The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
GURU NYEBELIN



Waktu sudah menunjukan pukul 10.39 yang artinya mata pelajaran pertama telah usai, dan sekarang adalah mata pelajaran kedua, sastra bahasa.


Arya membuka lembar demi lembar buku yang ada dihadapannya dengan perasaan bosan. Pelajarannya tidak jauh berbeda dengan yang dia pelajari saat berusia tiga tahun. Hanya saja ada beberapa bagian yang belum dia pelajari.


Guru yang mengajar mata pelajaran itu termasuk guru senggol bacok, guru killer lah bahasa anak-anak murid.


Baru beberapa kali dia menjelaskan, dia malah sudah bertanya. Apalagi yang dia tanyakan tidak sesuai dengan materi yang di jelaskan.


Guru itu menyipitkan matanya menatap satu persatu siswa yang ada di sana secara menyeluruh. Dia akan menyebut nama anak-anak yang tidak memperhatikan penjelasannya dan menyuruh anak-anak itu menjawab pertanyaannya.


Dan kali ini dia mendapat mangsa, ya dia mengunci pandangannya pada Arya yang terlihat tidak memiliki minat belajar.


"Aryan!"


Satu, Arya mengabaikan panggilan itu karena dia melamun.


"Aryan!!"


Dua, Arya masih tidak mendengar.


"ARYAN ARKIEN ALEXANDER!!!?"


Tiga, kali ini guru killer itu berteriak memanggil nama Aryan membuat Arya menatapnya dengan malas.


"Apa pak? Anda memanggil saya tiga kali, bukankah banyak anak-anak yang lain jika ingin bertanya?" jawab Arya dengan nada datar membuat semua siswa bertepuk tangan dalam diam. Sangat berani!


"Beraninya kamu! Sekarang jawab pertanyaan saya!!" perintah guru killer itu marah.


"Ih kok? Ugh baiklah!" ikh malas bangettt!


Arya dengan pasrah mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya. Dia maju mendekati papan tulis dan kembali menghadap guru killer itu malas bercampur kesal.


"Buat kalimat jika kamu keberatan dengan sesuatu!"


Lihat, itu tidak ada dalam pelajaran, oke?!


Ingin rasanya Arya menelan guru dihadapannya itu hidup-hidup.


"Singkirkan sampah itu!" ucap Arya mendelik sinis.


Guru killer itu langsung kehilangan kata-kata nya begitu pula dengan siswa yang lain.


"Apa maksudnya itu, bukankah saya bilang untuk membuat kalimat keberatan?" geram guru killer itu tidak bisa menebak isi kepala Anak dihadapannya itu.


"Buang! Apa kau tidak mendengar ku?! Aku bilang singkirkan barang gagal itu dari hadapanku!!"


"Apa?" lagi, guru killer itu tidak mengerti.


"Iggghh! Pak! Kata ayah saya, tidak perlu merasa keberatan pada sesuatu, jika tidak berguna buang! Jika tidak penting singkirkan! Kita bukanlah orang yang kekurangan barang!" ujar Arya yang jadi kesal sendiri.


"Hah! Orang kaya!" sarkas guru killer itu menatap sinis Arya.


Apa? Barusan guru itu bilang apa?


"Maksud Bapak apa ya? Saya bukan orang kaya, semua harta itu milik ayah saya, saya cuma numpang darah doang!" sungut Arya tidak terima.


"Bukankah sama saja!"


"Beda lah Pak! Saya tidak pernah boros, cuma uang doang yang terus mengalir, Bapak kira hanya saya yang perlu diurus, ayah saya juga ngurusin kekai--ekhem, maksud saya, ayah saya juga memiliki beberapa tempat yang perlu diurus" sepertinya ada satu guru yang bisa diajak debat untuk kedepannya. Ehe°v°


"Walau begitu tetap saja kamu itu--!" perkataan guru killer terpotong oleh suara dering alat komunikasi milik Arya.


"..."


Arya melihat siapa yang menghubunginya dan dia seketika membeku.


Mam the pus


Dia mengangkatnya dengan ragu dan ada jejak bersalah di hatinya. Dia mengarahkan alat komunikasi; monikator itu mendekati telinga nya.


"Ha-halo Lina? Ap--"


"Putri, akhirnya anda mengangkat panggilan saya, astaga saya sangat ketakutan dan khawatir!!"


Dari arah alat itu Lina berteriak cukup keras membuat gendang telinga Arya serasa mau pecah. Tapi, walau Lina berteriak, suaranya hanya bisa didengar oleh Arya saja.


"Akh, my kuping is sakit!!" erang Arya menjauhkan alat itu dari telinganya.


Sakit cuy!


"Ah! Apa anda baik-baik saja?" tanya Lina langsung khawatir.


"Ti-tidak apa kok! Lina aku tutup dulu ya, bye!!" Arya langsung menutup panggilan itu dan menatap guru killer itu tajam.


"Tuh kan, gara-gara Bapak~" tunjuk Arya menyimpan alat itu kedalam sakunya.


"Apa?" guru killer itu dengan tidak percaya menatap Arya.


"Nah, sekarang giliran saya kan? Bapak sudah bertanya sekarang giliran saya yang bertanya!"


"Wooow!!" seru seisi ruangan mendengar tantangan Arya pada guru killer itu.


"Memangnya apa?"


"Tunggu dulu, saya memiliki penawaran untuk Bapak tapi~"


"Apa lagi!?"


"Jika Bapak bisa menjawab pertanyaan saya, Bapak boleh memerintahkan saya melakukan apapun. Ta-pi!! Jika Bapak tidak bisa menjawab, Bapak harus mengajar sesuai dengan materinya. Jika tidak, Bapak jadi babu setiap kelas yang Bapak ajar~ bagaimana?" tawar Arya menyodorkan tangannya.


"APAAAA!!? ARYAN GILA!!!? WOOOOO!!?" teriak seisi kelas menggema bahkan sampai keluar.


Guru killer itu tersenyum miring dan mengangguk, tanda setuju.


Dari arah kantor pengawasan semua guru yang sedang menganggur menatap layar monitor dengan tidak percaya.


"Dari mana anak muda itu?" tanya guru yang lebih tua diantara yang lain.


"Saya tidak tahu" jawab guru yang terlihat lebih muda.


"Kalau tidak salah anak itu siswa rekomendasi dari Kepala Akademi kan?" sahut yang lain.


"Sungguh? Berarti anak itu memiliki bakat kan?"


"Mungkin?"


"Lihat dia terlihat sangat percaya diri dan keras kepala"


"Fokus kalian sedikit aneh, coba lihat baik-baik! Wajah anak itu mirip seseorang tidak?" tanya seorang wanita cantik menunjuk kearah wajah Arya.


"Hm? Iya ya, tapi mirip siapa ya?"


Semua guru yang menganggur itu seketika terdiam saat berfikir.


Kepala Akademi masuk dalam ruang pengawasan itu dan melihat pemandangan yang sepertinya pernah dia lihat.


"Ada apa lagi dengan kalian?"


Semua guru yang sedang merenung itu langsung menoleh dan memberi salam.


"Ada apa?"


"Ah itu, lihatlah anak muda itu, anak itu mirip seseorang kan?" tunjuk wanita cantik itu kearah monitor yang masih menampilkan perdebatan dua orang beda umur.


"Hm?" Kepala Akademi memutar kepala nya kesamping dan bergumam


"Ah, pantas saja aku tidak melihatnya, ternyata penampilannya berubah"


Kepala Akademi itu menatap kearah para guru dan mengangkat tangannya menunjuk monitor.


"Apa kalian lupa wajah menyebalkan itu, bukankah itu terlihat sama?"


Semua guru seketika kembali merenung.


"Apa maksud anda dengan 'orang' yang sama?"


Kepala Akademi hanya mengedikkan bahunya keatas dan berlalu pergi.


Siapa!?


"Oh ya lupa! Anak itu 'benih' kesayangan 'ayah'-nya!" lanjut Kepala Akademi sebelum pergi.


"Aku tidak begitu mengerti maksud Kepala Akademi, tapi aku tahu satu hal, anak itu memiliki ayah yang menakutkan!" sahut guru paruh baya yang sebelumnya pernah memberi kelas Arya tugas observasi senjata.


"Haha, benar, dihukum tiga hari introspeksi diri, haha, lucunya!"


✂〰〰〰


Arya membuka tangannya yang terkepal dan kembali mengepalkan nya kembali. Dia kesal tapi itu tidak membuatnya lepas kendali.


"Baik, karena Bapak sudah setuju~ saya akan mulai!"


"Kenapa 2+2\=5? Jangan gunakan logika tapi gunakan insting, oh ya harus ada cara mendapatkannya!!"


Semua siswa berbisik-bisik tapi tidak dengan Hansel, Brian, Ryzan dan Delvan. Mereka tidak tahu jawabannya tapi mereka tahu itu pertanyaan jebakan. Karena Arya tidak bisa melepas mangsa setelah dia dapat.


Guru itu mengajari Arya memancing, padahal Arya adalah nelayan.


"Hah, apa kamu bo*oh! Bukankah empat? 2+2\=4! Bagaimana bisa lima!?"


"Salah, pak! Kan sudah saya bilang pakai insting"


"Apa lagi itu?!"


"Bapak jawab lah, kenapa nanya!"


Cih, sampah masyarakat


"Waktunya hanya sampai jam pelajaran Bapak selesai~!"


"Apa?!" guru killer itu membuka jamnya dan langsung terkejut.


Tinggal 20 menit?!


Guru itu menggertak kan giginya kesal. Anak dihadapannya itu sangat menyebalkan


Guru itu terus mencoba menjawab pertanyaan itu walaupun itu sia-sia. Arya menunggu dengan tenang walau kakinya terus mengetuk tanda dia sedang menghitung waktu pun tidak ada hentinya. Dia dengan tidak sabar mulai menggerakkan jari-jari nya mirip seperti cacing kepanasan.


Lambat cik...!


Guru itu menggeram marah lagi dan memukul papan tulis dengan sangat keras membuat semua siswa tersentak, begitu juga dengan Arya yang merasa jika jantungnya berhenti berdetak sebentar.


Mau bunuh orang kek nya nih Bapak-Bapak!!


Arya menghembuskan nafasnya pelan..


"Sudah? Atau mau lanjut? Tinggal lima menit lagi kok" ucap Arya memiringkan kepalanya kesamping


Guru itu meneguk ludahnya keras. Baik, hanya mengajar pelajaran dengan normal saja kan, itu tidak akan memalukan!


Itu adalah menurut guru keller itu, ta-pi! Jangan salah Arya kan sudah bilang 'kalau kalah selain harus mengajar dengan normal, yaitu harus jadi babu setiap kelas'. Contohnya, datang paling awal, dan mengisi absensi setiap kelas dengan tepat waktu. Tapi sepertinya guru itu lupa.


Arya melihat respon tidak mengenakkan itu hanya bisa tersenyum kecil.


"Kenapa 2+2\=5...? Mari mulai dengan angka 2+2 itu jika digabungkan maka akan menjadi 22 dalam penulisan alfabet/abjad, 22 itu melambangkan huruf V. Dan V dalam bentuk Romawi adalah 5. Jadi, 2+2\=5~ gampang kan~?"


"Iblis sialan!!" ingin guru itu mencekik Arya hingga mati jika saja bel pergantian pelajaran tidak berbunyi.


Teori dari mana itu?!


Arya memiringkan kepalanya dan berkata: "selamat menjalani tugas anda~"


Guru itu keluar dengan hati teramat dongkol akibat debat urat saraf dengan Arya.


Guru itu membimbing siswanya, bukannya menyesatkan.


Hansel dan Delvan turun dan langsung menepuk pundak Arya bersamaan.


"Kamu benar-benar gila!"


"Aku tidak percaya kau membuat masalah"


Arya memutar kepalanya dan kembali tersenyum.


"Aku bosan mendengarnya mengoceh tidak jelas dan melenceng dari pelajaran"


^^^^^^^


Jangan lupa like and komen... \^∆^//