The Tyrant Emperor's Cruel Princess

The Tyrant Emperor's Cruel Princess
MEREKA OSIS



Ruangan yang semula sedikit ribut kini langsung sunyi saat seorang remaja laki-laki sekitar usia 14-15 tahun masuk kedalam ruangan.


"Baru juga dibicarakan, udah datang aja" ucap Yran memecah kesunyian.


"Kalian ngomongin orang dibelakang ya?" tanya Abel mengerutkan keningnya.


Seadna mengangkat cangkir tehnya, "yeah~"


Abel mendekati Vee dan duduk disampingnya.


Dia mengambil cangkir milik Vee membuat anak laki-laki dengan boneka di pelukan nya itu langsung melotot mengikuti gerakan tangan Abel.


"Vee, jangan mempelototi ku seperti itu, aku tremor sumpah!?" tegur Abel yang langsung menurunkan cangkir ditangannya.


"Kan kamu yang salah! Jika ingin cangkir ambil di lemari sana! Jangan ambil milikku!!" sewot Vee menunjuk kearah dapur kecil di sudut ujung ruangan.


"Sudahlah, biar aku ambilkan!" ucap Sofie bangkit dari kursinya. "Ada yang ingin cemilan?"tanya nya lagi membuka lemari gantung yang ada di dapur.


Seadna dan Vee mengangkat tangannya. Mereka berdua cukup mirip karena menyukai teh hangat yang didampingi oleh cemilan.


Jika ada yang bertanya kenapa ruangan itu memiliki dapur pribadi, maka jawabannya adalah karena ruangan itu didesain khusus untuk anggotanya.


Tok... Tok...


"Woy, Yoshua! Bukain pintu eh!" Abel menepuk pundak anak laki-laki yang memakai kacamata dengan cukup kuat sampai menimbulkan suara.


"Jika kamu menepuk ku sekuat itu, tulang ku akan dipastikan retak!" sahut Yoshua memegangi pundaknya yang terasa nyeri.


Mungkin ada yang lupa siapa itu Yoshua? Itu adalah anak laki-laki yang pernah menabrak Arya beberapa bulan yang lalu. Anak jurusan alchemist kelas dua.


Yoshua membukakan pintu ruangan itu dan dia menyapa orang yang mengetuk tadi.


"Ah, Kepala Akademi? Senang bertemu dengan anda!" Yoshua membungkuk memberi hormat.


Kepala Akademi menutup setengah bibirnya dengan tangannya.


"Wah suatu kehormatan bisa melihat seorang 'Raes' yang selalu sibuk disini~" canda Kepala Akademi dengan sedikit tertawa.


Seadna dan yang lainnya sedikit tersentak ketika mendengar suara yang familiar.


"Oh, Kepala Akademi! Selamat datang~" sapa mereka semua mendekati pintu.


Kepala Akademi memiringkan kepalanya.


"Oh... Sepertinya semua anggota OSIS sedang berkumpul yah?Walau tidak semuannya sih"


Yoshua tersenyum dan Seadna berkeringat dingin. Vee menutup wajahnya dengan Boneka, Yran menunduk sambil memperbaiki kacamata nya dan Abel nyengir seperti kuda. Sementara Sofie mengalihkan matanya.


"Anda ingin duduk dulu?" ucap Sofie sopan.


"Oh, boleh~!"


Baik, mari perkenalan ulang~


Yang pertama adalah Yoshua, dia berasal dari kelas dua jurusan alchemist, kemampuannya bisa dikatakan bagus karena mendapatkan peringkat pertama di jurusannya. Dia memakai kacamata karena mata nya yang minus.


Panggilan formalnya adalah Raes yang artinya ketua. Dia adalah Ketua OSIS yang memimpin Organisasi. termasuk salah satu yang termuda karena masih kelas dua.


Selanjutnya ada Sofie gadis cantik dengan rambut gradasi hijau toska dan ungu. Matanya memiliki campuran warna ungu dan biru muda. Dia ada dikelas empat jurusan sihir.


Panggilan resminya adalah Raha\=> vatium Praesidem yang memiliki arti Wakil Ketua OSIS.


setelah Sofie ada Seadna yang memiliki panggilan resmi Ciba yang memiliki arti sekretaris OSIS. Dia kelas 4 jurusan seni pedang. Jika penasaran kenapa dia pindah ke kelas 1 maka jawaban nya karena dia ingin mencari suasana baru, soalnya ketika dia melihat anak kelas 2 dan 3 tidak ada yang menarik dimatanya.


Sementara tiga sisanya adalah parum yang artinya Anggota Seksi.


Walau begitu mereka juga memiliki panggilan resmi.


Yran : Harchi \=> Tmíma Peitharchias artinya seksi kedisiplinan. Kelas 4 jurusan obat-obatan.


Abel : Asfa \=> Tmíma Asfaleías artinya seksi keamanan. Kelas 4 jurusan seni pedang


Vee : kathar \=> Tmíma kathariotita yang artinya seksi kebersihan. Kelas 4 jurusan elementalis.


Anak-anak yang memilih jurusan Elementalis biasanya tidak bisa menggunakan Mana sebagai dasar sihir dan Aura sebagai pengguna sword/pedang.


+_+


"Apakah ada masalah, Kepala Akademi?" tanya Yoshua duduk di salah satu sofa tamu setelah Kepala Akademi duduk. Dibelakangnya ada Sofie, Seadna dan tiga lainnya.


"Hah~ apakah kalian harus formal seperti itu? Jangan panggil aku dengan 'Kepala Akademi' lah!" protes Kepala Akademi melambaikan tangannya.


"Oh, baik kak Leca" nama Kepala Akademi itu Sariferal Aslecante. Beberapa orang memanggilnya dengan nama Fera, namun untuk panggilan akrabnya adalah Leca yang diambil dari nama tengahnya. Dan jangan lupa jika usia aslinya itu sudah sangat tua!


"Nah, untuk Seadna, Sofie, Abel, Yran, dan Vee apakah semua tugas kalian susah selesai?" tanya Kak Leca mengangkat salah satu kakinya dan menumpuknya di kaki satunya.


Orang yang merasa namanya terpanggil langsung menjawab.


"Sudah!" ucap mereka kompak.


"Bagaimana penggantinya?"


Seadna mengeluarkan sebuah foto disusul oleh yang lainnya.



Kak Leca mengerutkan keningnya menatap Seadna lucu.


"Sena? Kamu memilih Aryan?" tanyanya mengangkat foto Arya.


Seadna mengangguk kan kepalanya. "Iya!"


"Kamu tahu kepribadian dan sifat aslinya gak?"


Seadna menggeleng lalu mengangguk.


"Ada apa memangnya?"


"Sudah tahu identitasnya? Mungkin sedikit?" tanya Kak Leca menggerakkan tangannya.


"Hm? Katanya namanya ada dua, umurnya 8 tahun, orangnya jahil, suka senyum aneh kalau melihat buku sejarah, orangnya pintar, mudah ngambek, dan yang paling penting..."


"Anak tunggal!" jawab Seadna yang dibarengi dengan celetukan Yoshua.


Seadna menoleh melihat Yoshua yang mengangkat kacamata nya.


"Kamu tahu?"


Yoshua mengangguk sekali, "ya, ada di biodata siswa baru"


"Eh, Sen! Kamu bilang umurnya 8 tahun?" tanya Abel memiringkan kepalanya.


Seadna mengangguk.


Semua orang yang ada di ruangan itu langung menoleh kearah Kak Leca dengan curiga.


"Ehm, yah! Aku hanya melakukannya karena dia anak yang pintar"


"Apa maksud 'pintar' disini?" Tanya Sofie mengangkat alisnya.


"Sepertinya anda suka mengkategorikan seseorang sesuka hati kan?"


"Anda asal pilih?"


Kak Leca mengangkat bahunya bersamaan.


"Aku menemukan dua anak berusia 8 tahun ingin masuk Akademi jadi aku buatkan saja surat rekomendasinya?"


Seadna dan yang lainnya langsung mendatarkan wajahnya saat mendengar jawaban dari sang Kepala Akademi, orang yang mengatur keseimbangan dalam Akademi.


"Anda bercanda?"


"Aku tidak bercanda, aku serius! Anak dengan usia 8 tahun itu ada Aryan dan Emilly, sedangkan yang berusia 9 tahun lebih adalah Riden, kalau usia rata-ratanya ada Feron dan Brian! Mereka itu satu circle~!"


"Oh! Maksudnya anda tiga anak dari jurusan sihir itu? Pantasan saja mereka sangat akrab!"


"Kamu mengenal mereka?" tanya Sofie kepada Seadna.


"Iya"


"Bagaimana sifat mereka saat bersama?" kali ini Vee yang bertanya.


"Sangat ramai!"


"Maksudnya?"


"Tahu kan makan yang biasa nya ada di kantin Jurusan Sihir?" semuanya mengangguk. "Katanya itu hambar dan tak ada rasanya! Khekhe!"


Sofie membuka mulutnya cukup lebar. "Apa maksudnya itu? Makanan nya kan memang gak pakai bumbu penyedap, tentu saja rasanya hambar!"


"Gak ada dagingnya juga katanya?"


"Iyalah gak ada! Kan itu pakai serpihan magic stone sebagai makanan peningkat Mana dalam tubuh!"


Uhuk!!!


Abel yang mengambil Air minum di dapur kecil untuk minum langsung tersedak saat mendengar penuturan Sofie.


"Maksudmu batu yang harganya mengikuti kelasnya itu?"


Semakin tinggi kelas sebuah magic stone, maka semakin tinggi pula harga penjualan perbuah nya.


Mohon jangan bertanya bagaimana Akademi bisa menyediakan makanan dengan bahan dasar batu berharga seperti itu, karena saya juga gak tahu:)


Sofie mengangguk kan kepalanya mengiyakan pertanyaan Abel.


"Kok?"


"Kenapa tidak bertanya langsung pada Kak Leca?" ucap Seadna melirik Kak Leca yang terlihat tenang. Percaya atau tidak, Kak Leca bukan orang yang kalem tapi disaat seperti ini dia memang lebih kalem(sedikit)


"Ehm, sudah! Itu tidak perlu dibahas! Ah ya! Kapan kalian akan mengadakan pengangkatan anggota barunya?"


Yoshua yang sadar jika Kak Leca mengalihkan topik pembicaraan hanya bisa maklum.


"Em, jika berdasarkan keputusan yang kami ambil dengan anggota lainnya sih sekitar satu minggu"


"Seperti biasa, kami akan menggunakan metode lama"


Kak Leca mengangguk, "baiklah, karena tujuanku sudah terpenuhi~ aku akan pergi! Sampai jumpa~!"