The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
TERONG



Jam 03.05 subuh.....


Arya terbangun dengan senam jantung yang cukup untuk membuat kaget orang yang ada disebelahnya.


Arya merasakan jika perutnya terasa sedikit berat dan dia menoleh kesamping.


Disampingnya ada Zaint yang memelototi dengan tajam. Dia kaget karena tiba tiba Arya melek tanpa aba-aba.


Di atas perut gadis itu ternyata adalah Raya, naga kesayangan Arya. Gadis itu mengangkat naga itu dan memeluknya dengan erat.


Arya melirik ke ayahnya dan bergumam.


"Ayah, aku..... Lapar, aku butuh asupan malam ku!"


Zaint menutup beberapa file yang ada ditangannya, lalu menatap anaknya lagi dengan tatapan aneh


"Kamu.... Belum kenyang atau apa? Berapa banyak makanan yang sudah kamu makan di pesta tadi, hah!?" tanya Zaint pada anaknya yang memiliki lambung lebar itu. Padahal tadi ketika di pesta, tidak sedikit makanan yang dia makan dan sekarang dia ingin makan lagi? Dia ingin meledak karena kekenyangan?


Tapi ketika dia melihat lagi pada anaknya seketika dia ingin menguburkan anaknya kedalam tumpukan makanan.


Arya menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca seperti mengatakan 'kau ingin melihat anakmu mati kelaparan?'


"..."


Zaint berdiri lalu menggeret anaknya menuju dapur tanpa berkata apapun.


Pelipisnya sudah berdenyut-denyut karena kesal. Tapi tenang saja dia tidak akan membuang anaknya, seperti Lu Junhan melempar anaknya Lu Li ke tempat sampah, tidak mungkin(?)


^^^((?) \= ada kemungkinan besar 'kan?) ^^^


"Tuh, makan!" ucap Zaint tidak santai


"..."


Arya memandang ayahnya dengan wajah tidak bisa diartikan dan menunjuk pada makanan yang diberikan Zaint padanya.


"Kamu... Menganggap ku sebagai kelinci atau sebagai kambing?" tanya Arya menunjuk pada mangkuk besar berisikan semua jenis sayuran tanpa buah, kecuali tomat yang terlihat mencolok diantara sayuran hijau dan oranye itu.


Arya mengangkat salah satu item yang ada didalam mangkuk itu dan berkata.


"Kenapa harus ada terong juga sih?"


Zaint menatap anaknya dengan tatapan aneh.


"Namanya juga sayur"


"Terus ini diapain?" tanya Arya meneliti semua sayur yang ada dihadapannya


"Dimakan" jawab Zaint dengan wajah datar lalu pergi meninggalkan Arya sendiri bersama tumpukan sayur-sayuran.


"..." nyebelin!?


Saking kesalnya Arya sampai tanpa sadar dia memakan terong yang masih dipegangnya dengan geregetan.


"Uek, gak enak!?" seru Arya memuntahkan sepotong terong yang dia gigit.


"Apa pelayan disini udah pada pulang?" tanya Arya mencari seseorang.


Mungkin saja ada seseorang kan, dia butuh makan tapi dia mau yang instan tanpa mengeluarkan tenaga pribadinya.


Arya terus berjalan menyusuri sudut-sudut penginapan yang sangat sepi itu.


Krieeeet....


Ketika tiba di salah satu kamar yang terlihat kosong berada di ujung penginapan Arya berhenti.


Dia menoleh menatap kamar yang pintunya seperti terkunci, karena itu ada gemboknya.


"Dikunci? Tapi kok ada suara sesuatu dibuka?" tanya Arya pada dirinya sendiri.


Dia dengan sok beraninya padahal aslinya udah gemetar, dia memegang pintu itu dan mencoba melihat kedalamnya.


"Yaho! Ngapain?" kata Lili menyergap Arya dari belakang membuat sang empunya tubuh jatuh ke tanah dengan jantung seperti dipompa.


Deg deg deg


Hah Hah Hah


Jantung Arya berdetak tidak karun dengan nafas tersengal. Dia menatap semua temannya yang ternyata juga datang.


"Kalian..... Aku berencana ingin masuk, karena kalian ada disini ayo masuk bersama?!" tunjuk Arya kearah pintu yang masih digembok itu.


Semua orang menoleh dan menatap kearah pintu yang ditunjuk oleh Arya.


"Bukankah pintu itu terlihat seperti gudang bekas?" kata Delvan mencolek sedikit debu yang tertempel di pintu.


Arya hanya mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.


"Iya sih, tapi tadi aku denger suara gubrak!" kata Arya sambil memperagakan benda jatuh


^^^(Arya ini menyalahi hukum peri Kepertelingaan anj_-; udah jelas bunyinya 'krieeeet' bukan 'gubrak' heh:v) ^^^


Oh...


Mereka jadi ikut penasaran dan yang paling tua diantara mereka adalah Steve yang berusia empat belas tahun hanya bisa geleng-geleng kepala bersama Brian.


"Tapi aku merasakan hal yang tidak baik dari dalam sana" ucap Riden memiliki Firasat tidak enak


"Daripada penasaran mending kita buka saja!" sahut Feron mengeluarkan Sihirnya.


Feron tidak terlalu bisa menggunakan pedang tapi dia memiliki sihir yang cukup kuat untuk mengalahkan sepuluh kesatria disaat bersamaan dan masih dalama peningkatan.


Semua orang mengangguk.


Patsh...


Gembok itu terbuka dengan sedikit sihir, lalu mereka semua masuk kedalam ruangan gelap itu.


Arya menyalakan api miliknya dan menerangi ruangan itu.


Mereka semua masuk celingak-celinguk melihat sekeliling dengan mata penasaran.


"Gak ada apapun tuh" ucap Delvan diangguki semuanya.


BRAK.....


"Ayah!!!" teriak Arya terkejut, terjungkal dan mendarat di tanah. api ditangannya langsung padam.


"Eh, ibu!!" Lili dan Delvan pun ikut terjatuh bersamaan dengan Riden yang waspada


Khi khi khi khi !!!!


"Heup, apa itu..." tanya Lili dengan suara gemetar.


Arya yang juga ketakutan, berdiri lalu mendekati sesuatu yang duduk santai di jendela.


Dia mencoba tenang tapi kakinya tak bisa diajak kompromi, perasaan benar-benar sangat ingin masuk selimut woy?!


"Pe-per-permisi ka-kak ka-kamu siapa y-ya?" tanya Arya juga ikut gemetar ketakutan.


Wanita yang duduk di jendela mengalihkan pandangannya kearah Arya membuat Arya seketika menegang


"Hick!" tanpa sadar Arya mengeluarkan cegukan dan mundur.


Wanita yang duduk di jendela itu tersenyum tapi anehnya mulutnya berubah menjadi sangat panjang.


Wanita itu memiliki kulit se-pucat mayat, rambut panjang yang menutupi setengah wajahnya dan mata yang tidak ada matanya.


Dan dengan wajah yang tidak tahu harus apa, Arya mengulurkan tangannya yang masih ada terong yang bekas digigit nya pada wanita itu.


"M-mau terong? Tenang sa-saja ini belum di masak kok! Suer! Buktinya masih kenceng nih buahnya!?" ucap Arya bukannya membuat seram, malah membuat mereka ingin tertawa. Dia mengetuk-ngetuk buah itu hingga terdengar bunyi 'tuk tuk'


Wanita itu turun dari jendela dan mendekati Arya. Dia tidak berjalan, tapi dia melayang.


Arya yang melihat pemandangan itu pikirannya seketika kosong.


Ngambang cuy...


Wanita berwajah pucat dan tidak memiliki mata itu mengulirkan tangannya. Arya bukannya diam dia malah semakin mundur. Dia melihat mata wanita itu mengeluarkan belatung yang bahkan jatuh ke tanah.


"Hiks, HUAAAAAAA... AYAH!!!" teriak histeris Arya sambil melempar terong yang ada ditangannya kepada wanita itu.


Wanita itu marah dan langsung menangkap tangan arya. Arya yang dipegang tangannya langsung panik.


"Hiks, hiks, lepasin huaaa, tangannya dingin!! Gak enak!! Angggg, gak asik ih!! Kenapa hantu beneran!!?" keluh Arya disela-sela teriakan dan tangisannya.


Ini adalah pertama kali nya dia bertemu hantu beneran dan dia beneran panik karena takut.


Semua orang yang mendengar perkataan Arya juga ikut panik. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Arya ketakutan karena hantu.


Dialam bawah sadar Arya adalah tempat pikiran Arya melayang-layang sekaligus tempat Alican berada.


Dia dengan santainya tiduran di atas perahu pikiran Arya sambil mendayung.


Suasananya yang biasanya ribut karena pikiran Arya yang berkerja keras kini hening tanpa ada satupun pikiran yang melayang.


"Ckckck, kasihan sekali saking takutnya 'dia' sampai pikiran kosong gini? Sepi juga ternyata, biasanya walau hanya sekedar mimpi pun pasti ada bayangan nya loh, ini beneran kosong?!" ujar alican menggosok rambutnya kasar.


Ini adalah waktu terbaiknya untuk tidur dan bersantai ria mendengarkan pikiran nyeleneh Arya yang sayangnya hilang seketika tanpa ada apapun


"Perlukah aku bantu?" tanya Alican pada diri sendiri.


Dia menatap pada wajah Arya yang sedang ketakutan dan panik itu dengan pandangan mencemooh dan berkata: "Ah mending tidak usah, itu terlihat lucu!"


"Dia bahkan lupa jika dia bisa menggunakan sihir, luar biasa sekali!" cibir Alican


Alican kembali merebahkan tubuhnya di perahu pikiran dan kembali tertidur.


^^^(Kang rebahan yang sesungguhnya @_@) ^^^


Kembali ketempat Arya dunia nyata. Arya tidak henti-hentinya menggoyangkan tangannya yang di cengkraman oleh hantu itu.


"Huaaaa, huaaaa, tadi kan udah ku kasih terong!" jerit Arya menghentakkan tangannya dengan keras.


Tuk..


hening...


Tangan wanita itu putus seketika dan nyangkut di pergelangan Arya. Arya yang melihat tangan yang bersemayam indah di pergelangan tangannya langsung berteriak dan melempar tangan itu sembarangan. Dia mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga hingga pintu itu terbuka.


Dia dan yang lainnya langsung berlari kencang meninggalkan wanita pucat itu di sana terdiam dan menghilang dalam sekejap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Arya dan yang lainnya berlari menuju kamar masing masing, tapi Arya tidak ke kamarnya melainkan ke kamar ayahnya.


Dia melompat ketempat tidur membuat Zaint yang sudah menutup matanya kaget.


Dia menoleh menatap anaknya yang bersembunyi dibawah selimut sambil gemetar.


"Ada apa? Sudah selesai makannya?" tanya Zaint menyingkap selimut yang menutupi wajah Arya.


"Hiks, te-terongku dilempar pada hantu, hiks, aku masih lapar, uhh hiks, lapar" keluh Arya kembali menangis.


^^^(Masih ingat aja ^^^


^^^dia kalau rencananya ^^^


^^^bangun buat makan) ^^^


Zaint menatap anaknya dengan aneh.


Hantu?


Takut dengan hantu?


Hebat sekali anakku ini?


Zaint menepuk kepala Arya dan kembali merebahkan tubuhnya.


"Ya sudah tidur saja dulu, sebentar lagi pagi, kamu bisa makan sepuas hatimu nanti" ujar Zaint.




Like and Komen