The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
KAK DAN...



Setelah cukup lama diinterogasi akhirnya gadis itu izin pulang tapi sebelum itu...


"Grand Duke, bukankah kau memiliki seorang Putra? Bisakah kau memberikan dia untukku? Aku akan memberikanmu apapun!!"


Grand Duke :"..." Apa maksudnya?


Grand Duchess :"... Kamu kira itu barang?"


Bisa bisanya seorang gadis kecil membuat mereka berdua tercengang.


Bayangkan gadis itu 'meminta' seorang 'anak' untuk dirinya. Anak bukanlah 'barang' yang diperjual belikan. Anak itu harus diberi kasih sayang. Jangan dijual! Kalau mau dijual noh, cari aja toko sembako tukar tambah juga boleh...


"Aku tahu perkataan ku agak aneh! Tapi aku membutuhkan seorang yang bisa menjadi sekretaris istana ku! Lagi pun aku juga harus menjadikannya teman kan? Dan yang penting aku juga bisa menjalin kerjasama dengan keluarga Grand Duke Gerald kan?"


Gadis itu berkata dengan santainya, dia bahkan mengedikkan bahunya dan mengangkat tangannya sedikit.


"Lagi pula tiga teman ku sedang sibuk, jadi aku kesepian. Saking sepinya aku bicara dengan tembok"


Grand Duke mengedipkan matanya mendengar perkataan dari gadis kecil itu.


"Hah? Menyedihkan sekali!?"


Grand Duke: "..." Savage sekali


Arya: "... Ah, haha nyonya Grand Duchess anda batu, ya?"


(Batu: tidak memiliki perasaan)


"Eh, maaf saya--"


"It's oke, sudah biasa digituin kok"


Gadis itu tersenyum miris mengingat semua kejadian dia direndahkan oleh ayahnya sendiri.


"Cihan, pasti rasanya pengen nonjok kan?"


Grand duke menatap tajam wanita itu: "..." tolong siapapun tutup mulut nya itu!


Arya: "... Kok tau?"


Gadis itu memiringkan kepalanya dan menatap nya aneh. Dia menyuruh agar Grand duke meninggal mereka berdua saja.


Grand duke membungkuk lalu berlalu pergi.


Wanita itu duduk di sofa.


"Dulu ada seorang gadis yang polos yang suka tersenyum kepada semua orang, tapi dia juga bukan orang biasa, dia seorang pembunuh yang ditakuti semua orang. Siapa yang baik kepadanya maka dia akan melakukan lebih dari orang itu, dan jika orang jahat padanya dia bahkan bisa membuat orang itu melupakan tentang caranya bernafas. Tapi, sekarang dia sudah tidak ada!" Wanita itu mulai menceritakan tentang keponakan manisnya secara tidak langsung, dia tersenyum pahit dan mengelus pucuk kepala gadis itu. Gadis itu mengernyit dia merasa familiar dengan sifat 'gadis' yang ada didalam cerita itu.


"Lalu...bagaimana? Bagaimana dia sekarang? Kenapa dia sudah tidak ada? Dia pergi?" Tanya gadis itu dia kembali duduk di lantai sedangkan wanita itu duduk menghadapnya di sofa. Dia seperti melihat keponakan cantiknya pada gadis itu.


"Iya, dulu saat dia masih berusia lima belas tahun,dia baru saja pulang dari pekerjaannya diluar negeri dan baru saja sampai di negaranya, dia menemukan seorang gadis yang terlihat kumuh berada di sebuah gang. Karena sifatnya yang baik kepada semua orang dia membawa gadis kumuh itu kerumahnya. Saat berada dirumahnya semua teman temannya memperingatinya agar berhati hati, aku juga merasa aneh dengan gadis yang dibawa olehnya.gerak-geriknya itu sangat mencurigakan. Semenjak gadis kumuh itu tinggal dirumahnya kejadian aneh sering terjadi. Mulai dari kecelakaan yang menewaskan ibunya, hingga saat ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun ayahnya dinyatakan meninggal setelah insiden penusukan, yang bahkan tidak ada yang tahu siapa dalangnya! Lalu,Tepat saat dia melawan musuhnya. Dan kejadian tak terduga pun terjadi... Hiks" Wanita itu tanpa sadar meneteskan air mata, walau begitu dia tetap melanjutkan ceritanya. Gadis itu hanya diam tidak bersuara, kali ini dia sepertinya dia mulai sadar akan sesuatu...


Cerita. Wanita. Ini. Sama. Dengan. Masa. Lalunya.!!!


"Hiks... Saat dia akan memenangkan pertarungannya... Hiks... Dia ditembak.... Di Dada... Hiks... Hiks... Dan yang menembaknya... Adalah gadis kumuh tak tahu Terima kasih itu!!! Diberi susu dibalas air tuba!!!"


Wanita itu semakin menangis terisak-isak. Dia bahkan menekan setiap kata akhirnya dengan penuh amarah dan kebencian.


"Keponakan ku yang selama ini ku besarkan... Dia... Dia.... Hiks... Apa salahnya? Kenapa dia menjadi seperti itu? Padahal dia selalu mewujudkan semua keinginan gadis kumuh itu! Tapi kenapa? Alice.... Hiks!" Wanita itu terus bergumam dan menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menghentikan tangisannya.


Gadis itu memiliki wajah putih yang terlihat pucat. Dia menghapus air mata wanita itu lalu berdiri dan berjongkok, dia mengangkat dagunya dan menatap ke matanya.


"Aunty Fesya... Walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi dulu, tapi sekarang aku sudah bahagia... Lihat aku, alice mu sudah bahagia bersama keluarga barunya!" Gadis itu berkata dengan halus tapi terdengar tegas. Dia menatap lembut wanita didepannya dengan kilatan kerinduan.


"Kau..."


"Ya, aunty, ini aku! Walaupun aku tidak tahu bagai mana kamu bisa berakhir disini, tapi aku yakin kamu disini bukan sebagai pajangan, hihihi!" Gadis itu mengakhiri kata katanya dengan cekikikan.


"Benar-benar tidak berubah, malahan sepertinya sifat mu semakin menjadi deh kayaknya?" Wanita itu mencubit pipi mulus gadis cantik itu dengan gemas.


"Hehe, oh iya aunty, baru time travel udah jadi stepmother bagaimana rasanya, hm?" Gadis itu menaik turunkan alisnya dengan jahil.


(Arya: reinkarnasi{terlahir kembali sebagai seorang putri}


Fesya & Haye: time travel {terlempar ke dunia dimana saat ini Arya berada}


Dah itu aja penjelasannya dari Ipat)


"Kau ini!"


Pak...


Suara tepukkan di kepala arya


"Aduh, hehe maaf, oh iya hujannya udah berhenti kalau begitu.... Aku pergi dulu wahai ibu tiri kejam! Haha"


"Benar-benar, deh!" Wanita itu menutup teras tempat gadis itu melompat.


Gadis kecilnya tidak akan berubah sampai kapan pun.


Gadis itu berjalan jalan di hutan sendirian, dia berjalan sambil tersenyum. Akhirnya.... Akhirnya dia memiliki bibinya lagi, walau hanya jiwanya saja(tubuhnya bukan).


Dia menyusuri jalan hutan itu langkah demi langkah. Di kiri dan kanannya hanya ada suara hewan kecil dan juga suara jangkrik yang sahut menyahut, semakin memperkental suasana hutan yang masih terjaga keasriannya. Memang sangat berbeda dengan dunia modern yang dimana mana hanya ada gedung yang menjulang tinggi dan menembus cakrawala.


Dia mengeluarkan gelang yang dulu dibelinya di pasar(di toko hantu_-). Lalu memakainya. Dia seperti memiliki ikatan dengan gelang itu. Seperti memberinya rasa mengancam tapi juga rasa melindungi.


Dia teringat sesuatu dan dengan jahilnya menggunakan sihir teleport nya. Dia memikirkan sebuah tempat yang menyeramkan, sunyi, tapi menyenangkan. Entahlah tapi biasanya benar benar bosan jika langsung kembali ke istana.


"ᛚᛂᛏᛋᚺᛟ"


Setelah dia mengucapkan kalimat itu secara langsung dia berteleport ketempat yang terlihat sunyi.


Ketika gadis itu membuka matanya dia hanya melihat ruangan yang sepi. Dia maju selangkah demi selangkah.


"Siapa kamu?"


Dari arah pojokan ternyata ada seorang pemuda yang menatapnya dengan mata hitam pekat. Pemuda itu bersandar di kursi nya dan menaruh kakinya dimeja dan tangannya bersedekap di dada.


Pemuda itu yang awalnya bosan juga sama seperti gadis itu dikejutkan dengan kedatangan seorang anak kecil yang tiba tiba datang entah darimana membuatnya langsung fokus.


"Eh, kukira tempat kosong!" gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Entah bagaimana dia merasa bersalah.


"Kau siapa?" pemuda itu terus memandang gadis itu tanpa berkedip.


"Aku... Orang tersesat?" gadis itu dengan ragu mengatakan Perkataannya.


"..." hah? Apa?


"Aku bertanya kamu siapa, namamu dan umurmu?" pemuda itu menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Em, namaku? Ah, namaku Arya dan usiaku enam tahun!" entah kemana rasa bersalah gadis itu tadi, tapi akhirnya dia memperkenalkan diri dengan biasa saja.


Arya?


Rambutnya merah...


Dan matanya hijau Emerald...


"Kamu seorang putri?" tanya pemuda itu mengernyitkan dahinya.


"..."


Gadis itu hanya mengangguk.


"Kamu berteleportasi kesini?"


"..."


Kembali Mengangguk.


"Dan tersesat?"


"...iya"


Pemuda itu terus bertanya dan gadis itu menanggapinya dengan anggukan.


"Ah, pantas saja banyak yang menginginkan kematian mu, ternyata kau bukan orang yang bisa di anggap remeh, ya?" pemuda itu bangun dari kursinya lalu mendekati gadis itu dengan santai.


"Hah? Banyak? Pantas saja setiap hari rasanya begitu banyak yang mengawasi ternyata begitu?" gadis itu mangut mangut.


Pemuda itu menahan senyumnya ketika melihat gadis yang terlihat ceroboh dan lucu disaat bersamaan.


Dia menunduk dan berkata:


"Namaku Denki, panggil aku kakak!" setelah membisikkan itu ditelinga gadis itu lalu dia menjauhkan wajahnya.


"Kakak? Emmm, baiklah! Mulai sekarang Aku akan memanggilmu kak Dan!" Ujar gadis itu mantap. Dia bisa melihat aura pemuda itu hitam dan kuning secara bersamaan. Jahat tapi bukan penjahat, begitulah...


+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+


Ada yang nanya


Kapan up? Ipat gak bisa up sering sering, soalnya ipat kan juga baru beberapa minggu sekolah online juga kan jadi susah, apalagi ipat masuk jurusan IPA 1 lagi🥲. tapi diusahain biar up, mungkin sebulan sekali, itu pun kalau mood ipat bagus, kalau engga ya susah. Apa lagi tadi abis nangis jadi susah mikirin alur nih chapter nya mungkin agak berantakan😅


Maaf kalau ada kata-kata yang typo ya, harap dimaklumi.


Jangan lupa komen dan like nya


asa kada di like jua kada papa, ipat kada marah pang😅


Fhatmawati