The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
FESYA JADI SONYA



Arya yang menyaksikan semua kemarahan para rakyat pun kembali tersenyum didalam hatinya. Dia sangat puas membuat keributan itu.


Dia memegangi lengan kakek nya dan kembali berbicara dengan suara bergetar


"Ka-kakek? It-itu semua bohong kan... Hu... Hiks... Kakek tidak melakukannya kan... Huhu... Hiks..."


Karena merasa mendapatkan pendukung Marquis pun langsung tersenyum menyeringai, tapi sayangnya Arya melihat senyum itu.


"Ti-tidak putri, saya tidak melakukannya, saya bersungguh-sungguh! Ini semua hanya fitnah saja!!"


Cih


Arya hampir tertawa ngakak kalau saja dia tidak ingat tempat, pasti udah ngakak guling-guling dia. Tapi dia masih butuh wajah dan juga perlu mempertahankan imagenya, kan?


Dan lagi-lagi Zaint berdecak kesal. Tidak bisakah putrinya itu to the point, hah?! Kenapa harus berbasa basi dahulu.


Zaint yang kesal hanya menopang dagunya dengan tangan nya yang bersender di pegangan kursi. Walau dia kesal tapi dia tetap menyaksikan penampilan putrinya


Arya mendekat dan mulai memeluk tubuh Marquis dia menempatkan bibirnya ditelinga Marquis dan mulai berbisik: "ha! apakah kau bodoh kakek? Bukankah sudah jelas ada buktinya, dan kamu masih ingin mengelak? Heh mimpi!! Apakah kau kira aku mendekatimu tiba tiba tanpa ada maksud apapun? Heh, kau terlalu naif kakek. Apakah kau tahu siapa yang telah meledakan kediaman mu dan juga yang telah mengadukan kalau kau itu berencana untuk berkhianat?" Bisik Arya ditelinga Marquis, membuat Marquis membelalakan matanya


Jangan-jangan...


"Yup, it's me" Lanjut Arya dengan seringai dan semakin erat memeluk Marquis.


Marquis yang mendengarnya langsung menegang dan langsung mendorong gadis itu sampai terjungkal kebelakang. Seharusnya dia sudah tahu kalau gadis itulah biang keladinya, orang dibalik semua kemalangan yang dia Terima. Kenapa dia tidak menyadari itu?!


Arya yang didorong pun langsung menangis keras dan menatap tak percaya pada Marquis. Semua rakyat langsung ramai meneriaki Marquis, mereka tidak menyangka putri yang sangat 'baik' itu didorong sampai menangis keras.


"Ka-kakek? Ken... Hiks... Kenapa kakek mendorong ku...? Hiks... Huhu..." Ujar Arya dengan sedihnya.


"Dasar anak b14d4b!! Dasar anak haram!! Tak tau malu!!" Teriak Marquis langsung melayangkan tangannya yang terikat rantai itu ke pipi Arya hingga berbekas. Arya langsung membelalakkan matanya tatkala merasakan pipinya panas dan ketika matanya berkedip air matanya tumpah. Tidak ada yang pernah menampar nya selama ini dan tamparan ini sangat persis dengan tamparan dari 'ibu' zaman modern. Tamparan yang penuh akan emosi. Orang yang sudah coba ia lupakan dan membuat dia menutup hatinya untuk orang lain.


sial dia harus tetap tenang dan diam bulu, tidak boleh impulsif!


Zaint yang awalnya tenang-tenang saja juga ikut terbelalak dan langsung berdiri ketika dia dengan jelas mendengar suara tamparan yang begitu nyaring. Dia dengan cepat langsung berpindah tempat dan menendang Marquis yang hampir saja ingin mencekik leher putrinya hingga terbang beberapa meter. Dia tidak Terima jika anaknya diperlakukan seperti itu. Dan dia juga tidak terlalu tahan dengan air mata anaknya. Dia tahu tangisan ketika dia ditampar tadi bukanlah tangisan pura-pura tapi itu benar benar sebuah tangisan. Dia bisa membedakan mana tangisan buaya dengan tangisan sungguhan. Dan beraninya seorang b4j1ng4n membuat anaknya meneteskan air mata?!


"Ah, ay-ayah?" Ucap Arya tak percaya ketika melihat tubuh tegap ayahnya berdiri untuk melindunginya dari Marquis. Dia memegangi dadanya, Entah kenapa, Lagi-lagi hatinya menghangat untuk orang didepannya itu.


"Beraninya seorang penghianat sepertimu memperlakukan seorang putri Kekaisaran seperti itu? Pengawal seret dia dan lakukan eksekusinya sekarang juga?!" Perintah Zaint lantang lalu mendekap Arya meninggalkan kerumunan rakyat yang semakin gaduh akibat kejadian tadi.


Setelah dari sana Arya langsung dibawa kembali ke kamar miliknya.





Di tempat lain tepatnya di kediaman keluarga Grand Duke Gerald, ada yang bangun bukan berarti tidur. Dia orang yang selama ini ditunggu-tunggu para pembaca akhirnya bangun.


"Oh sial, kepalaku berdenyut-denyut! Rasanya sakit..." Gumam seorang wanita yang sepertinya baru saja bangun dari tidur panjang nya alias koma.


"Nyonya, anda sudah bangun?" Tanya seorang pria paruh baya yang jika dilihat-lihat adalah seorang dokter.


Wanita itu memandang pria paruh baya itu lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar.


Haha, bercanda?


Apakah kamarnya berubah!?


Rasanya kamarnya tidak berwarna pinky begini?!


Gila banget!!


Walau kamar yang ditempati wanita itu luas, tetap saja warna pinky itu adalah warna YANG PALING DIA BENCI!!!


Hello, dia itu seorang Dokter paling jenius di dunia modern?


Dia orangnya lebih suka warna dark daripada warna ngejreng begini.


"Kalian siapa? Aku dimana? Kenapa tempat ini sangat menjijikan?!" Tanya Wanita itu dengan wajah yang sudah pucat menahan mual.


"Eh, nyonya? Apa yang anda maksud?" Tanya dokter itu aneh.


"Ish, aku bertanya dimana aku?" Ulang wanita itu sedikit kesal


"Menurut anda, anda ada dimana?" Tanya sang dokter


"Tadinya aku dirumah, lalu sekarang aku tidak tahu" Jawab Wanita itu


"Bolehkah saya bertanya?" Lagi lagi dokter itu bertanya


"Bukannya dari tadi kamu sudah bertanya?" Jawab kesal Wanita itu


"Ha-ha, maaf kali ini adalah pertanyaan terakhir, saya berjanji" Tawa canggung sang dokter


"Ya, katakan lah!"


"Siapa nama anda?"


"Fesya!" Ya nama wanita itu adalah Fesya. Seorang dokter, tangan kanan sekaligus Bibi Arya a.k.a Alice.


Semua orang yang ada ditempat itu tersentak, lalu sang dokter itu langsung menoleh dan menggelengkan kepala.


Dia menarik pelayan yang dari tadi gelisah memandang wanita itu.


"Kemungkinan besar nyonya mengalami amnesia!" Ujar dokter itu membuat pelayan tadi langsung terkejut.


"Lalu... Apakah itu bisa disembuhkan?" Tanya pelayan itu yang adalah dayang pribadi Fesya.


"Entahlah, saya juga tidak terlalu tahu" Jawab sang dokter menggelengkan kepalanya.


"Baiklah dokter, apakah anda ingin kembali" Tanya pelayan itu, yang bernama Tika.


"..." Dokter itu hanya mengangguk lalu pergi keluar dan langsung pergi ke ruang kerja sang Grand Duke


Pelayan itu langsung masuk dan menghampiri Fesya. "Nyonya... Nama nyonya adalah Sonya... Bukan Fesya"


"Hah? Bercanda? Gak lucu!?" Ujar Fesya yang kini dipanggil Sonya


"Tidak itu benar benar nama anda! Anda juga merupakan seorang Grand Duchess--"


"Hah? Grand Duchess berarti istri Grand Duke? He~ memangnya ini novel fiksi apa?"


"Maksud anda?"


"Hah...!! Sudahlah keluar tinggalkan aku sendiri!"


"Baik!"


Sonya yang ditinggalkan sendirian langsung mengeram kesal.


Hey, memangnya siapa yang baru bangun tidur, tiba tiba jadi istri orang?!


Masih mending kalau dari Dunia nyata, lah ini kek dunia fiksi! Rambutnya belang-belang


Tok... Tok...


"Masuk" Ujar Sonya memegangi kepalanya yang nyut-nyutan


"I, Ibu? Bolehkah saya masuk?" Tiba tiba terdengar suara halus anak laki-laki memasuki gendang telinganya.


Eh, 4ny1ng! Siapa ibunya?


Sonya yang merasa terpanggil pun langsung mengangkat kepalanya dan dia dapat melihat anak laki-laki didepannya menatapnya dengan mata silver miliknya. Tubuhnya bergetar entah karena takut atau apa


"Kamu..."