya itu adalah 'kamu menemukan naga itu dimana tempatnya?' tapi dia tidak ingin memberitahu jika itu di gua milik Dark. Lebih baik dia bersikap santai untuk bisa menciptakan basa basi.
Penyihir Agung Tarte diam...
".... Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya pergi dulu! Permisi..." Setelah itu Arya langsung memasuki istana malam dan menuju kamarnya. Dia memasuki kamarnya dan berjalan kearah meja dan membuka laci nya, lalu mengambil sebuah berkas yang tertera tulisan...
•••GRAND DUKE GERALD •••
Di Sana tertulis dengan jelas jika istri a.k.a nyonya Grand Duchess agak aneh.
Arya mengernyit ketika melihat sebaris kalimat itu. Hei hampir semua orang tahu jika Grand Duchess itu sangat suka mem-bully kalangan dibawahnya tapi... Aneh? Kosakata yang memuat kata itu menjadi Kedengaran menarik :j
Arya melanjutkan membaca kalimat selanjutnya...
Saat ini mereka sedang berada di ibukota karena ada tugas yang harus dikerjakan oleh Duke Gerald sebagai pemimpin pasukan Kekaisaran.
Karena akibat dari terlalu penasaran akan sosok Grand Duchess yang dirumorkan sebagai antagonis itu, Arya dengan cepat membersihkan dirinya dan memerintahkan agar Raya tetap di kamarnya.
Dia bukannya lupa jika saat itu malam tapi dia sudah merasa penasaran saja.
Padahal besok bisa?
Arya bukan orang yang se-sabar itu menunggu hingga esok. Jika bisa dilakukan sekarang kenapa harus ditunda, yakan? Jika terus ditunda makan sebuah pekerjaan tidak akan selesai sampai kapanpun, bahkan sampai dimakan cacing pun tidak akan pernah selesai (ya iyalah, kan udah masuk tanah_-)
Arya yang hanya memakai pakaian yang menurutnya nyaman dan juga syal yang diikatkan nya dileher, kan ini malam jadi harus pakek syal:)
(anggap aja kek gitu)
Dia perlahan membuka lemarinya dan mengambil belati kecil yang memiliki racun didalamnya. Racun yang hanya bereaksi jika mengenai darah atau pun tergores ditubuh seseorang.
Dia mengambilnya dan berjalan menuju jendela, lalu melompat.
•
•
•
Malam itu bulan tidak memperlihatkan rupanya dan bintang bersembunyi dibalik awan tebal yang mengeluarkan cahaya mengkilat. Malam itu terlihat sangat mendukung untuk seorang gadis yang kini berjalan mendekat sebuah rumah mewah yang sedikit sunyi.
Hening....
Jederrr...
Setelah suara guntur mulai terdengar akhirnya langit pun mengeluarkan bulir-bulir air yang terasa menggelitik ketika bersentuhan dengan kulit. Gadis kecil itu mendongak merasa kan rintikan air, membiarkan wajahnya yang cantik merasakan sensasi yang cukup menyenangkan menerpa wajahnya.
Gadis itu tersenyum dan memegangi dadanya tepat di arah jantungnya.
Dia merasakannya.... Jantungnya berdetak dengan cukup keras menimbulkan suasana yang aneh...
Rasanya seperti.... Dia akan bertemu seseorang yang penting...
Fesya. . .
Entah bagaimana, hanya nama itu yang tiba tiba terlintas di kepala nya.
Entah karena apa dia memiliki firasat tentang nama itu.
Dia merasa.... Mereka akan bertemu!
Dan tidak tahu kepercayaan dari mana, dia merasa seperti itu.
Gadis itu berjalan masuk melewati para penjaga dan para pelayanan yang berlalu lalang. Walau hanya satu dua dari pelayanan itu yang lewat, tidak ada yang menyadari jika gadis itu berjalan santai, tanpa beban melewati mereka.
Hingga sampailah gadis itu didepan pintu yang desain nya cukup indah. Walau pun gadis itu baru pertama kali di sana, dia merasa seperti ada aura yang cukup spesial dari arah kamar itu. Walau keberadaan kamar itu sedikit pojok. Dan satu hal yang pasti adalah...
Dia bahkan tidak tahu seperti apa wajah Grand Duke dan juga Grand Duchess!!!
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hingga matanya tidak sengaja menangkap seorang wanita yang berdiri menghadapnya dengan mata berwarna merah muda, yang anehnya membuat gadis itu merasa aman.
"Siapa kamu?"
Wanita itu menatap seorang gadis yang terlihat cantik dengan pakaian berwarna biru muda dan menatapnya dengan mata hijau Zamrud miliknya.
Wanita itu perlahan mendekati gadis itu....
"Siapa kamu? Kenapa kamu terlihat Familiar?apakah kita pernah bertemu"
Sekali lagi wanita itu bertanya, gadis itu terlihat tersentak sedikit.
"Lalu, kau siapa?"
Bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya membuat wanita itu mengernyitkan dahinya aneh
Kenapa bertanya kembali?
''Kamu masuk ke kamar seseorang tapi kamu tidak tahu siapa pemiliknya? Kamu lucu sekali..."
Wanita itu berkata dengan kekehan kecil menutupi bibir merahnya yang halus itu dengan punggung tangan.
Gadis itu mengernyitkan dahinya, lalu bertanya...
"Wanita bangsawan tidak boleh menutup bibirnya dengan punggung tangan, tidak elit!"
Wanita itu sedikit tertegun ketika mendapat serangan dari seorang gadis kecil itu.
"Hey, apa yang kamu tahu tentang para bangsawan? Apakah kau bangsawan? Kamu sepertinya tahu tentang tata Krama, ya?"
Wanita itu berkata dengan halus, membelai rambut gadis itu dengan lembut.
Dia baru sadar jika warna rambut gadis itu adalah merah dia kira cokelat karena rambutnya tertutup oleh cahaya redup.
Mata nya juga terlihat sedikit tajam...
Siapa gadis ini?
Dia memiliki aura keberadaan yang tidak biasa?
Mata yang memiliki kehampaan...
Mirip seseorang....
Dia menyalakan lampu dikamar itu dan kembali memandang gadis itu yang juga memandangnya.
"Aku adalah Ar--!"
"Tuan Putri?"
Belum selesai Gadis itu memperkenalkan diri, Tiba-tiba dari arah pintu ada seorang pria dewasa yang baru saja datang dan maju ke arah mereka.
"Apa yang membawa anda ke kediaman kecil saya?"
Mendengarkan perkataan dari pria itu membuat Gadis itu Dejavu.
Rasanya dia sudah pernah mendengar kalimat yang serupa seperti itu sebelumnya...
"Tuan putri?" Wanita itu bergumam pada dirinya sendiri, lalu memandang gadis tadi dengan tertegun lagi.
Putri?
Gadis kecil ini?
Pantas saja dia tahu tentang tata krama!?
Tapi...
Kenapa seorang putri ada disini?!
"Ini adalah pertama kalinya kita bertemu, perkenalkan saya adalah Grand Duke dan wanita ini adalah istri saya, Grand Duchess!"
Grand Duke menunduk sedikit diikuti oleh wanita itu yang tak lain adalah Sonya.
Gadis itu mengedipkan matanya, bibirnya ditekuk dengan lembut dan gerakan menunduk nya pun juga elegan.
"Salam kenal Grand Duke dan juga Grand Duchess, saya adalah Putri Aryalania Frosen Alexander Roseland, anda bisa mengambil saya Arya!"
Setelah gadis itu memperkenalkan dirinya, dia memandang keduanya dengan penasaran.
"Emm, ini kan pertama kalinya kita bertemu, lalu... Bagaimana anda bisa jika saya seorang putri?" gadis itu bertanya dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Hanya dengan sekali lihat pun orang pasti akan mengenali anda, dengan rambut dan mata yang merupakan lambang Kekaisaran itu putri. Bahkan orang buta pun akan mengenali anda hanya dengan aura anda yang terasa berbahaya itu!"
"Haha, anda terlalu berterus terang!"
Gadis itu tersenyum membuat matanya menyipit menjadi bulan sabit.
"... Tapi, anda bilang jika semua orang akan mengenali aku, lalu mengapa nyonya tidak mengenal aku?"
Gadis itu menyeringai dan melirik kearah wanita yang memiliki beberapa bulir keringat di pelipis nya.
"Eee itu... Karena... Gelap! Ya karena gelap, makanya saya tidak mengenali anda! Haha!"
Wanita itu dengan canggung mengalihkan pandangannya di samping, mana dia tahu jika gadis itu yang notabene nya adalah putri datang tiba-tiba seperti itu.
"Aku tidak akan mempermasalahkan nya karena saat ini aku berada di kediaman orang lain, lagi pula aku juga bersalah karena memasuki kediaman orang seenak jidat saja"
Gadis itu meminta maaf dengan sedikit menunduk.
Grand Duke mengernyit...
Apakah putri memiliki sifat seperti ini?
"Tapi... Kenapa anda datang dimalam berhujan seperti ini?" Tanya Grand Duke.
Gadis itu mengalihkan pandangannya
"Ya... Aku hanya ingin datang saja! Lagian tadi itu mana ada hujan!"
"Walau begitu bagai mana anda menjelaskan dengan anda yang masuk kesini tanpa diketahui oleh para penjaga?"
"Em... Ya, itu... Hem.. Gimana yah?... Yah... Pokoknya begitu lah..."
Gadis itu tidak bisa menjawab pertanyaan dari Grand Duke. Dia merasa seperti sedang diinterogasi. Berasa jadi seperti penjahat dia.